Bagian 124 - Antara Hidup dan Mati

Menemukan tongkat ajaib di saat genting.

Kembali terdengar Zuo Lengchan berseru, “Bola mata kalian dibutakan oleh siapa, apa kalian sudah lupa?”

Serentak belasan orang buta itu menjadi murka. Mereka meraung-raung kemudian melompat ke atas sambil mengayunkan pedang serta menusuk secara serabutan.


Linghu Chong dan Ren Yingying diam saja. Serangan belasan orang buta itu sia-sia dan tidak mengenai sasaran. Ketika orang-orang buta itu melompat lagi untuk yang kedua kalinya, salah seorang di antara mereka hanya berjarak satu meter di depan batu karang menonjol tersebut. Linghu Chong yang dapat merasakan hembusan angin yang dibawa orang buta itu, segera menusukkan pedangnya ke arah tersebut. Seketika orang buta itu pun menjerit ngeri karena dadanya tertusuk pedang lawan dan ia pun jatuh terbanting ke tanah.

Seorang musuh buta telah tewas, namun hal itu juga membuat tempat persembunyian Linghu Chong dan Ren Yingying dapat diketahui. Serentak beberapa orang buta pun melompat ke atas untuk menyerang bersamaan.

Batu karang yang menonjol itu tingginya tiga-empat meter dari permukaan tanah. Kawanan orang buta yang melompat ke atas tentu membawa hembusan angin menyambar tajam. Meskipun dalam suasana gelap gulita, Linghu Chong dan Ren Yingying dapat dengan jelas merasakan hembusan angin tersebut. Maka, keduanya pun menyongsong serangan mereka dengan senjata masing-masing, sehingga dua orang buta kembali tertusuk dan menjadi korban.

Untuk sementara orang-orang buta lainnya menjadi gentar. Mereka sama-sama menengadah ke atas sambil mencaci maki, namun sedikit pun tidak berani menyerang lagi.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba angin kencang menyambar tiba. Terdengar ada dua orang melompat dari kanan dan kiri. Segera Linghu Chong dan Ren Yingying menusukkan pedang masing-masing. Maka, terdengarlah suara empat pedang beradu dengan keras. Kali ini Linghu Chong merasa lengannya pegal-pegal, bahkan pedangnya hampir saja terlepas dari genggaman. Jelas yang datang menyerang dirinya adalah Zuo Lengchan sendiri.

Sementara itu, Ren Yingying terdengar menjerit kesakitan karena pundaknya terluka oleh pedang musuh. Hampir saja ia terpeleset jatuh ke bawah. Untungnya Linghu Chong sempat merangkul pinggang gadis itu lebih kencang. Zuo Lengchan dan rekannya kembali meloncat untuk melancarkan serangan. Pedang Linghu Chong pun menusuk lawan yang menyerang Ren Yingying. Ketika kedua pedang berbenturan, mendadak orang itu mengubah gerakan pedangnya dengan cepat, yaitu memotong ke bawah menggesek pedang Linghu Chong. Sepertinya orang yang dihadapi Linghu Chong kali ini tiada lain adalah Lin Pingzhi.

Segera ia pun menarik tubuh untuk mengelak. Terasa angin tajam menyambar melalui pedang Lin Pingzhi itu dan menghembus ke arah Ren Yingying. Dalam keadaan tubuh terapung, ternyata Lin Pingzhi sanggup melancarkan tiga kali serangan secara berturut-turut. Diam-diam Linghu Chong mengakui kehebatan Jurus Pedang Penakluk Iblis yang menjadi rebutan dunia persilatan itu.

Khawatir Ren Yingying akan terluka lagi, tanpa pikir panjang Linghu Chong pun melompat turun sambil tetap merangkul kekasihnya itu. Sambil punggung merapat di dinding ia memutar pedang dengan kencang agar musuh tidak berani mendekat.

Tiba-tiba terdengar Zuo Lengchan tertawa panjang sambil menusukkan pedangnya. Begitu kedua pedang beradu, tubuh Linghu Chong langsung tergetar. Terasa suatu arus tenaga dalam berhawa dingin masuk ke dalam tubuhnya melalui pedang. Seketika teringat olehnya pertandingan antara Ren Woxing dan Zuo Lengchan di Biara Shaolin dahulu. Waktu itu Ren Woxing menggunakan Jurus Penyedot Bintang untuk menghisap tenaga dalam Zuo Lengchan. Tak disangka, Zuo Lengchan ternyata sengaja membiarkan tenaga dalamnya yang mengandung racun mahadingin itu dihisap lawan, sehingga Ren Woxing nyaris mati kedinginan dan membeku.

Kini Zuo Lengchan kembali melakukan hal yang sama, yaitu membiarkan tenaga dalamnya dihisap oleh Linghu Chong. Sudah tentu Linghu Chong tidak mau masuk perangkap. Segera ia mengerahkan tenaga untuk menolak hawa dingin itu keluar. Karena terlalu keras ia mendesak hawa dingin tersebut, tak terasa jari tangannya menjadi kendur, dan pedang pun terlepas dari genggaman.

Segenap kepandaian Linghu Chong jelas terletak pada ilmu pedangnya yang lihai. Maka, ia pun buru-buru berjongkok dan meraba-raba di tanah. Di dalam gua itu tergeletak sekitar dua ratus mayat. Sudah pasti di atas tanah juga banyak berserakan senjata mereka. Dalam keadaan gelap gulita itu, Linghu Chong dan Ren Yingying telah menjadi orang buta, sedangkan kawanan orang buta itu justru bisa “melihat” mereka. Meskipun dalam keadaan terdesak, namun sepasang kekasih ini tetap pantang untuk menyerah. Asalkan dapat memungut suatu senjata, entah golok ataupun pedang, tentu dapat digunakan untuk menahan serangan musuh meski hanya sementara.

Tak disangka, yang teraba oleh tangan Linghu Chong adalah wajah seseorang yang sudah kaku dan dingin. Tangannya juga terasa lengket karena terkena darah pada mayat tersebut. Ia pun terkejut dan bergeser dua langkah ke dekat dinding gua sambil merangkul Ren Yingying. Di sisi lain, Ren Yingying melangkah sambil memainkan pedang pendeknya untuk menangkis dua serangan musuh. Namun, pada serangan ketiga yang lebih keras, pedang pendek itu akhirnya terlepas pula dan melayang entah ke mana.

Perasaan Linghu Chong bertambah khawatir. Kembali ia berjongkok dan meraba-raba lantai gua. Kini tangannya merasa menemukan sesuatu, semacam tongkat pendek. Dalam keadaan gawat seperti itu ia tidak sempat lagi memeriksa apa sebenarnya benda tersebut. Ketika terasa angin tajam datang menyambar, segera ia pun mengangkat tongkat pendek itu untuk menangkis. Tanpa ampun, tongkat tersebut langsung patah terkena pedang lawan.

Pada waktu mengangkat kepala untuk berkelit, tiba-tiba Linghu Chong melihat di depan matanya tampak meletik beberapa titik sinar putih kehijauan. Beberapa titik cahaya itu sangat lemah namun di dalam gua yang gelap gulita bagaikan bintang kejora yang bersinar di cakrawala. Samar-samar bentuk tubuh dan kelebat pedang musuh pun kini dapat dibedakan olehnya.

Tanpa terasa, Linghu Chong dan Ren Yingying bersorak gembira. Pada saat itu pedang Zuo Lengchan kembali datang menusuk. Segera Linghu Chong mengangkat tongkat pendeknya itu untuk menusuk leher lawan. Tempat yang diarah memang merupakan titik kelemahan pada jurus itu. Seketika Zuo Lengchan pun menarik serangannya dan menghindari tusukan tersebut. Meskipun kedua matanya sudah buta, namun perasaannya sangat peka sehingga ia mampu berkelit dengan cukup gesit. Sambil melompat mundur ia pun mencaci maki dengan rasa penasaran.

Kesempatan itu segera digunakan oleh Ren Yingying untuk berjongkok dan memungut sebilah pedang. Ia lalu menyerahkan pedang itu kepada Linghu Chong dan memindahkan tongkat pendek tadi ke tangannya. Gadis itu lantas memutar tongkat pendek tersebut dengan kencang sehingga titik-titik cahaya putih kehijauan semakin banyak bertaburan di udara tanpa terputus.

Seketika semangat Linghu Chong pun bangkit menyala. Dalam keadaan gawat yang menentukan antara hidup dan mati, ia tidak mau lagi berbelas kasihan terhadap lawan. Segera pedangnya bekerja dengan cepat. Sambil mulutnya memaki, “Persetan nenekmu!” kontan seorang buta tewas tertusuk dan roboh.

Ternyata gerak tangannya lebih cepat daripada mulutnya. Baru enam kali ia memaki “persetan nenekmu”, ternyata sudah sebelas orang buta sisanya sudah mati berjatuhan di tanah. Kawanan orang buta itu rupanya terlalu polos. Ketika mendengar suara “persetan nenekmu”, masing-masing mengira sedang berhadapan dengan kawan sendiri sehingga tidak melakukan perlawanan. Sebelum orang-orang itu sempat berpikir lebih banyak lagi, tahu-tahu pedang Linghu Chong sudah menusuk leher mereka. Seketika jiwa mereka pun melayang menemui sang nenek di alam sana.

Menyadari hal ini Zuo Lengchan dan Lin Pingzhi menjadi kebingungan. Mereka pun bertanya-tanya dengan gelisah, “Ada apa? Apakah ada api?”

“Benar!” bentak Linghu Chong sambil menyerang Zuo Lengchan tiga kali.

Rupanya Zuo Lengchan sudah sangat terlatih bertarung menghadapi serangan musuh menggunakan telinga. Berturut-turut ia dapat menangkis ketiga serangan Linghu Chong tersebut. Sebaliknya, Linghu Chong merasa lengannya pegal-pegal. Kembali terasa suatu arus hawa dingin menyalur masuk melalui pedangnya saat beradu dengan senjata musuh.

Tiba-tiba terlintas suatu pikiran dalam benak Linghu Chong. Segera ia pun berdiri tegak dan menahan senjata. Sedikit pun tidak bergerak lagi. Karena tidak mendengar gerak-gerik lawan, Zuo Lengchan menjadi kelabakan. Dengan gelisah ia memutar pedangnya secara cepat untuk melindungi segenap titik penting pada tubuhnya.

Sementara itu, Ren Yingying masih terus memutar tongkat pendek di tangannya. Berkat percikan titik cahaya yang bertebaran keluar dari tongkat tersebut, Linghu Chong dapat membedakan musuh dengan cukup jelas. Perlahan-lahan ia lantas menjulurkan pedangnya ke arah lengan kanan Lin Pingzhi, sedikit demi sedikit mendekati sasaran.

Lin Pingzhi memiringkan kepala untuk mendengarkan serangan lawan. Akan tetapi, pedang Linghu Chong itu bergerak dengan sangat perlahan, sedikit pun tidak menimbulkan suara. Begitu ujung pedang tersebut sudah tinggal beberapa senti saja di depan sasaran, mendadak Linghu Chong pun mendorongnya dengan sangat cepat. Seketika semua urat pada lengan kanan Lin Pingzhi putus sudah.

Lin Pingzhi menjerit keras. Pedangnya pun terlepas dari genggaman dan jatuh ke tanah. Dengan kalap ia menubruk maju. Namun, pedang Linghu Chong kembali bekerja. Kini kedua kaki Lin Pingzhi yang tertusuk olehnya. Tanpa ampun, pemuda itu pun roboh terguling sambil mencaci maki penuh kebencian.

Sewaktu Linghu Chong berpaling ke arah Zuo Lengchan, di bawah titik-titik cahaya yang remang-remang ia melihat gembong Perguruan Songshan yang sudah buta itu sedang mengertakkan gigi. Wajahnya terlihat beringas menakutkan. Tangannya terus saja mengayun-ayunkan pedang dengan sangat gencar. Namun, sehebat apa pun ilmu pedangnya tetap bukan tandingan Ilmu Sembilan Pedang Dugu.

Sesaat Linghu Chong merenung, “Manusia ini adalah biang keladi kekacauan di dunia persilatan. Dosanya tidak dapat diampuni lagi.”

Usai berpikir demikian tiba-tiba ia berteriak nyaring dan pedangnya pun bekerja dengan sangat cepat. Dalam sekaligus Zuo Lengchan langsung terkena tiga tusukan. Satu di dahi, satu di leher, dan satu lagi tepat di dadanya. Setelah melukai lawan, Linghu Chong segera melompat mundur sambil menggandeng tangan Ren Yingying. Tampak Zuo Lengchan berdiri mematung. Sejenak kemudian orang itu pun roboh ke depan. Pedangnya kemudian berputar balik dan menusuk perut sendiri hingga tembus ke belakang.

Setelah perasaannya agak tenang, Linghu Chong mencoba memandangi tongkat pendek di tangan Ren Yingying yang memercikkan titik-titik sinar putih kehijauan tersebut. Cahaya ini sangat lemah sehingga tidak jelas benda apakah sebenarnya tongkat tersebut.

Khawatir kalau-kalau Lin Pingzhi kembali melakukan serangan kalap, segera Linghu Chong mengayunkan pedang memutus semua urat di lengan kiri pemuda itu. Kemudian ia pun menggeledah beberapa mayat untuk mencari pemantik api. Berturut-turut dua orang telah digerayanginya, namun tidak terdapat apa pun di saku baju mereka. Tiba-tiba terlintas suatu pikiran di benaknya, dan ia pun memaki, “Persetan nenekmu! Manusia buta sudah tentu tidak membawa pemantik api segala.”

Pada mayat kelima barulah Linghu Chong menemukan pemantik api. Segera ia membakar sehelai kain sebagai pengganti obor. Begitu keadaan menjadi lebih terang, pasangan itu langsung menjerit bersamaan, karena tongkat pendek yang dipegang Ren Yingying ternyata sepotong tulang paha yang sudah sangat tua. Segera Ren Yingying pun melemparkan tulang itu sambil memaki, “Persetan ne...” namun sampai di sini ia lantas berhenti dan merasa tidak pantas.

Melihat tulang paha tua itu Linghu Chong langsung paham dan berkata, “Yingying, jiwa kita telah tertolong oleh tetua dari agama sucimu.”

“Tetua dari agamaku?” tanya Ren Yingying tidak mengerti.

Linghu Chong pun bercerita, “Lebih dari seratus tahun yang lalu sepuluh orang tetua Sekte Matahari dan Bulan pernah menyerbu ke Gunung Huashan. Namun, mereka justru terjebak dan terkurung di dalam gua ini untuk selamanya dan akhirnya mati penasaran. Yang tertinggal dari mereka saat ini hanyalah senjata dan tulang belulang saja. Tulang yang kau pegang tadi adalah tulang paha, entah berasal dari tetua yang mana.”

Setelah diam sejenak ia lantas melanjutkan, “Tanpa sengaja tulang paha ini kuambil dari tanah dan kugunakan untuk menangkis serangan pedang Zuo Lengchan. Untung saja Zuo Lengchan memotongnya sehingga tulang ini langsung memercikkan sinar putih kehijauan. Tulang ini sudah berusia ratusan tahun dan mengandung api setan di dalamnya.”

Sesungguhnya yang dimaksud dengan api setan adalah cahaya yang ditimbulkan oleh fosfor yang dikandung dalam tulang tersebut. Tulang yang sudah berusia tua itu mengandung banyak fosfor yang tentunya baru saja menyerap cahaya obor yang tadi menerangi gua. Cahaya tersebut kemudian dipendarkan dalam percikan-percikan api setan putih kehijauan yang kemudian menyelamatkan jiwa Linghu Chong dan Ren Yingying.

Ren Yingying menghela napas lega. Ia lantas memberi hormat ke arah potongan tulang paha tadi dan berkata, “Mohon maaf atas ketidaktahuanku. Ternyata aku berhadapan dengan tetua agama sendiri.”

Linghu Chong lantas menemukan dua buah obor dan segera menyalakannya. Setelah keadaan semakin terang, ia pun berpikir dengan perasaan gelisah, “Entah bagaimana nasib Paman Guru Mo? Apakah Beliau dapat selamat dari kekacauan ini?”

“Paman Guru Mo! Paman Guru Mo!” seru Linghu Chong memanggil-manggil. Namun, ia sama sekali tidak mendengar jawaban dari ketua Perguruan Hengshan tersebut. Mengingat keadaan tadi sedemikian kacaunya, Linghu Chong merasa tiada harapan lagi bagi Tuan Besar Mo untuk tetap selamat. Dengan perasaan pilu ia terkenang kebaikan Tuan Besar Mo selama ini kepadanya. Ia pun memandangi mayat para kesatria yang tergeletak di dalam gua tersebut, namun sangat sulit untuk mengetahui yang mana jasad Tuan Besar Mo berada.

Dengan perasaan sedih Linghu Chong merenung, “Kami baru saja lolos dari kematian. Namun, keadaan di dalam gua ini masih cukup berbahaya. Aku harus segera mengajak Yingying pergi. Kelak bila keadaan sudah aman, aku akan kembali lagi kemari untuk mencari jasad Paman Mo dan menguburkannya secara layak.”

Usai berpikir demikian Linghu Chong lantas menggendong tubuh Lin Pingzhi dan melangkah memasuki terowongan sempit menuju ke luar gua. Ren Yingying pun memungut kecapinya yang sudah rusak berlubang-lubang dan juga pedang pendeknya, lalu berjalan di belakang kekasihnya tanpa banyak bertanya. Rupanya ia paham kalau Linghu Chong pernah bersumpah untuk memenuhi wasiat terakhir Yue Lingshan, yaitu selalu menjaga Lin Pingzhi dari bahaya yang mengancam.

Perlahan-lahan mereka menyusuri terowongan sempit yang dulu digali oleh tetua Sekte Iblis tersebut. Dengan penuh kewaspadaan Linghu Chong menyiapkan pedang di depan dada. Ia berpikir Zuo Lengchan yang licik itu mungkin saja menyuruh orang lain berjaga di terowongan tersebut. Tak disangka, sampai di ujung terowongan ternyata tiada seorang pun yang terlihat. Perlahan Linghu Chong mendorong batu penutup terowongan tersebut. Seketika matanya terbelalak silau. Rupanya matahari telah terbit sejak tadi, dan ini berarti pertempuran di dalam gua maut tersebut telah cukup banyak memakan waktu.

Tidak hanya di dalam, bahkan di luar terowongan pun tidak terdapat seorang pun begundal Zuo Lengchan. Segera Linghu Chong melompat keluar dan menarik tubuh Lin Pingzhi dari lorong sempit tersebut. Disusul kemudian Ren Yingying melompat pula. Betapa nyaman perasaan mereka setelah menghirup udara segar. Mereka merasa saat ini benar-benar sudah berada di tempat yang aman, yaitu di gua kecil tempat para murid Perguruan Huashan menjalani hukuman perenungan.

Ren Yingying bertanya, “Ketika dihukum oleh gurumu, apakah kau tinggal di gua kecil ini?”

“Benar,” sahut Linghu Chong. “Bagaimana menurutmu?”

Ren Yingying tersenyum menjawab, “Menurutku kau tidak mungkin bermeditasi, tapi menghabiskan waktu bersama ....” Sebenarnya ia hendak menyebut “adik kecilmu”, namun segera berhenti karena takut membuat Linghu Chong kembali berduka.

Linghu Chong lantas berkata, “Di sini pula aku mendapatkan pelajaran ilmu pedang dari Kakek Guru Feng. Entah Beliau masih tinggal di sekitar sini atau tidak? Semoga kesehatan Beliau baik-baik saja. Beliau pernah bersumpah tidak akan menemui orang Huashan lagi. Tapi, bukankah aku sudah dipecat dari Perguruan Huashan?”

Ren Yingying menyahut, “Ayahku sangat mengagumi kehebatan ilmu pedang Beliau. Kalau begitu, mari kita bersama mencari Beliau.”

Linghu Chong segera menyarungkan pedangnya dan meletakkan tubuh Lin Pingzhi di dekat mulut gua. Kemudian ia pun melangkah sambil menggandeng tangan Ren Yingying.

Akan tetapi, baru saja keluar dari gua tersebut, tiba-tiba suatu benda berkelebat di atas kepala mereka, sepertinya menimpa turun ke bawah. Dengan cepat mereka berdua pun melompat untuk menghindar. Namun sayang sekali sudah terlambat. Benda yang meluncur ke bawah tersebut ternyata sebuah jala yang sangat besar dan langsung membungkus rapat tubuh mereka berdua.

Dengan perasaan terkejut, keduanya pun melolos pedang untuk memotong jala itu. Namun, jala ini tampaknya terbuat dari bahan istimewa, sampai-sampai pedang mereka tidak mampu untuk merobeknya.

Tiba-tiba sebuah jala kembali menyambar dari atas sehingga tubuh mereka terbungkus semakin rapat. Menyusul kemudian dari atas gua melompat turun seseorang sambil menarik tali jala itu kencang-kencang dengan sekuat tenaga.

“Hei, Guru!” seru Linghu Chong memanggil.

Ternyata yang melempar jala tersebut tidak lain memang Yue Buqun orangnya.

Setelah Yue Buqun menarik tali jala kencang-kencang, maka Linghu Chong dan Ren Yingying tampak seperti dua ekor ikan besar yang masuk jaring nelayan. Semula mereka masih meronta-ronta, tapi akhirnya sulit untuk bergerak lagi.

Dalam kegelisahannya, Ren Yingying bingung tidak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba dilihatnya bibir Linghu Chong tersenyum simpul, sikapnya sangat senang. Diam-diam ia pun merasa heran. “Jangan-jangan Kakak Chong mendapat akal untuk meloloskan diri?” pikirnya.

Terdengar Yue Buqun berkata bengis, “Bangsat cilik, dengan riang gembira kau keluar dari gua itu. Tentunya kau tidak mengira akan tertimpa bencana, bukan?”

“Bagiku ini bukan sesuatu bencana,” sahut Linghu Chong acuh tak acuh. “Pada akhirnya setiap manusia harus mati. Kini aku dapat mati bersama istriku tercinta, tentu hatiku merasa sangat senang.”

Baru sekarang Ren Yingying paham, ternyata senyum simpul di bibir Linghu Chong tadi adalah karena merasa bahagia dapat mati bersama dengannya. Seketika perasaan takut gadis itu langsung buyar dan berganti dengan perasaan bahagia.

“Bangsat cilik!” sahut Yue Buqun memaki, “Kematian sudah di depan mata, tapi mulutmu masih saja melantur.” Usai berkata demikian ia lantas mengikat tubuh muda-mudi itu dengan tali jala lebih kencang lagi.

“Aku ingat, jala pusaka ini adalah milik Lao Touzi. Pasti kau merebutnya saat menyerbu Puncak Henshan dan Lembah Tongyuan,” ujar Linghu Chong. “Tak kusangka sikapmu padaku ternyata sedemikian baik. Kau tahu kami sudah bersumpah untuk sehidup semati sehingga kau sengaja membungkus tubuh kami berdua, suami istri ini bersama-sama. Kau telah membesarkanku sejak kecil, sungguh pantas kalau kau mengetahui isi hatiku. Kau memang sahabatku yang sangat baik, Tuan Yue.”

Sengaja Linghu Chong berbicara panjang lebar dengan maksud hendak mengulur waktu, siapa tahu ia akan memperoleh akal untuk membebaskan diri. Selain itu, ia juga berharap Feng Qingyang tiba-tiba muncul untuk menolongnya.

Yue Buqun sangat gemas dan membentak, “Bangsat cilik, sejak kecil kau memang suka membual tak aturan. Sifat busukmu ternyata tidak berubah sampai sekarang. Biarlah kupotong dulu lidahmu agar nanti jika masuk neraka kau tidak perlu lagi disiksa potong lidah di sana.” Usai berkata demikian tiba-tiba kakinya langsung menendang ke pinggang Linghu Chong. Seketika titik bisu Linghu Chong pun tertotok sehingga pemuda itu tidak bisa bersuara lagi.

Yue Buqun lantas berkata kepada Ren Yingying, “Nona Ren, kau ingin aku membunuhnya lebih dulu atau membunuhmu lebih dulu?”

Ren Yingying menjawab, “Terserah kau lebih suka membunuh siapa lebih dulu, apa urusannya denganku? Yang pasti, obat penawar Pil Pembusuk Otak yang kusimpan hanya tinggal tiga butir.”

Begitu mendengar “Pil Pembusuk Otak”, seketika raut muka Yue Buqun berubah pucat. Sejak dipaksa menelan pil beracun itu, perasaan Yue Buqun sangat tertekan. Siang malam ia mencari akal untuk bisa mendapatkan obat penawarnya. Maka, bergitu datang kesempatan segera ia melemparkan jala pusaka milik Lao Touzi yang terbuat dari benang logam untuk meringkus kedua muda-mudi itu. Menurut rencana sebenarnya ia hendak membunuh Linghu Chong dan Ren Yingying lebih dulu, baru kemudian menggeledah tubuh si nona untuk mencari obat penawar pil beracun yang pernah ditelannya waktu itu.

Akan tetapi, begitu mendengar Ren Yingying hanya menyimpan tiga butir obat penawar Pil Pembusuk Otak saja, seketika perasaan Yue Buqun kembali gelisah. Dengan demikian apabila mereka berdua dibunuh, maka ia sendiri hanya dapat bertahan hidup selama tiga tahun saja. Sesudah tiga tahun terlewati, maka racun pada pil mulai bekerja dan menyerang otak. Mula-mula ia akan menjadi gila, dan akhirnya mati pelan-pelan dalam keadaan tersiksa.

Meskipun terkenal pandai menyembunyikan perasaan, tetap saja tangan Yue Buqun terlihat gemetar membayangkan hal itu. Akhirnya ia pun berkata, “Baiklah, mari kita mengadakan kesepakatan. Nyawa kalian berdua akan kuampuni, asalkan kau mengatakan kepadaku cara meracik obat penawar itu.”

Ren Yingying tertawa dan menjawab, “Haha, biarpun usiaku masih muda dan pengalamanku dangkal, tapi aku cukup mengenal kepribadian Tuan Yue dari Perguruan Huashan yang termasyhur. Kalau ucapanmu dapat dipercaya, tentu kau tidak akan lagi dijuluki sebagai Si Pedang Budiman.”

“Pintar bicara! Rupanya ini hasil pergaulanmu dengan Linghu Chong, hah?” sahut Yue Buqun. “Kau tidak perlu banyak bicara lagi! Cukup katakan saja bagaimana cara meracik obat penawar pil iblis itu!”

“Sudah tentu takkan kukatakan,” jawab Ren Yingying tegas. “Kelak tiga tahun lagi Kakak Chong dan aku akan menyambut kedatanganmu di pintu akhirat. Tapi, waktu itu wajahmu tentu sudah berbeda dengan sekarang ini. Jangan-jangan kami tidak bisa mengenalimu lagi.”

Yue Buqun merinding mendengarnya. Ia paham, begitu kuman dalam pil itu bekerja menyerang otak, maka pikirannya akan langsung menjadi gila. Setelah itu lantas muncul dorongan untuk merusak tubuh sendiri. Tangannya akan bergerak mencakari wajah hingga hancur tak berbentuk.

“Baiklah,” sahut Yue Buqun kemudian. Rupanya perasaan takut di hatinya telah berubah menjadi gusar. “Meskipun wajahku kelak akan hancur, tapi paling tidak wajahmu akan hancur terlebih dulu. Aku tidak akan membunuhmu, melainkan hanya merusak wajahmu yang cantik ini. Akan kupotong hidung dan telingamu, akan kusayat-sayat pipimu yang putih halus. Coba lihat, apakah Kakak Chong-mu yang tercinta ini masih tetap menyukai siluman seperti dirimu atau tidak?” Usai berkata ia langsung melolos pedang di tangan kanan.

Ren Yingying menjerit ngeri. Meskipun tidak takut mati, namun kalau wajahnya sampai disayat-sayat hingga rusak, lantas terlihat oleh Linghu Chong, maka hal ini sungguh sangat mengerikan baginya.

Meskipun titik bisu Linghu Chong sedang tertotok sehingga mulutnya tidak bisa bersuara, namun tangan dan kakinya masih dapat bergerak. Ia pun memahami perasaan Ren Yingying. Dengan sikunya ia menyinggung si nona, lalu kedua jarinya bergerak hendak mencolok kedua mata sendiri.

Ren Yingying pun menjerit kaget, “Kakak Chong, jangan!”

Sebenarnya Yue Buqun tidak bersungguh-sungguh hendak merusak wajah Ren Yingying. Hal ini hanya digunakan untuk mendesak si nona agar mau mengajarkan cara meracik obat penawar Pil Pembusuk Otak. Maka, begitu melihat Linghu Chong hendak membutakan mata sendiri, dengan sendirinya rencana yang jitu tersebut menjadi tidak berguna lagi. Dengan kecepatan luar biasa sebelah tangan Yue Buqun lantas menjulur. Dari luar jala ia memegang pergelangan tangan Linghu Chong sambil membentak, “Hentikan!”

Begitu kedua tangan mereka bertemu segera Jurus Penyedot Bintang pun bekerja pula. Yue Buqun merasa tenaga dalamnya membanjir keluar dengan sangat deras. Ia menjerit kaget dan berusaha meronta untuk melepaskan cengkeramannya, namun sudah terlambat. Tangan kirinya itu terasa sudah melekat kuat pada pergelangan tangan Linghu Chong.

Tanpa pikir panjang Linghu Chong lantas membalik tangannya. Kini ia berbalik mencengkeram tangan Yue Buqun dan mengerahkan Jurus Penyedot Bintang lebih keras lagi. Berangsur-angsur ia menghisap tenaga dalam Yue Buqun ke dalam tubuhnya dengan lebih kencang.

Yue Buqun sangat gugup dan segera mengayunkan pedang di tangan kanan untuk menebas tubuh Linghu Chong. Akan tetapi, Linghu Chong lebih dulu menarik tangannya sehingga tubuh Yue Buqun ikut terseret maju. Akibatnya, tebasan pedang tersebut meleset dan mengenai tanah.

Tenaga dalam Yue Buqun masih terus membanjir keluar. Ketika bermaksud menyerang lagi, ternyata tangan kanannya sudah semakin lemah lunglai. Lengannya itu bahkan susah untuk digerakkan. Dengan sisa tenaga ia berusaha mengangkat pedang dan mengarahkan ujungnya ke dahi Linghu Chong. Lengan dan pedang itu tampak gemetar, namun perlahan-lahan menusuk ke depan.

Ren Yingying menjadi khawatir. Ia bermaksud menggunakan jari untuk menyentil batang pedang Yue Buqun tersebut, namun kedua lengannya tertindih oleh tubuh Linghu Chong. Jala pusaka itu terikat dengan kencang pula. Meskipun sudah meronta sekuat tenaga namun tetap sukar menarik tangannya yang tertindih itu.

Tangan kiri Linghu Chong sendiri juga terjepit oleh Ren Yingying sehingga tidak dapat digerakkan. Tampak ujung pedang Yue Buqun sudah semakin mendekati dahinya. Dalam keadaan genting itu ia merenung, “Aku telah membunuh Zuo Lengchan dan melukai Lin Pingzhi dengan tusukan pedang perlahan-lahan. Kini Guru juga hendak membunuhku dengan cara yang sama. Sungguh cepat sekali datangnya hukum karma.”

Yue Buqun merasakan tenaga dalamnya semakin habis terkuras, namun ujung pedangnya juga tinggal beberapa senti saja dari kening Linghu Chong. Perasaan cemas dan senang bercampur aduk. Ia berharap tusukan pedangnya ini dapat membinasakan Linghu Chong. Sekalipun tenaga dalamnya terkuras habis, asalkan ia bisa tetap hidup tentu masih ada harapan untuk berlatih kembali.

Pada saat itulah tiba-tiba dari belakang terdengar suara teriakan seorang gadis muda, “Hei, apa yang kau lakukan? Cepat lepaskan pedangmu!”

Setelah itu terdengar suara langkah kaki seseorang berlari-lari mendekati tempat itu. Yue Buqun tidak peduli dan terus saja menusukkan pedangnya ke depan. Ujung pedangnya kini hanya tinggal dua senti saja untuk dapat membinasakan Linghu Chong. Hidup atau mati benar-benar tergantung pada hasil tusukannya itu.

Dengan sisa-sisa tenaga ia berusaha terus mendorong pedangnya ke depan. Akhirnya, ujung pedangnya sudah menyentuh dahi Linghu Chong. Namun, pada saat itu juga punggungnya terasa dingin. Tiba-tiba sebilah pedang telah menembus tubuhnya dari punggung hingga ke dada. Seketika tubuh Yue Buqun pun lemas dan langsung roboh di tanah.

“Kakak Linghu, apa kau baik-baik saja?” terdengar suara gadis itu menyapa. Ternyata ia adalah Yilin, si biksuni muda dari Perguruan Henshan.

Linghu Chong tidak dapat membuka suara karena titik bisunya belum terbuka. Darahnya pun terasa sedang bergemuruh memenuhi rongga dada. Maka, Ren Yingying menjawab, “Adik Yilin, Kakak Linghu baik-baik saja.”

“Syukurlah kalau begitu,” seru Yilin senang. Tiba-tiba ia tercengang dan menjerit ketakutan, “Hah, bukankah dia ini Tuan Yue? Aku … aku telah membunuh Tuan Yue!”

“Benar,” sahut Ren Yingying. “Selamat untukmu! Kau telah berhasil membalaskan kematian gurumu. Sekarang tolong kau lepaskan tali pengikat jala ini untuk membebaskan kami berdua.”

“O, ya, ya!” jawab Yilin gemetar. “Jadi aku … aku telah mem… membunuh dia?”

Meskipun sudah lama belajar silat, namun pada dasarnya ia berhati kecil. Melihat Yue Buqun tengkurap di tanah bermandikan darah segar, seketika tangannya langsung gemetar. Ia bermaksud memegang tali jala untuk membukanya, namun kedua tangannya terasa lemas tak bertenaga. Beberapa kali ia mencoba membuka ikatan tali jala tersebut, tapi tetap saja kesulitan.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara orang membentak, “Biksuni cilik, kau berani membunuh ketua Perguruan Lima Gunung! Dosamu harus mendapat hukuman yang setimpal!” Tampak seorang tua berbaju kuning sedang menyerbu maju dengan pedang di tangan kanan. Ia tidak lain adalah Lao Denuo.

“Celaka!” seru Linghu Chong dalam hati.

Segera Ren Yingying berseru, “Adik, lekas ambil pedangmu untuk melawannya!”

Mula-mula Yilin tertegun, namun ia segera mencabut pedang di tubuh Yue Buqun. Sementara itu, Lao Denuo sudah melancarkan tiga serangan berturut-turut. Yilin dapat menangkis kedua serangan, namun serangan ketiga telah menggores bahu kirinya hingga terluka ringan.

Sebenarnya Lao Denuo bukan pendukung Yue Buqun. Tujuannya menyerang Yilin hanyalah untuk mencegah biksuni muda itu membebaskan Linghu Chong dan Ren Yingying. Serangan-serangan orang tua itu tampak semakin cepat. Yang ia mainkan adalah Jurus Pedang Penakluk Iblis. Hanya saja karena latihannya belum sempurna, maka kecepatannya sangat jauh bila dibandingkan dengan Lin Pingzhi. Namun, pada dasarnya kepandaian Lao Denuo memang cukup tinggi dan juga lebih berpengalaman. Ia menguasai ilmu pedang Songshan dan Huashan dengan baik. Tentu saja Yilin bukan tandingannya.

Meskipun demikian, ilmu silat Yilin sendiri juga sudah maju pesat. Siang malam ia berada dalam bimbingan Yihe dan Yiqing untuk mempelajari ilmu pedang leluhur Perguruan Henshan yang diperoleh Linghu Chong dari dinding gua rahasia dulu. Di samping itu, karena Lao Denuo juga sedikit ragu-ragu dalam memainkan Jurus Pedang Penakluk Iblis, sehingga cenderung memainkan campuran ilmu pedang Songshan dan Huashan. Karena kedua ilmu pedang itu dicampur aduk, akibatnya malah kehilangan kesaktiannya. Maka, untuk sementara Yilin masih dapat menghadapi kepandaian Lao Denuo tersebut.

Pada mulanya Yilin agak gugup karena serangan lawan begitu mendadak sehingga bahunya pun terluka. Namun, begitu teringat kalau dirinya sampai kalah, maka nasib Linghu Chong dan Ren Yingying tentu dalam bahaya. Dalam benaknya terlintas suatu pikiran, “Jika musuh hendak membunuh Kakak Linghu, maka dia harus melangkahi mayatku lebih dahulu.” Seketika ia pun tidak takut mati dan terus menyerang melancarkan jurus-jurus pedang Henshan dengan lebih nekat.

Menghadapi perlawanan sengit yang tidak kenal takut itu, Lao Denuo menjadi sukar untuk mengalahkan Yilin. Terpaksa ia bertarung sambil memaki, “Biksuni cilik, keparat kau! Persetan ibumu!”

Ren Yingying melihat cara bertempur Yilin yang nekat itu sebenarnya hanya bisa bertahan untuk sementara saja. Segera ia pun meronta berusaha membebaskan diri. Setelah menggeser tubuhnya akhirnya ia bisa menggerakkan tangan kiri dan membuka totokan Linghu Chong. Setelah itu ia lantas melolos pedang pendeknya yang terselip di pinggang.

“Hei, Lao Denuo, siapa itu yang ada di belakangmu?” seru Linghu Chong begitu mulutnya bisa kembali berbicara.

Namun, Lao Denuo cukup berpengalaman. Dalam pertempuran mati-matian seperti itu tentu saja ia tidak mau tertipu oleh seruan Linghu Chong tersebut. Ia memilih tidak peduli terhadap teriakan itu, sebaliknya justru mempergencar serangan-serangannya.

Sementara itu, diam-diam Ren Yingying bermaksud melemparkan pedang pendeknya dari dalam jala. Namun jarak pertarungan antara Yilin dan Lao Denuo sangat dekat. Ia takut kalau lemparannya sedikit melenceng tentu malah mengenai tubuh Yilin.

Tiba-tiba terdengar Yilin menjerit. Ternyata bahunya kembali terkena senjata musuh. Kalau luka yang pertama tadi hanya tergores sedikit, maka luka yang kedua ini agak parah sehingga darah pun bercucuran membasahi rumput.

“Eh, ada monyet!” kembali Linghu Chong berseru pula. “Ah, aku kenal monyet itu. Itu monyet piaraan Adik Keenam dulu. Hei, monyet yang baik, cepat kau tubruk keparat itu! Gigit orang itu sampai mampus! Dia adalah bajingan yang membunuh majikanmu!”

Waktu itu demi mencuri kitab pusaka Awan Lembayung, Lao Denuo telah membunuh Lu Dayou, murid keenam Perguruan Huashan. Lu Dayou memang memiliki seekor kera yang selalu hinggap di atas bahunya. Setelah ia terbunuh, kera kecil itu pun menghilang entah ke mana.

Kini mendengar Linghu Chong berseru tentang monyet, mau tidak mau Lao Denuo merinding juga. Ia berpikir, “Entah dia bohong atau tidak, tapi kalau binatang itu benar-benar menubruk ke tubuhku dan menggigit leherku, rasanya repot juga untuk mengusirnya.” Maka, tanpa pikir lagi pedangnya lantas menebas ke belakang. Padahal kalau dipikir dengan jernih, mana mungkin ada seekor monyet berani mendekati dua manusia yang sedang bertarung?

Pada saat itulah Ren Yingying segera melemparkan pedang pendeknya melalui bagian bawah jala yang sedikit terbuka. Pedang pendek itu melesat secepat kilat menyambar ke arah tengkuk Lao Denuo. Namun, Lao Denuo sangat cekatan dan berhasil mengelak. Dengan sedikit menunduk ke bawah, pedang Ren Yingying itu hanya lewat di atas kepalanya. Tapi mendadak pergelangan kaki kiri orang tua itu terasa kencang karena terjerat oleh seutas tali, bahkan tali itu lantas tertarik sehingga tubuhnya pun jatuh tersungkur.

Ternyata dalam keadaan gawat tersebut, Linghu Chong tidak menyia-nyiakan kesempatan. Sewaktu Lao Denuo mendekam ke bawah untuk menghindari sambaran pedang pendek tadi, Linghu Chong mempersiapkan serangan kedua. Meskipun tidak mampu membebaskan diri, namun tali jala yang cukup panjang itu dapat dilecutkannya untuk menjerat kaki Lao Denuo dan menariknya hingga jatuh.

“Bunuh dia! Lekas bunuh dia!” seru Linghu Chong dan Ren Yingying bersama-sama.

Yilin lantas mengangkat pedangnya hendak memenggal kepala Lao Denuo. Namun pada dasarnya ia bersifat welas asih dan bernyali kecil pula. Sewaktu membunuh Yue Buqun tadi ia hanya terdorong oleh perasaan ingin menolong Linghu Chong, sehingga tanpa pikir panjang pedangnya langsung menusuk begitu saja. Namun, sekarang ketika pedangnya hampir mengenai leher Lao Denuo, tiba-tiba saja timbul perasaan tidak tega. Akibatnya, serangannya itu sedikit melenceng dan hanya mengenai pundak kanan Lao Denuo.

Tulang pundak Lao Denuo patah seketika. Pedangnya pun terlepas dari genggaman. Khawatir Yilin kembali menyerang, Lao Denuo segera melompat bangun sambil menahan sakit. Setelah meronta dan terlepas dari jerat tali jala tadi, secepat kilat ia lantas kabur melarikan diri ke bawah tebing.

Tiba-tiba dari arah lain muncul dua orang, perempuan dan laki-laki. Seorang perempuan yang berjalan di depan lantas membentak, “Hei, apa kau yang memaki anak perempuanku tadi, hah?” Ternyata perempuan itu adalah ibu Yilin, si perempuan tua penjaga Kuil Gantung yang selama ini menyamar sebagai nenek bisu tuli.

Tanpa menjawab Lao Denuo lantas mengangkat kaki hendak menendang. Namun, gerak tubuh si nenek sangat cepat sukar untuk dilukiskan. Hanya sedikit berkelit, tahu-tahu tangannya sudah menampar wajah Lao Denuo satu kali.

“Kurang ajar!” bentak perempuan itu. “Tadi kau memaki ‘persetan ibumu’ kepadanya! Maka kuberi tahu padamu, akulah ibunya!”

“Jangan lepaskan dia! Jangan lepaskan dia!” seru Linghu Chong.

Sebenarnya si nenek sudah mengangkat tangan hendak memukul keras-keras kepala Lao Denuo. Namun, begitu mendengar seruan Linghu Chong itu, ia menjadi marah dan berkata, “Setan cilik, aku justru ingin melepaskan dia, kau mau apa?” Usai berkata ia lantas memberi jalan kepada Lao Denuo sambil menendang pantatnya satu kali.

Bagaikan lolos dari neraka, Lao Denuo langsung berlari tunggang langgang turun dari puncak gunung itu.

Orang kedua yang ikut di belakang si nenek tidak lain adalah Biksu Bujie. Dengan tertawa ia mendekati Linghu Chong dan berkata, “Hei, masih banyak tempat bermain yang bagus. Mengapa kalian lebih suka bermain petak umpet di dalam jala?”

“Lekas buka jala itu, Ayah! Lepaskan Kakak Linghu dan Nona Ren,” seru Yilin.

Tapi si nenek menyela dengan muka beringas, “Aku masih harus membuat perhitungan dengan setan cilik ini, jangan lepaskan dia!”

“Hahahahaha!” Linghu Chong bergelak tertawa. “Suami-istri naik tempat tidur, makcomblang ikut senang tapi dibuang beegitu saja. Kalian suami-istri telah berkumpul kembali mengapa tidak mengucapkan terima kasih kepada makcomblang ini?”

Namun, nenek itu malah menendang tubuh Linghu Chong satu kali dengan gemas, dan memaki, “Aku berterima kasih dengan cara menendangmu.”

“Hei, Enam Dewa Lembah Persik juga datang,” teriak Linghu Chong tiba-tiba. “Lekas kalian tolong aku!”

Linghu Chong melumpuhkan Lin Pingzhi.
Yue Buqun menjaring Linghu Chong dan Ren Yingying.
Linghu Chong menghisap tenaga Yue Buqun.
Yue Buqun menemui ajal.
Menyaksikan Yilin melawan Lao Denuo.

(Bersambung)

You may like these posts

Komentar

  1. To insert a code use <i rel="pre">code_here</i>
  2. To insert a quote use <b rel="quote">your_qoute</b>
  3. To insert a picture use <i rel="image">url_image_here</i>
Tinggalkan komentar sesuai topik tulisan, komentar dengan link aktif tidak akan ditampilkan.
Admin dan penulis blog mempunyai hak untuk menampilkan, menghapus, menandai spam, pada komentar yang dikirim