Bagian 68 - Menyembuhkan Diri Sendiri

Linghu Chong membuyarkan hawa murni liar di dalam tubuhnya.

Setelah Heibaizi pergi dan mengunci pintu berlapis, pikiran Linghu Chong kembali bergolak, “Mengapa dia benar-benar menyangka aku sebagai Tuan Ren? Padahal Heibaizi sangat cerdik dan teliti, mana mungkin dia berbuat kesalahan seperti itu?” Tiba-tiba ia teringat sesuatu, “Jangan-jangan Huang Zhonggong telah mengetahui rahasianya, dan diam-diam memindahkan Tuan Ren ke kamar penjara yang lain, kemudian menempatkan aku di sini. Benar juga, selama dua belas tahun setiap dua bulan sekali Heibaizi selalu datang kemari, kemungkinan besar perbatannya diketahui orang. Sudah tentu Huang Zhongggong yang telah diam-diam mengatur ini semua.”

Untuk beberapa lama ia termenung, kemudian teringat pada salah satu kalimat yang diucapkan Heibaizi. “Murid agama kita yang menipu guru dan mengkhianati leluhur akan dihukum dengan dikuliti hidup-hidup sampai mati perlahan-lahan.” Ia pun berpikir, “Apa yang dimaksud dengan ‘agama kita’? Apakah Sekte Iblis? Jangan-jangan sesepuh bermarga Ren itu dan Empat Sekawan Jiangnan adalah anggota Sekte Iblis. Kakak Xiang sendiri adalah mantan Pelindung Kanan Sekte Iblis, pasti ada sangkut-pautnya dengan mereka. Tapi aku sendiri belum tahu tipu muslihat apa yang sedang mereka jalankan dengan melibatkan diriku di dalamnya.”

Begitu berpikir tentang “Sekte Iblis”, ia langsung membayangkan adanya rahasia yang rumit dan berlapis-lapis. Hal ini membuatnya tidak ingin berpikir lebih lanjut, kecuali dua hal saja, “Apakah Heibaizi bersungguh-sungguh atau hanya berpura-pura? Bagaimana caraku menjawab bila tiga hari lagi dia datang menanyai aku?”

Bermacam-macam dugaan telah dipikirkannya, tapi tetap tidak dapat menjawab maksud dan tujuan Heibaizi. Sampai akhirnya ia tertidur sendiri karena terlalu letih. Ketika terbangun, hal pertama yang dipikirkannya adalah, “Andai saja Kakak Xiang berada di sini tentu dia akan segera mengetahui tujuan Heibaizi. Sesepuh bermarga Ren itu sangat cerdas, sepertinya jauh lebih cerdas di atas Kakak Xiang. Eh, ya ….”

Tiba-tiba ia melonjak bangun dan berseru keras. Rupanya sesudah tidur pikirannya menjadi lebih jernih. “Selama dua belas tahun ini Tuan Ren tidak menyanggupi permintaan Heibaizi. Sudah tentu karena permintaannya itu tidak mungkin dapat diluluskan. Sebagai seorang cerdik pandai tentu ia cukup tahu untung ruginya bila menyanggupi permintaan Heibaizi. Tapi aku bukan Tuan Ren, apa repotnya bagiku untuk menyanggupi permintaan Heibaizi?”

Dalam hati kecilnya ia tahu urusan ini sangat ganjil, dan tentunya mengandung bencana yang sangat besar. Namun keinginannya untuk meloloskan diri begitu besar. Maka, ia pun mengambil keputusan, “Tiga hari lagi kalau Heibaizi datang, aku akan menyanggupi permintaannya. Aku akan mengajarkan rumus rahasia ilmu samadi yang terukir di atas dipan ini kepadanya. Aku lihat dulu bagaimana tanggapannya, lalu aku akan bertindak sesuai gelagat.”

Begitulah, ia lantas meraba-raba lagi tulisan di atas dipan untuk menghafalkannya. “Aku harus menghafalkannya dengan baik supaya nanti aku bisa mengucapkannya dengan lancar, sehingga Heibaizi tidak curiga. Sekarang yang jadi masalah hanya suaraku yang masih berbeda dengan Tuan Ren itu. Aku nanti harus merendahkan suaraku. Ah, aku ada akal! Aku akan berteriak-teriak selama dua hari supaya suaraku menjadi parau. Kemudian saat berbicara kepadanya aku cukup menggumam saja supaya dia semakin tidak mengenali suaraku.”

Maka sehabis menghafalkan tulisan itu, ia mulai berteriak-teriak seperti orang gila. Untung penjara itu terletak di bawah tanah, ditambah pintunya yang berlapis-lapis. Biarpun ada kembang api meledak di situ juga tidak akan terdengar dari luar. Oleh sebab itu, ia pun berteriak sekuat-kuatnya, mencaci maki Empat Sekawan Jiangnan, terkadang menyanyi, sampai akhirnya ia sendiri merasa geli dan tertawa terpingkal-pingkal karena nyanyiannya tidak enak didengar.

Setelah berteriak-teriak ia kembali menghafalkan tulisan di atas dipan. Tiba-tiba ia menemukan beberapa kalimat yang berbunyi, “Buatlah titik Dantian seperti peti kosong, atau lembah yang dalam. Ketahuilah bahwa peti yang kosong dapat menyimpan barang dan lembah yang dalam dapat menyerap air. Jika pada Dantian terdapat hawa murni, buyarkanlah dan sebarkanlah melalui berbagai titik di Pembuluh Ren.”

Kalimat-kalimat ini sebelumnya pernah ia raba beberapa kali, namun karena merasa jemu dan muak terhadap ilmu samadi sehingga ia tidak pernah merenungkan maknanya secara mendalam. Sekarang begitu membacanya dengan cermat, ia pun merasa heran. “Guru selalu mengajarkan kepadaku, bahwa intisari ilmu tenaga dalam adalah menghimpun hawa murni di titik Dantian. Semakin banyak hawa murni yang dapat dihimpun Dantian, semakin kuat pula tenaga dalam yang dapat dilatih. Tapi mengapa kalimat ini menyatakan Dantian harus selalu kosong dan jika menyimpan hawa murni harus dibuyarkan? Kalau di dalam Dantian tidak ada hawa murni, lalu dari mana datangnya tenaga dalam? Semua ilmu melatih tenaga dalam tidak ada yang seperti ini. Ini aneh! Apakah ini hanya lelucon belaka? Hahaha, Heibaizi memang manusia rendah dan tak tahu malu. Jika aku mengajarkan ilmu yang menyesatkan ini kepadanya, tentu dia akan tertipu habis-habisan.”

Ia kemudian melanjutkan meraba tulisan itu sambil merenungkan makna yang terkandung di dalam setiap kalimat. Ratusan huruf pertama adalah cara bagaimana membuyarkan hawa murni, serta bagaimana cara memusnahkan tenaga dalam sendiri.

Semakin diselami membuat Linghu Chong semakin terperanjat. “Di dunia ini mana ada orang tolol sudi memusnahkan tenaga dalam sendiri yang telah dipelajari dengan susah payah? Memangnya dia mau bunuh diri. Tapi kalau mau bunuh diri kenapa tidak langsung gorok leher sendiri saja, juga untuk apa harus buang-buang waktu dan pikiran demi membuyarkan tenaga dalam segala? Ilmu membuyarkan tenaga ini jauh lebih sukar dilatih daripada ilmu mengumpulkan tenaga. Apa gunanya dipelajari?”

Setelah berpikir sejenak akhirnya Linghu Chong menjadi lesu. Ia merasa Heibaizi yang cerdik itu mana mungkin begitu gampang bisa ditipu dengan ajaran yang tidak masuk akal tersebut. Tampaknya cara ini tidak bisa dilanjutkan lagi.

Semakin dipikir ia semakin gelisah. Berkali-kali ia membaca kalimat tadi keras-keras, “Jika pada Dantian terdapat hawa murni, buyarkanlah dan sebarkanlah melalui berbagai titik di Pembuluh Ren ….” Semakin dibaca hatinya semakin kesal. Sambil menggebrak dipan ia pun memaki, “Bedebah! Ketika keparat itu dikurung di penjara gelap ini, hatinya gemas dan terlalu marah, sehingga mengatur muslihat ini untuk mempermainkan orang lain.”

Setelah mencaci maki beberapa saat, akhirnya ia letih dan tertidur pulas. Dalam mimpi ia merasa dirinya sedang duduk bersamadi menurut rumusan yang dibacanya di atas dipan tadi. Ketika berpikir tentang “Jika pada Dantian terdapat hawa murni, buyarkanlah dan sebarkanlah melalui berbagai titik di Pembuluh Ren”, maka ia pun mengalirkan segala tenaga dalam melalui Pembuluh Ren. Seketika ruas-ruas tulang di seluruh badan terasa nyaman tak terlukiskan.

Selang agak lama, dalam keadaan samar-samar seperti tidur namun tidak tidur, antara sadar dan tidak sadar, ia merasa hawa murni dalam perutnya masih terus mengalir ke nadi Pembuluh Ren. Mendadak pikirannya tergerak, “Wah, celaka! Kalau tenaga dalamku terus-menerus mengalir seperti ini, aku bisa menjadi orang cacat, tidak berguna lagi.”

Dalam keterkejutannya ia segera duduk dan menggerakkan hawa murni supaya mengalir balik dari Pembuluh Ren. Seketika darah pun bergolak, kepala terasa pusing, dan mata berkunang-kunang. Setelah cukup lama barulah ia dapat menenangkan diri.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu yang membuatnya terkejut bercampur senang. “Penyakitku yang sukar disembuhkan ini adalah karena dalam tubuhku mengeram tujuh-delapan macam hawa murni yang berasal dari Enam Dewa Lembah Persik dan Biksu Bujie, sampai-sampai tabib sakti Ping Yizhi tidak sanggup menyembuhkanku. Mahabiksu Fangzheng, Ketua Biara Shaolin itu mengatakan bahwa berbagai hawa murni aneh yang bergolak dalam tubuhku ini hanya bisa dibuyarkan sedikit demi sedikit dengan berlatih ilmu dalam Kitab Pengubah Urat. Bukankah ilmu samadi yang terukir di atas dipan besi ini justru mengajarkan kepadaku bagaimana cara membuyarkan tenaga dalamku sendiri? Hahahaha! Linghu Chong, kau ini benar-benar bodoh seperti kerbau. Orang lain takut kehilangan tenaga dalam, tapi aku justru ingin membuang tenaga dalam. Sekarang ada ilmu ajaib terletak di depan mata mengapa tidak kupelajari dengan baik?”

Begitulah, karena terlalu sibuk memikirkan kalimat aneh tersebut, akhirnya sampai terbawa mimpi. Sejak tadi ia terus-menerus menghafal sehingga pikirannya dipenuhi olehnya. Ketika tertidur lelap, tanpa sadar ia pun berlatih sesuai rumus yang telah ia hafalkan. Namun demikian, ia tidak mengupas kalimat tersebut dengan sebenar-benarnya. Kini setelah terbangun dan semangatnya menyala, ia kembali meraba-raba tulisan di atas dipan besi sampai dua kali. Setelah yakin telah memahami isinya, ia pun duduk bersila dan melatih ilmu tersebut secara berurutan. Hanya dalam waktu dua jam, ia dapat merasakan bermacam-macam hawa murni yang selama ini mendekam di titik Dantian kini sudah sebagian yang membuyar melalui Pembuluh Ren. Meskipun belum dapat diusir keluar tubuh, tapi pergolakan darah yang biasanya sangat menyiksa itu kini sudah jauh berkurang.

Ia lantas bangkit berdiri. Karena sangat senang, ia pun bernyanyi-nyanyi, tapi suara terdengar serak seperti burung gagak. Rupanya usahanya berteriak-teriak untuk membuat kerongkongan menjadi parau telah membawa hasil. Diam-diam ia berpikir, “Ren Woxing, Ren Woxing! Kau meninggalkan tulisan ini untuk mencelakai orang lain, namun di tanganku justru memberikan manfaat besar. Jika di dalam kuburmu kau tahu soal ini mungkin janggutmu akan menegak karena gusar. Hahahaha!”

Ia kembali berlatih untuk membuyarkan hawa murni di dalam tubuhnya. Setelah bersamadi agak lama, badannya kini bertambah segar. Ia berpikir, “Setelah aku memusnahkan hawa murni milik Enam Dewa Lembah Persik dan Biksu Bujie, maka aku dapat berlatih ilmu tenaga dalam perguruan sendiri seperti yang diajarkan Guru dahulu. Walaupun harus mengulangi dari awal dan bisa memakan waktu lama, tapi paling tidak selembar nyawaku ini sudah dapat diselamatkan. Jika nanti Kakak Xiang datang membebaskanku dari sini, tentu aku dapat menempuh hidup baru di dunia persilatan.”

Akan tetapi, teringat pula olehnya, “Guru telah memecatku, untuk apa aku harus memelajari ilmu tenaga dalam Perguruan Huashan lagi? Masih banyak ilmu-ilmu tenaga dalam dari aliran lain yang bisa kupelajari, misalnya aku dapat belajar kepada Kakak Xiang, atau kepada Yingying, apa jeleknya?” Berpikir sampai di sini membuat hatinya sedih tetapi juga gembira.

Hari berikutnya, setelah makan nasi ia kembali berlatih. Setelah beberapa saat tubuhnya terasa begitu nyaman tak terlukiskan, sehingga ia pun tertawa terbahak-bahak.

Tiba-tiba terdengar suara Heibaizi berseru di luar pintu, “Tuan Ren, apakah kau baik-baik saja? Aku sudah lama menunggu di sini.”

Ternyata tanpa terasa tiga hari sudah berlalu. Karena terlalu sibuk berlatih membuatnya tidak menyadari kehadiran Heibaizi. Untung saja suaranya telah berubah serak sehingga tidak memancing kecurigaan Heibaizi. Untuk mengalihkan perhatian, ia pun melanjutkan gelak tawa beberapa kali.

Terdengar Heibaizi kembali berkata, “Sepertinya hari ini Tuan sedang bersemangat. Bagaimana kalau hari ini Tuan menerimaku sebagai murid, bagaimana?”

Linghu Chong tidak menjawab, tetapi membatin, “Kalau dia membuka pintu dan melihat bahwa diriku adalah Feng Erzhong, bukan sesepuh bermarga Ren itu, tentu dia akan menggempurku. Seandainya Tuan Ren sendiri yang mengajarkan ilmu sakti, setelah berhasil mendapatkannya, kemungkinan besar Heibaizi juga akan berusaha membinasakannya, misalnya memakai racun di dalam makanan atau sebagainya. Kalau dia mau membunuhku, tentu semudah membalikkan telapak tangan. Setelah aku mengajarkan ilmu sakti ini kepadanya, mana mungkin dia sudi membebaskan aku? Mungkin inilah sebabnya mengapa Tuan Ren selalu menolak memenuhi permintaannya selama dua belas tahun.”

Karena Linghu Chong tidak juga menjawab, Heibaizi menjadi khawatir dan segera berkata, “Setelah Tuan Ren mengajarkan ilmu itu, aku akan segera pergi mengambilkan arak enak dan ayam lezat untuk Tuan.”

Selama terkurung di situ, Linghu Chong setiap hari hanya makan sayur dan tahu melulu. Kali ini ia mendengar “ayam lezat dan arak enak”, seketika membuat air liurnya bercucuran. Segera ia pun berkata, “Baiklah, lekas kau pergi mengambil arak enak dan ayam lezat dulu. Sesudah makan, bisa jadi hatiku senang dan sudi mengajarkan beberapa jurus kepadamu.”

Heibaizi menjawab, “Baik, baik, akan aku ambilkan arak enak dan ayam panggang yang gemuk. Tapi hari ini agaknya tidak bisa dilaksanakan. Besok saja kalau ada kesempatan tentu murid akan kemari untuk mempersembahkannya.”

“Kenapa hari ini tidak bisa dilaksanakan?” tanya Linghu Chong.

Heibaizi menjawab, “Untuk datang kemari murid harus mencari kesempatan di luar pengetahuan Kakak Pertama. Bila Kakak Pertama sedang keluar berlatih barulah … barulah ….”

Linghu Chong mendengus sebelum ucapan orang itu habis. Heibaizi tidak bicara lebih lanjut. Khawatir Huang Zhonggong telah kembali ke kamarnya, ia pun buru-buru mohon diri.

Setelah Heibaizi pergi, Linghu Chong berpikir, “Bagaimana caranya untuk bisa memancing Heibaizi masuk ke dalam sini, kemudian memukulnya sampai mati? Orang ini sangat licin, tidak mudah ditipu. Lagipula tangan dan kakiku terikat rantai. Sekalipun aku bisa membunuhnya, tetap saja tidak bisa meloloskan diri.”

Sambil pikirannya melayang-layang, tangan kanannya meraba borgol besi di pergelangan tangan kiri kemudian menariknya kuat-kuat. Sebenarnya ia hanya iseng dan tak pernah berpikir bahwa borgol itu bisa terbuka. Tak disangka, borgol besi itu ternyata benar-benar terbuka. Ia pun menarik lagi beberapa kali, dan borgol besi itu akhirnya terlepas dari pergelangan tangan kirinya.

Kejadian ini sama sekali tidak terduga sebelumnya. Linghu Chong terkejut bercampur senang. Ketika ia meraba borgol besi itu, ternyata di bagian tengah memang sudah putus. Meskipun demikian, kalau tenaga dalamnya belum pulih tentu sukar untuk membukanya. Sebelum ini, sedikit mengerahkan tenaga saja langsung terasa menyakitkan dan bisa membuatnya pingsan.

Selama dua hari ini ia telah membuyarkan hawa murni liar di dalam tubuhnya. Berbagai macam hawa murni yang berasal dari Enam Dewa Lembah Persik dan Biksu Bujie telah ia salurkan ke dalam Pembuluh Ren, sehingga kini berubah menjadi tenaga yang dapat ia gunakan. Selain itu, saat mengerahkan tenaga juga sudah tidak terasa sakit lagi, dan darah di rongga dada tidak lagi bergolak.

Selanjutnya ia pun meraba borgol besi di pergelangan kiri, ternyata sudah retak seukuran rambut. Sebelum ini ia telah beberapa kali meraba borgol besi tersebut dan mengetahui adanya retakan tipis tersebut, namun sama sekali tidak menghiraukannya. Kini, ia pun mengerahkan tenaga dan berhasil membuka borgol besi tersebut.

Pada borgol di bagian kaki kiri dan kanan juga telah retak seukuran rambut. Satu per satu ia membuka borgol tersebut. Kini, ia telah terbebas dari keempat belenggu rantai baja, namun membuatnya kelelahan dan bermandi keringat. Sambil beristirahat ia bertanya-tanya dalam hati, “Mengapa setiap borgol besi sudah terputus? Belenggu yang sudah terputus macam ini apakah bisa untuk menahan orang?”

Hari berikutnya ketika si pelayan tua datang mengantar makanan, Linghu Chong memanfaatkan sinar pelita untuk melihat bagian yang terputus dari borgol-borgol besi itu. Hal ini membuatnya bertambah heran, karena bagian yang terputus itu seperti dipotong menggunakan gergaji yang sangat halus. Tidak hanya itu, bagian yang putus juga tampak mengkilap dan tidak kusam sama sekali, pertanda baru saja digergaji orang. Anehnya, mengapa borgol yang sudah digergaji putus itu bisa terkatup kembali dan membelenggu semua tangan dan kakinya?

“Jangan-jangan … jangan-jangan ada orang yang diam-diam berusaha menolongku. Penjara bawah danau ini tersembunyi rapat, mana mungkin diketahui orang luar? Sepertinya si penolong itu adalah orang Wisma Mei Zhuang sendiri yang tidak menyukai aku diperlakukan seperti ini. Mungkin sekali dia masuk diam-diam saat aku pingsan dan menggergaji keempat borgol besi ini sampai putus menggunakan semacam kawat baja. Karena tidak ingin bermusuhan dengan penghuni Wisma Mei Zhuang lainnya, ia berniat membebaskanku jika mendapatkan waktu luang dan kesempatan yang bagus.”

Berpikir sampai di sini membuat Linghu Chong bersemangat. “Pintu masuk lorong bawah tanah menuju ke penjara ini berada di bawah tempat tidur Huang Zhonggong. Jika Huang Zhonggong bermaksud menolongku tentu ia dapat melakukannya setiap waktu dan tidak perlu menunda selama ini. Heibaizi jelas tidak mungkin. Tinggal Tubiweng dan Danqingsheng saja. Di antara mereka berdua, Danqingsheng memiliki kecintaan terhadap arak sama seperti diriku. Hubunganku dengannya terasa begitu akrab. Kemungkinan besar orang yang berusaha hendak menolongku adalah Danqingsheng itu.”

Kemudian ia berpikir bagaimana caranya untuk melayani kedatangan Heibaizi besok. “Aku akan berpura-pura mengabulkan permintaannya. Aku akan bicara sesuka hati saja, menipu dia supaya mendapatkan makanan enak. Kemudian aku mengajarkan ilmu palsu kepadanya supaya ia tertipu. Hahaha, tentunya sangat lucu!”

Tak lama kemudian ia kembali berpikir, “Danqingsheng bisa datang kapan saja untuk membebaskanku. Aku harus cepat-cepat menghafalkan rumus di lempengan dipan besi ini.” Ia lantas meraba-raba lagi tulisan-tulisan tersebut dan membacanya keras-keras untuk menghafalkannya.

Tadinya tulisan-tulisan itu tidaklah menarik perhatiannya. Sekarang ketika ia bersungguh-sungguh ingin menghafalkannya luar kepala ternyata juga bukan sesuatu yang mudah baginya. Tulisan di atas dipan besi itu menggunakan gaya caoshu. Karena pendidikannya yang rendah, ia kesulitan membaca beberapa bagian sehingga terpaksa menghafalkan bentuk goresan huruf-hurufnya saja, lalu menggunakan huruf lain yang mirip sebagai gantinya. Ia berpikir dalam mempelajari suatu ilmu sakti, keliru satu huruf saja bisa menentukan keberhasilan atau kegagalan, juga mungkin bisa membuatnya tersesat sehingga akibat yang ditimbulkan sukar dibayangkan.

Maka itu, ia pun berusaha entah bagaimana caranya untuk menghafalkan tulisan tersebut huruf demi huruf, sehingga kelak jika sudah berhasil lolos bisa dipelajari lagi di luar sana. Ia khawatir jika melupakan satu huruf saja tentu tak dapat mengulangi membaca lagi jika sudah keluar dari tempat neraka ini. Sebab itulah ia pun membaca rumusan tersebut berulang kali. Setelah bisa menghafalkan semuanya di luar kepala, baik itu dari depan ke belakang ataupun dari belakang ke depan, barulah ia bisa tidur dengan tenang.

Dalam mimpi terlihat Danqingsheng datang membukakan pintu penjara. Linghu Chong terkejut dan bangun dari tidur. Kini ia sadar kalau itu hanyalah impian kosong belaka. Namun demikian ia tidak putus asa. “Hari ini tidak datang mungkin karena belum ada kesempatan baik. Tidak lama lagi tentu Danqingsheng akan datang menolongku.”

Kemudian ia memikirkan hal lain, “Tulisan ini sangat bermanfaat untukku, tapi berbahaya untuk orang lain. Jika kelak ada orang lain yang jatuh ke dalam perangkap Empat Sekawan Jiangnan dan dikurung di sini, tentu aku tidak rela kalau dia sampai termakan tipu muslihat Ren Woxing ini.” Maka, ia lantas menghafalkan kembali tulisan itu dari awal sampai akhir sebanyak sepuluh kali, baru kemudian mengambil borgol besi untuk menggosok belasan huruf hingga terhapus.

Hari itu Heibaizi ternyata tidak datang. Namun Linghu Chong sendiri tidak ambil pusing. Ia meneruskan latihannya berdasarkan uraian ilmu tersebut. Beberapa hari selanjutnya Heibaizi tetap tidak muncul. Di lain pihak, Linghu Chong merasa latihannya sudah mencapai banyak kemajuan. Hawa murni yang berasal dari Enam Dewa Lembah Persik serta Biksu Bujie sudah tujuh puluh atau delapan puluh persen didesak keluar dari Dantian dan disalurkan melalui Pembuluh Ren, Du, dan juga melalui Yang Wei, Yin Wei, Yin Qiao, sampai ke Pembuluh Chong, Dai, dan lainnya. Meskipun membuyarkan tenaga melalui Pembuluh Dai dan Chong termasuk sulit, namun untungnya dalam rumusan tersebut terdapat penjelasan tambahan. Linghu Chong yang sebelumnya sudah mempelajari ilmu tenaga dalam Perguruan Huashan, membuatnya sudah cukup akrab dengan teknik menyalurkan tenaga semacam itu. Ia yakin kalaupun belum bisa memusnahkan semua hawa murni liar di dalam tubuhnya, namun jika terus menerus berusaha dan berlatih, pasti akan memperoleh keberhasilan.

Setiap hari ia menghafalkan tulisan tersebut sebanyak belasan kali, kemudian menghapus belasan huruf pada lempengan dipan besi tersebut. Ia merasakan semakin hari tenaganya semakin kuat, terlihat dari bagaimana ia menggosok huruf-huruf tersebut. Untuk menggosok tulisan itu sampai hilang ternyata tidak terlalu susah, berbeda dengan saat pertama menggosok beberapa hari yang lalu.

Jika dihiting sudah sebulan lebih ia berlatih. Meskipun berada di bawah tanah, namun hawa musim panas sudah mulai berkurang. Ia pun berpikir, “Rupanya ini sudah suratan Langit. Jika aku terkurung di sini pada musim dingin pasti tulisan di atas dipan besi ini tidak akan kutemukan. Bisa jadi sebelum tiba musim panas Danqingsheng sudah berhasil menolongku keluar dari sini.”

Berpikir sampai di sini, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki Heibaizi dari arah lorong. Linghu Chong yang sedang berbaring di atas dipan besi, segera membalik tubuh perlahan-lahan sehingga kini tubuhnya miring menghadap ke dinding bagian dalam.

Terdengar Heibaizi sudah sampai di depan pintu, lalu berkata, “Tuan Ren … Tuan Ren, mohon sudi memaafkan. Selama sebulan lebih Kakak Pertama tidak pernah keluar kamar sehingga saya sangat gelisah dan tidak dapat datang kemari untuk menjenguk Tuan. Untuk ini harap Tuan Ren janganlah marah.”

Bersamaan itu tercium pula bau harum arak dan sedapnya ayam panggang dari lubang pintu.

Sudah sekian lama bibir Linghu Chong tidak merasakan setetes arak pun. Maka begitu mengendus bau arak tersebut, ia tidak dapat menahan diri lagi dan segera membalik tubuh. “Berikan dulu arak dan makanannya,” katanya kemudian.

“Baiklah,” sahut Heibaizi cepat. “Jadi Tuan sudah menyanggupi akan mengajarkan rahasia ilmu sakti itu kepadaku?”

Linghu Chong menjawab, “Begini, setiap kali kau mengantar kemari tiga kati arak dan seekor ayam panggang, maka aku akan mengajarkan empat kalimat rumus tenaga dalamku kepadamu. Bila aku sudah menghabiskan tiga ribu kati arak dan seribu ekor ayam, maka rahasia tenaga dalamku yang kuajarkan kepadamu kira-kira sudah cukup pula.”

Heibaizi menyahut, “Kalau caranya seperti ini bisa memakan waktu lama dan mungkin sekali terjadi hal yang tidak diinginkan. Biarlah setiap kali kemari akan saya antarkan enam kati arak dan dua ekor ayam, lalu Tuan mengajarkan delapan kalimat, bagaimana?”

Linghu Chong tertawa dan menjawab, “Begitu juga boleh. Berikan kepadaku sekarang!”

Heibaizi segera menyodorkan sebuah nampan kayu melalui lubang persegi di daun pintu. Benar juga, di atas nampan itu terdapat satu poci besar arak dan seekor ayam panggang gemuk.

Linghu Chong menyentuh nampan sambil berpikir, “Sebelum aku mengajarkan ilmu rahasia itu kepadamu, rasanya tidak mungkin kalau kau sampai meracuniku.” Tanpa membuang waktu lagi ia lantas mengangkat poci arak itu dan langsung menuangkan isinya ke dalam mulut.

Rasa arak itu sebenarnya tidak terlalu enak, tapi bagi Linghu Chong saat ini terasa begitu nikmat. Bahkan, arak anggur milik Danqingsheng yang telah mengalami empat kali peragian dan penyulingan juga rasanya tidak seenak ini. Dalam sekali menghirup napas, ia langsung menghabiskan setengah isi poci, lalu menarik sebelah paha ayam panggang dan memakannya dengan lahap. Hanya dalam waktu sebentar saja seluruh isi poci arak dan segenap ayam panggang telah disapu bersih olehnya. Sambil menepuk-nepuk perut ia kemudian berkata, “Arak sedap! Ayam lezat! Hmmm ….”

Terdengar Heibaizi berkata sambil tertawa, “Tuan sudah kenyang makan ayam enak dan minum arak lezat. Sekarang mohon Tuan mengajarkan ilmu rahasia itu kepada saya.” Sekarang ia tidak lagi menyinggung tentang mengangkat guru segala, karena mengira sehabis makan minum tentu Linghu Chong sudah lupa akan hal itu.

Linghu Chong sendiri juga sengaja tidak menyinggung soal itu. Ia hanya berkata, “Baiklah, beberapa kalimat rahasia ini hendaknya kau ingat-ingat dengan baik, ‘Di antara nadi Qi dan delapan pembuluh, terdapat tenaga dalam. Himpunlah di dalam Dantian, salurkan ke dalam Shanzong.’, Apa kau paham?”

Sebenarnya kalimat asli yang terukir pada dipan besi berbunyi, “Tenaga dalam di Dantian buyarkanlah melalui keempat anggota badan, Qi di Shanzong, sebarkanlah melalui kedelapan pembuluh.” Linghu Chong sengaja membolak-balik susunan kalimat tersebut. Namun ketika Heibaizi mendengarnya, ia justru merasa keempat kalimat ini biasa-biasa saja dan tidak memiliki sesuatu yang istimewa, karena merupakan rumus umum tentang cara berlatih tenaga dalam.

Heibaizi merasa tidak puas, dan menjawab, “Keempat kalimat ini telah saya pahami. Mohon Tuan sudi mengajarkan empat kalimat selanjutnya.”

Linghu Chong berpikir, “Keempat kalimat tadi sudah kuubah dari yang sebenarnya, sehingga menjadi kalimat yang biasa saja. Kalau begitu, akan kubacakan empat kalimat lagi yang sangat aneh supaya dia ketakutan.” Ia kemudian berkata, “Baiklah, karena ini hari pertama, maka akan kubacakan empat kalimat lagi. ‘Pecahkan Yangwei, sumbatlah Yinqiao. Begitu nadi Qi dan kedelapan pembuluh putus, maka kau berhasil menguasai ilmu sakti.’ Bagaimana?”

Heibaizi sangat terkejut mendengarnya. Dengan suara gemetar ia bertanya, “Ini … ini … kalau nadi Qi dan kedelapan pembuluh putus, bagaimana saya … bisa tetap hidup? Keempat kalimat ini saya benar-benar tidak dapat memahaminya.”

“Sudah tentu kau tidak paham,” sahut Linghu Chong. “Ilmu sakti semacam ini kalau dapat dipahami begitu saja, mana bisa disebut ilmu sakti? Tentu saja di dalamnya tersimpan sesuatu yang istimewa dan tidak mudah dipahami orang biasa.”

Sampai di sini Heibaizi merasa nada bicara dan perkataan Linghu Chong semakin berbeda dibanding orang bermarga Ren. Mau tidak mau di hatinya timbul rasa curiga.

Maklum saja, pada pertemuan yang sudah-sudah Linghu Chong sangat sedikit membuka suara, dengan ucapan dibuat serak dan samar-samar pula. Namun sekarang, sehabis makan lezat dan minum enak, semangatnya berkobar-kobar dan bicaranya menjadi banyak. Pada dasarnya Heibaizi sangat waspada dan selalu berjaga-jaga. Namun ia sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang berada di dalam penjara itu bukan lagi si marga Ren. Ia hanya mengira si marga Ren sengaja membolak-balik kalimat tadi untuk mempermainkan dirinya. Maka, ia pun bertanya, “Tuan Ren tadi berkata, ‘Begitu nadi Qi dan kedelapan pembuluh putus, maka kau berhasil menguasai ilmu sakti.’ Apakah Tuan sendiri sudah melakukannya?”

“Tentu saja!” jawab Linghu Chong. Ia tidak berani menjawab panjang lebar karena menyadari bahwa Heibaizi telah mencurigainya. Sejenak kemudian ia menambahkan, “Nanti setelah kau menerima semua pelajaran dariku dan tuntas berlatih, maka kau akan paham dengan sendirinya.”

Usai berkata demikian ia pun meletakkan kembali poci arak tadi di atas nampan dan mendorongnya keluar melalui lubang persegi. Ketika Heibaizi hendak menerima nampan itu, tiba-tiba Linghu Chong menjerit, “Aih!” kemudian badannya sempoyongan ke depan dan kepalanya membentur pintu besi sampai menimbulkan suara nyaring. Tanpa sadar, nampan pun ikut tertarik masuk kembali.

“Hei, ada apa?” tanya Heibaizi. Sebagai seorang ahli silat berilmu tinggi, sudah tentu ia memiliki reaksi yang sangat cepat. Tangan kanannya segera menjulur masuk ke dalam lubang persegi untuk menangkap nampan agar poci arak di atasnya supaya tidak sampai terjatuh dan pecah.

Pada detik itulah Linghu Chong menggerakkan tangan kirinya dan dengan tepat mencengkeram pergelangan tangan kanan Heibaizi. Sambil tertawa ia berkata, “Heibaizi, coba kau perhatikan siapa aku ini?”

Heibaizi terkejut bukan main. Nampan yang masih dipegang olehnya lantas terlepas lagi. Dengan nada gemetar ia berseru, “Kau … kau ….”

Tadi ketika Linghu Chong mendorong nampan melewati lubang persegi, ia sempat melihat tangan Heibaizi bergerak menyambut dengan diterangi cahaya pelita. Pada saat itulah timbul suatu niat di dalam hati yang sulit untuk dikendalikan. Ia menduga Heibaizi adalah biang keladi yang telah mengatur segala perangkap sehingga dirinya terkurung sekian lamanya di dalam penjara gelap ini. Andaikan ia dapat menarik dan mematahkan lengan orang itu, tentu sakit hatinya bisa sedikit terobati. Ia juga berpikir bahwa cara demikian tentu dapat digunakan untuk menggertak Heibaizi. Orang yang licik seperti Heibaizi rasanya wajar kalau digertak dan ditakut-takuti, demikian ia berpikir. Ia sendiri tidak tahu apakah perbuatannya menarik tangan Heibaizi itu didorong oleh perasaan ingin balas dendam, ataukah hanya sekedar sifat kekanak-kanakannya yang sedang kambuh.

Maka ketika mengembalikan nampan tadi, Linghu Chong pun berpura-pura sempoyongan dan jatuh membentur pintu besi untuk memancing Heibaizi supaya menjulurkan tangannya masuk melalui lubang persegi. Ternyata siasatnya itu berjalan sesuai harapan. Kini tangannya telah mencengkeram pergelangan lengan Heibaizi tersebut.

Sebenarnya Heibaizi sangat cerdik dan waspada. Namun kejadian kali ini sama sekali tidak terduga olehnya dan tidak ada tanda-tanda mencurigakan sebelumnya. Dalam waktu yang sangat cepat tahu-tahu pergelangan tangannya sudah tertangkap. Ia merasa tangan lawan bagaikan belenggu besi yang mencengkeram titik Neiguan dan Weiguan pada pergelangan kanannya dengan sangat kuat. Tanpa pikir lagi ia segera memutar tangannya untuk membebaskan diri. Bersamaan itu terdengar pula suara berdentang sangat nyaring. Menyusul kemudian terdengar suara jari kaki patah dan Heibaizi menjerit kesakitan.

Ternyata Heibaizi baru saja melancarkan Jurus Naga Muncul dari Telaga. Jurus ini adalah jurus simpanan yang hanya digunakan apabila tangannya ditangkap musuh. Begitu pihak lawan mengunci tangannya, maka kaki kirinya akan langsung menendang secepat kilat. Tendangan ini sangat dahsyat dan bisa membuat musuh seketika muntah darah di tempat. Apabila pihak lawan seorang ahli silat papan atas, tentu akan segera melepaskan cengeramannya, karena hanya itu satu-satunya cara untuk menghindar dari tendangan Heibaizi.

Akan tetapi, Heibaizi terlalu tergesa-gesa ingin membebaskan diri sehingga lupa bahwa di antara mereka masih terdapat sebuah pintu besi yang sangat tebal. Jurus Naga Muncul dari Telaga telah dilancarkannya dengan sempurna disertai tenaga yang sangat kuat, namun tiga jari kakinya sendiri yang justru patah karena yang ia tendang ternyata sebuah pintu besi.

Ketika mendengar suara benturan keras tadi, Linghu Chong segera menyadari bahwa dirinya telah diselamatkan oleh pintu besi tebal dari tendangan keras Heibaizi. Ia tak kuasa menahan tawa, lalu berkata “Tendanglah sekali lagi! Kau harus menendang sama kerasnya seperti tadi, baru akan kulepaskan tanganmu!”

Tiba-tiba Heibaizi merasa tenaga dalamnya mengalir keluar melalui titik Neiguan dan Weiguan pada pergelangan kanannya. Ia langsung teringat kepada suatu hal yang paling ditakutinya seumur hidup. Semangatnya langsung runtuh dan nyalinya terbang ke langit. Sekuat tenaga ia menahan napas sambil kemudian berbicara dengan nada iba, “Tuan … Tuan Ren, mohon … mohon ….” Begitu membuka suara, tenaga dalamnya justru lebih cepat membanjir keluar. Terpaksa ia menutup mulut dan tidak berani bicara lagi. Namun demikian tenaga dalam masih tetap mengalir tak tertahankan.

Setelah berlatih ilmu rahasia yang terukir di atas dipan besi, titik Dantian di bawah perut Linghu Chong telah terkuras habis, bagaikan kotak kosong yang minta diisi. Sekarang ia merasakan adanya hawa murni yang terus-menerus mengalir masuk ke dalam perutnya, namun hal ini tidak ia hiraukan. Yang ia rasakan hanyalah tangan Heibaizi gemetar seperti ketakutan. Karena hatinya masih kesal, ia sengaja ingin terus menggertak dan menakut-nakuti. “Aku sudah mengajarkan ilmu sakti kepadamu, maka kau sudah menjadi muridku. Kau berani menipu dan mengkhianati gurumu, lantas hukuman apa yang setimpal untuk dosamu ini?”

Heibaizi sendiri merasa tenaga dalamnya semakin cepat mengalir keluar. Kalau ia menahan napas, ia dapat untuk sementara menghentikan aliran tersebut. Namun ketika dadanya terasa sesak, ia kembali menghirup dan menghembuskan napas, sehingga tenaganya kembali membanjir keluar dengan deras. Kini ia sudah melupakan sakit di kakinya, dan yang ia harapkan hanyalah lekas bisa melepaskan tangan dari lubang persegi itu. Andaikan lengan kanan itu harus dipotong juga ia rela. Berpikir demikian segera tangan kirinya melolos pedang yang terselip di pinggang.

Akibat bergerak sedikit saja justru membuat titik Neiguan dan Weiguan di pergelangan kanannya terbuka lebar bagaikan tanggul yang jebol. Tenaga dalamnya justru semakin deras membanjir keluar seperti air bah dan sukar dibendung lagi.

Heibaizi sadar bahwa tidak lama lagi seluruh tenaga dalamnya akan tersedot habis oleh lawan. Maka ia pun memaksakan diri untuk menghunus pedang tersebut. Ketika tangan kirinya bergerak, lagi-lagi tenaga dalamnya semakin deras membanjir keluar. Kali ini telinganya sampai mendengung keras, dan ia pun jatuh pingsan tak sadarkan diri.

Linghu Chong merasa heran. Tujuannya mencengkeram lengan Heibaizi sebenarnya hanya untuk menakut-nakuti saja, paling banyak ia ingin mematahkan lengan itu demi melampiaskan rasa kesalnya. Tak disangka Heibaizi benar-benar ketakutan sampai jatuh pingsan. Linghu Chong pun bergelak tawa terbahak-bahak dan melepaskan cengkeramannya. Seketika tubuh Heibaizi yang lemas itu terkulai ke bawah dan lengannya perlahan-lahan meninggalkan lubang persegi.

Sekilas terlintas pikiran pada benak Linghu Chong. Buru-buru ia kembali menangkap tangan Heibaizi. Untung saja gerakannya cukup cepat sehingga masih sempat menyambar tangan orang itu tepat pada waktunya. “Kenapa aku tidak membelenggu dia di sini saja, dan memaksa Huang Zhonggong membebaskanku?”

Setelah berpikir demikian ia pun menarik tangan Heibaizi melewati lubang persegi. Di luar dugaan ternyata saat ini tenaganya bertambah kuat luar biasa. Dalam sekali tarik bukan hanya tangan yang mendekat, bahkan kepala Heibaizi ikut menerobos masuk melalui lubang persegi tersebut. Setelah menghela napas satu kali, Linghu Chong melanjutkan tarikannya dan tahu-tahu seluruh tubuh Heibaizi sudah masuk ke dalam kamar penjara dan terkulai di lantai.

Hal ini benar-benar tidak pernah dibayangkan oleh Linghu Chong. Untuk beberapa saat ia terkesima, kemudian memaki-maki kebodohan diri sendiri. Seharusnya sejak dulu ia menyadari bahwa lubang persegi itu lebarnya sekitar tiga puluh senti. Asalkan kepala bisa masuk maka dengan sendirinya badan pun bisa dipaksa masuk. Jika tubuh Heibaizi saja bisa menerobos masuk, sudah seharusnya dirinya pun bisa. Tadinya memang semua tangan dan kakinya terbelenggu oleh borgol rantai sehingga sukar untuk meloloskan diri. Namun kini borgol besi sudah digergaji oleh seseorang, bukankah ini kesempatan untuk melarikan diri?

Ia kemudian berpikir mengapa Danqingsheng diam-diam menggergaji semua borgol besi yang membelenggunya, tentu supaya ia bisa melarikan diri bersama si pelayan tua saat mengantar makanan. Ia membayangkan setiap hari Danqingsheng pasti berharap-harap cemas menantikan keberhasilannya untuk kabur. Namun saat pertama kali menyadari belenggu itu sudah digergaji putus, ia sendiri sedang sibuk berlatih cara membuyarkan tenaga dalam. Ia juga tidak ingin meninggalkan kamar penjara sebelum menghafal semua rumus ilmu rahasia di atas dipan, sehingga di dalam benaknya sama sekali tidak terlintas pikiran untuk melarikan diri.

Setelah menggumam sendiri ia kemudian mengambil keputusan. Segera pakaian Heibaizi pun dilucuti untuk ditukar dengan pakaiannya sendiri. Bahkan kedok yang dipakai Heibaizi juga ia kenakan untuk menutupi wajah. “Nanti jika aku keluar dari sini, dan ada orang yang melihatku, tentu aku akan dikira Heibaizi,” pikirnya.

Ia kemudian menggantungkan pedang Heibaizi di pinggang. Begitu memegang senjata kesukaannya itu, seketika semangatnya pun berkobar. Terakhir ia membelenggu semua tangan dan kaki Heibaizi menggunakan borgol besi. Tenaganya begitu kuat saat menggencet borgol besi tersebut sehingga merapat dan menembus daging Heibaizi. Karena terkejut Heibaizi sampai siuman dari pingsan dan merintih kesakitan.

Linghu Chong tertawa dan berkata, “Sekarang kita bertukar tempat. Jangan khawatir kelaparan karena besok si pelayan tua akan datang mengantar makanan untukmu.”

“Tuan Ren … Tuan Ren,” kata Heibaizi meratap, “Jurus Penyedot … Jurus Penyedot Bintang milikmu ….”

Linghu Chong teringat sewaktu membantu Xiang Wentian menghadapi kepungan banyak orang di tepi jurang, salah seorang berteriak tentang “Jurus Penyedot Bintang”. Kini ia kembali mendengar nama ilmu itu disebut, sehingga membuatnya terkejut dan bertanya, “Jurus Penyedot Bintang apa?”

“Aku … aku memang pantas mati ….” jawab Heibaizi.

Karena ingin lekas-lekas meloloskan diri, Linghu Chong tidak peduli lagi kepadanya. Segera ia menjulurkan kepalanya menerobos lubang persegi, kemudian kedua tangannya merambat pula ke luar. Dengan sekali tekan, tubuhnya pun melesat melewati lubang tersebut dan mendarat tegak di atas tanah. Karena di dalam Dantian sekarang terkumpul tenaga dalam yang ia hisap dari Heibaizi membuat perutnya terasa tidak nyaman. Ia mengira hawa murni liar milik Enam Dewa Lembah Persik dan Biksu Bujie kembali datang mengganggunya karena lama tidak berlatih. Namun sementara ini yang ia pikirkan hanyalah meninggalkan penjara bawah danau itu secepat mungkin. Maka, ia segera mengambil pelita minyak milik Heibaizi untuk kemudian menyusuri lorong bawah tanah yang panjang dan gelap itu.

Ternyata pintu-pintu lorong yang berlapis-lapis dalam keadaan tidak terkunci karena telah digunakan masuk oleh Heibaizi tadi. Mungkin Heibaizi berniat menguncinya saat perjalanan keluar. Oleh sebab itu, perjalanan Linghu Chong untuk kabur menjadi semakin lancar dan tidak perlu bersusah payah. Saat melewati pintu-pintu tersebut, pikirannya kembali terkenang saat berada di dalam penjara gelap yang membuatnya seperti terpisah dari dunia nyata. Kini benci dan dendam kepada Huang Zhonggong seperti lenyap dari hatinya, dan yang ia pikirkan hanyalah kebebasan saja.

Sesampainya di ujung lorong, perlahan-lahan ia mendaki tangga undak-undakan. Kepalanya lantas menyentuh sebuah lempengan besi yang tembus ke kamar tidur Huang Zhonggong. Ia berusaha mendengar dengan seksama, namun tak ada suara apa-apa. Pengalaman terkurung di dalam penjara sekian lama membuat pikirannya bertambah cerdik dan waspada. Ia tidak langsung menerjang ke atas, namun hanya berdiri di situ untuk beberapa lama. Setelah yakin tidak mendengar suara apa-apa dan menyimpulkan bahwa Huang Zhonggong sedang tidak berada di dalam kamarnya, barulah ia mendorong papan besi itu perlahan-lahan, dan kemudian meloncat ke atas melewati lubang ranjang.

Setelah menutup kembali papan besi itu di tempatnya dan menggelar tikar di atas tempat tidur, dengan berjingkat-jingkat ia melangkah hendak keluar kamar. Tapi mendadak terdengar suara seseorang di belakangnya berkata dengan nada dingin, “Adik Kedua, apa yang kau lakukan di bawah sana?”

Linghu Chong terkejut dan segera menoleh, ternyata Huang Zhonggong, Tubiweng, dan Danqingsheng sudah mengepung dengan senjata terhunus. Ia tidak tahu kalau lempengan besi pada lubang ranjang tadi terhubung dengan sebuah alat rahasia yang bisa mengeluarkan bunyi tanda bahaya apabila ada seseorang secara gegabah menerobos keluar. Bunyi tersebut membuat Huang Zhonggong bertiga serentak memasuki kamar. Namun karena memakai kerudung dan pakaian Heibaizi membuat ketiga orang itu tidak mengenalinya.

Linghu Chong yang terkejut hanya bisa berkata, “Aku … aku ….”

Linghu Chong menarik masuk tubuh Heibaizi.

Menyamar sebagai Heibaizi menyusuri lorong bawah tanah.

(Bersambung)


You may like these posts

Komentar

  1. To insert a code use <i rel="pre">code_here</i>
  2. To insert a quote use <b rel="quote">your_qoute</b>
  3. To insert a picture use <i rel="image">url_image_here</i>
Tinggalkan komentar sesuai topik tulisan, komentar dengan link aktif tidak akan ditampilkan.
Admin dan penulis blog mempunyai hak untuk menampilkan, menghapus, menandai spam, pada komentar yang dikirim