Bagian 7 - Kisah dari Gunung Qingcheng

Murid-murid Huashan berbagi cerita.
Monyet Keenam kembali berkata, “Adik Kecil, kau bilang baru saja mengalami kejadian-kejadian aneh bersama Kakak Kedua. Nah, sekarang giliranmu yang bercerita kepada kami.”
“Mengapa harus buru-buru?” sahut Wan’er. “Nanti saja kalau Kakak Pertama sudah datang, baru aku ceritakan semuanya. Malas rasanya kalau aku harus mengulang-ulang cerita. Di mana kalian berjanji untuk bertemu?”
“Entahlah. Kota Hengshan ini sangat besar, dan sekarang begitu ramai,” jawab Monyet Keenam. “Hei, kau ini maunya menang sendiri. Kau memaksaku bercerita kenapa Kakak Pertama sampai tertinggal, tapi kau jual mahal tidak mau bercerita pengalamanmu bersama Kakak Kedua.”
Pikiran gadis itu rupanya sedang melayang entah ke mana. Ia hanya berkata, “Biar Kakak Kedua saja yang bercerita.” Sejenak ia menoleh ke arah Lin Pingzhi yang duduk membelakanginya, kemudian berkata, “Di sini terlalu banyak mata dan telinga. Sebaiknya nanti saja bercerita, di dalam penginapan.”
Saudara seperguruannya yang bertubuh jangkung sejak tadi hanya diam tanpa bicara, kini menyahut, “Semua penginapan di kota ini sudah penuh. Tidak enak juga kalau kita harus merepotkan keluarga Paman Liu. Nanti kalau Kakak Pertama datang, sebaiknya kita beristirahat di dalam kuil saja. Bagaimana menurutmu, Kakak Kedua?”
Si kakak kedua alias Kakek Sa mengangguk dan menjawab, “Tidak masalah. Kita tunggu Kakak Pertama di sini.” Selama si kakak pertama belum datang, orang tua ini menjadi pengambil keputusan di antara mereka.
Monyet Keenam merasa tidak sabar menunggu. Ia pun berbisik mendesak Kakek Sa, “Kakak Kedua, jangan pedulikan si bungkuk itu. Sejak tadi dia sudah duduk di sini tanpa bergerak sedikit pun. Mungkin dia itu seorang dungu. Bagaimana hasil penyelidikan kalian di Kota Fuzhou? Apakah Perguruan Qingcheng benar-benar menghancurkan Biro Ekspedisi Fuwei? Lantas, apakah Keluarga Lin benar-benar tidak memiliki kepandaian sejati?”
Mendengar keluarganya disebut-sebut, Lin Pingzhi berusaha memusatkan perhatiannya dengan lebih seksama.
Namun Kakek Sa justru mengalihkan pembicaraan, “Kami bertemu Guru di Kota Changsa. Beliau menyuruh kami pergi ke Hengshan sini untuk bertemu Kakak Pertama dan kalian semua. Sebelum bercerita tentang pengalaman kami di Kota Fuzhou, aku ingin bertanya lebih dulu; mengapa Paman Mo memainkan ilmu pedangnya yang hebat itu di sini? Apakah kalian tadi melihat semuanya?”
“Ya, kami menyaksikannya langsung,” jawab Monyet Keenam. Ia kemudian bercerita panjang lebar tentang orang-orang yang membicarakan upacara Cuci Tangan Baskom Emas yang akan diadakan Liu Zhengfeng tiga hari lagi. Ia juga menceritakan bagaimana Tuan Besar Mo tiba-tiba muncul dan memperagakan kehebatannya, sehingga menutup mulut para pengunjung rumah minum yang membicarakan hal yang buruk-buruk tentang dirinya.
“Begitu rupanya,” gumam Kakek Sa sambil mengangguk. “Banyak orang yang mengatakan bahwa Paman Mo dan Paman Liu kurang rukun meskipun berasal dari perguruan yang sama. Kali ini Paman Liu mengadakan upacara Cuci Tangan Baskom Emas; aku masih belum paham mengapa Paman Mo tiba-tiba muncul dan memamerkan kesaktiannya, kemudian menghilang begitu saja? Sungguh aneh.”
“Kakak Kedua, kabarnya Pendeta Tianmen ketua Perguruan Taishan juga hadir. Bahkan, rombongan Beliau sudah tiba di kediaman Keluarga Liu,” ujar si pembawa sempoa.
Kakek Sa agak terkejut dan bertanya, “Pendeta Tianmen juga hadir secara langsung? Kalau begitu ini berita bagus untuk Paman Liu. Jika nanti terjadi perselisihan antara kedua tokoh Hengshan itu, maka Paman Liu tidak perlu gentar menghadapi Paman Mo.”
Wan’er bertanya, “Kakak Kedua, kalau menurutmu, Pendeta Yu dari Perguruan Qingcheng akan berada di pihak mana?”
Mendengar “Pendeta Yu dari Perguruan Qingcheng” disebut, seketika Lin Pingzhi merasa dadanya seperti dihantam palu godam.
Monyet Keenam dan yang lain serentak bertanya, “Pendeta Yu juga datang?”
“Padahal jarang sekali dia meninggalkan Gunung Qingcheng.”
“Wah, kalau demikian di Kota Hengshan ini akan terjadi keramaian besar. Banyak tokoh silat papan atas berdatangan kemari. Jangan-jangan akan terjadi pertarungan seru.”
“Adik Kecil, dari mana kau tahu Pendeta Yu akan datang?”
Wan’er menjawab, “Tahu dari mana? Aku bahkan melihat sendiri dia datang.”
“Kau melihat Pendeta Yu datang kemari? Ke Kota Hengshan ini?” tanya Monyet Keenam.
“Tidak hanya di Hengshan, tapi aku juga melihatnya di Fujian dan Jiangxi,” jawab si gadis burik.
“Memangnya ada urusan apa Pendeta Yu pergi ke Fujian?” sahut si pembawa sempoa. “Adik Kecil, aku yakin pasti kau tidak tahu seluk-beluk permasalahannya.”
“Kakak Kelima,” ujar Wan’er. “Sebenarnya aku ingin bercerita banyak hal kepadamu. Tapi karena kau mengolok-olok, aku jadi malas untuk melanjutkan.”
Monyet Keenam tidak sanggup menahan rasa ingin tahunya. Ia pun berkata, “Masalah ini hanya menyangkut Perguruan Qingcheng. Andaikan ada orang lain yang mendengar juga tidak menjadi soal. Kakak Kedua, ceritakanlah semua kepada kami; mengapa Pendeta Yu datang ke Fujian? Bagaimana pula kalian bisa bertemu dengannya?”
Pemuda pembawa kera itu sama sekali tidak tahu kalau Lin Pingzhi diam-diam juga berharap bisa mendengar percakapan mereka lebih lanjut.
“Sebenarnya aku ingin menunggu Kakak Pertama datang,” ujar Kakek Sa. “Tapi sepertinya hujan bertambah deras dan tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan. Baiklah, aku akan bercerita sambil mengisi waktu luang. Akan kuceritakan semuanya sejak awal. Setelah kalian mengetahui seluk-beluk permasalahan ini, maka kalian bisa berjaga-jaga apabila bertemu dengan orang-orang Qingcheng. Nah, pada bulan dua belas yang lalu, Kakak Pertama telah menghajar murid-murid andalan Perguruan Qingcheng bernama Hou Renying dan Hong Renxiong....”
“Hahahaha,” tiba-tiba Monyet Keenam tertawa mengejek.
“Apanya yang lucu?” sahut Wan’er galak.
“Aku menertawakan kedua murid Qingcheng itu yang berlagak sombong dengan memakai nama Renying dan Renxiong segala. Haha, mereka bahkan memamerkan nama belakang: ‘Ying Xiong Hao Jie, Empat Jagoan Qingcheng’. Lihatlah, namaku hanya ‘Lu Dayou’, cukup sederhana dan tidak muluk-muluk, juga tidak mengundang masalah,” ujar Monyet Keenam yang ternyata memiliki nama asli Lu Dayou itu.
“Tidak juga,” sahut Wan’er. “Kalau bukan karena margamu ‘Lu’ yang berarti ‘enam’, ditambah lagi karena kau ini murid keenam dalam perguruan kita, mana mungkin kau dijuluki si Monyet Keenam?”
“Boleh juga, boleh juga,” jawab Lu Dayou sambil tersenyum. “Kalau begitu mulai hari ini aku akan mengganti namaku menjadi....”
“Sudah, sudah, jangan memotong pembicaraan Kakak Kedua!” sahut yang lainnya.
“Baik, baik,” jawab Lu Dayou tapi mulutnya masih tertawa cekikikan.
Wan’er kesal melihat kakak keenamnya itu. Ia pun menegur, “Sebenarnya kau ini menertawakan apa? Huh, dasar menyusahkan!”
“Aku teringat saat Hou Renying dan Hong Renxiong jatuh terguling-guling setelah dihajar Kakak Pertama. Lebih lucu lagi, mereka tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa,” jawab Lu Dayou. “Waktu itu aku juga berada di sana, bersama Kakak Pertama di lantai dua sebuah rumah makan. Kakak Pertama sedang minum arak dan ia kesal mendengar nama-nama mereka yang sok pahlawan itu. Kakak Pertama lalu berteriak mengejek: ‘Anjing Liar Babi Hutan, Empat Binatang dari Qingcheng’. Tentu saja Hou Renying dan Hong Renxiong tersinggung. Mereka langsung naik ke loteng untuk melabrak, tapi belum apa-apa keduanya sudah ditendang Kakak Pertama hingga jatuh terguling-guling di tangga kedai. Lucu sekali!”
Mendengar itu Lin Pingzhi merasa sangat terhibur. Rasa simpatinya kepada si kakak pertama langsung muncul. Meskipun ia tidak mengenal siapa itu Hou Renying dan Hong Renxiong, tapi yang jelas keduanya adalah saudara seperguruan Fang Renzhi dan Yu Renhao. Ia membayangkan betapa malu kedua murid Qingcheng itu ketika tubuh mereka terguling-guling di tangga loteng rumah makan tersebut. Sakit hatinya terasa agak berkurang meskipun kejadian itu berlangsung sebelum Perguruan Qingcheng menghancurkan Biro Ekspedisi Fuwei.


Hou Renying dan Hong Renxiong jatuh terkena tendangan.
Kakek Sa melanjutkan ceritanya, “Setelah Hou Renying dan Hong Renxiong mengetahui siapa yang telah menghajar mereka, keduanya pun melapor kepada Pendeta Yu di Kuil Cemara Angin. Beberapa hari kemudian, Guru menerima sepucuk surat dari Pendeta Yu yang berisi permohonan maaf karena tidak bisa mendidik murid-murid Qingcheng dengan baik sehingga membuat kakak pertama kita tersinggung.”
“Huh, pendeta bermarga Yu itu memang licik,” sahut Lu Dayou. “Dia pura-pura minta maaf, padahal sebenarnya bermaksud menyindir Guru. Akibatnya, Guru pun menghukum Kakak Pertama berlutut sepanjang hari sepanjang malam. Kakak Pertama akhirnya dibebaskan setelah kita semua memohon kepada Guru agar memberikan maaf.”
“Apa maksudmu dengan membebaskan Kakak Pertama?” sahut Wan’er. “Bukankah Kakak Pertama tetap saja dipukul sebanyak tiga puluh kali?”
“Benar juga,” jawab Lu Dayou. “Aku sendiri juga ikut-ikutan dihukum sepuluh pukulan. Tapi kalau teringat bagaimana Hou Renying dan Hong Renxiong jatuh terguling-guling di tangga, aku sama sekali tidak merasa rugi. Hahahaha...”
“Kau ini sudah dipukul sepuluh kali masih juga belum jera,” ujar si jangkung. “Rasanya sia-sia Guru menghukummu.”
“Memangnya aku salah apa?” sahut Lu Dayou. “Ketika Kakak Pertama menendang kedua orang itu, aku tidak kuasa menghentikannya.”
“Sebenarnya kau bisa berbicara kepada Kakak Pertama untuk mencegahnya bertindak,” jawab si jangkung. “Tapi aku tahu sifatmu. Waktu itu Guru berkata: ‘Lu Dayou adalah saksi mata kejadian ini. Pasti dia tidak mencegah kakak pertamanya berbuat onar; sebaliknya, justru ikut memanas-manasi. Untuk itu, akan kuberikan sepuluh pukulan!’”
Saudara-saudaranya yang lain bergelak tawa mendengar ucapan si jangkung ini.
“Sebenarnya kali ini Guru telah salah menghukum orang,” ujar Lu Dayou. “Kecepatan tendangan Kakak Pertama sungguh luar biasa; mana mungkin aku dapat mencegahnya? Waktu itu aku melihat Hou Renying dan Hong Renxiong mendatangi Kakak Pertama dengan wajah gusar. Namun, Kakak Pertama tetap asyik minum seolah tidak memedulikan mereka. Aku hanya bisa berteriak: ‘Kakak Pertama, awas!’ – Tahu-tahu, kedua jagoan Qingcheng itu sudah jatuh terguling-guling di tangga loteng. Ternyata Kakak Pertama telah menggunakan Jurus Tendangan Harimau Menyabet Ekor. Seharusnya aku bisa mempelajari jurus ini; tapi, bagaimana hendak belajar, kalau melihatnya saja sudah susah? Gerakan Kakak Pertama sangat cepat.”
“Hei, Monyet Keenam,” sahut si jangkung. “Sewaktu Kakak Pertama berteriak-teriak menyebut ‘Empat Binatang dari Qingcheng’, apakah kau ikut mengolok-olok pula?”
“Tentu saja!” jawab Lu Dayou. “Sebagai saudara yang lebih muda, sudah pasti aku ikut apa yang dilakukan Kakak Pertama. Memangnya kau lebih suka aku memihak murid-murid Qingcheng yang sombong itu?”
“Kalau begitu tidak salah jika Guru menghukummu,” kata si jangkung sambil tertawa.
Diam-diam Lin Pingzhi berpikir, “Monyet Keenam ini wajahnya jelek seperti kera, tapi sifatnya polos dan jujur. Sepertinya dia ini seorang yang baik. Entah dari perguruan mana mereka berasal? Kenapa pula mereka memanggil Tuan Besar Mo dan Tuan Majikan Liu dengan sebutan ‘paman’?”
Terdengar Kakek Sa kembali berkata, “Kita harus selalu ingat nasihat Guru kepada Kakak Pertama. Di dunia persilatan memang banyak orang yang suka memakai gelar dan julukan muluk-muluk. Tidak semua julukan sesuai dengan tingkah laku mereka. Tapi kita juga tidak perlu mengurusi mereka satu per satu. Biarkan saja kalau ada yang memakai julukan ‘Ying Xiong Hao Jie’ segala. Kalau mereka berbuat sopan dan kesatria, tentu banyak orang yang ingin berteman dengan mereka. Tapi kalau mereka suka mengumbar kesombongan, sudah pasti kaum persilatan akan memandang rendah terhadap mereka. Kita tidak perlu mengambil pusing terhadap julukan ini.”
Semuanya mengangguk mendengar ucapan Kakek Sa. Terdengar Lu Dayou menggumam sendiri, “Julukan ‘Monyet Keenam’ jauh lebih baik. Tidak membuat bingung orang lain.”
Kakek Sa tersenyum dan melanjutkan ceritanya, “Kekalahan Hou Renying dan Hong Renxiong karena ditendang Kakak Pertama sudah pasti menjadi aib yang memalukan bagi Perguruan Qingcheng. Tentu saja tidak ada yang berani membicarakan hal itu; bahkan, hanya sedikit murid-murid Qingcheng yang mengetahuinya. Guru sendiri juga berpesan kepada kita untuk tidak menyebarluaskan kejadian ini, supaya tidak terjadi perselisihan di antara kedua perguruan. Maka itu, untuk selanjutnya ceritaku ini jangan diungkit-ungkit lagi.”
“Ah, kehebatan ilmu silat Perguruan Qingcheng menurutku hanya omong kosong belaka,” sahut Lu Dayou acuh tak acuh. “Sekalipun kita berselisih dengan mereka juga tidak menjadi masalah...”
“Adik Keenam!” bentak Kakek Sa seketika. “Jika kau masih suka sembarangan bicara, maka akan kuadukan kepada Guru! Mungkin kau akan mendapat pukulan lebih banyak lagi. Asal kau tahu, kemenangan Kakak Pertama bisa jadi disebabkan oleh dua hal. Pertama, mungkin karena kedua murid Qingcheng itu belum siap; dan kedua, karena Kakak Pertama memang murid yang paling pandai di antara kita semua. Kira-kira kau sendiri apa bisa menggulingkan kedua orang itu?”
Lu Dayou menjawab sambil menjulurkan lidah, “Kalau dibandingkan dengan Kakak Pertama sudah tentu aku kalah jauh.”
“Apa kau tahu bagaimana kehebatan Pendeta Yu, ketua Perguruan Qingcheng? Barangsiapa berani meremehkannya, tentu akan menyesal seumur hidup,” ujar Kakek Sa dengan wajah sungguh-sungguh. Ia kemudian menoleh ke arah Wan’er, “Adik Kecil, kau pernah melihat langsung kehebatan Pendeta Yu. Bagaimana menurutmu?”
“Pend
eta Yu?” jawab si gadis burik. “Aku... aku ngeri sekali melihatnya. Lain kali... lain kali aku tidak mau bertemu lagi dengannya.” Suaranya terdengar gemetar, pertanda hatinya benar-benar takut kepada pendeta bernama Yu Canghai itu.
“Apakah Pendeta Yu seorang yang sangat mengerikan? Apa kau pernah melihatnya membunuh orang?” sahut Lu Dayou bertanya.
Wan’er diam tidak menjawab dan tampak begitu ketakutan.
Kakek Sa kembali bercerita, “Setelah menerima surat dari Pendeta Yu, Guru sangat marah dan menghukum Kakak Pertama serta Adik Keenam. Hari berikutnya Guru menulis surat balasan dan menyuruhku untuk pergi ke Gunung Qingcheng....”
“Pantas saja waktu itu kau tampak terburu-buru. Rupanya kau diutus Guru ke Gunung Qingcheng,” sahut si jangkung dan yang lain hampir bersamaan.
“Benar sekali,” jawab Kakek Sa sambil mengangguk. “Waktu itu Guru sengaja merahasiakan kepergianku agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.”
“Salah paham bagaimana?” sela Lu Dayou. “Bukankah ini sudah seperti biasanya? Guru memang seorang yang selalu berhati-hati. Sudah pasti kita menyadari, apapun yang diperintahkan Guru pasti demi kebaikan kita semua. Mana mungkin kita salah paham terhadap perintah Beliau?”
“Kau ini tahu apa?” sahut si jangkung. “Kalau Kakak Kedua tidak merahasiakan keberangkatannya, tentu akan terjadi masalah besar. Meskipun Kakak Pertama tidak berani membantah perintah Guru, tetap saja ia bisa mencari cara lain untuk mengacaukan perjalanan Kakak Kedua.”
“Ucapanmu benar, Adik Ketiga,” kata Kakek Sa. “Kakak Pertama punya banyak teman di dunia persilatan. Bisa saja ia menyuruh orang lain untuk menggagalkan tugasku mengirim surat balasan ke Gunung Qingcheng. Guru berpesan kepadaku bahwa surat yang kubawa berisi permohonan maaf kepada Pendeta Yu; bahwa murid Beliau yang tidak patuh benar-benar memalukan perguruan; bahwa perbuatannya patut dicela; bahwa ia seharusnya dikeluarkan dari perguruan, namun khawatir jangan-jangan pihak luar salah paham mendengarnya; bahwa kedua murid yang tidak patuh itu....”
“Tunggu dulu,” sela Lu Dayou. “Jadi aku juga disebut murid yang tidak patuh?”
“Bukankah itu berarti kau ditempatkan sederajat dengan Kakak Pertama? Seharusnya kau bangga,” sahut Wan’er.
“Benar juga,” ujar Lu Dayou dengan wajah gembira. Ia lantas berteriak kepada pelayan, “Aku minta arak! Aku minta arak!”
Pelayan rumah minum buru-buru mendatangi meja orang-orang itu dan berkata, “Kami hanya menjual teh. Di sini ada teh Sumur Naga, teh Timur Jauh, teh Buddha Besi; tapi maaf, kami tidak menyediakan arak.” Ucapannya ini disampaikan dengan logat Hengshan yang khas.
Lu Dayou menegas, “Jadi aku tidak bisa minum arak di sini? Jadi aku hanya bisa minum teh?” Kata-katanya itu ia ucapkan dengan logat Hengshan; terdengar kacau tapi menggelikan.
“Benar, benar,” jawab si pelayan kedai sambil menuangkan teh hangat baru ke dalam poci mereka.
Kakek Sa melanjutkan, “Surat Guru itu juga menyebutkan bahwa kedua murid yang tidak patuh telah dihukum berat sampai tidak bisa berjalan; bahwa Guru lantas mengutus murid kedua yang bernama Lao Denuo untuk mewakili meminta maaf ke Gunung Qingcheng; kejadian ini disebabkan dua murid Guru yang tidak tahu adat, semoga Pendeta Yu berlapang dada dan sudi memaafkan, demi hubungan baik Perguruan Qingcheng dan Perguruan Huashan; kelak jika bertemu, Guru akan meminta maaf secara langsung kepada Pendeta Yu.”
Mendengar itu Lin Pingzhi berpikir, “Jadi nama asli Kakek Sa adalah Lao Denuo, dan orang-orang ini ternyata murid-murid Perguruan Huashan; salah satu dari Serikat Pedang Lima Gunung.” Seketika hatinya bergetar mengetahui pihak Qingcheng dan Huashan ternyata memiliki hubungan baik.
Lao Denuo melanjutkan, “Sesampainya di Gunung Qingcheng aku bertemu dua korban kenakalan Kakak Pertama itu. Kalau Hou Renying masih lumayan sopan dan tidak menaruh dendam; tapi Hong Renxiong berkali-kali mengejek dan berusaha menantangku berkelahi....”
“Keparat! Murid-murid Qingcheng memang menyebalkan!” sela Lu Dayou dengan perasaan kesal. “Kakak Kedua, kalau dia ingin berkelahi, layani saja dia berkelahi! Untuk apa kau takut? Aku yakin, si marga Hong itu bukan tandinganmu.”
“Guru mengirimku untuk meminta maaf, bukan untuk menambah masalah,” jawab Lao Denuo. “Selama enam hari aku harus menahan sabar. Baru pada hari ketujuh Pendeta Yu muncul dan bersedia menemuiku.”
“Huh, sombong sekali! Lagaknya mirip majikan besar saja!” kembali Lu Dayou menyela. “Kakak Kedua, selama enam hari di sana tentu kau menderita tekanan batin.”
“Begitulah, setiap hari aku disindir dan diejek,” jawab Lao Denuo. “Tapi aku sadar telah dipilih untuk mengantarkan surat Guru bukan karena ilmu silatku tinggi, tapi karena usiaku paling tua dan paling sabar dibandingkan kalian semua. Maka itu aku lantas menelan semua kemarahanku dan bertekad harus menjalankan tugas ini sebaik-baiknya. Orang-orang Qingcheng itu tidak sadar kalau perbuatan mereka yang mengulur-ulur waktu justru bermanfaat bagiku.
Saat itu aku merasa jenuh tinggal di Kuil Cemara Angin karena tidak diizinkan bertemu Pendeta Yu. Pada hari ketiga aku bangun pagi-pagi sekali untuk berjalan-jalan sambil melatih ilmu pernafasanku. Ketika melewati lapangan di belakang kuil aku sempat melihat puluhan murid Qingcheng sibuk berlatih bersama. Tentu saja aku tahu di dunia persilatan terdapat pantangan untuk tidak menyaksikan pihak lain sedang berlatih. Maka itu, aku buru-buru kembali ke dalam kamar. Akan tetapi, meskipun hanya sekilas pandang tetap saja latihan itu membuatku curiga. Kulihat mereka berlatih jurus pedang yang sama; hanya saja, gerakan mereka terlihat masih agak kaku, seperti sedang mempelajari suatu ilmu baru. Tapi entah, ilmu pedang apa pula yang sedang mereka pelajari itu? Tentu saja aku tidak dapat mengetahuinya cukup dengan sekali pandang saja.”


Lao Denuo menyaksikan murid-murid Qingcheng berlatih bersama.
Lao Denuo meneguk sedikit teh, lalu melanjutkan, “Setelah kembali ke kamar, aku memikirkan apa yang baru saja kulihat tadi. Semakin kupikirkan aku merasa semakin curiga. Perguruan Qingcheng sudah memiliki sejarah panjang. Murid-murid itu bergabung dalam waktu yang tidak bersamaan, tapi mengapa saat itu mereka berlatih bersama-sama? Yang lebih mengherankan lagi, mengapa Empat Jagoan Qingcheng, yaitu Hou Renying, Hong Renxiong, Yu Renhao, dan Luo Renjie ikut serta? Coba pikir, menurut kalian ada apa sebenarnya?”
Si pembawa sempoa menjawab, “Mungkin Perguruan Qingcheng baru saja menemukan kitab ilmu pedang kuna, atau Pendeta Yu baru saja menciptakan jurus-jurus baru.”
“Semula aku juga berpikir demikian,” jawab Lao Denuo. “Tapi kemudian aku berpikir alasan itu kurang tepat. Ilmu pedang Pendeta Yu sangat tinggi. Jika dia berhasil menciptakan ilmu baru tentu sifatnya luar biasa dan hanya diajarkan kepada murid-murid terbaiknya saja. Begitu pula andaikan Perguruan Qingcheng menemukan kitab ilmu pedang kuna yang sudah langka, tentu tidak semua murid boleh mempelajarinya. Seorang guru pasti menunjuk dua atau tiga murid terbaiknya untuk mempelajari ilmu baru yang istimewa; bukannya menyuruh puluhan murid dari yang paling pandai sampai yang paling lemah berlatih bersama. Benar-benar mengherankan.”
Lin Pingzhi semakin memusatkan perhatiannya untuk mendengarkan cerita Lao Denuo sampai tuntas. Terdengar orang tua itu melanjutkan, “Esok paginya aku kembali berpura-pura melintasi lapangan tempat mereka berlatih. Sekali lagi aku melihat puluhan orang berlatih ilmu pedang yang sama. Aku sama sekali tidak berani berhenti atau menonton. Aku hanya melirik sedikit untuk menghafal dua jurus saja. Setelah kembali ke Gunung Huashan aku berniat meminta pendapat Guru. Sampai hari itu Pendeta Yu belum juga menampakkan diri sehingga timbul perasaan curiga di hatiku; jangan-jangan pihak Qingcheng sangat membenci perguruan kita. Mungkin saja karena ulah Kakak Pertama, murid-murid Qingcheng berlatih ilmu pedang baru untuk digunakan menyerang Perguruan Huashan kita. Karena itu, aku berpendapat sebaiknya lebih berhati-hati.”
Si jangkung bertanya, “Kakak Kedua, mungkinkah mereka berlatih suatu formasi pedang?”
“Aku juga sempat berpikir demikian. Namun, aku melihat mereka berlatih secara berpasang-pasangan dengan jurus yang sama pula. Jurus yang digunakan untuk menyerang sama persis dengan jurus untuk bertahan; sama sekali ini bukan formasi pedang,” jawab Lao Denuo. “Pagi berikutnya, aku kembali berjalan melintasi tempat mereka berlatih. Akan tetapi, keadaan di sana sunyi sepi tanpa seorang pun. Rupanya mereka mulai curiga kepadaku dan berusaha menghindar. Aku terus berjalan dan melihat-lihat ke segala arah, namun tidak menemukan apa-apa lagi. Akibatnya, kecurigaanku semakin bertambah besar. Entah rahasia apa yang sedang mereka sembunyikan. Aku khawatir mereka mempelajari suatu ilmu pedang baru untuk menghadapi perguruan kita; jika tidak, mengapa mereka sedemikian takut terlihat olehku?
Malam harinya aku tidak bisa tidur memikirkan Perguruan Qingcheng sebenarnya sedang merencanakan apa? Tiba-tiba telingaku mendengar suara senjata beradu di kejauhan. Aku terkejut, jangan-jangan Kuil Cemara Angin sedang diserbu musuh. Waktu itu aku mengira Kakak Pertama datang untuk membalas dendam kepada mereka karena telah dihukum Guru. Mengingat Kakak Pertama hanya seorang diri melawan puluhan orang, aku pun keluar untuk membantunya. Padahal, sewaktu berangkat meninggalkan Gunung Huashan, aku tidak membawa senjata sama sekali. Tapi aku telah bertekad untuk membantu Kakak Pertama meski hanya dengan tangan kosong.”
“Hebat sekali!” puji Lu Dayou. “Keberanian Kakak Kedua memang luar biasa. Mana mungkin aku berani menghadapi Pendeta Yu dengan tangan kosong?”
“Dasar Monyet Keenam suka bicara sembarangan!” sahut Lao Denuo ketus. “Siapa yang bilang hendak menghadapi Pendeta Yu? Aku keluar kamar hanya karena khawatir pada keselamatan Kakak Pertama. Meskipun berbahaya tapi aku harus tetap berangkat. Memangnya aku bisa enak-enakan meringkuk di dalam selimut seperti kura-kura?”
Maka terdengarlah gemuruh tawa orang-orang Perguruan Huashan itu.
Lu Dayou berkata sambil memoncongkan mulutnya, “Aku memujimu tapi kau malah menjawab dengan galak.”
“Terima kasih,” jawab Lao Denuo. “Tapi pujianmu tidak pada tempatnya.”
Beberapa lainnya berkata, “Kakak Kedua, jangan hiraukan Monyet Keenam. Lanjutkan saja ceritanya.”
Lao Denuo tersenyum dan kembali bercerita, “Begitulah, aku pun keluar dari kamar dan bergegas menuju ke arah sumber suara. Mendengar suara benturan senjata itu semakin keras dan keras, jantungku ikut berdebar kencang. Aku berpikir: ‘Kami berdua sama-sama terjebak di sarang musuh. Kakak Pertama berilmu tinggi dan punya kesempatan untuk lolos dengan selamat; tapi, bagaimana denganku? Ini benar-benar gawat.’ –Ternyata suara benturan senjata itu berasal dari sebuah ruangan di sisi belakang kuil. Aku pun mengendap-endap mendekati ruangan itu, dan kemudian mengintip ke dalam melalui celah jendela yang tidak tertutup rapat. Bagian dalam ruangan tersebut terang benderang oleh cahaya ratusan lilin dan pelita. Seketika hatiku menjadi lega; karena yang kulihat di dalam situ hanyalah murid-murid Qingcheng sedang sibuk berlatih. Apa yang kukhawatirkan tidak menjadi kenyataan; Kakak Pertama sama sekali tidak datang menyerang Kuil Cemara Angin. Di dalam ruangan itu aku melihat dua pasangan sedang bertanding dengan jurus yang sama. Tampak Hou Renying melawan Hong Renxiong di satu sisi; serta Fang Renzhi melawan Yu Renhao di sisi lainnya.”
“Wah, murid-murid Qingcheng benar-benar rajin. Mereka berlatih pedang sampai tak kenal malam,” ujar Lu Dayou kembali memotong pembicaraan. Lao Denuo memandangnya dengan tatapan tajam sehingga adik keenamnya itu langsung terdiam.
“Di tengah ruangan itu kulihat pula seorang pendeta bertubuh pendek memakai jubah warna biru sedang duduk mengawasi. Usianya sekitar lima puluhan dengan wajah terlihat kurus. Kuperkirakan berat badannya sekitar empat puluh kilo saja,” lanjut Lao Denuo. “Dari ciri-ciri yang pernah kudengar, konon ketua Perguruan Qingcheng memang seorang pendeta agama Tao yang bertubuh pendek. Akan tetapi, aku tidak pernah menyangka kalau Pendeta Yu ternyata lebih pendek dari dugaanku. Murid-murid Qingcheng yang lain ikut menonton dengan duduk di sekelilingnya. Setelah memperhatikan dengan seksama, ternyata kedua pasangan tersebut bertanding menggunakan jurus-jurus pedang yang kulihat dua hari berturut-turut sebelumnya.
Aku sadar waktu itu keadaanku sangat tidak aman. Jika sampai ketahuan oleh mereka, diriku bukan hanya akan dihukum berat, tapi nama baik Perguruan Huashan tentu ikut tercemar pula. Memang Guru telah menghukum Kakak Pertama dengan alasan tidak tahu adat, suka berbuat onar; namun aku yakin Beliau diam-diam merasa bangga. Bagaimanapun juga berkat Kakak Pertama, nama baik perguruan kita bertambah harum di dunia persilatan. Kakak tertua kita mampu mengalahkan dua murid terbaik Perguruan Qingcheng hanya dengan sekali tendang. Rasanya tidak pantas lagi mereka memakai julukan Empat Jagoan Qingcheng. Akan tetapi, apa yang kulakukan jelas sangat berbeda. Aku telah melanggar tata krama dunia persilatan yaitu mengintai perguruan lain sedang berlatih silat. Ini merupakan kejahatan yang lebih keji daripada mencuri harta benda. Jika pihak Qingcheng mengadukan perbuatanku kepada Guru, tentu aku akan dikeluarkan dari Perguruan Huashan kita.
Akan tetapi, menyaksikan betapa murid-murid Qingcheng itu berlatih dengan keras membuat aku semakin khawatir, jangan-jangan mereka benar-benar hendak menyerbu perguruan kita. Bagaimana mungkin aku bisa pergi begitu saja? Dalam hati aku berjanji cukup melihat dua atau tiga jurus saja. Namun jurus demi jurus terus saja berlalu dan aku tetap terpaku untuk mengintai. Aku melihat jurus pedang yang mereka mainkan memang agak aneh. Seumur hidup baru kali ini aku menyaksikan jurus pedang seperti itu. Sebenarnya aku tidak melihat suatu hal yang istimewa dari jurus-jurus tersebut, tapi anehnya, mengapa orang-orang Qingcheng sedemikian tekun mempelajarinya? Mungkinkah jurus seperti itu yang akan digunakan untuk menyerang Perguruan Huashan kita?
Setelah menyaksikan beberapa jurus lagi akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kamar. Perlahan-lahan kutinggalkan tempat tersebut. Aku sangat khawatir jangan-jangan sewaktu pertandingan selesai ternyata aku masih berada di sana. Dengan kepandaiannya yang sangat tinggi, Pendeta Yu pasti akan mudah menemukanku meski aku hanya sedikit bergerak. Maka itu, selagi kedua pasangan itu masih bertanding seru, aku pun melangkah pergi dengan mengendap-endap.
Dua malam berikutnya suara benturan pedang kembali terdengar, namun aku sama sekali tidak berani keluar untuk mengintai lagi. Andai saja sejak awal aku tahu kalau murid-murid Qingcheng itu berlatih di hadapan Pendeta Yu, mungkin aku tidak berani keluar sama sekali. Semua yang telah kulihat malam itu terjadi karena ketidaksengajaan. Maka, sewaktu Adik Keenam memuji keberanianku tadi, aku langsung marah-marah,” ujar Lao Denuo sambil menoleh ke arah Lu Dayou. “Andai saja waktu itu kau melihat wajahku yang pucat pasi seperti mayat, tentu kau akan menyebutku sebagai pengecut nomor satu di dunia.”
“Tidak mungkin, tidak mungkin!” sahut Lu Dayou. “Kakak Kedua, pengecut nomor satu di dunia bukan kau tapi aku. Andai saja waktu itu aku yang mengintip di jendela, tentu diriku akan lebih konyol lagi. Kau sendiri masih berani melangkah kembali ke kamar; tapi bagaimana denganku? Sehebat apapun kepandaian Pendeta Yu tidak mungkin bisa menyadari keberadaanku; karena jangankan bergerak, untuk bernapas saja mungkin aku tidak berani.”
Serentak tertawalah semua orang di meja itu mendengar perkataan Lu Dayou yang polos dan lugu.
Lao Denuo melanjutkan ceritanya, “Pada hari ketujuh barulah Pendeta Yu bersedia menerima diriku. Setelah membaca surat dari Guru, Beliau lantas berbicara dengan kata-kata sopan dan penuh hormat. Menurutnya, pertarungan antara murid-murid kedua perguruan anggap saja seperti perkelahian anak kecil; orang tua tidak perlu ikut-ikutan. Jangan sampai hubungan baik antara Perguruan Huashan dan Qingcheng rusak hanya karena masalah sepele. Malam itu aku dijamu dengan sangat baik bagaikan seorang tamu agung. Bahkan, esok paginya Pendeta Yu ikut mengantarkan diriku sampai ke pintu gerbang sewaktu aku pamit meninggalkan Kuil Cemara Angin. Meskipun usiaku tua namun kedudukanku lebih rendah, sehingga aku pun berlutut di hadapannya sebelum turun gunung. Namun Pendeta Yu segera menyanggah tubuhku dengan tangan kanan secara perlahan sehingga aku pun terangkat naik. Waktu itu aku merasakan betapa hebat tenaga dalam Pendeta Yu. Beliau mengangkatku tanpa terlihat mengeluarkan tenaga sedikit pun. Andai saja ia mau, tentu tubuhku sudah dilemparkannya sejauh puluhan meter. Kekuatanku sama sekali jauh di bawahnya.
Pendeta Yu kemudian bertanya kepadaku: ‘Kakak pertamamu masuk perguruan selisih berapa tahun denganmu? Kalau aku tidak salah, sebelum belajar di Huashan kau sudah memiliki dasar-dasar ilmu silat, benar begitu?’
Saat itu aku masih tertegun menyadari kekuatan tenaga dalam Pendeta Yu. Setelah agak tenang dan napasku lebih teratur, baru aku menjawab: ‘Benar, saya pernah belajar sedikit ilmu silat sebelumnya. Ketika saya bergabung dengan Perguruan Huashan, waktu itu Kakak Pertama sudah lebih dulu berguru di sana selama tiga tahun.’
Pendeta Yu tersenyum dan berkata: ‘Lebih tiga tahun, hm, lebih tiga tahun.’”
Wan’er menyela, “Apa maksudnya dengan ‘lebih tiga tahun’?”
“Entahlah,” jawab Lao Denuo. “Mungkin Beliau merasa ilmu silatku biasa-biasa saja. Meskipun hanya selisih tiga tahun dengan Kakak Pertama, namun kepandaian kami sangat berbeda.”
Si gadis burik tertegun mendengarnya dan tidak bertanya lagi.
Terdengar Lao Denuo melanjutkan, “Begitu kembali ke Gunung Huashan, aku segera menyerahkan surat balasan dari Pendeta Yu kepada Guru. Isi surat tersebut sangat halus dan merendahkan diri. Guru terlihat senang membacanya, karena hubungan baik kedua perguruan tetap terjaga. Guru lantas menanyakan bagaimana pengalamanku di sana. Aku pun bercerita semuanya, termasuk saat menyaksikan murid-murid Qingcheng berlatih jurus pedang aneh. Merasa penasaran, Guru menyuruhku memperagakan jurus-jurus tersebut. Karena hanya mengintai sebentar, maka aku hanya bisa memperagakan tujuh atau delapan jurus saja. Namun demikian, Guru bisa langsung mengetahui kalau jurus tersebut adalah bagian dari Ilmu Pedang Penakluk Iblis milik Keluarga Lin dari Biro Ekspedisi Fuwei.”
Tubuh Lin Pingzhi langsung gemetar mendengarnya. Untungnya waktu itu orang-orang Huashan sedang sibuk mendengarkan cerita si kakak kedua sehingga tidak seorang pun yang peduli kepadanya.
Lao Denuo melanjutkan, “Aku pun bertanya kepada Guru: ‘Apakah Ilmu Pedang Penakluk Iblis sedemikian hebatnya sehingga Perguruan Qingcheng begitu tekun mempelajarinya?’
Guru memejamkan mata cukup lama, baru kemudian Beliau menjawab: ‘Denuo, sebelum bergabung dengan Huashan, bukankah kau pernah berkelana sekian lama di dunia persilatan? Bagaimana pendapatmu tentang Lin Zhennan, pemimpin Biro Ekspedisi Fuwei?’
Aku menjawab: ‘Menurut cerita yang pernah saya dengar, konon Lin Zhennan seorang yang sangat ramah dan suka menolong. Ia terkenal dermawan pula. Orang-orang suka berteman dengannya dan segan mengganggu barang kawalan perusahaannya. Namun mengenai ilmu silatnya kurang begitu jelas.’
Guru berkata: ‘Benar sekali. Di bawah kepemimpinan Lin Zhennan memang Biro Ekspedisi Fuwei berkembang sangat pesat. Semua itu bukan karena kehebatan ilmu silatnya, melainkan karena ia pandai menjalin persahabatan. Namun, apakah kau pernah mendengar bahwa Keluarga Lin sebenarnya memiliki ilmu rahasia? Konon guru Pendeta Yu yang bernama Pendeta Tang Qingzi pernah dikalahkan oleh Lin Yuantu menggunakan Ilmu Pedang Penakluk Iblis?’
Aku pun bertanya: ‘Siapa itu Lin Yuantu? Apakah dia ayah dari Lin Zhennan?’
Guru menjawab: ‘Bukan. Lin Yuantu adalah pendiri Biro Ekspedisi Fuwei yang juga kakek dari Lin Zhennan. Ia merupakan tokoh luar biasa pada zamannya. Tidak seorang pun tokoh golongan hitam yang bisa mengalahkannya. Tidak hanya itu, bahkan tokoh-tokoh golongan putih pun ada pula yang ingin mencoba kepandaiannya. Salah satunya adalah Pendeta Tang Qingzi, ketua Perguruan Qingcheng waktu itu. Dalam beberapa jurus, ia akhirnya roboh dan mengakui kehebatan Ilmu Pedang Penakluk Iblis.’
Aku bertanya: ‘Jadi, Ilmu Pedang Penakluk Iblis sedemikian hebatnya?’
Guru menjawab: ‘Begitulah, kedua pihak akhirnya sepakat untuk merahasiakan pertarungan tersebut. Hanya saja, Tang Qingzi adalah sahabat baik guruku, atau kakek gurumu. Hanya kepada Guru saja ia mau bercerita. Tang Qingzi menganggap kekalahannya ini sebagai aib yang tidak akan terlupakan seumur hidup. Namun, ia sendiri juga menyadari tidak akan pernah bisa membalas kekalahan terhadap Lin Yuantu. Di hadapan kakek gurumu, Tang Qingzi mencoba memainkan Ilmu Pedang Penakluk Iblis –berdasarkan ingatannya– untuk mencari celah kelemahan ilmu pedang tersebut. Beliau berdua sibuk berdiskusi namun sampai beberapa bulan tidak juga menemukan cara untuk mengatasi ilmu pedang tersebut. Padahal, ilmu pedang Lin Yuantu ini hanya terdiri dari tujuh puluh dua jurus dan terlihat biasa-biasa saja. Akan tetapi, di balik kesederhanaannya itu tersimpan kekuatan yang luar biasa. Aku sendiri saat itu masih remaja dan baru bergabung dengan Perguruan Huashan. Aku bertugas melayani mereka dengan menghidangkan teh setiap hari sehingga sedikit banyak ikut menyaksikan bagaimana jurus-jurus pedang tersebut diperagakan oleh Tang Qingzi. Itulah sebabnya ketika kau tadi memainkan beberapa gerakan, aku langsung mengenalinya sebagai Ilmu Pedang Penakluk Iblis. Hm, waktu telah lama berlalu, namun rasanya baru kemarin aku melihat jurus-jurus ini....’
Lin Pingzhi tertegun mendengar cerita Lao Denuo. Sejak ayah dan ibunya tertangkap oleh murid-murid Qingcheng, ia sempat putus asa dan kehilangan kepercayaan terhadap ilmu pedang keluarganya itu. Yang sangat ingin ia lakukan adalah mencari guru baru dan belajar ilmu silat lain dengan giat untuk membalas dendam. Namun, begitu mengetahui kehebatan Lin Yuantu yang pernah berjaya di dunia persilatan, seketika semangatnya bangkit kembali. Ternyata Ilmu Pedang Penakluk Iblis di tangan sang kakek buyut bisa sedemikian mengerikan; bahkan, ketua-ketua Perguruan Qingcheng dan Huashan terdahulu tidak bisa mengatasinya. Akan tetapi, mengapa ayahnya tidak mampu mengalahkan murid-murid Qingcheng yang masih hijau itu? “Mungkinkah Ayah belum berhasil menyelami rahasia kekuatan daninti sari Ilmu Pedang Penakluk Iblis?” demikian pikirnya.


Pertandingan antara Tang Qingzi melawan Lin Yuantu.
(Bersambung)

You may like these posts

Komentar

  1. To insert a code use <i rel="pre">code_here</i>
  2. To insert a quote use <b rel="quote">your_qoute</b>
  3. To insert a picture use <i rel="image">url_image_here</i>
Tinggalkan komentar sesuai topik tulisan, komentar dengan link aktif tidak akan ditampilkan.
Admin dan penulis blog mempunyai hak untuk menampilkan, menghapus, menandai spam, pada komentar yang dikirim