Bagian 13 - Gadis Kecil Berbaju Hijau

Yu Canghai menangkap seorang gadis kecil.
Yu Canghai terkejut dan sangat marah. Tanpa membuang waktu ia langsung melesat ke arah datangnya suara. Dilihatnya seorang anak perempuan berbaju hijau sedang berdiri di dekat meja. Tanpa pikir lagi, ia langsung memegang lengan anak itu.
“Aduh, Ibu!” jerit si gadis kecil kesakitan. Ia kemudian menangis keras-keras.
Yu Canghai merasa serbasalah. Begitu mendengar suara seseorang mengejek Perguruan Qingcheng ia langsung menerjang dengan sekuat tenaga tanpa berpikir panjang. Tak disangka, ternyata yang berteriak demikian hanyalah seorang gadis kecil dan terlanjur ia cengkeram. Seketika ia merasa telah melakukan kesalahan besar karena gadis sekecil itu mana mungkin mampu melemparkan tubuh kedua muridnya. Di hadapan banyak orang, tentu perbuatan ini sangat memalukan, apalagi dirinya seorang ketua perguruan ternama. Maka dengan segera ia pun melepaskan lengan gadis kecil tersebut.
Tak disangka anak itu justru menangis semakin keras. “Aduh, Ibu! Dia telah mematahkan lenganku! Ooo, Ibu, tanganku sakit sekali! Aduh, aduh! Uh-uh-uh, sakit sekali!” demikian teriaknya.
Yu Canghai memang sudah banyak berpengalaman di dunia persilatan. Berbagai masalah yang sangat rumit dapat diatasinya. Akan tetapi baru kali ini ia menemui masalah yang sangat memalukan. Menghadapi seorang anak kecil seperti itu ternyata ia merasa kesulitan. Di bawah sorot mata ratusan hadirin, wajahnya terlihat merah padam. Seolah-olah mereka menuduh dirinya tidak berani menghadapi Mu Gaofeng dan mengalihkan serangan pada seorang anak kecil.
Dengan suara perlahan Yu Canghai mencoba membujuk gadis kecil itu, “Sudah, jangan menangis! Tanganmu tidak apa-apa; tidak patah, juga tidak sakit.”
“Tanganku sudah patah!” jerit anak itu semakin keras. “Tanganku sudah patah! Aduh, Ibu, sakit sekali. Uh-uh-uh, orang tua menyakiti anak kecil. Aduh, sakit!”
Para hadirin memandang gadis kecil itu dengan seksama. Usianya baru sekitar tiga belas tahun; kulitnya putih bersih dan wajahnya terlihat menyenangkan. Seketika timbul rasa simpati mereka terhadap anak berbaju hijau tersebut. Bahkan, ada dua orang yang berteriak kasar, “Hajar saja hidung kerbau itu!”
Yu Canghai merasa terpojok. Ia sadar telah membangkitkan amarah banyak orang. Merasa serbasalah, ketua Perguruan Qingcheng itu mencoba membujuk lagi, “Adik kecil, jangan menangis. Aku minta maaf. Coba kulihat tanganmu apa ada yang terluka.”
Baru saja tangannya bergerak, gadis kecil itu kembali menjerit keras, “Tidak mau! Jangan sentuh aku! Aduh, Ibu! Tanganku telah dipatahkan pendeta pendek ini!”
Sementara Yu Canghai kebingungan, seorang berseragam ungu maju untuk membantu. Ia tidak lain adalah Fang Renzhi, murid paling cerdik dalam Perguruan Qingcheng. Dengan menggunakan jurus memutarbalikkan fakta, ia pun menyapa si gadis kecil, “Hei, Nona kecil. Kau jangan berpura-pura. Tangan guruku sama sekali tidak menyentuh bajumu. Lantas, bagaimana bisa mematahkan lenganmu?”
Di luar dugaan, anak itu justru berteriak, “Ibu, ada yang hendak memukulku!”
Biksuni Dingyi yang sejak tadi menahan kesal akhirnya maju dan langsung melayangkan tangan untuk menampar wajah Fang Renzhi sambil membentak, “Memalukan! Orang tua beraninya menggertak anak kecil!”
Fang Renzhi berniat menangkis serangan itu. Dingyi segera menjulurkan tangannya yang lain untuk menangkap lengan Fang Renzhi dan mendorongnya ke bawah. Apabila sang biksuni menambah tenaga, tentu siku murid Qingcheng bertubuh kurus itu sudah patah.
Melihat muridnya dalam bahaya, Yu Canghai langsung menyerang punggung Dingyi menggunakan totokan. Terpaksa Dingyi melepaskan tangan Fang Renzhi untuk menangkis serangan tersebut. Melihat muridnya terbebas, Yu Canghai pun melompat mundur dan membatalkan serangan. “Maaf!” katanya.
Dingyi kemudian mendekati si gadis kecil dan memegangi lengannya. Dengan suara lembut biksuni tua itu bertanya, “Anak manis, mana yang sakit? Biar aku yang mengobati.”
Setelah memeriksa lengan anak itu dan ternyata tidak patah, Dingyi merasa lega. Namun begitu lengan baju gadis itu digulung, tampak empat ruas garis merah bekas cengkeraman tangan orang dewasa melingkar di kulit lengannya yang langsung membuat Dingyi kembali gusar.
“Lihat ini, keparat!” seru Dingyi kepada Fang Renzhi sambil menunjukkan lengan si gadis kecil. “Kau bilang gurumu tidak pernah menyentuhnya. Lalu, ini bekas tangan siapa?”
Si gadis baju hijau berseru, “Bekas tangan si bulus itu.” Sambil berkata demikian ia menunjuk ke arah Yu Canghai.
Maka meledaklah tawa para hadirin seketika. Mereka bergelak tawa begitu keras, sampai-sampai ada salah seorang yang menyemburkan teh di mulutnya, serta ada pula yang jatuh terguling-guling di lantai.
Yu Canghai merasa heran mengapa para hadirin tiada henti-henti menertawakan dirinya. Padahal ejekan “bulus” merupakan hal yang biasa di daerah asalnya. Ia merasa tidak ada yang aneh dengan ejekan ini. Namun melihat para hadirin terus-menerus tertawa, diam-diam hatinya merasa malu juga.
Fang Renzhi segera melompat ke samping Yu Canghai dan mencabut selembar kertas yang menempel di punggung sang guru. Kertas itu lantas diremasnya menjadi bola kecil. Yu Canghai memungut dan membukanya kembali. Betapa terkejut dirinya karena pada kertas itu terdapat gambar seekor bulus berukuran besar.
Yu Canghai merasa malu bukan main. Ia yakin gambar bulus itu sudah dipersiapkan untuk mempermainkan dirinya. Sewaktu gadis kecil itu menangis dan menjerit-jerit untuk mengalihkan perhatian, seseorang berkepandaian tinggi telah bergerak cepat menempelkan gambar tersebut di punggung Yu Canghai. Berpikir demikian Yu Canghai pun mengamati ke segala arah dan akhirnya pandangannya tertuju kepada Liu Zhengfeng, sang tuan rumah. “Anak sial ini pasti anggota Keluarga Liu. Jangan-jangan Liu Zhengfeng sendiri yang telah mempermainkan diriku,” demikian pikirnya.
Menyadari dirinya sedang dicurigai, Liu Zhengfeng segera maju dan bertanya kepada si gadis kecil, “Adik kecil, kau ini berasal dari mana? Siapa ayah dan ibumu? Di mana mereka?”
Gadis kecil itu menjawab, “Ayah dan ibuku pergi jauh. Aku disuruh duduk di sini untuk melihat pertunjukan menarik. Mereka bilang sebentar lagi akan ada dua sosok manusia yang melayang melalui jendela dan kemudian jatuh tersungkur di lantai. Konon dua orang itu sedang memainkan jurus Belibis Mendarat Tampak Pantat andalan Perguruan Qingcheng.” Usai berkata demikian gadis itu langsung bertepuk tangan dan tertawa riang meskipun masih berlinangan air mata.
Melihat itu para hadirin serentak ikut tertawa. Sebaliknya, orang-orang Qingcheng benar-benar kehilangan muka. Kedua saudara mereka masih tengkurap di lantai dengan bekas tapak kaki menghiasi pantat masing-masing. Keadaan mereka sama persis dengan yang dialami Shen Renjun dan Ji Rentong.
Yu Canghai semakin gelisah. Untuk membuka totokan mereka diperlukan waktu yang lama, serta menguras banyak tenaga. Padahal, selain Mu Gaofeng terdapat pula seorang musuh lain yang berkepandaian tinggi sedang bersembunyi.
Maka itu, Yu Canghai lantas berkata, “Pindahkan mereka berdua dari sini.”
“Baik, Guru,” jawab Fang Renzhi. Ia lantas mengajak saudara-saudaranya melaksanakan perintah sang guru.
Melihat itu si gadis kecil berseru, “Wah, orang-orang Qingcheng banyak sekali. Satu belibis mendarat digotong dua orang; dua belibis mendarat digotong empat orang.”
Dengan muka merah Yu Canghai bertanya kepada anak itu, “Kau ini sebenarnya anak siapa? Apakah yang baru kau katakan ini hasil didikian ayah atau ibumu?”
Sambil berkata demikian ia berpikir, “Anak sial ini tidak mungkin mengarang kata-kata seperti tadi. Pasti ada orang lain yang telah mengajarinya. Kata-kata ‘Belibis Mendarat Tampak Pantat’ diciptakan oleh Linghu Chong. Mungkin Perguruan Huashan berniat membalas kematian Linghu Chong dengan cara seperti ini. Di antara orang-orang Huashan, yang bisa menotok murid-muridku dengan tenaga dalam sehebat ini sudah pasti hanyalah... hanyalah Yue Buqun seorang. Mungkinkah dia yang telah bermain di balik semua ini?”
Membayangkan pelaku penyerangan terhadap murid-muridnya adalah Yue Buqun, ketua Perguruan Huashan, seketika Yu Canghai merasa khawatir. Ia sadar ilmu silat Yue Buqun sangat tinggi. Apabila perguruannya sampai berselisih dengan pihak Huashan, maka keempat perguruan lainnya dalam Serikat Pedang Lima Gunung akan segera turun tangan. Tentu saja ini menjadi bencana besar bagi Perguruan Qingcheng.
Sementara itu, si gadis kecil berbaju hijau seolah tidak memedulikan pertanyaan Yu Canghai. Ia tetap terlihat asyik berhitung, “Satu dikali dua ada dua; dua dikali dua ada empat; tiga dikali dua ada enam; empat dikali dua ada delapan....”
“Aku bertanya kepadamu!” bentak Yu Canghai.
Gadis kecil itu tersentak kaget dan kembali menangis keras. Ia lantas menyembunyikan wajahnya di balik lengan Dingyi. Sang biksuni pun menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut sambil berkata, “Jangan takut, anak manis! Jangan takut, anak manis!”
Kembali Dingyi melotot ke arah Yu Canghai dan balas membentak, “Kenapa kau menggertak anak ini?”
Yu Canghai hanya mendengus. Dalam hati ia berpikir Serikat Pedang Lima Gunung telah bersatu untuk menghadapi Perguruan Qingcheng.
Muka si gadis kecil melongok dari balik lengan baju Dingyi sambil tertawa. Ia lantas berkata, “Nenek, dua kali dua ada empat, dua belibis mendarat diangkut empat orang; tiga kali dua ada enam, tiga belibis mendarat diangkut enam orang; empat kali dua ada delapan....”
Para hadirin merasa heran melihat tingkah laku anak ini. Umumnya anak kecil yang suka menangis dan tertawa dalam waktu singkat adalah mereka yang masih berusia di bawah tujuh tahun. Akan tetapi, gadis ini paling tidak sudah berusia tiga belas tahun. Tidak sepatasnya ia bersikap demikian. Mendengar ucapannya selalu mempermalukan Perguruan Qingcheng, sudah tentu ada orang lain yang bersembunyi dan mengajarinya.
Yu Canghai semakin penasaran. Ia pun berseru, “Wahai orang gagah yang bersembunyi di sana! Entah kawan entah lawan, sebaiknya kau tunjukkan dirimu! Kenapa kau memperalat anak kecil untuk menyampaikan omong kosong ini? Apakah ini tindakan seorang kesatria?”
Meskipun bertubuh kecil, Yu Canghai ternyata mampu berteriak dengan keras dan nyaring hingga membuat telinga para hadirin ikut berdengung. Seketika suasana di aula itu berubah sunyi senyap, namun tetap saja tidak terdengar suara seorang pun yang menjawab.


Yu Canghai menantang musuh tak terlihat.
Sejenak kemudian si gadis kecil kembali bertanya kepada Dingyi, “Nenek, dia menyebut-nyebut tentang orang gagah. Apa kira-kira di dalam Perguruan Qingcheng juga terdapat orang gagah?”
Dingyi adalah tokoh sepuh dalam Perguruan Henshan, sudah pasti ia pantang merendahkan pihak lain di depan umum. Meskipun tidak menyukai Perguruan Qingcheng, terpaksa biksuni ini menjawab, “Di masa lalu dalam Perguruan Qingcheng memang... memang banyak terdapat orang gagah.”
“Kalau sekarang bagaimana?” sahut si gadis kecil. “Apa masih ada orang Qingcheng yang bersikap kesatria?”
“Kenapa tidak kau tanyakan langsung saja kepada pendeta itu? Dia adalah ketua Perguruan Qingcheng,” jawab Dingyi sambil menggerakkan bibirnya ke arah Yu Canghai.
Ternyata gadis itu benar-benar bertanya kepada Yu Canghai, “Pendeta, kalau ada orang menganiaya orang lain yang sedang terluka parah, apakah orang itu pantas disebut kesatria?”
Pertanyaan ini membuat Yu Canghai tergetar. Ia berpikir, “Gadis ini benar-benar dari Perguruan Huashan.”
Sebagian hadirin yang mendengar tentang kematian Linghu Chong di tangan Luo Renjie diam-diam berpikir pula, “Jangan-jangan gadis kecil ini ada sangkut pautnya dengan Perguruan Huashan.”
Sebaliknya, Lao Denuo bertanya dalam hati, “Ucapan anak ini jelas-jelas membela Kakak Pertama. Memangnya, siapa anak ini sebenarnya?”
Yilin yang telah pulih dari pingsan diam-diam sangat berterima kasih mendengar pertanyaan gadis kecil itu. Sebenarya sejak tadi ingin sekali ia mengajukan pertanyaan tersebut kepada Yu Canghai untuk sekadar meminta keadilan. Namun sifatnya yang lembut dan sopan membuatnya menahan diri untuk bertanya demikian. Kali ini si gadis kecil telah menyampaikan pertanyaan itu, sehingga dalam hati ia merasa sangat bersyukur. Tak terasa air matanya pun menetes karena perasaan haru.
Yu Canghai balik bertanya dengan suara perlahan, “Siapa yang mengajarimu bertanya seperti itu?”
Gadis itu tidak menjawab, justru kembali bertanya, “Apakah kau punya murid bernama Luo Renjie? Dia melihat ada orang lain terluka parah; bukannya memberi pertolongan, tapi justru menusuknya dengan pedang. Apakah perbuatan muridmu itu termasuk perbuatan kesatria? Apakah yang mengajari Luo Renjie berbuat demikian adalah kau sendiri?”
Pertanyaan seperti itu sudah tentu membuat Yu Canghai serbasalah. Terpaksa ia balik mendesak dengan sikap bengis, “Aku bertanya kepadamu, siapa sebenarnya yang telah menyuruhmu mencari masalah denganku? Apakah ayahmu berasal dari Huashan?”
Si gadis kecil menoleh ke arah Dingyi dan bertanya, “Nenek, apakah caranya menggertak anak kecil seperti aku ini juga termasuk perbuatan kesatria?”
“Entahlah, aku sulit menjawabnya,” jawab Dingyi.
Para hadirin semakin heran melihat anak itu. Semula mereka mengira ada orang lain yang mendalangi ucapannya. Namun ternyata, anak itu berbicara sesuai keadaan yang sedang ia alami. Jelas apa yang baru saja ia tanyakan bukan hasil karangan sebelumnya. Dalam hati mereka memuji kecerdasan dan kepandaian anak sekecil itu.
Di sisi lain, dengan pandangan samar-samar karena genangan air mata, Yilin mengamat-amati wajah gadis kecil tersebut. Dalam hati ia berpikir, “Sepertinya aku pernah melihat adik kecil ini, tapi entah di mana.” Sejenak kemudian ia terkesiap. “Aku tahu! Kemarin aku melihat adik kecil ini di Rumah Makan Dewa Mabuk.”
Yilin kemudian mengingat-ingat peristiwa kemarin pagi. Selain dirinya yang duduk semeja bersama Linghu Chong dan Tian Boguang, ia juga melihat sekitar tujuh sampai delapan meja lainnya terisi penuh oleh tamu. Setelah Tian Boguang melukai Pendeta Tiansong dan membunuh Chi Baicheng, satu per satu para tamu pergi keluar karena takut. Sementara itu para pelayan juga tidak berani keluar untuk menyuguhkan arak. Para tamu lainnya yang tersisa di loteng rumah arak tersebut hanya seorang biksu bertubuh tinggi besar yang duduk dekat tangga, serta dua orang di meja lainnya. Setelah Tian Boguang pergi dan Linghu Chong saling bunuh dengan Luo Renjie, ketiga tamu tersebut tetap saja duduk tenang di meja masing-masing.
Yilin kini teringat bahwa gadis kecil ini adalah salah satu di antara dua orang tamu yang tersisa, selain si biksu besar. Waktu itu Yilin hanya melihat punggung gadis itu sehingga tidak mengenalinya sewaktu muncul di rumah Liu Zhengfeng saat ini. Lagipula si gadis kecil kemarin memakai baju berwarna kuning, sedangkan sekarang berwarna hijau. Andai saja kemarin gadis kecil itu berpaling memperlihatkan wajahnya, tentu Yilin hari ini dapat langsung mengenalinya.
Kembali Yilin berusaha mengingat-ingat siapakah dua orang tamu lainnya. Salah satunya yang duduk semeja dengan si gadis kecil di rumah arak tersebut jelas seorang laki-laki. Akan tetapi, apakah laki-laki itu seorang tua atau muda, serta memakai baju berwarna apa sama sekali luput dari perhatian Yilin yang saat itu sedang dirundung ketakutan. Yang mengherankan baginya adalah di meja satunya lagi, mengapa ada seorang biksu yang gemar minum arak? Siapa sebenarnya biksu bertubuh besar tersebut? Ketika Tian Boguang mengakui kekalahannya, biksu besar itu tertawa terbahak-bahak. Suaranya keras sekali. Begitu pula si gadis kecil juga ikut tertawa. Suara tertawanya itu mirip sekali dengan suara gadis kecil yang kini ada di pelukan Biksuni Dingyi. Yilin semakin yakin kalau gadis itu adalah dia.
Kini pikiran Yilin melayang-layang membayangkan wajah Linghu Chong yang selalu ceria. Terkenang olehnya bagaimana pemuda itu membohongi Luo Renjie sehingga murid Qingcheng tersebut mendekat dan berhasil dibunuhnya. Setelah kejadian itu Linghu Chong sekarat dan kehilangan kesadarannya. Yilin lantas mengangkat dan menggendong tubuhnya meninggalkan rumah arak.
Meskipun tubuh Linghu Chong lebih besar dan gagah, namun Yilin menguasai sedikit ilmu silat sehingga cukup kuat untuk menggendongnya sambil berjalan. Apalagi setelah perjuangan si pemuda yang mengorbankan nyawa sendiri membuat Yilin tidak merasa berat sama sekali. Pada saat itu pikiran sang biksuni muda sedang kosong, tidak tahu harus berjalan ke mana. Tubuh Linghu Chong terasa semakin dingin dan dingin. Tanpa sadar Yilin sudah membawanya melewati gerbang pintu masuk Kota Hengyang.
Akhirnya Yilin melihat sebuah kolam yang sangat indah, dengan sejumlah bunga teratai bermekaran di permukaannya. Tiba-tiba ia merasa punggungnya seperti tertumbuk oleh sesuatu. Karena tidak tahan lagi, ia pun roboh bersama tubuh Linghu Chong yang digendongnya.
Beberapa waktu kemudian, ketika terbangun dari pingsan, Yilin merasa matanya silau oleh cahaya matahari. Ia berniat melanjutkan perjalanan namun jasad Linghu Chong sudah menghilang entah ke mana. Ia sangat terkejut dan cemas menyadari hal ini. Beberapa kali ia berlari mengelilingi kolam teratai namun hasilnya nihil.
“Apakah aku sedang bermimpi?” demikian pikirnya. Namun melihat pakaiannya yang berlumuran darah jelas itu semua bukan mimpi. Memikirkan hal ini hampir saja ia jatuh pingsan kembali.
Setelah berusaha menenangkan diri, ia pun kembali mencari dengan cara mengelilingi kolam namun hasilnya tetap sia-sia. Sungguh aneh, jasad Linghu Chong telah menghilang tanpa jejak bagaikan asap tertiup angin. Air kolam juga terlihat tenang, tidak ada tanda-tanda jasad Linghu Chong tercebur ke dalamnya.
Akhirnya Yilin memutuskan untuk menyusul gurunya ke rumah Liu Zhengfeng di Kota Hengshan. Di sepanjang jalan ia selalu bertanya-tanya dalam hati, ke mana perginya jasad Linghu Chong? Apakah diambil orang? Ataukah diseret binatang liar? Ia merasa sangat berdosa karena tidak bisa menjaga jasad pahlawan penolongnya itu dengan baik, padahal Linghu Chong telah berkorban nyawa demi untuk melindunginya. Seandainya jasad Linghu Chong benar-benar dimangsa binatang liar, ia tentu akan bunuh diri menebus dosa.
Tiba-tiba muncul pikiran aneh di dalam benaknya, yaitu suatu pikiran yang selama ini belum pernah ia bayangkan. Pikiran ini muncul berkali-kali namun ia selalu berusaha menekannya dengan alasan: “Mengapa aku selalu terkenang akan hal ini? Mengapa aku selalu memikirkan hal yang tidak perlu ini? Ini benar-benar tidak bermanfaat. Tidak, ini tidak boleh terjadi.”
Akan tetapi, untuk kali ini ia tidak dapat menahan perasaannya lagi. Dalam benaknya kembali muncul suatu pikiran; pikiran yang menurutnya tidak pantas untuk seorang biksuni. Namun, pikiran tersebut ternyata sulit dihapus begitu saja. “Ketika aku menggendong jasad Kakak Linghu, hatiku merasa tenteram dan damai. Rasanya begitu bahagia, seperti membaca kitab suci Buddha dalam suasana hening. Aku berharap bisa terus-menerus menggendongnya. Bagaimanapun juga aku harus dapat menemukan jasadnya kembali. Bukan, bukan karena takut akan dimakan binatang liar, tapi entah mengapa aku ingin menemukannya kembali. Oh, mengapa aku harus pingsan sewaktu berada di tepi kolam kemarin? Padahal, aku ingin sekali jasad Kakak Linghu selamanya ada dalam pangkuanku. Aih, mengapa timbul perasaan seperti ini? Tidak boleh! Ini tidak boleh terjadi! Guru tidak memperbolehkan, Sang Buddha juga tidak mengizinkan. Pikiran demikian adalah pikiran setan dan iblis. Tapi... tapi, ke mana perginya jasad Kakak Linghu?”
Pikiran Yilin terasa kacau. Sebentar-sebentar ia terbayang senyuman Linghu Chong yang menawan hati. Kadang ia teringat pula wajah pemuda itu saat memaki, “Dasar biksuni kecil pembawa sial!” Entah bagaimana, dadanya terasa sakit seperti ditusuk pisau saat memikirkan hal itu...
Tiba-tiba terdengar suara Yu Canghai berseru, “Lao Denuo, gadis kecil ini berasal dari Perguruan Huashan, bukan?”
“Bukan,” jawab Lao Denuo. “Baru kali ini saya melihatnya. Dia tidak berasal dari perguruan kami.”
“Baik, kalau kau tidak mau mengakuinya juga tidak masalah,” sahut Yu Canghai. Tiba-tiba tangannya bergerak melemparkan sebuah senjata rahasia berupa bor kecil yang melayang ke arah Yilin, disertai teriakan, “Biksuni cilik, lihat ini!”
Yilin yang pikirannya masih melayang-layang justru merasa senang kalau senjata tersebut mengenai dirinya. Dalam hati ia berkata, “Bagus, aku memang sudah tidak ingin hidup lagi. Rasanya lebih baik kalau aku mati saja.”


Yilin saat membawa jasad Linghu Chong.
Beberapa hadirin lantas berteriak-teriak, “Awas, Biksuni!” Namun tetap saja Yilin tidak berusaha menghindar sedikit pun. Entah mengapa hatinya merasa sangat kesepian dan ingin cepat-cepat mati terkena senjata rahasia Yu Canghai tersebut.
Dengan gerakan lembut, Biksuni Dingyi mendorong tubuh Dingyi ke samping. Gerakan berikutnya dilakukannya dengan gesit dan cepat, yaitu melompat ke depan menghadang datangnya senjata rahasia. Meskipun demikian, ia tidak langsung menangkap bor kecil tersebut melainkan menunggu sampai benar-benar dekat untuk sekadar memamerkan kepandaiannya.
Akan tetapi, Yu Canghai sendiri sudah memperhitungkan serangannya. Bor kecil itu diatur sedemikian rupa sehingga jatuh di lantai sebelum tertangkap oleh Dingyi. Tentu saja para hadirin kagum melihat kehebatan tenaga dalam ketua Perguruan Qingcheng tersebut yang bisa membuat senjata yang ia lemparkan tiba-tiba jatuh pada jarak satu meter di depan sasaran. Sebaliknya, wajah Dingyi terlihat bersemu merah menahan malu.
Tiba-tiba Yu Canghai kembali melemparkan sesuatu ke arah lain. Benda tersebut adalah bola kertas bergambar bulus yang dilemparkannya ke arah gadis kecil berbaju hijau. Jika tadi Yu Canghai melemparkan bor kecil ke arah Yilin dengan perlahan, maka kali ini gulungan kertas yang dilemparkannya ke arah si gadis kecil jelas-jelas disertai tenaga dalam. Bola kertas itu melayang dengan cepat dan apabila menghantam wajah si gadis kecil tentu akan mengakibatkan luka yang tidak ringan.
Dingyi yang berdiri di depan Yilin merasa tidak sempat lagi melindungi gadis berbaju hijau tersebut. Ia hanya bisa berteriak, “Kau....”
Akan tetapi, si gadis kecil kembali membuat kejutan. Tiba-tiba saja ia jatuh terduduk di lantai tepat ketika bola kertas itu hampir menyambar wajahnya. Kejadian ini jelas menunjukkan gadis berbaju hijau itu diam-diam menguasai ilmu silat. Meskipun demikian tetap saja ia berlagak menangis sambil memanggil-manggil, “Ibu, Ibu, dia mau membunuhku!”
Yu Canghai merasa penasaran dan semakin curiga. Meskipun demikian ia tidak menyerang lagi karena tata krama dalam dunia persilatan yang berlaku seperti itu; tidak sepantasnya seorang yang berkedudukan lebih tinggi melancarkan serangan jarak jauh untuk yang kedua kalinya apabila serangan pertama gagal.
Melihat wajah Yu Canghai bersemu merah menahan malu, Dingyi merasa sangat senang dalam hati. Akan tetapi, ia merasa tidak sepantasnya mempermalukan Perguruan Qingcheng lebih lanjut. Maka, ia pun berkata kepada Yilin, “Aku tidak tahu di mana sebenarnya ayah dan ibu anak ini. Sebaiknya coba kau temani dia menemukan kedua orang tuanya itu. Kasihan kalau ada orang dewasa yang menggertaknya lagi.”
“Baik, Guru!” jawab Yilin. Ia lantas menggandeng anak itu dan mengajaknya melangkah pergi. Gadis kecil berbaju hijau tersebut terlihat sangat riang berjalan bersama sang biksuni muda. Sementara itu Yu Canghai hanya melirik tanpa berkata sedikit pun.
Sesampainya di luar, Yilin lantas bertanya kepada anak itu, “Adik kecil, kau ini bermarga apa dan namamu siapa?”
Si gadis kecil menjawab sambil tertawa, “Margaku Linghu, namaku Chong.”
Seketika Yilin tergetar mendengarnya. Ia pun menukas, “Aku bertanya sungguh-sungguh, tapi kenapa kau malah bercanda?”
“Siapa bilang aku bercanda?” jawab si gadis kecil. “Memangnya di dunia ini hanya temanmu itu saja yang bernama Linghu Chong?”
Mendengar perkataan gadis kecil itu, Yilin langsung menghela napas dan meneteskan air mata. Ia berkata, “Aku telah berhutang budi kepada Kakak Linghu. Ia telah berkorban nyawa demi menolong diriku. Aku... aku tidak pantas menjadi temannya.”
Si gadis kecil tidak menanggapi. Pandangannya saat itu tertuju kepada dua orang bungkuk yang bergegas meninggalkan rumah Liu Zhengfeng. Mereka tidak lain adalah Mu Gaofeng dan Lin Pingzhi. Gadis itu pun berkata sambil tertawa, “Kakak, lihat itu! Ternyata di dunia ada pemandangan yang seaneh ini. Ada orang tua bungkuk, berjalan bersama seorang muda yang bungkuk pula.”
Mendengar anak itu suka menghina orang lain, Yilin merasa kesal. Ia pun berkata, “Adik, apa kau tidak keberatan jika pergi sendiri mencari ayah dan ibumu? Aku merasa kurang enak badan. Kepalaku terasa agak pusing.”
“Ah, kau hanya berpura-pura saja,” sahut si gadis kecil tersenyum. “Aku tahu kau tidak senang karena aku telah menggunakan nama Linghu Chong. Kakak sayang, bukankah gurumu sendiri yang telah menyuruhmu untuk mengantarkan aku? Kalau terjadi apa-apa atas diriku, kalau ada orang lain menggangguku, tentu gurumu akan marah dan menyalahkanmu.”
Yilin menjawab, “Kepandaianmu lebih tinggi dariku. Selain itu kau juga sangat cerdik. Bahkan, Pendeta Yu yang ternama tidak tahu harus bagaimana menghadapimu. Orang-orang justru sangat bersyukur apabila tidak kau kerjai. Jadi, bagaimana mungkin ada yang berani mengganggu dirimu?”
“Kakak yang baik, kau ini sungguh lucu. Kalau saja tadi gurumu tidak melindungiku, mungkin aku sudah dihajar oleh pendeta bertubuh pendek itu,” sahut si gadis kecil. “Baiklah, aku tidak akan memakai nama Linghu Chong lagi. Nama asliku adalah Qu Feiyan. Karena kakekku lebih suka memanggilku dengan nama ‘Feifei’, maka kau juga boleh memanggilku seperti itu.”
Begitu Qu Feiyan memperkenalkan nama aslinya, rasa kesal dalam hati Yilin mendadak lenyap begitu saja. Namun demikian, ia tetap bertanya-tanya dari mana gadis kecil itu mengetahui bahwa ia sedang memikirkan Linghu Chong. Ia lantas berkata, “Nona Qu, mari kita pergi mencari ayah dan ibumu. Menurutmu, kita harus mencari mereka ke mana?”
Qu Feiyan menjawab, “Sudah tentu aku tahu ke mana mereka pergi. Tapi, jika kau ingin mencari mereka lebih baik kau pergi saja sendiri. Aku tidak mau ikut.”
Yilin menjadi heran dan bertanya, “Kenapa kau tidak mau ikut?”
“Tentu saja,” sahut Qu Feiyan. “Aku masih telalu muda untuk pergi ke sana. Sebaliknya, meskipun usiamu juga masih muda, namun kau sudah tidak punya gairah hidup lagi. Kau sedang tertekan dan ingin cepat-cepat mati. Mungkin sebaiknya memang kau sendiri yang pergi ke sana.”
Yilin terkesiap dan bertanya, “Jadi maksudmu... maksudmu mereka sudah....”
“Sudah lama ayah dan ibuku tewas dibunuh orang jahat,” sahut Qu Feiyan. “Jika kau ingin mencari mereka ke alam sana, silakan kau pergi sendiri saja. Aku tidak mau ikut.”
Yilin kembali merasa kesal. Ia berkata, “Ayah dan ibumu sudah meninggal, kenapa mereka kau jadikan bahan bercanda? Sudahlah, lebih baik kita berpisah di sini saja. Aku akan kembali ke tempat Guru.”
Qu Feiyan lantas memegang lengan Yilin dan berkata, “Kakak yang baik, aku ini sebatang kara. Aku mohon kau sudi menemaniku, sebentar saja.”
Yilin pun menjawab, “Baiklah, akan kutemani kau sebentar. Tapi, kau tidak boleh bicara sembarangan lagi. Selain itu, aku ini seorang biksuni. Tidak sepantasnya kau panggil aku dengan sebutan kakak.”
Qu Feiyan tertawa dan menjawab, “Menurutmu, kata-kataku ini kau anggap buruk; namun bagiku ini adalah ucapan yang baik. Baik atau buruk tergantung pendapat kita masing-masing. Kau ini lebih tua dariku, apa salahnya kalau kupanggil ‘kakak’? Kakak Yilin, kenapa kau tidak berhenti menjadi biksuni saja.”
Yilin terkejut mendengar pertanyaan itu. Tanpa sadar kakinya melangkah mundur satu kali.
Qu Feiyan melepaskan pegangannya dan melanjutkan, “Apa enaknya menjadi biksuni? Tidak boleh makan ikan, udang, ayam, bebek, juga daging sapi atau kambing. Kakak, kau ini sangat cantik. Sayang sekali kecantikanmu tidak sempurna karena kepalamu dicukur gundul. Bagaimana kalau Kakak memanjangkan rambut saja? Sudah pasti kau akan bertambah cantik dan molek.”
Mendengar ucapan Qu Feiyan yang lugu itu, Yilin tersenyum dan menjawab, “Kami adalah kaum biarawati. Semua yang ada di dunia ini hampa belaka. Hidup laksana mimpi. Tidak ada bedanya berwajah cantik ataupun jelek.”
Qu Feiyan tidak menanggapi ucapan Yilin melainkan hanya memandangi wajahnya. Saat itu hujan telah berhenti. Di bawah sinar bulan purnama wajah Yilin terlihat semakin cantik bagaikan batu pualam yang putih bersih.
Melihat itu Qu Feiyan menarik napas dan berkata, “Kakak, kau ini benar-benar cantik. Pantas saja kalau dia selalu memikirkanmu.”
Muka Yilin bersemu merah. Ia pun menukas, “Kau ini bicara apa? Kalau kau bicara sembarangan lagi, aku akan pulang sekarang juga.”
“Baiklah, aku tidak akan sembarangan bicara lagi,” sahut Qu Feiyan. “Kakak yang baik, aku harap kau sudi memberikan sedikit Salep Penyambung Langit untuk mengobati seseorang yang saat ini sedang terluka parah.”
“Menolong siapa?” tanya Yilin heran.
“Orang ini sangat penting. Namun, untuk sementara aku belum bisa mengatakannya kepadamu,” jawab Qu Feiyan sambil tertawa.
“Sebenarnya aku bisa saja memberikan obat itu kepadamu,” ujar Yilin. “Tapi guruku memberi peringatan supaya obat ini tidak boleh sembarangan dipakai untuk menolong orang jahat.”
Qu Feiyan kembali bertanya, “Kakak, kalau ada orang yang memaki gurumu dengan kata-kata kotor, apakah orang itu termasuk golongan orang jahat?”
“Tentu saja,” jawab Yilin. “Sudah pasti dia termasuk orang jahat.”
Qu Feiyan terdiam sejenak kemudian berkata lagi, “Sungguh aneh. Padahal ada seseorang berteriak-teriak bahwa biksuni itu pembawa sial. Dia memaki gurumu dengan bahasa yang kasar. Tapi kau malah mengoleskan salep tersebut untuk mengobati lukanya....”
Tanpa menunggu ucapan Qu Feiyan selesai, Yilin yang merasa gusar segera memutar badan untuk kembali ke rumah Liu Zhengfeng. Namun, Qu Feiyan sudah lebih dulu melompat dan menghadang di depannya.
Tiba-tiba Yilin teringat kalau kemarin Qu Feiyan menyaksikan pertarungan Linghu Chong melawan Tian Boguang. Ia pun berpikir, “Kemarin pagi anak ini beserta seorang kawannya menyaksikan pertarungan antara Kakak Linghu dan Tian Boguang. Sampai Kakak Linghu terbunuh dan aku membawa jasadnya menuruni tangga, anak ini masih tetap duduk di sana. Pantas kalau dia mengetahui semua perbuatanku. Jangan-jangan dia dan temannya juga mengikuti sewaktu aku menggendong jasad Kakak Linghu. Kalau begitu... kalau begitu dia mungkin tahu ke mana hilangnya jasad Kakak Linghu....” Ia ingin bertanya tapi tak sanggup bicara. Hanya wajahnya yang terlihat bersemu merah menahan malu.
“Kakak, aku tahu kau ingin bertanya apa kepadaku,” sahut Qu Feiyan. “Aku tahu kau ingin bertanya di mana jasad Kakak Linghu berada, bukan?”
“Ya, ya... benar sekali,” jawab Yilin tergagap-gagap. “Jika kau tahu, tentu aku akan... aku akan sangat berterima kasih.”
“Aku sendiri juga tidak tahu,” jawab Qu Feiyan. “Namun, ada satu orang yang tahu di mana jasad Kakak Linghu berada. Sayangnya, orang itu saat ini sedang terluka parah. Jiwanya dalam bahaya. Jika Kakak bersedia menolongnya menggunakan Salep Penyambung Langit, tentu dia akan memberitahukan di mana jasad Kakak Linghu berada. Jika Kakak Yilin tidak segera turun tangan, mungkin dia tidak akan tertolong lagi.”
“Jadi, kau sendiri juga tidak tahu di mana jasad Kakak Linghu berada,” sahut Yilin menegas.
“Sungguh aku tidak tahu,” jawab Qu Feiyan. “Aku bersumpah, jika aku, Qu Feiyan, mengetahui di mana jasad Linghu Chong berada, biarlah aku mati tertusuk secara mengenaskan.”
“Sudahlah, aku percaya kepadamu. Kau tidak perlu bersumpah segala,” sahut Yilin sambil menutup mulut Qu Feiyan. “Jadi, siapa sebenarnya orang yang terluka itu?”
“Orang itu orang baik,” jawab Qu Feiyan. “Tapi tempat yang akan kita datangi bukan tempat baik.”
Yilin tidak peduli. Asalkan bisa menemukan jasad Linghu Chong, menerobos hutan pedang sekalipun ia tidak merasa takut. Dengan cepat ia pun berkata, “Mari kita berangkat sekarang juga!”
Yilin kemudian melangkah di belakang Qu Feiyan. Keduanya berjalan menuju ke arah barat laut menyusuri jalanan Kota Hengshan yang sunyi senyap. Malam semakin larut. Tiada seorang pun yang terlihat berlalu-lalang. Hanya sayup-sayup terdengar suara lolongan anjing membuat bulu kuduk merinding.
Meskipun menempuh perjalanan yang cukup jauh, ditambah lagi dengan suasana yang begitu menyeramkan, Yilin merasa tidak keberatan sama sekali. Asalkan bisa menemukan di mana jasad Linghu Chong berada, ia bersedia melakukan apa saja. Tampak Qu Feiyan kemudian membawanya menyusuri sebuah lorong sempit yang panjang. Akhirnya mereka pun sampai di sebuah rumah yang pada bagian atas pintunya tergantung sebuah lentera kecil berwarna merah.
Sebanyak tiga kali Qu Feiyan mengetuk pintu rumah tersebut. Tidak lama kemudian pintu pun terbuka dan seorang laki-laki melongok dari dalam dengan wajah curiga, terutama saat melihat Yilin. Qu Feiyan segera berbisik di telinga orang itu sambil memberikan sesuatu. Orang itu manggut-manggut lalu berkata, “Silakan, silakan masuk ke dalam!”
Qu Feiyan dan Yilin segera masuk ke dalam rumah tersebut. Mereka berjalan mengikuti laki-laki tadi yang melangkah agak terburu-buru. Sesampainya di sebuah kamar, laki-laki itu berhenti dan berkata, “Silakan Nona dan Biksuni duduk di dalam kamar ini.”
Begitu masuk ke dalam, Yilin mencium bau yang sangat harum memenuhi ruangan. Kamar tersebut tertata sangat indah dan rapi. Di tengah ruangan terdapat sebuah ranjang besar yang sangat bagus. Kain penutupnya terbuat dari sutra halus yang berhiaskan sulaman gaya Xiang, bermotif sepasang burung bermain di atas kolam. Jika diperhatikan dengan seksama, gambar kedua burung tersebut sangat indah dan teliti, bagaikan benar-benar hidup.
Sejak kecil Yilin tinggal di dalam Biara Awan Putih. Sehari-hari ia hidup sederhana sehingga seumur hidup baru kali ini menyaksikan ruangan sebagus itu. Selain ranjang yang terkesan mewah, ia juga melihat sebatang lilin merah di atas meja dekat ranjang menerangi ruangan kamar. Di dekat lilin terdapat kotak rias serta sebuah cermin tergantung di dinding. Yang membuat Yilin terkejut adalah sepasang sepatu laki-laki dan sepasang sepatu perempuan di dekat ranjang. Karena merasa malu, ia buru-buru memalingkan muka sehingga bayangan wajahnya yang cantik dan bersemu merah terpantul di cermin.
Tidak lama kemudian seorang pelayan cantik terlihat masuk ke dalam kamar. Ia menghidangkan teh untuk Yilin dan Qu Feiyan. Wanita itu berpakaian rapi dan ketat. Bibirnya selalu tersenyum dan langkah kakinya terlihat genit seperti dibuat-buat.
Yilin semakin takut melihatnya. Perlahan ia berbisik kepada Qu Feiyan, “Sebenarnya ini tempat apa?”
Qu Feiyan hanya tertawa tidak menjawab. Ia justru berbisik kepada si pelayan cantik supaya melakukan sesuatu. Wanita itu tertawa genit dan segera keluar memenuhi permintaan Yilin. Ia melangkah perlahan-lahan sambil menggoyang pinggul.
Melihat tingkah laku wanita itu, Yilin yakin kalau dia bukan orang baik-baik. Ia pun kembali bertanya, “Kenapa kau membawaku kemari? Memangnya ini tempat apa?”
Qu Feiyan tersenyum dan menjawab, “Ini adalah salah satu tempat menarik di Kota Hengshan. Namanya Wisma Kumala.”
“Wisma Kumala?” sahut Yilin menegas.
“Benar. Wisma Kumala adalah rumah pelacuran terbaik di kota ini,” jawab Qu Feiyan.
Seketika jantung Yilin berdebar kencang mendengar jawaban tersebut. Hampir saja ia jatuh pingsan mendengar istilah “pelacuran”. Sejak awal ia memang sudah menduga kalau rumah yang dimasukinya ini bukanlah tempat baik-baik, namun baru sekarang ia mengetahui kalau dirinya sedang berada di dalam sebuah rumah pelacuran.
Meskipun tidak mengetahui dengan pasti pekerjaan jenis apa yang dilakukan oleh seorang pelacur, namun Yilin pernah mendengar cerita dari saudara-saudara seperguruannya, yaitu murid-murid Henshan dari kalangan bukan biksuni, bahwa seorang pelacur adalah golongan wanita rendah dan hina. Mereka bersedia tidur dengan laki-laki yang bukan suaminya untuk mendapatkan uang.
“Jangan-jangan Qu Feiyan hendak menjadikan diriku sebagai pelacur,” demikian pikirnya dengan mata berkaca-kaca hampir menangis.


Sebuah kamar di dalam Wisma Kumala.
(Bersambung)

You may like these posts

Komentar

  1. To insert a code use <i rel="pre">code_here</i>
  2. To insert a quote use <b rel="quote">your_qoute</b>
  3. To insert a picture use <i rel="image">url_image_here</i>
Tinggalkan komentar sesuai topik tulisan, komentar dengan link aktif tidak akan ditampilkan.
Admin dan penulis blog mempunyai hak untuk menampilkan, menghapus, menandai spam, pada komentar yang dikirim