Bagian 33 - Tantangan Kelompok Pedang

Feng Buping dan kedua saudaranya.

Lao Denuo menghampiri Linghu Chong, kemudian berbisik, “Kakak Pertama, di dalam Guru dan Ibu Guru sedang menerima tamu.”

Linghu Chong menoleh dan memberi isyarat kepada Enam Dewa Lembah Persik supaya berhenti dan tidak bersuara. Ia kemudian berbisik pula kepada Lao Denuo, “Adik Kedua, keenam orang ini adalah kawanku, tidak perlu diurusi. Biar aku melihat ke dalam.”

Pada umumnya, apabila Yue Buqun dan Ning Zhongze sedang menerima tamu, para murid tidak akan berani mengintip di luar Gedung Kebajikan. Namun karena saat ini sang guru dan ibu-guru sedang menghadapi masalah besar, mau tidak mau mereka pun memberanikan diri berdiri dan mengintip di luar untuk menyaksikan apa yang sedang terjadi. Itulah sebabnya, ketika melihat Linghu Chong mendekati gedung, mereka menganggap itu bukan sebagai hal yang tidak pantas.

Linghu Chong kemudian mendekati jendela dan mengintai ke dalam ruangan. Tampak seorang pria kurus duduk di kursi tamu kehormatan, sambil memegang Panji Pancawarna lambang kebesaran Serikat Pedang Lima Gunung. Ia tidak lain adalah Lu Bai si Tapak Bangau dari Perguruan Songshan. Di sebelahnya duduk seorang pendeta dan seorang pria setengah baya. Dari seragam mereka dapat diketahui kalau kedua orang itu berasal dari Perguruan Taishan dan Hengshan.

Selanjutnya, Linghu Chong melihat tiga orang berusia sekitar lima puluh tahun atau lebih. Dari bentuk pedang yang mereka bawa dapat diketahui kalau ketiga orang itu berasal dari Perguruan Huashan. Salah satu di antara mereka berwajah kekuning-kuningan dengan raut muka terlihat murung. Kiranya orang ini adalah Feng Buping seperti yang diceritakan Lu Dayou tadi. Yue Buqun dan Ning Zhongze tampak duduk di atas kursi tuan rumah menghadapi mereka. Poci dan cawan teh serta makanan ringan tampak tertaruh di atas masing-masing meja tuan rumah dan para tamu.

Terdengar si orang tua dari Perguruan Hengshan berkata, “Saudara Yue, sebenarnya kami tidak pantas ikut campur urusan perguruanmu yang mulia. Namun bagaimanapun juga, Serikat Pedang Lima Gunung sudah berjanji untuk saling membantu, senafas-seirama. Jika ada satu golongan yang berbuat tidak benar, maka keempat yang lainnya ikut menanggung malu. Maka itu, ucapan Nyonya Yue tadi yang mengatakan bahwa kami dari Songshan, Taishan, dan Hengshan tidak berhak ikut campur sepertinya kurang tepat.” Sorot mata pria tua itu tampak berwarna kekuning-kuningan seperti seseorang yang menderita penyakit kuning.

Lega hati Linghu Chong mengetahui bahwa yang terjadi di antara mereka masih sebatas pertengkaran mulut saja. Ia bersyukur Lu Dayou memberi kabar tepat waktu.

Ning Zhongze menjawab, “Ucapan Kakak Lu ini seolah menuduh Perguruan Huashan kami tidak tahu diri sehingga mencemarkan nama baik perguruan kalian yang terhormat, bukan begitu?”

Pria tua bermarga Lu itu menjawab sambil menyeringai, “Hehehe, ternyata benar apa yang dikatakan orang-orang kalau ketua Perguruan Huashan yang sesungguhnya adalah Pendekar Ning. Tadinya aku tidak percaya, tapi setelah pertemuan yang menyenangkan ini, mau tidak mau semuanya terbukti sudah.”

Ning Zhongze gusar mendengar ucapan yang bernada mengejek suaminya itu. Ia pun menjawab, “Bagaimanapun juga Kakak Lu adalah tamu kami. Tidak sepantasnya kalau kami berbuat salah kepadamu. Hanya saja, sungguh sayang kalau seorang kesatria dari Perguruan Hengshan ternyata suka bicara sembarangan seperti tadi. Kelak bila bertemu dengan Tuan Besar Mo rasanya hal ini perlu untuk aku tanyakan.”

“Oh, jadi hanya karena aku ini tamu, lantas Nyonya Yue merasa segan? Apabila kita berada di luar Gunung Huashan tentu Nyonya Yue sudah mengayunkan pedang memenggal kepalaku, begitu?” sahut si tua Lu.

“Mana mungkin aku berani?” tukas Ning Zhongze. “Perguruan Huashan kami tidak mungkin berani selancang itu terhadap perguruanmu yang mulia. Bukankah telah terjadi seorang dari Perguruan Hengshan yang berteman dengan Sekte Iblis, lantas dibereskan oleh Ketua Serikat? Kami dari Huashan mana mungkin berani macam-macam?”

Yang dimaksud oleh Ning Zhongze adalah Liu Zhengfeng dari Perguruan Hengshan yang bersahabat dengan Qu Yang dari Sekte Iblis. Telah menjadi pengetahuan umum bahwa pembantaian Keluarga Liu dilakukan oleh Perguruan Songshan yang mengatasnamakan Serikat Pedang Lima Gunung. Dalam hal ini Ning Zhongze telah menyinggung aib Perguruan Hengshan sekaligus menyindir si tua Lu yang tidak merasa kehilangan atas pembantaian itu, justru bergabung dengan orang-orang Songshan untuk mendesak Perguruan Huashan.

Mendengar itu wajah si tua Lu tampak merah padam. Ia pun berkata lantang, “Nyonya Yue, dari zaman dahulu hingga sekarang sudah biasa ada murid suatu perguruan yang berkhianat. Kedatangan kami ke Huashan sini hanya untuk membantu menegakkan keadilan untuk Saudara Feng serta membersihkan pengaruh jahat dari perguruannya.”

“Siapa yang kau maksud dengan pengaruh jahat itu?” sahut Ning Zhongze dengan nada menantang. “Suamiku terkenal dengan julukan Si Pedang Budiman. Lantas, bagaimana dengan julukanmu?” Tampak tangan wanita itu sudah meraba gagang pedang.

Wajah si tua Lu semakin merah. Ia tidak menjawab pertanyaan Ning Zhongze. Hanya sepasang matanya yang kekuning-kuningan tampak memandang tajam ke arah istri ketua Perguruan Huashan tersebut.

Linghu Chong yang masih mengintip di luar gedung juga bertanya-tanya siapa sebenarnya laki-laki tua bermarga Lu dari Perguruan Hengshan tersebut. Meskipun usianya sudah tua namun tidak begitu terkenal di dunia persilatan. Pemuda itu lantas bertanya kepada Lao Denuo, “Siapa orang itu? Apa julukannya?”

Sebelum bergabung dengan Perguruan Huashan, Lao Denuo sudah memiliki pengalaman di dunia persilatan. Selain itu wawasan dan pengetahuannya juga cukup luas. Maka, ia pun bisa menjawab pertanyaan Linghu Chong.

“Orang tua itu bernama Lu Lianrong. Julukannya adalah Si Rajawali Bermata Emas. Namun karena ia suka bicara lancang dan gemar mencampuri urusan pihak lain, maka kaum persilatan diam-diam suka mengejeknya dengan julukan Si Gagak Bermata Emas,” demikian jawab Lao Denuo dengan suara berbisik.

Linghu Chong tersenyum mendengarnya. Ia pun berpikir, “Mungkin tidak ada orang yang berani mengejek si tua itu dengan sebutan Gagak Bermata Emas. Tapi aku yakin, secara tidak langsung ia pasti pernah mendengar ejekan itu ditujukan kepadanya. Saat Ibu Guru menanyakan apa julukannya, ia langsung terdiam, pertanda ia tahu kalau sebenarnya Ibu Guru sedang menanyakan apa ejekannya.”

Terdengar Lu Lianrong mendengus dan berseru, “Huh, apa benar suamimu berjuluk Si Pedang Budiman? Tapi, menurutku dia lebih baik memakai julukan Si Pedang Munafik.”

Mendengar gurunya dihina, Linghu Chong tidak tahan lagi. Ia pun berteriak, “Hei, Gagak Bermata Buta, kalau kau berani lekas keluar hadapi kami!”

Sebenarnya Yue Buqun yang memiliki tenaga dalam tinggi telah mendengar suara Linghu Chong saat berbisik dengan Lao Denuo tadi. Dalam hati ia bertanya-tanya, “Mengapa Chong’er ada di sini? Berani sekali ia turun dari puncak sebelum masa hukuman berakhir?” Dan kini begitu mendengar teriakan murid pertamanya itu, ia pun membentak, “Chong’er, kau jangan kurang ajar! Paman Lu adalah tamu di sini. Jaga mulutmu!”

Lu Lianrong marah luar biasa. Sebelumnya ia telah mendengar kelakuan Linghu Chong saat di kota Hengshan. Maka, ia pun balas memaki, “Oh, aku kira siapa, ternyata bocah yang suka main perempuan di Hengshan dulu. Hm, jagoan Huashan benar-benar punya banyak bakat terpendam.”

“Betul sekali,” jawab Linghu Chong tertawa. “Aku memang pernah main perempuan di kota Hengshan bersama seorang pelacur yang bermarga Lu.”

“Kau!” bentak Yue Buqun kepada Linghu Chong. “Kau jangan sembarangan mengoceh!”

Linghu Chong ketakutan mendengar kemarahan sang guru. Namun di pihak lawan, ternyata Lu Bai, Feng Buping dan yang lain tanpa terasa ikut tersenyum mendengar gurauan itu.

Lu Lianrong sendiri sudah habis kesabarannya. Ia pun melompat keluar menjebol daun jendela sampai melayang di udara. Begitu sampai di luar ia melihat banyak murid Huashan dan berteriak kepada mereka, “Binatang mana yang berani sembarangan bicara tadi?” Karena sebelum ini ia tidak pernah bertemu Linghu Chong, maka jari tangannya pun menujuk secara sembarangan.

Murid-murid Huashan terdiam tanpa suara sedikit pun. Melihat itu Lu Lianrong semakin gusar dan kembali berteriak, “Jawab pertanyaanku! Binatang mana yang baru saja bicara?”

Linghu Chong bergelak tawa dan menjawab, “Hahahaha, bukankah kau sendiri yang baru saja bicara? Mana aku tahu kau ini dari jenis binatang apa?”

Kemarahan Lu Lianrong meledak-ledak begitu mendengar ejekan terbaru ini. Sekuat tenaga ia mengayunkan pedangnya ke arah Linghu Chong. Namun Linghu Chong sempat melompat mundur. Tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat dari dalam gedung dan menangkis serangan Lu Lianrong menggunakan pedang pula. Rupanya orang itu tidak lain adalah Ning Zhongze, sang ibu-guru.

Gerakan Ning Zhongze mulai dari menerjang keluar gedung, mencabut pedang saat masih melayang di udara, dan bagaimana ia menangkis serangan Lu Lianrong, semuanya dilakukan dengan gesit dan anggun. Meskipun gerakan tersebut sangat cepat, namun para hadirin dapat melihat keindahan di balik kecepatan tersebut.

Yue Buqun melangkah keluar gedung dengan tenang sambil berkata, “Kita semua bersaudara. Urusan seperti ini seharusnya dibicarakan baik-baik. Mengapa harus memakai kekerasan?”

Ketua Huashan itu lantas mencabut pedang yang tergantung di pinggang Lao Denuo, kemudian mengayunkannya untuk membentur di atas pedang istrinya dan pedang Lu Lianrong yang masih beradu. Lu Lianrong merasa tekanan pedang Yue Buqun begitu kuat. Ia mencoba mengangkat pedangnya namun sedikit pun tidak bergerak. Wajahnya tampak bersemu merah karena tiga kali ia mengerahkan segenap tenaga untuk menyentakkan pedang ke atas, namun tetap saja tidak bergerak sedikit pun.

Yue Buqun berkata sambil tersenyum, “Serikat Pedang Lima Gunung senafas seirama seperti keluarga sendiri. Hendaknya Kakak Lu jangan menghiraukan ucapan anak kecil.” Usai berkata demikian ia menoleh ke arah Linghu Chong dan membentak, “Kau jangan sembarangan bicara! Lekas, minta maaf pada Paman Lu!”

Linghu Chong melangkah maju dan memberi hormat sambil berkata, “Mohon maaf, Paman Lu! Saya tadi seperti orang buta yang tidak tahu sopan santun. Saya berani sembarangan bicara seperti burung gagak yang berkaok-kaok. Sungguh, sikap saya yang berani merendahkan tokoh hebat di dunia persilatan tadi sama rendahnya seperti binatang. Mohon Paman Lu jangan dengarkan ocehan gagak busuk, gagak celaka tadi. Anggap saja seperti kentut.”

Ucapan Linghu Chong yang kembali menyinggung soal gagak itu bukannya membuat lega Lu Lianrong tapi justru makin membuat orang tua itu semakin gusar. Yue Lingshan bahkan sampai tertawa cekikikan karena tidak kuasa menahan geli.

Sementara itu Yue Buqun merasakan betapa Lu Lianrong berturut-turut sebanyak tiga kali mengerahkan tenaganya untuk menolak pedangnya ke atas. Ia hanya tersenyum dan perlahan-lahan menarik pedangnya untuk dikembalikan kepada Lao Denuo. Akibatnya, pedang Lu Lianrong yang sudah terlanjur dialiri banyak tenaga tinggal mendorong pedang Nyonya Yue saja sehingga keduanya pun patah seketika. Kedua patahan itu jatuh di tanah disertai bunyi benturan yang sangat keras. Tidak hanya itu, pedang patah Lu Lianrong terus terdorong dan mengayun ke atas dan hampir mengenai dahinya sendiri. Beruntung ia memiliki lengan yang kuat sehingga mampu menghentikan laju pedang tersebut pada saat yang tepat. Namun demikian, kejadian tersebut mau tidak mau membuat orang tua itu merasa konyol.

“Kalian... kalian dua orang mengeroyok satu!” bentak Lu Lianrong gusar. Namun, begitu melihat pedang Ning Zhongze juga patah ia langsung sadar kalau Yue Buqun hanya melerai tanpa bermaksud membela istrinya. Apalagi Lu Bai, Feng Buping, dan rombongan yang lain juga ikut ke luar gedung untuk menyaksikan apa yang terjadi. Menyadari hal itu, ia hanya bisa menggerutu, “Kalian… kalian….”

Maka, dengan perasaan malu Lu Lianrong pun menghentakkan kakinya ke tanah, kemudian buru-buru pergi ke dalam gedung tanpa melirik sedikit pun dengan tangan masih memegang pedangnya yang telah patah.

Yue Buqun sendiri sempat melihat kehadiran Enam Dewa Lembah Persik di belakang Linghu Chong. Ia segera menyapa, “Tuan berenam sudi berkunjung ke Gunung Huashan sini. Mohon maaf jika sambutan kami membuat Tuan berenam kurang berkenan di hati.”

Keenam orang tua aneh itu hanya diam terbengong-bengong. Linghu Chong segera menyahut, “Ini adalah guruku, ketua Perguruan Huashan....”

Tiba-tiba Feng Buping menyela, “Memang benar dia itu gurumu. Tapi, apakah dia benar-benar ketua Perguruan Huashan harus menunggu keputusan nanti.” Ia kemudian menoleh ke arah Yue Buqun, “Nah, Saudara Yue, ilmu Kabut Lembayung Senja yang kau perlihatkan tadi memang hebat. Namun hanya melulu mengandalkan tenaga dalam sungguh kurang tepat jika memimpin Perguruan Huashan. Semua orang tahu kalau Huashan adalah satu dari Serikat Pedang Lima Gunung. Semua orang tahu kalau Huashan adalah perguruan ilmu pedang. Tapi kau hanya menekuni pelajaran tenaga dalam saja. Jadi, sebenarnya kau telah melakukan penyelewengan. Kau telah menyesatkan perguruan ini.”

“Ucapan Saudara Feng sungguh berlebihan,” ujar Yue Buqun. “Memang benar Serikat Pedang Lima Gunung mengandalkan pedang. Namun setiap perguruan tentu juga mengutamakan tenaga dalam untuk mengendalikan jurus pedang. Jurus pedang adalah ilmu luar, sedangkan tenaga adalah ilmu dalam. Luar dan dalam harus dilatih secara bersamaan, barulah ilmu silat dapat dikatakan sempurna. Bila Saudara Feng hanya berlatih jurus pedang melulu, tentu akan kelihatan kelemahannya bila berjumpa ahli tenaga dalam.”

Feng Buping mencibir dan berkata, “Belum tentu seperti itu. Memang sangat baik apabila ada seseorang yang menguasai Tridharma dan sembilan keahlian, yaitu pengobatan, ramalan, perbintangan, menguasai Empat Kitab dan Lima Karya Klasik, dan juga menguasai delapan belas jenis senjata. Sungguh pantas apabila dia disebut guru besar di segala bidang. Tapi, umur manusia terbatas, mana ada kesempatan untuk menguasai semuanya? Pada saat seseorang mendalami ilmu pedang, itu saja sudah sulit untuk menjadi ahli, mengapa harus dipaksa dengan belajar dan berlatih ilmu lainnya? Aku tidak mengatakan berlatih tenaga dalam itu jelek. Hanya saja, ilmu silat yang paling utama dalam perguruan kita adalah jurus pedang. Tapi mungkin saja kau juga ingin mencoba belajar ilmu yang menyimpang. Walaupun kau ingin belajar ilmu Penyedot Bintang milik Sekte Iblis, itu urusanmu pribadi, apalagi hanya belajar tenaga dalam mengiringi pedang. Tapi, pada umumnya manusia memang serakah, dan keserakahan sering mendatangkan bencana dan malapetaka. Apabila orang biasa yang serakah, tentu dia hanya mengundang penderitaan untuk diri sendiri. Lain halnya dengan dirimu yang kini telah mengetuai Perguruan Huashan. Apabila kau tersesat jalan, maka bencana yang ditimbulkan olehmu bisa membuat murid-murid Huashan ikut celaka dan menanggung akibatnya.”

Mendengar uraian Feng Buping membuat keringat dingin mengalir di dahi Linghu Chong. Pemuda itu berpikir, “Kakek Guru Feng telah mengajarkan kepadaku pelajaran ilmu pedang, tanpa disertai tenaga dalam. Apakah mungkin Beliau anggota Kelompok Pedang? Apakah salah jika aku belajar dari Beliau?”

Terdengar Yue Buqun berkata, “Membawa bencana bagi murid-murid Huashan bagaimana? Sepertinya ucapanmu itu sulit dibuktikan,” ujar Yue Buqun tersenyum.

“Mengapa sulit dibuktikan?” bentak si pendek yang berada di sebelah Feng Buping. Meskipun tubuhnya terkesan kerdil namun suara bentakannya terdengar sangat dahsyat. “Kau bilang tidak ada buktinya? Lihatlah murid-muridmu yang tidak becus itu! Bukankah mereka adalah korban dari bencana yang kau ciptakan? Kakak Feng berkata bahwa kau telah terjerumus ke dalam kesesatan, dan kau tidak pantas menjadi ketua Perguruan Huashan. Kakak Feng sangat benar. Apakah kau bersedia mengundurkan diri, atau perlu kami paksa untuk mundur?”

Lu Dayou baru saja tiba di tempat itu dan langsung berbisik kepada Linghu Chong yang sedang memandang tajam ke arah si pendek, “Aku ingat sekarang. Si pendek itu bernama Cheng Buyou, karena tadi Guru memanggilnya demikian.”

Cheng Buyou memamerkan kebolehan.

Yue Buqun berkata, “Saudara Cheng, Kelompok Pedang kalian telah meninggalkan Gunung Huashan sejak dua puluh lima tahun yang lalu, dan kami sudah berhenti menyebut kalian sebagai sesama saudara perguruan. Tapi, kenapa kalian hari ini datang mencari masalah? Jika kalian memang mengaku hebat, mengapa tidak mendirikan perguruan sendiri? Jika perguruan yang kalian dirikan bisa meraih nama besar di dunia persilatan dan mengalahkan Huashan, tentu aku akan mengaku kalah. Tapi, sekarang kalian justru datang mencari perkara. Hm, ini tidak ada manfaatnya sama sekali selain merusak hubungan baik kita.”

Cheng Buyou menjawab dengan lantang, “Kakak Yue, kami memang tidak ada dendam dan permusuhan dengan dirimu. Tapi, setelah kau mengangkangi jabatan sebagai ketua Perguruan Huashan dan menyesatkan murid-muridmu dengan lebih mengutamakan latihan tenaga dalam daripada jurus pedang. Akibatnya, wibawa Perguruan Huashan di dunia persilatan menjadi runtuh. Pada akhirnya, kau tidak hanya melalaikan tanggung jawab, tetapi juga melimpahkan aib kepada banyak orang. Sebagai murid Huashan aku tidak boleh hanya menjadi penonton dan berpangku tangan. Apalagi kau menggunakan cara-cara licik dan tidak jujur dalam mengusir orang-orang dari Kelompok Pedang. Tidak seorang pun dari kelompok kami yang mendapatkan pengakuan di dunia persilatan. Kami sudah memikul kerugian ini selama dua puluh lima tahun, dan kini saatnya kami membuat perhitungan denganmu.”

Yue Buqun menjawab, “Saudara Cheng, perselisihan antara Kelompok Tenaga Dalam dan Kelompok Pedang sudah menjadi cerita lama. Pada pertandingan di Puncak Gadis Kumala dulu sudah ditentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Siapa yang benar, siapa yang salah sudah jelas kelihatan. Lalu, untuk apa sekarang kalian bertiga mengungkit-ungkit kembali?”

“Siapa yang menyaksikan akhir pertandingan di waktu itu? Kami bertiga adalah anggota Kelompok Pedang, mengapa kami tidak melihat hasil akhir pertandingan itu?” tanya Cheng Buyou. “Tetapi kau memperoleh kedudukan ketua Perguruan Huashan dengan cara yang curang dan tidak beres. Jika tidak, mengapa Ketua Serikat sampai mengirimkan Panji Pancawarna dan memerintahkan kau mengundurkan diri?”

“Sungguh aneh, sungguh aneh,” sahut Yue Buqun sambil menggeleng. “Ketua Zuo memiliki wawasan luas dan juga sangat bijaksana. Menurut akal sehat, tidak mungkin Beliau secara tiba-tiba mengirimkan Panji Pancawarna untuk menurunkan dan mengganti ketua Perguruan Huashan.”

“Jadi, kau menganggap panji ini palsu?” tanya Cheng Buyou sambil menunjuk ke arah bendera kebesaran Serikat Pedang Lima Gunung tersebut.

Yue Buqun menjawab, “Panji itu tidak palsu. Hanya saja, itu hanya benda mati, tidak bisa berbicara.”

Mendengar itu, Lu Bai dari Perguruan Songshan yang dari tadi hanya diam menonton segera ikut bicara, “Saudara Yue, kau berani mengatakan panji ini tidak bisa bicara. Tapi apakah aku juga tidak bisa bicara?”

“Mana berani aku berkata demikian?” sahut Yue Buqun. “Tapi persoalan ini sangat penting. Meskipun seandainya Ketua Zuo benar-benar mempunyai maksud demikian, tidak seharusnya Beliau hanya mendengar pendapat dari satu pihak saja. Seharusnya Beliau juga mendengar kata-kataku terlebih dulu. Selain itu, kedudukan Ketua Zuo adalah sebagai ketua Serikat Pedang Lima Gunung. Wewenang Beliau hanya meliputi urusan antara lima perguruan. Mengenai masalah rumah tangga di masing-masing Perguruan Taishan, Hengshan, Henshan, dan Huashan, adalah tanggung jawab masing-masing ketua di dalamnya.”

“Kau sungguh banyak bicara!” bentak Cheng Buyou. “Yang jelas kau tidak akan menyerahkan kedudukan ketua kepada kami, bukan begitu?”

Saat mengucapkan kata “ketua”, pria bertubuh pendek itu mencabut pedangnya; saat berkata “kepada” ia melancarkan satu tusukan kepada Yue Buqun; saat mengucapkan kata “kami” ia melakukan tusukan kedua; saat berkata “bukan” ia melakukan tusukan ketiga; dan ketika berkata “begitu” ia melakukan tusukan keempat. Keempat kata sekaligus keempat serangan itu dilakukannya secara berurutan dalam satu tarikan nafas saja.

Dalam waktu yang sangat cepat Cheng Buyou telah melakukan empat tusukan, dan masing-masing mengarah pada empat titik yang berbeda. Tusukan pertama merobek kain baju pada bagian bahu kiri Yue Buqun; tusukan kedua merobek kain baju pada bahu sebelah kanan; tusukan ketiga mengenai lengan baju sebelah kiri; sedangkan tusukan keempat merobek kain baju sebelah dada kanan. Keempat serangan itu dilakukan secara lurus dan menghasilkan delapan lubang pada baju Yue Buqun. Dan yang lebih menarik, masing-masing serangan sama sekali tidak menggores kulit ketua Huashan tersebut. Apa yang dilakukan Cheng Buyou, mulai dari gerakannya yang gesit, kecepatan yang luar biasa, ketepatan sasaran, serta bagaimana ia mengendalikan pedang telah membuktikan kalau laki-laki bertubuh pendek ini seorang tokoh silat papan atas.

Murid-murid Huashan terperanjat bercampur ngeri menyaksikan kehebatan Cheng Buyou, kecuali Linghu Chong. Pemuda itu hanya berpikir, “Keempat tusukan ini jelas-jelas jurus Perguruan Huashan. Aku pernah meihatnya di dinding gua, tapi Guru sama sekali belum pernah memeragakannya. Jagoan dari Kelompok Pedang ini benar-benar luar biasa.”

Di lain pihak, Lu Bai, Feng Buping, dan anggota rombongan lainnya merasa kagum melihat sikap Yue Buqun yang tetap tenang. Saat Cheng Buyou melancarkan empat serangan secara tiba-tiba dan masing-masing bisa merenggut nyawa Yue Buqun, namun Yue Buqun menghadapinya dengan tersenyum dan menanggapinya dengan enteng. Ketua Perguruan Huashan ini terlihat sangat percaya diri. Tujuan Cheng Buyou dan yang lain datang ke Gunung Huashan adalah untuk merebut jabatan ketua perguruan dari tangan Yue Buqun. Bagaimapun juga Yue Buqun dirasa perlu untuk mempersiapkan perlindungan diri terhadap musuh-musuhnya yang bisa jadi melakukan serangan tiba-tiba. Akan tetapi, terhadap serangan mendadak yang dilakukan Cheng Buyou itu, Yue Buqun sama sekali tidak menghindar dan menghadapi setiap tusukan tanpa rasa khawatir sedikit pun. Hal ini menujukkan betapa matang perhitungan ketua Huashan tersebut, sehingga bisa menghadapi Cheng Buyou dengan cara yang mengesankan. Dalam waktu seketika ia mampu mengendalikan diri dan bersikap tenang, sehingga memperlihatkan betapa ilmu silatnya masih berada jauh di atas Cheng Buyou. Tanpa menggerakkan jari sedikit pun, Yue Buqun telah memperlihatkan bagaimana dia memenangkan pertarungan tersebut.

Sementara itu Linghu Chong dengan mudah mengenali keempat serangan Cheng Buyou tadi mirip dengan gambar di dinding gua rahasia yang pernah ia temukan beberapa waktu lalu. Ia juga mengetahui bahwa keempat tusukan itu sebenarnya berasal dari satu serangan saja, di mana Cheng Buyou telah melakukan pengembangan dengan beberapa variasi, sehingga keempat tusukan itu terlihat berbeda satu sama lain. Dalam hal ini Linghu Chong berpikir, bagaimanapun hebatnya jurus yang diciptakan Kelompok Pedang, tetap tidak mampu melebihi batasan gambar-gambar di dinding gua rahasia.

Terdengar Ning Zhongze mengancam, “Saudara Cheng, suamiku sengaja mengalah dan mengalah, mengingat kalian adalah tamu-tamu kami. Sekarang kau baru saja membuat baju suamiku robek di delapan titik. Jika kau tetap tidak tahu diri, maka kami tidak perlu segan-segan lagi. Kesabaran kami terhadap tamu kehormatan sekalipun, tetap ada batasnya.”

Cheng Buyou pun menanggapi, “Apa? Mengalah pada tamu? Omong kosong apa lagi ini? Nyonya Yue, apabila kau bisa mengalahkan keempat seranganku tadi, maka aku akan turun gunung dengan suka hati. Tidak hanya itu, bahkan aku berjanji tidak akan datang ke Gunung Huashan lagi seumur hidupku.”

Awalnya Cheng Buyou mengira ilmu pedangnya sudah mencapai tingkat yang sangat tinggi. Namun begitu melihat sikap Yue Buqun yang tenang-tenang saja menghadapi keempat tusukannya, diam-diam ia merasa gentar juga. Pria bertubuh pendek itu berpikir, “Meskipun memiliki nama besar di Perguruan Huashan, namun Nyonya Yue tetap saja seorang perempuan. Mana mungkin ia tidak ngeri melihat empat seranganku tadi? Jika kami bertarung, aku yakin bisa mengalahkannya. Dengan cara ini, mungkin aku bisa menekan Yue Buqun untuk menyerah demi keselamatan istrinya. Atau, aku bisa membuat Yue Buqun ketakutan sehingga dia sukarela menyerahkan kedudukan ketua Huashan kepada Kakak Feng.”

Namun begitu menyadari Ning Zhongze ternyata agak ngeri melihat serangannya itu, rasa sombongnya pun kembali bangkit. Karena tidak berani menantang Yue Buqun, maka ia pun menantang istrinya saja, “Huh, mengalah kepada tamu? Asalkan Nyonya Gak mampu memecahkan keempat seranganku tadi, tanpa disuruh aku akan segera pergi dan tidak sudi menginjak Huashan ini lagi.”

Maka, Cheng Buyou lantas berseru lantang sambil memberi hormat, “Silakan maju, Nyonya Yue! Pendekar Ning adalah jago terkemuka dari Perguruan Huashan Kelompok Tenaga Dalam. Hari ini Cheng Buyou ingin sekali berkenalan dengan ilmu tenaga dalam andalan Pendekar Ning.” Dengan bicara seperti itu, Cheng Buyou ingin sekali menjelaskan di hadapan semua orang bahwa ini akan menjadi pertarungan antara wakil Kelompok Pedang melawan wakil Kelompok Tenaga Dalam.

Meskipun Ning Zhongze tidak yakin mampu mengalahkan keempat serangan tersebut, namun sifatnya yang keras membuatnya tersinggung mendengar tantangan itu. Ia pun mencabut pedang siap menghadapi Cheng Buyou.

Buru-buru Linghu Chong mencegah, “Ibu Guru, jalan yang ditempuh Kelompok Pedang sesat dan menyimpang, mana mungkin bisa disejajarkan dengan kelompok kita yang murni? Biar saya saja selaku murid Huashan yang mencoba permainannya. Jika tenaga dalam saya nanti tidak mampu menghadapinya, barulah Ibu Guru yang maju membereskannya.”

Tanpa menunggu jawaban Ning Zhongze, ia pun melangkah maju dan berdiri membelakangi sang ibu-guru serta menghadapi lawan. Saat itu tangannya telah menyambar sebatang sapu kotor yang tadi berada di sudut dinding gedung.

Sambil mengacungkan sapunya ke arah Cheng Buyou, Linghu Chong berkata, “Tuan Cheng, kau bukan lagi murid Perguruan Huashan, jadi tidak perlu aku memanggil ‘paman’ kepadamu. Tapi jika kau mau menyadari kekeliruanmu, maka kau boleh masuk kembali ke dalam perguruanku. Tapi entah Guru sudi menerimamu atau tidak? Tapi jika kau diterima kembali, maka sesuai peraturan, kau harus memanggilku dengan sebutan ‘kakak pertama’, bagaimana?”

“Omong kosong! Kau binatang kotor!” bentak Cheng Buyou marah-marah. “Asalkan kau mampu menahan empat kali seranganku tadi, maka aku, Cheng Buyou yang akan mengangkatmu sebagai guru.”

Linghu Chong menggeleng-gelengkan kepala dan menjawab, “Aku tidak sudi mempunyai murid seperti dirimu....”

“Ambil pedangmu, keparat!” bentak Cheng Buyou menukas.

Linghu Chong menjawab dengan sikap mengejek, “Sebatang rumput bisa menjadi senjata ampuh, asalkan dialiri tenaga dalam yang cukup. Untuk menghadapi serangan Saudara Cheng yang sepele tadi, aku tidak perlu menggunakan pedang.”

“Baik, kau sendiri yang sombong. Jangan salahkan aku bila berbuat kejam!” seru Cheng Buyou mengancam.

Yue Buqun dan Ning Zhongze mengetahui ilmu silat Cheng Buyou jauh lebih tinggi di atas Linghu Chong. Menghadapi dengan sapu sama artinya dengan bunuh diri. Berpikir demikian, suami-istri itu pun berseru serentak, “Chong’er, mundur!”

Namun teriakan itu sudah terlambat. Cheng Buyou telah menyerang maju menggunakan jurus seperti yang ia tujukan kepada Yue Buqun tadi. Ada beberapa alasan mengapa ia menggunakan jurus yang sama. Pertama, karena jurus tersebut adalah jurus andalannya; kedua, karena ia memang menantang Linghu Chong untuk menghadapi jurus tersebut; ketiga, karena Linghu Chong menggunakan sapu sebagai senjata, sehingga dengan menggunakan jurus yang pernah diperlihatkan, maka Linghu Chong bisa menduga ke mana arah serangan yang akan terjadi, sehingga Cheng Buyou menganggap hal ini cukup adil.

Di lain pihak, Linghu Chong pernah mempelajari cara memecahkan serangan tersebut sebelum bertemu Cheng Buyou. Sebagaimana yang terdapat pada gambar-gambar di dinding gua belakang peninggalan para tetua Sekte Iblis, jurus tersebut dapat dihadapi dengan menggunakan senjata aneh berbentuk tombak dengan ujung seperti sekop. Kebetulan sapu yang dipedang Linghu Chong mirip dengan senjata pada gambar tersebut. Itulah sebabnya pemuda itu memilih sapu sebagai senjata daripada menggunakan ilmu Sembilan Pedang Dugu, karena ia sendiri merasa belum cukup menguasai ilmu tersebut.

Maka, ketika Cheng Buyou melancarkan tusukan, Linghu Chong pun menyodorkan sapu ke wajah lawannya itu. Cara yang ia tempuh untuk memecah serangan ini benar-benar berbahaya. Apabila yang ia pegang benar-benar tombak sekop, tentu lawan akan terluka parah, atau bahkan mati seketika. Maka, satu-satunya cara untuk menghindari tombak tersebut adalah dengan membatalkan tusukan dan melompat mundur.

Namun bagaimana halnya jika yang digunakan sebagai penangkis serangan berupa sapu kotor? Ilmu tenaga dalam Linghu Chong belum sampai pada tingkat sempurna, sehingga apa yang ia ucapkan tadi, bahwa sebatang rumput bisa menjadi senjata ampuh asalkan dialiri tenaga dalam hanyalah bualan belaka. Apabila sapu tersebut mengenai sasaran, paling-paling Cheng Buyou hanya merasa tergores saja, sama sekali tidak akan menyebabkan luka serius. Sebaliknya, pedang Cheng Buyou akan terus meluncur dan menembus dada Linghu Chong. Namun itu semua sudah diperhitungkan dengan baik oleh Linghu Chong. Meskipun yang ia pegang hanya sapu kotor, namun benda itu sudah cukup ampuh untuk memaksa Cheng Buyou membatalkan serangan. Bagaimana tidak, seorang tokoh senior tentu akan merasa sangat malu jika di depan umum wajahnya sampai terkena kotoran yang menempel pada sapu tersebut. Daripada meneruskan serangan untuk membunuh seorang Linghu Chong, tentu lebih baik menghindari sodoran sapu.

Perhitungan Linghu Chong tepat sekali. Cheng Buyou memalingkan wajah menghindari sapu tersebut, sambil kemudian mengayunkan pedang untuk memotong gagang sapu. Linghu Chong menggerakkan sapunya ke bawah untuk menghindari ayunan pedang lawan.
Linghu Chong mematahkan serangan lawan.

Cheng Buyou merasa sangat malu karena serangan pertamanya gagal demi untuk menangkis sapu kotor milik lawan. Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa jurus sapu yang digunakan Linghu Chong adalah ciptaan para tetua Sekte Iblis yang memeras otak dengan segenap kemampuan mereka. Entah berapa lama waktu yang digunakan para tetua tersebut untuk bermusyawarah menciptakan jurus untuk mematahkan serangan seperti yang kini dimainkan oleh Cheng Buyou itu. Cheng Buyou hanya mengira Linghu Chong secara kebetulan menyodorkan sapu ke arah wajahnya sehingga dapat mematahkan serangan pertama darinya.

Dengan perasaan gusar Cheng Buyou melancarkan serangan kedua ke arah Linghu Chong. Berbeda dengan sewaktu menyerang Yue Buqun tadi, kali ini Cheng Buyou menyerang ketiak Linghu Chong sebagaimana serangan keempat pada Yue Buqun, yaitu menuju dada dekat ketiak pemuda itu. Menghadapi itu, Linghu Chong memutar tubuh sambil memindahkan sapunya ke tangan kiri. Sepertinya ia hendak menghindari serangan lawan namun secepat kilat sapunya bergerak menerjang ke dada Cheng Buyou.

Ukuran sapu lebih panjang daripada pedang. Maka, meskipun dilakukan belakangan, sapu tersebut lebih dulu mengenai dada Cheng Buyou sebelum ujung pedang mengenai ketiak Linghu Chong. Maka terdengar suara Linghu Chong berseru, “Kena!”

Dengan disertai suara mendesing, Cheng Buyou mengayunkan pedang secepat kilat memotong gagang sapu yang terbuat dari bambu di tangan Linghu Chong. Namun demikian, para hadirin dapat mengetahui dengan jelas bahwa Cheng Buyou sudah kalah. Apabila Linghu Chong menggunakan tombak sekop, atau tombak garu, atau tombak bulan sabit, tentu dada Cheng Buyou sudah terluka parah. Namun Cheng Buyou tidak sudi mengakui kekalahannya. Apabila Linghu Chong seorang pendekar papan atas tentu ia langsung membuang senjata dan menyerah kalah. Namun Linghu Chong masih terhitung keponakan sendiri, tentu akan sangat memalukan jika ia mengaku kalah begitu saja, apalagi karena terkena sebuah sapu kotor.

Berpikir demikian membuat Cheng Buyou melanjutkan pertandingan. Kali ini ia melancarkan tiga serangan mematikan dengan segenap kemampuannya. Dua di antaranya sudah dikenali Linghu Chong lewat gambar di dinding gua belakang, sementara serangan ketiga masih asing baginya. Meskipun demikian, sejak memelajari ilmu Sembilan Pedang Dugu, maka serangan sesulit apa pun bisa ia patahkan.

Demi menghindari serangan itu, Linghu Chong pun berkelit kemudian mengacungkan gagang sapu di tangannya sebagai toya untuk menghadapi serangan selanjutnya. Cara yang ia gunakan adalah meniru gambar pemegang toya di dinding gua belakang. Apabila yang dipegangnya benar-benar sebatang toya besi, tentu pedang Cheng Buyou akan patah ketika beradu dan berakibat fatal.

Namun Linghu Chong hanya berpikir cepat dan menggunakan apa yang ada di tangannya karena didesak keadaan. Toya yang ada di tangannya bukan terbuat dari besi, melainkan hanya sebatang bambu tua bekas gagang sapu. Maka begitu kedua senjata beradu, bukannya patah justru pedang Cheng Buyou menancap ke ujung bambu dan menusuk masuk ke dalam sampai yang tersisa hanya gagangnya saja. Dalam keadaan seperti itu pikiran Linghu Chong bekerja cepat. Segera ia memukul bambu itu dengan tangan kanan sehingga terlempar ke samping beserta pedang milik Cheng Buyou yang terjebak di dalamnya.

Cheng Buyou dipenuhi rasa malu bercampur marah karena sebagai seorang ahli pedang ia harus kehilangan senjata di hadapan banyak orang. Dengan mengerahkan segenap tenaga ia pun menghantam dada Linghu Chong menggunakan pukulan tangan kosong. Dalam hal pertarungan tangan kosong, Cheng Buyou lebih berpengalaman daripada Linghu Chong yang selama ini hanya berlatih ilmu pedang saja. Akibatnya, pemuda itu pun roboh tersungkur dan memuntahkan darah segar.

Tiba-tiba empat sosok bayangan berkelebat menangkap tubuh Cheng Buyou. Mereka tidak lain adalah empat orang Dewa Lembah Persik. Masing-masing memegang tangan dan kaki Cheng Buyou. Sekejap kemudian terdengar suara jeritan pria itu dan disusul dengan bau anyir darah bertebaran memenuhi ruangan.

Kejadian mengerikan tersebut berlangsung sangat cepat dan mendadak. Keempat orang tua aneh itu telah menarik tubuh Cheng Buyou menuju empat arah yang berbeda dengan tenaga mereka yang luar biasa. Akibatnya, tubuh pria pendek itu terbelah menjadi empat bagian dengan isi perut berhamburan di udara. Terdengar Yue Lingshan menjerit ngeri dan kemudian jatuh pingsan setelah menyaksikan pemandangan itu. Bahkan, para ahli silat papan atas yang sudah kenyang pengalaman seperti Yue Buqun, Lu Bai, dan Feng Buping juga merasa gentar melihat perbuatan empat orang aneh tersebut.

Pada saat yang bersamaan dengan terbunuhnya Cheng Buyou, dua orang yang lain, yaitu Dewa Bunga Persik dan Dewa Buah Persik menyambar tubuh Linghu Chong yang tergeletak di lantai dan membawa lari pemuda itu menuju ke arah kaki gunung dengan kecepatan luar biasa.

Yue Buqun dan Feng Buping serentak mencabut pedang masing-masing untuk kemudian menyerang Dewa Ranting Persik dan Dewa Daun Persik. Secepat kilat, Dewa Akar Persik dan Dewa Dahan Persik menangkis serangan tersebut dengan menggunakan pentungan besi yang mereka bawa. Sewaktu logam-logam beradu terdengar suara benturan yang sangat keras. Saat itulah keempat pembunuh Cheng Buyou melesat pergi dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka yang nyaris sempurna.

Hanya dalam waktu beberapa detik saja, Enam Dewa Lembah Persik telah menghilang dengan membawa lari tubuh Linghu Chong dari Gedung Kebajikan. Yue Buqun, Feng Buping, dan Lu Bai hanya saling pandang dengan perasaan heran menyaksikan kekuatan dan kecepatan enam orang tua aneh tadi. Menyaksikan mayat Cheng Buyou yang terpotong-potong dan berserakan di lantai membuat para hadirin merasa ngeri bercampur malu. Sampai agak lama Lu Bai dan Feng Buping hanya bisa menggelengkan kepala.
Saat-saat kematian Cheng Buyou.
(Bersambung)

You may like these posts

Komentar

  1. To insert a code use <i rel="pre">code_here</i>
  2. To insert a quote use <b rel="quote">your_qoute</b>
  3. To insert a picture use <i rel="image">url_image_here</i>
Tinggalkan komentar sesuai topik tulisan, komentar dengan link aktif tidak akan ditampilkan.
Admin dan penulis blog mempunyai hak untuk menampilkan, menghapus, menandai spam, pada komentar yang dikirim