Hataraku Maou-Sama Vol 3 - Chapter 1

Chapter 1 : Raja Iblis dan Sang Pahlawan secara tak sengaja menjadi orang tua.

Di dalam sebuah ruangan yang berisi bau oli mesin dan besi. Roda gigi yang sudah diperbaiki itu mulai berputar.

Rantai mesin menghasilkan kekuatan dan akselerasi yang besar meskipun menggunakan tenaga yang kecil. Lebih jauh lagi, sistem perpindahan gear yang baru membuat pengendaliannya lebih fleksibel.

Kerangka yang membentuk badannya telah dipoles dan bersinar. Bercahaya tapi kokoh.

Fitur keamanannya juga nomor satu, sensor optik yang bisa menghidupkan lampu secara otomatis di depan, alarm yang memudahkan pengguna untuk mengetahui lokasi kendaraanya. Juga dilengkapi dengan plat reflektor sebagai antisipasi dalam menghadapi musuh yang tak terduga dari segala arah.

Penggunaannya mudah, tidak memerlukan banyak tempat dari kapasitas muatannya ataupun kenyamanan dari kokpit nya.

Sadelnya terbuat dari kulit. Punya keranjang berkapasitas besar didepannya, dan pilihan untuk menempatkan muatannya di berbagai tempat.

"Jadi, bagaimana menurutmu? Aku punya semua yang kau inginkan"

Si mekanik, orang yang dipenuhi bau oli mesin, menunjukan mesinnya dengan bangga.

"Aku tidak akan tau, sampai aku mencobanya."

Anak muda satunya menggelengkan kepalanya dan membuat ekspresi sulit. Orang yang berlumuran oli tadi membalas.

"Sudah kuduga kau akan berkata seperti itu. Aku telah selesai menyetelnya, aku menaruh semua yang kupunya didalamnya. Itu akan bertahan selama seratus tahun saat kau mengendarainya, tidak masalah."

Dia menyilangkan tangannya seperti memberikan sebuah tantangan.

"Aku akan senang mencobanya."

Anak muda itu menyerigai dan naik ke atas sadelnya.

"Ohh... Ini...."

Orang yang berlumuran oli mesin menyeringai setelah mendengar nada terkejutnya.

Di sisi lainnya, sebuah bayangan kecil yang menyaksikan dua orang itu menggerutu.

"Apa-apaan drama ini?"

Tanpa memperhatikan suara itu, anak muda tadi memegang setang dan mulai mengayuh pedal kanannya.

Segera setelahnya, anak itu, berseru dengan suara terkejut.

"Whoooaa!! Luar biasa!! Ini sangat enteng!! Dengan sistem perpindahan gear ternyata bisa membuatnya seenteng ini?"

Anak muda tadi berteriak dengan suara keras, dan tersenyum lebar saat dia mengayuh keluar dari ruang penyimpanan dan berkeliling.

"Aku akan mengambilnya!"

"Bagus!! Karena itu kau Maou-chan, aku akan memberikan diskon khusus. Bagaimana kalau 29.800 yen?"

"Kau yang terbaik Hirose-san!! Oh dia yang akan membayarnya! Terima kasih Suzuno!!"

Anak muda yang dipanggil Maou tadi mengangguk pada hadis yang memakai Yukata dan duduk di kursi lipat.

Orang yang penuh dengan oli tadi mengangkat alisnya dan melihat ke gadis itu.

Gadis yang Maou panggil Suzuno tadi yang terlihat tidak ingin berada disana, mengambil dompet tradisional miliknya.

"Hei tuan pemilik toko. Apa artinya tawaranmu tadi?"

Toko sepeda Hirose membutuhkan waktu 5 menit berjalan dari stasiun Sasazuka. Yang berada di Kaieo Line di Bosatsu Doori, sebuah distrik perbelanjaan di Shibuya. Hirose, sang manajer, mengambil handuk yang terikat di kepalanya dan tertawa.

"Dia benar-benar bersenang-senang. Tapi apa kau benar-benar yang akan membayar nya nona? Apa kau pacarnya Maou-chan?"

Seketika itu juga, seluruh wajah gadis itu berkedut.

"Tolong jangan membuat lelucon yang sama sekali tidak lucu. Ada satu kondisi yang memaksaku untuk membayarnya. Sadao-dono, Mau berapa lama kau berkeliling? Apa kau tidak butuh untuk mengisi form pendaftaran anti maling atau semacamnya? Kembali kesini secepatnya!"

"Yeah yeah"

Maou Sadao kembali dengan cengiran diwajahnya. Tentunya bersama sepeda baru ber merek, mengkilap dan berkualitas tinggi miliknya.

Bingkai alumunium yang terpasang dengan plat reflektor di segala sisi, lampu yang menyala secara otomatis dalam keadaan gelap. Itu adalah sepeda impian Maou. Sepeda kota dengan 6 Gear kecepatan "Bridgesutton".

"Sepeda itu sendiri harganya 29.800 yen, biaya pendaftaran anti-maling 300 yen, dan kau juga mendapatkan diskon. Bagaimana kalau 30.000 yen?"

"Terima kasih atas kemurahan hatimu"

Suzuno mengambil 3 lipatan uang 10.000 yen, merapikannya, dan menyerahkannya.

"Terima kasih, karena kau disini, kenapa kau tidak beli juga nona? Bagaimana kalau yang itu?"

Suzuno menggelengkan kepalanya, menolak rekomendasi Hirose.

"Aku belum pernah belajar mengendarai sepeda. Jadi aku harus menolaknya sekarang"

"Belajar mengendarai sepeda?"

Hirose memiringkan kepalanya. Suzuno menjawab dengan nada yang serius.

"Aku dengar mengendarai sepeda tidak membutuhkan SIM, tapi butuh benda yang dibutuhkan untuk latihan yaitu "roda pembantu"

Mendengarnya, Maou membayangkan suzuno mati-matian mengendarai sepeda anak-anak dengan roda pembantu, dan hampir tertawa terbahak-bahak.

"Itu pasti sangat manis"

"Kau tidak membayangkan sesuatu yang bodoh kan??"

Melihat Maou menahan tertawanya, Suzuno menatapnya dengan tajam.

"Sigh.. Hei tuan pemilik toko, aku minta salinan tanda terimanya"

"Huh? Oh baiklah! Apa tidak apa-apa kalau tulisan tangan? Semuanya 30.000 yen, jadi harus ada stempelnya."

"Tolong tulis saja St. Ignold inc"

Maou terkejut mendengarnya.

"He-hey.. Itu kan...."

Namun Hirose mengabaikannya, dia dengan cepat menyelesaikan menulis tanda terimanya, dan menyobeknya.

"Ini, terima kasih!! Maou-chan, setelah dia membelikannya untukmu, kau harus merawatnya."

"Oh.. Yeah"

Meninggalkan toko sepeda dengan diantar oleh Hirose, mereka berjalan lewat jalanan distrik perbelanjaan menuju kompleks perumahan dimana mereka tinggal.

Maou sibuk dengan sepeda barunya, sementara Suzuno meringis kepanasan dibawah payungnya.

"Apa yang akan kau lakukan dengan salinan tanda terimanya?"

"Jika aku mencatat semua pengeluaranku, mungkin saja aku mendapatkan uangku kembali didunia sana setelah aku mengalahkanmu."

"Jadi kau akan bilang pada mereka 'aku dipaksa membelikan sepeda untuk targetku, si Raja Iblis' atau sesuatu seperti itu?"

Suzuno menatapnya dari bawah payungnya.

"Haruskah ku bilang juga pada pendeta gereja bahwa sang Raja Iblis, Satan adalah iblis pelit yang akan memaksa orang lain intuk membelikannya sepeda?"

"Ini adalah masa dimana pemimpin harus hemat dalam penggunaan anggaran mereka. Ini bukanlah sesuatu yang buruk untuk seorang pemimpin peduli dengan rakyatnya dan menunjukan dedikasi mereka pada perekonomian. Dan aku telah melakukannya!"

Raja Iblis yang sedang membual tentang perekonomian tiba-tiba berhenti, dan kembali ke toko yang telah mereka lewati.

"Tunggu sebentar Suzuno, aku ada perlu di toko alat tulis."

Maou mengunci sepedanya di pinggir jalan. Dan masuk kedalam sebuah tuku kecil yang terlihat seperti toko mainan atau manisan daripada toko alat tulis. Ketika dia kembali, Suzuno melihat dengan pandangan aneh pada benda yang dibeli Maou.

"Buat apa kau membeli lem instan?"

"Heheheh.. Senang kau bertanya! Lihatlah ini!"

Maou menyeringai, dan mengambil potongan plastik merah kecil dari sakunya.

"Ini adalah plat dari Dullahan, sepeda yang kau hancurkan. Ketika polisi memanggilku kesana dan akan menyitanya, aku harus bisa mendapatkan plat kembali. Ini seperti kenang-kenangan."

Maou mengelem plat itu ke bagian depan keranjang sepedanya.

"Sekarang dia telah mewarisi jiwa dari Dullahan, yang dengan hebatnya telah mengorbankan hidupnya untuk melindungi tuannya. Mulai sekarang dia akan menjadi Dullahan II"

"Bagus untuknya..."

Dia tidak tertarik sama sekali dengan hubungan Maou dan barang-barang miliknya, tapi dia rasa pemuda seusianya memberikan nama kepada sepedanya terlihat menyedihkan.

"Apa kau sudah selesai? Ayo kita pergi, Raja Iblis"

Dan orang itu tidak lain tidak bukan adalah musuh umat manusia, raja dari seluruh iblis, Raja Iblis Satan.

Dan gadis yang memanggil dirinya Suzuno Kamazaki ketika berada di Jepang itu mendesah, dan mulai berjalan tanpa menunggu balasan Maou.

Suzuno berjalan dengan suram. Jepit rambutnya memantulkan sinar matahari musim panas yang menyinari payungnya.


※※※


Raja Iblis Satan, raja dari semua iblis yang mencoba menaklukan dunia  lain nan jauh yang bernama Ente Isla.

Sadao Maou, seorang anak muda yang hidup dengan bekerja paruh waktu yang tinggal di area pemukiman dipinggiran kota Tokyo.

Tidak ada satu orang atau dewa pun yang menduga kalau suatu hari, raja iblis yang mempunyai tujuan untuk menguasai dunia harus menghidupi dirinya dengan bekerja paruh waktu di dekat Stasiun Sasazuka, Shibuya, Tokyo.

Lebih dari setahun telah terlewati semenjak dia kalah dalam pertarungannya melawan sang Pahlawan, Emilia Justina. Dan dia akhirnya berada di dunia lain, Jepang.

Menjadikan Apartemen kayu berukuran 6 tatami yang berusia 60 tahun di Villa Rose sebagai Kastil Raja Iblis sementaranya, Raja Iblis Satan - atau Maou Sadao bekerja menjadi pekerja paruh waktu yang memperjuangkan masa depannya. Namun dalam beberapa bulan saja, banyak insiden yang terjadi di sekitarnya.

Tahun pertama yang berisi dengan hari-hari sulit dan kesulitan keuangan, tapi dia tetap bekerja dengan giat setiap harinya.

Dan sekitar 9 bulan lalu, dia telah dipromosikan sebagai pekerja paruh waktu jangka panjang di MgRonald yang berlokasi didekat stasiun Hatagaya, satu pemberhentian dari stasiun Sasazuka karena telah mendapatkan persetujuan dari supervisornya. Sebuah posisi yang dia harapkan dapat dia capai suatu hari nanti. Kehidupan Maou di Jepang pun mulai menjadi lebih baik.

Namun kehidupan damai nya pun berakhir, ketika sang Pahlawan Emilia yang memakai nama Emi Yusha datang untuk mengejar sampai ke tempat pengasingan sang Raja Iblis.

Disisi lain, dengan semua kesibukannya, mencari uang untuk makan dengan bekerja paruh waktu tidak selamanya akan berjalan dengan damai.

Mantan bawahannya yang melakukan pengkhianatan hampir saja membunuhnya, dan bahkan manusia pun mengkhianati pahlawan mereka, juga di kelompokan sebagai gangguan rutinitas sehari-harinya.

Sang Raja Iblis menyelesaikan semua insiden itu dan kehidupan tentramnya pun kembali. Dia ingin kembali bekerja dengan giat dan memperoleh kehidupan yang lebih baik sehingga dia bisa makan 3 kali sehari.

Meskipun sang pahlawan sampai datang dari 3 perhentian kereta untuk mengajaknya bertarung dan pendeta dari gereja 'Divine Creed' pindah ke sebelah rumahnya untuk menganggu kesehatannya dengan memberikan makanan suci, sang Raja Iblis tetap melanjutkan hidupnya sebagai warga biasa dan suatu hari akan melanjutkan rencananya untuk menguasai dunia.

Dia mempercayai bahwa semua hal-hal biasa ini, kehidupan sehari-harinya, pekerjaannya di MgRonald untuk mandapatkan pangkat tinggi suatu hari akan bisa membawanya mencapai tujuannya yaitu menguasai dunia.

Crestia Bell, Ketua petugas Interogasi Divisi Perbaikan Hukum dari gereja Divine Creed yang juga mempunyai nama Suzuno Kamazuki tinggal di sebelah kastil Raja Iblis, dan memberikan mereka makanan yang telah diracuni kepada mereka. Meskipun begitu, Maou membalikan semua keadaan dengan membuatnya membelikan sepeda yang telah dia hancurkan.

Mungkin karena itu ekspresi masam dari wajah Suzuno tidak bisa hilang.

"Apakah harganya terlalu mahal?"

Maou bertanya kepada Suzuno seolah seperti membaca suasana hatinya, meskipun begitu dia adalah orang yang membahayakan hidup Maou dan menghancurkan sepedanya. Suzuno mendesah panjang di bawah payungnya tanpa melihat kearah Maou.

"Kupikir aku mulai mengerti kenapa dia meninggalkanmu dan membiarkanmu hidup dengan damai!"

"Huh?"

"Apakah pemilik toko tadi adalah temanmu?"

"Dulu kami pernah bertemu di acara bakti sosial dan tidak benar-benar dekat. Tapi istri dan anaknya datang ke McRonald beberapa kali, sejak saat itu kami mulai berteman"

Maou menjelaskan kehidupan hubungan sosialnya yang normal dengan manusia lainnya. Suzuno pergi kepinggir jalan dan berteduh, mendesah agar panas dan keadaan menyedihkan yang dia hadapi berkurang.

"Aku mempersiapkan kondisi terburuknya saat kau mengajak pergi ke toko sepeda."

"Apa maksudnya itu?"

Suzuno mengambil katalog kecil dari tasnya dan memberikannya pada Maou.

"Aku berpikir model kelas atas bagaimana yang kau minta sebagai ganti rugi kepada sang Raja Iblis. Aku sadar hutang yang kupunya sangatlah besar."

Maou melipat katalognya dengan satu tangan. Itu adalah katalog sepeda.

"Sepeda gunung? Sepeda jal.. Sepeda muatan?? Be Em atau sesuatu seperti itu yang bisa kau kendarai di tanah yang keras. Siapapun akan berpikir kau akan menuntut sesuatu yang setara dengan itu."

"Jangan gunakan bahasa asing, kalau kau tidak tau cara melafalkannya."

"Aku harus menantang diriku sendiri dalam pelajaran bahasa. Ngomong-ngomong hanya 30.000 yen meskipun sudah termasuk pendaftaran anti maling terdengar sedikit antiklimaks, sungguh mengecewakan. Bahkan aku membawa 200.000 yen hari ini."

"Oh ayolah, apa kau benar-benar berpikir aku akan meminta sesuatu semewah itu ketika kau sudah tau bagaimana aku menjalani hidup? Aku mendapat Dullahan 1 dengan harga 6.980 yen di Dokki Li Quijote di bagian selatan kota."

Suzuno menjadi merasa semakin buruk ketika Maou mengembalikan katalognya dan membual tentang kesederhanaan.

"Seorang iblis yang haus darah membeli sesuatu dengan uang manusia. Itu pasti sangat konyol kalau tidak berpikir ada sesuatu yang salah."

"Kau benar-benar tidak mempercayaiku? Atau apakah itu artinya kau selalu berpikir kalau raja iblis akan selalu jahat? Tapi ngomong-ngomong, bukan maksud menghina Hirose-san, tapi aku ragu dia akan menjual sesuatu semahal itu."

Saat Maou tertawa, Suzuno terlihat memasang ekspresi terganggu.

Namun Maou terlihat memikirkan sesuatu dan melihat kebawah. Suzuno memalingkan pandangannya menghindari kontak mata.

"Tapi bagaimana bisa kau punya uang 200.000 yen? Kau disini saja baru-baru ini. Dan tidak punya pekerjaan. Aku yang bekerja sangat keras saja tidak pernah punya uang diatas 200.000 yen."

"Tidak seperti kau atau Emilia. Aku sudah membuat persiapan sebelum datang kesini."

Suzuno mengangkat bahunya dan menjawab dengan tegas.

Ketika Suzuno pergi ke Shinjuku untuk pertama kalinya bersama Emilia, yang juga punya nama Emi Yusha, dia pergi ke sebuah rumah pegadaian besar, Mugihyo. Dia menggadaikan beberapa perhiasan yang harganya bisa membuat mata Maou melompat keluar.

Tentu saja dia tidak bermaksud pamer kepada jelmaan kejahatan, sang Raja Iblis, tepatnya berapa uang yang dia punya. Suzuno sudah punya cukup uang walaupun tidak bekerja untuk beberapa bulan selama dia hidup sederhana.

"Yeah yeah itu bagus untukmu nona pejabat."

Meskipun sedang memberikan sindiran kepada Suzuno, Maou membunyikan bel di sepeda barunya dengan memasang cengiran lebar diwajahnya. Seperti anak kecil yang mendapat mainan baru.

"Well, ngomong-ngomong terima kasih, aku akan merawatnya."

"..."

Setelah mendengar kata-kata yang tak terduga itu, Suzuno menatap Maou tanpa berpikir, mata mereka bertemu bahkan lebih lama dari yang sudah-sudah. Dan dengan tergesa-gesa dia menutupi pandangannya dengan payungnya.

"Ini sangat konyol, orang sejahat dia bisa berterima kasih tanpa tanda-tanda kepura-puraan ataupun keirian. Kapan terakhir kali sesorang berterima kasih padaku sejujur ini?" Pikir Suzuno.

"A-aku cuma membayar hutangku. Itu sudah jadi milikmu, lakukan apapun yang kau inginkan."

"Yeah"

Mereka berjalan dalam keheningan.

"Ra-raja Iblis"

"Ah?"

Mencoba untuk menghilangkan perasaan tidak menyenangkan yang tidak dia pahami, Suzuno memecah keheningan, berhenti berjalan, dan menunjuk sesuatu di sebelahnya.

"Ap - apa itu? Mereka terlihat beberapa hari belakangan ini di toko yang menggantung bunga dan supermarket."

Suzuno menunjuk sebuah toko bunga.

Beberapa bunga terikat dengan tongkat berwarna putih terbaris rapi di depan toko. Menonjolkan warna bunga yang bermacam-macam.

"Oh itu adalah Ogara"

Maou menjawab tanpa berpikir dua kali, tapi Suzuno mengangguk dengan ekspresi terkejut.

"Oh.. Aku paham. Jadi mereka dikeringkan dan dibentuk seperti itu sebelum di jual oleh toko tahu?"

".. Tahu?"

Maou bingung sesaat setelah Suzuno tiba-tiba mengatakan hal itu , tapi dia segera paham apa yang terjadi setelah ingat toko tahu yang mereka lewati sebelumnya.

"Uhh.. Hey, Suzuno itu bukan Okara tapi Ogara. O-ga-ra."

Mengingat posisinya sebagai anggota diplomasi gereja 'Divine Creed' divisi misi keagamaan, Suzuno sudah mendapatkan pengetahuan yang penting untuk orang Ente Isla, dalam mempelajari adat dan kebudayaan Jepang.

Namun, itu tidak terlalu berguna baginya. Dia sering mencampurkan penelitiannya dengan beberapa kosa kata yang telah dia pelajari. Dia sering mengatakan beberapa hal aneh sekali seperti insiden roda pembantu sebelumnya.

"Ohh.. Aku tau aku akan memasak kroket untuk makan malam."

"Dengarkan ketika orang lain berbicara. Dan siapa kau ini? Seorang ibu rumah tangga?"

"Kroket adalah makanan yang luar biasa, tapi dengan menggunakan okara, yang tidak lebih dari produk buangan dan itu bisa membuatnya berharga murah, makanan berkalori rendah yang dihasilkannya tidak mungkin kualitasnya akan lebih rendah dari aslinya yang sangat luar biasa. Kecerdasan dan keahlian koki dinegara ini sangatlah menakutkan."

Ketika Suzuno menggelengkan kepalanya dan memikirkan menu makan malam serta asal usul dari makanannya, terdapat sepasang suami istri yang berhenti di toko dan membeli seikat Ogara.

"Ini sudah hampir festival Obon. Itu digunakan dalan upacara festival Obon"

Maou menjawab sambil menunjuk ke seikat Ogara.

"Obon, itu benar, itu adalah perayaan yang dilakukan setiap keluarga untuk memberi persembahan pada leluhur. Namun, bukankah biasanya itu di rayakan pada bulan Agustus?"

Seperti yang kuduga, dia terlihat sudah banyak mencari tau hal-hal yang menyangkut agama dan roh leluhur.

"Yeah, dahulu bulan ketujuh dari kalendar bulan jatuh pada bulan agustus kalender Masehi. Tapi hanya di Tokyo, itu diselenggarakan pada bulan Juli kalender Masehi. Dan Ogara itu digunakan untuk membuat api."

"Hmm.. Aku kira disini adalah negara yang tidak punya kepercayaan terhadap hal spiritual, tapi hal seperti ini tak kusangka juga dirayakan."

"Tapi kenapa hanya di Tokyo yang melakukannya lebih awal?"

"Yeah, ada banyak penjelasan, tapi yang paling masuk akal adalah ketika Jepang beralih dari kalender bulan ke kalender masehi, Departemen Dalam Negeri mengeluarkan peraturan untuk mengadakan segala sesuatunya menurut kalender baru, tapi ternyata hanya Tokyo yang menanggapinya. Bagian paling jauh dari Jepang tidak bisa begitu saja meninggalkan kalendar bulan, karena mereka telah menggunakannya selama ratusan tahun. Mereka tidak bisa begitu saja menggantinya hanya karena peraturan pemerintah."

"Aku paham."

"Ooooooooh."

"Bahkan sekarang pun libur Obon biasanya berada di pertengahan Agustus kan? Hanya Tokyo dan kota bagian Kanagawa yang mendapat pengaruh pemerintahan paling tinggi yang menyelenggarakan Obon pada bulan Juli dalam kalender masehi, ketika dimana-mana menyelenggarakannya pada bulan Agustus yang menjadi bulan ketujuh dalam kalender bulan."

"... Kau terlihat sangat tau dengan hal-hal seperti ini?"

"Maou-san, kau tau tau banyak hal ya untuk seorang Raja Iblis?"

"Yeah aku menghabiskan tahun lalu untuk menyelidiki hal-hal seperti ini, tapi sepertinya ini menjadi trivia yang tidak berguna.. Huh?"

"Hm?"

"Ya?"

Maou dan Suzuno menyadari ada sesuatu dan menengok secara berlahan bersamaan.

"Apa? Chii.. Chii-chan?? Kapan kau...??"

"Chiho-dono sudah berapa lama kau ada disini?"

Dan dia disana, Chiho. Junior Maou di tempat kerja, murid SMA, dan satu-satunya orang Jepang yang tau tentang Ente Isla, berdiri disana dengan seragam sekolahnya.

Namun dia tidak membawa tas sekolahnya, tapi membawa kotak pendingin berwarna silver.

"Apa aku mengejutkan kalian?"

Chiho tersenyum.

"Aku memutuskan ingin membalasmu Suzuno-san..... Tapi yang aku dengar hanya dari saat kau memutuskan akan membuat kroket untuk makan malam."

"Ohh.. Be-begitu? Apa kau sudah pulang sekolah? Bukankah ini terlalu awal?"

"Kami baru saja menyelesaikan ujian kami, jadi kami pulang lebih awal."

Chiho menjawab dengan riang, kalau dipikir lagi dia bilang ada tes saat perayaan Tanabata, tapi dia tidak pernah membicarakan bagaimana nilainya, dia juga tidak mengurangi jam kerjanya. Dari semuanya, bahkan nilainya tidak terpengaruh oleh semua insiden yang melibatkan Ente Isla. Dia pasti punya mental baja.

Ketika Maou memikirkan hal itu, Chiho menghentikan pandangannya pada sepeda baru Maou.

"Ohh.. Kau beli sepeda baru?"

"Yeah, Suzuno merusak sepedaku yang lama."

Maou memukul-mukul sadel sepedanya.

"Si Raja Iblis bilang dia sudah menemukan sepeda yang dia inginkan, jadi aku membelikannya untuk menggantikan yang lama."

Suzuno menambahkan dengan nada yang terganggu. Dan dia mencoba mendapatkan ketenangannya kembali setelah terkejut tadi.

"Ngomong-ngomong kenapa kau ada disini, Chiho-dono?"

"Aku datang kesini untuk membeli apa yang kalian bicarakan tadi."

Chiho menunjuk diantara mereka berdua, menunjuk ke toko bunga yang mereka bicarakan sebelumnya.

"Ogara?"

"Yeah, aku disuruh oleh ibukku, aku juga ingin mampir ke tempatmu Maou-san."

Chiho memutar badannya, menunjukan pendingin yang ada di pundaknya.

"Kami mendapat banyak es krim dari kenalan ayahku, tapi orang tuaku tidak suka makanan manis, aku punya banyak jadi kupikir kau akan menyukainya."

"Es krim? Beneran? Apa tidak apa-apa?"

Mata Maou bersinar ketika melihat makanan dingin yang ada didepannya.

"Apaaa? Itu luar biasa, aku akan mengambilnya, terima kasih banyak."

"Baguslah, oke tapi tunggu sebentar, aku akan beli beberapa Ogara dulu."

Chiho pergi menuju toko bunga setelah melihat Maou melompat kegirangan.

Suzuno memperhatikan interaksi antara sang Raja Iblis dengan gadis SMA itu.

"... Apa mungkin memang tidak apa-apa membiarkannya?"

Dia menggumamkan pertanyaan sambil terlihat sedang benar-benar mempertimbangkannya.

xxxxx
Tangis bahagia bergema di seluruh kastil Raja Iblis, dimana panas dari musim panas benar-benar sangat kuat dan kipas angin pun telah melakukan yang terbaik untuk menghilangkan panasnya. Jadilah udara yang lembab.

"Es krim?"

"Es krim?"

Tanda-tanda kehidupan baru muncul kembali dari mata Alciel dan Lucifer. Penghuni kastil Raja Iblis dan dua iblis tertinggi yang melayani Raja Iblis Satan, saat mereka mendengar kata-kata Maou yang pulang bersama dengan Chiho.

"Ta-tapi bukankah ini kotak hadiah Haagen Desze premium? Apa kau yakin kami boleh memiliki ini?"

"Jangan khawatir, Ashiya-san, kami punya banyak seperti ini dirumah."

Chiho membalas, dan menyerahkan kotak beserta isinya pada Ashiya.

Shiro Ashiya, orang yang bertanggung jawab mengerjakan urusan rumah tangga dan finansial kastil Raja Iblis, melihat berseri-seri pada cahaya suci di belakang Chiho dan bersujud di hadapannya.

"Bagaimana kami bisa berterima kasih padamu dan orang tuamu Sasaki-san..?"

"Ayolah.. Kau terlalu membesar-besarkannya."

Chiho terkejut ketika Ashiya yang tinggi sampai bersujud dengan kecepatan yang luar biasa.

"Whoaa!! Ada banyak rasa! Ayo cepat kita makan! Ashiya! Cepat ambilkan sendoknya!"

"Urushihara... Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu kepada Chiho-chan sebelum itu?"

Kata Maou kepada Urushihara, yang tidak memperhatikan apapun selain es krim.

Lucifer yang memanggil dirinya Hanzo Urushihara dan menghabiskan waktunya bermalas-malasan di benteng Raja Iblis, sama sekali tidak memperhatikan omelan Maou.

"Tidak apa Maou-san, aku sudah tau kok, dia itu tipe orang seperti apa."

Chiho tertawa meskipun dia mengatakan sebuah hinaan.

Dalam insiden dimana dia tau identitas Maou dan yang lain, Chiho di sandera oleh Urushihara, yang menjadi musuh mereka pada waktu itu.

Setelah dia dikalahkan dan menyerah kepada Maou, dia menghabiskan waktunya didepan laptop dan sama sekali tidak membantu urusan rumah tangga. Oleh karena itu Chiho selalu bersikap dingin didepannya.

Maou tertawa kecil dan memegang pundak Chiho dengan lembut dengan harapan agar dia merasa lebih baik.

"Well, pokoknya aku sangat menghargainya"

"...uhh.. Emm.. Tidak.. Tidak masalah.."

Dalam seketika wajah Chiho berubah menjadi merah karena alasan lain selain panasnya cuaca.

Chiho telah mengungkapkan perasaanya pada Maou, tapi saat dia mengatakannya dia bilang tidak memerlukan jawaban dari Maou. Respon Maou dari penembakan itu masih menggantung.

Namun, dia mengerti kenapa Maou tidak menjawab dengan mudah. Jadi dia baik-baik saja meskipun penembakannya masih belum mendapat jawaban.

Tapi meskipun begitu, jantungnya selalu berdetak kencang saat Maou melakukan tindakan yang tidak terduga seperti sekarang ini.

"Uhh emm.. Benar. Suzuno-san. Kita juga harus memberinya juga... Huh?"

Chiho mencoba menyembunyikan wajah malunya dengan menggunakan Suzuno, yang pulang bersama mereka. Tapi dia tidak ditemukan dimana-mana, bahkan saat Chiho mengeluarkan kepalanya saja dari pintu dan melihat sekeliling.

"Dia langsung pergi lagi setelah kita sampai tadi."

"Be-Benarkah?"

"Strawberry, Green Tea, Mint.... Apa ini? Labu? Luar biasa!"

"Hey! Urushihara-san, kau harus menyisakan beberapa untuk Suzuno-san juga!"

Mendengar suara yang gembira dari Urushihara, Chiho langsung masuk kedalam dengan cepat.

"Apa? Kita harus menyisakan untuk Bell juga?"

Urushihara terlihat sangat kesal, Chiho menggembungkan pipinya dan mengambil beberapa eskrim yang dibawa Urushihara di lengannya.

"Kau tidak akan dapat apapun sampai kau mendengarkanku!! Berapa banyak yang akan kau makan? Kau akan sakit perut nanti."

"Jangan memperlakukanku seperti anak kecil, aku ratusan tahun lebih tua daripada kau!"

"Aku tidak peduli berapa lama kau telah hidup, kau itu masih anak-anak Urushihara-san! Bahkan anak SD pun lebih baik daripada kau!"

"Hey .. bisakah kalian berhenti berkelahi? Sudah cukup panas disini."

Maou mencoba menghentikan perkelahian mereka, mengambil kotak pendinginnya, dan menyerahkannya pada Ashiya.

"Ngomong-ngomong, ambil satu-satu dan taruh sisanya di dalam freezer. Sisakan rasa Vanila atau sejenisnya untuk Suzuno."

"Sesuatu permintaanmu tuan."

Ashiya mengambil pendingin itu dengan penuh tanggung jawab. Dia membungkuk kepada Chiho lagi dan mulai menaruh sisa eskrim ke freezer dengan rapi, satu demi satu.

"Apaaaaa?? Cuma satu?"

Masih memegang es krim rasa strowberry ditangannya, Urushihara menatap dengan rasa lapar ke arah es krim yang telah ditempatkan kedalam freezer.

"Kenapa kita harus menyisakan untuk Bell?? Dia musuh kita kan?"

"U-ru-shi-ha-ra-san?"

"Ap-apa Chiho Sasaki? Dia musuhmu juga kan? Dalam hal lain sih!"

Rasa malu Chiho yang hampir menghilang, datang kembali karena mendengar kata-kata Urushihara.

"Di-dia musuhku. Tapi dia juga temanku."

Dia menjawab dengan terbata-bata.

"Huh? Apa maksudnya itu?"

"Ini ya ini, itu ya itu!! Kau bahkan tidak mengerti itu! Itulah mengapa kau masih menjadi anak-anak, Urushihara-san!"

"Humph, tentu saja! Aku memang masih anak-anak, jadi aku tidak memahaminya. Aku tidak mengerti bagaimana seorang gadis bisa cemburu pada musuhnya."

Ketika Urushihara sedang bercekcok dengan Chiho, dia mengeluarkan erangannya seperti kepalanya tiba-tiba dipukul.

"Cukup Urushihara. Jika kau meneruskan tingkah lakumu terhadap Sasaki san, orang yang banyak membantu kita, aku akan mengambil kembali es krim strowberry mu dan memutus layanan internet."

Mata berkaca-kaca Urushihara melihat ke arah Ashiya yang mempunyai ekspresi seperti iblis jahat.

"Kau hanya tidur sepanjang hari, menghabiskan budget kita, dan tidak membantu apapun dalam pekerjaan rumah. Kau lebih buruk dari Crestia yang membawakan kita masakan suci. Bahkan jika surga mengizinkannya, aku tidak akan pernah mengizinkan tingkah kurang ajarmu terhadap Sasaki-san. Tanpa melihat siapa dia dan siapa kita ini, dia telah menunjukan kebaikan yang hebat kepada Raja Iblis kita dan juga dalam bantuannya terhadap kastil Raja Iblis ini."

Suami rumah tangga dari kastil Raja Iblis menyebabkan petir yang dahsyat ketika dia berdiri didepan Chiho untuk melindunginya.

Ashiya awalnya tidak nyaman dengan Chiho yang menjadi dekat dengan Maou, tapi semua itu sudah diatasi oleh Chiho dan masakan Ibu Chiho, dan kini dia mempunyai keyakinan teguh bahwa keluarga Sasaki adalah penyelamat mereka.

Melihat wajah Ashiya, Urushihara membuat wajah takut dan mundur selangkah kebelakang.

"O-oke.. Hmmpphh. Aku tidak percaya kau dan Maou bisa dijinakkan oleh seorang gadis SMA."

Dia menggerutu sambil memegangi kepalanya yang telah kena pukul, sementara tangan satunya masih memegangi es krim Strawberry dan duduk dengan kesal ditempat biasanya yaitu didepan meja laptop.

"Ke sini Sasaki-san, kau akan dapat sirkulasi udara yang bagus disini, dan silahkan tehnya."

Ashiya menyuruh Chiho untuk duduk didepan Kotatsu. Menaruh es krim dan secangkir teh di depannya, dan mengarahkan kipas angin supaya bisa menghembuskan angin kearahnya dengan lembut.

Kastil Raja Iblis yang baru, yang juga diketahui sebagai Villa Rosa Sasazuka, memang tidak mempunyai AC.

Dalam situasi seperti ini, si penyewa Maou harusnya memutuskan untuk memasang AC, dengan persetujuan dari pemilik kontrakan, Miki Shiba. Namun dia sedang liburan diluar negeri dan belum kembali untuk waktu yang lama.

Tidak seperti tahun lalu, semenjak Maou mempunyai pendapatan tetap, Mou mencoba menghubungi perusahaan yang mengurusi properti. Namun ternyata perusahaan tersebut tidak mempunyai kontrak untuk melakukan pengubahan pada properti tersebut.

Meskipun begitu, ketika perusahaan properti tersebut melakukan perbaikan lampu di area umum, mereka tidak melakukan layanan secara pribadi melainkan atas permintaan dari si pemilik kontrakan.

Dalam kasus ini, pemilik kontrakan Miki membiarkan orang-orang tersebut melakukan pembangunan antisipasi gempa dua bulan lalu.

Untuk memasang AC, diperlukan lubang di dinding untuk menghubungkan perangkat AC yang didalam dan diluar. Hal tersebut dikelompokkan sebagai "pengubahan pada properti".

Pemilik kontrakan sama sekali tidak mencoba menyembunyikan keberadaannya dengan liburan ke luar negeri. Secara berkala dia telah mengirimkan surat yang berisi keberadaanya dan apa yang dia lakukan.

Namun suratnya tiba beberapa minggu setelah dia mengirimkannya, yang artinya dia sudah pergi ke tempat lainnya. Oleh karena itu menggunakan surat untuk melacaknya sehingga mereka dapat menghubunginya adalah hal yang sia-sia.

Tapi Maou, Ashiya, dan Urushihara mengunci suratnya didalam kotak tanpa melihatnya. "Insiden Pakaian Renang" yang terjadi sesaat setelah Urushihara tiba di kontrakan masih meninggalkan luka di hati ketiga iblis tersebut.

Sampai beberapa saat yang lalu, mereka mengabaikan setiap surat yang datang hingga Suzuno pindah di sebelah kontrakan mereka. Suzuno yang tidak tau seperti apa pemilik kontrakannya, bertanya pada mereka "bagaimana jika ada surat yang isinya penting?" Oleh karena itu mereka membuka surat-surat terbaru beberapa hari yang lalu.

Kertas suratnya nyaman untuk disentuh dan di sulam menggunakan benang emas seperti biasanya. Tulisannya rapi seperti biasa, yang bisa diasumsikan ditulis menggunakan pena bulu ayam.

Pemilik kontrakan ternyata berada di Indonesia. Semenjak insiden pakaian renang yang dikirim saat di Hawaii, mereka takut sesuatu yang sama akan dikirim juga dari Bali. Namun surat nya menyebutkan kalau dia berpartisipasi dalam acara perayaan untuk roh leluhur dari suku Aborigin di pulau Borneo. Mereka tidak tau apa alasan dan motifnya.

Foto yang disertakan dalam surat berisi apa yang mereka ketahui sebagai suku Aborigin memakai pakaian adat yang berwarna-warni, dengan si pemilik kontrakan ada ditengah-tengah mereka. Dia memakai gaun tenun dengan perhiasan perak dam emas. Dia juga memakai topi lebar yang diatasnya ada lusinan bulu yang berdiri seperti merak yang warnanya mencolok. Diwajahnya penuh dengan make up tebal dan senyuman seperti biasanya.

Pada saat itu, Maou menyerah untuk menghubungi si pemilik kontrakan dan membiarkan semua berlalu apa adanya.

Mereka bisa bertahan musim panas tahun lalu tanpa AC, sekarang mereka punya Urushihara yang menghabiskan budget mereka.

Maou meyakinkan dirinya bahwa ini adalah tanda dari Dewa supaya dia tidak menghabiskan uang hanya karena punya gaji yang lebih besar. Dia tidak peduli apa ini benar seorang Raja Iblis membuat keputusan berdasarkan petunjuk dewa.

"Aku pikir disini akan sangat panas, tapi ternyata apartemen ini punya sirkulasi udara yang baik." Kata Chiho

"Yeah itu adalah salah satu kualitas yang didapatkan apartemen ini. Ini berada di pojok, jadi kita punya banyak jendela."

Untuk menghindari sinar matahari secara langsung jendelanya di tutupi dengan sekat bambu yang didapatkan dari Dokki Li Quijote, tempat asal Dullahan 1. Semua jendelanya terbuka supaya kipas angin bisa mensirkulasikan udara panas. Hal ini sangat memungkinkan karena Villa Sasazuka punya halaman kecil, dan tidak tertutupi oleh bangunan lain.

"Heeey, Maou apa kita benar-benar tidak akan membeli AC?"

Urushihara bertanya dengan malas dan menyedihkan, kontras sekali dengan Chiho yang menikmati semilir musim panas.

"Kan aku sudah bilang padamu, kita tidak bisa menghubungi sang pemilik kontrakan dan kita tidak punya biaya untuk pemasangannya. Aku tidak mau mati karena tagihan listrik dari sebuah unit AC."

"Uuuggghhh"

"Aku juga tidak terlalu suka AC."

Chiho juga menjawab, sambil menjilat es krim rasa anggurnya.

"Dikelasku juga punya AC, tapi seseorang selalu mengaturnya suhu yang terendah setelah pelajaran olahraga atau yang lainnya. Itu sangat dingiin!"

"Bahkan alat yang membuat hidup nyaman bisa membawa kerusakan tergantung pemakaiannya. Aku jadi merinding memikirkan berapa tagihan listrik untuk sekolah." Ashiya berbicara sambil memakan es krim green tea nya dan merasa simpati pada sesuatu yang sama sekali tidak relevan.

"Orang yang melakukan hal seperti itu, pasti sangat mengganggu. Jika kau menaikkan thermostat nya meskipun hanya sedikit mereka pasti akan berkata "uhh. Panas sekali, panas oi." Dan akhirnya menurunkannya kembali, iya kan?"

Maou menjawab dengan kerut di wajahnya. Sendok dimulutnya bergerak naik turun ketika dia berbicara. Dia sedang memakan es krim rasa Cookie Crunch nya.

"Yeah tepat sekali."

Chiho mengangguk tanda menyetujuinya.

"Mereka tidak berpikir kedepan. Atau lebih tepatnya mereka hanya ingin kepuasan instan tanpa peduli apa yang akan terjadi dalam jangka panjang. Dan mereka akan selalu menjadi orang yang rakus."

"Tepat sek... Tunggu? Apa?"

"Hm?"

"Maou-san bagaimana kau bisa tau hal itu?"

Chiho yang menyetujui dengan senyuman sebelumnya, bertanya kepada dengan rasa ingin tau.

"Maou-san kau tidak pernah masuk SMA Jepang kan?"

"Yah itu benar."

"Ketika aku mendengarkanmu, aku menyetujui semua yang kau katakan, seperti kita semua menglaminya, tapi aku sadar ada sesuatu yang sedikit aneh."

"Oh yeah. Kupikir juga begitu."

Maou memakan gigitan terakhir Cookie Crunch nya, dan menikmati rasanya. Dia bangun dan membuang bungkus eskrimnya ke tempat sampah. Dia lalu mengeluarkan napas panjang ketika dia bersandar di tempat cuci piring.

"Iblis sedikit lebih ekstrim ketika mereka ingin mendapatkan apa yang mereka mau, tapi iblis dan manusia tidaklah jauh berbeda jika menyangkut hal-hal seperti ini."

"......"

"Uhh.. Maaann.. Satu tidaklah cukup...."


Ashiya hanya diam dan mendengarkan Maou, tapi Urushihara entah mendengarkannya atau tidak. Dia menaruh cup es krip di sebelah meja laptopnya dan menatap freezer dengan rasa ingin tambah.

Dan tepat dimomen itu....

"Oh? Suzuno, dari mana kau? Chii-chan membawakanmu beberapa eskrim."

Maou melihat keluar melalui jendela yang terbuka untuk melihat Suzuno yang berjalan melewatinya, membawa sesuatu yang besar.

"Aku mengerti, kau mendapat rasa terimakasih ku. Setelah aku menyelesaikan urusanku, aku dengan senang hati akan menerima hadiahnya."

Mereka berbicara melalui lubang jendela. Suzuno terlihat membawa seikat kayu kecil.

"Hey untuk apa itu?"

"Hm? Ini hanya kayu kecil."

"Tidak, aku bisa melihatnya, maksudnya itu akan kau gunakan untuk apa?"

Alasan kenapa Maou bertanya bertubi-tubi karena Suzuno membawa seukuran besar Ogara di tangan satunya.

"Sebagai anggota dari gereja, aku tertarik dengan Obon, oleh karena itu aku ingin merasakannya sendiri."

"..... Dan??"

"Itu termasuk membuat ini..... Api selamat datang kan? Aku dengar arwah para leluhur kembali lewat asap dari api kedatangan ini."

Melihat kalau dugaannya benar, Maou menundukan kepalanya perlahan dan lalu memberikan tanda kepada Suzuno untuk masuk.

Suzuno mengerutkan dahinya tetapi tetap membuka pintu kastil raja iblis tanpa salam.

"Apa yang kau inginkan? Aku diberi tau kalau lebih baik melakukannya sebelum matahari terbenam. Jadi aku harus- owww"

Maou memukul kepala Suzuno untuk mencegahnya menyelesaikan perkataannya.

"Un-untuk apa kau memukulku?"

"Apa kau ingin mencoba membakar apartemen ini? Dilihat dari manapun, kau terlalu banyak membawa bahan bakarnya."

"Ke-kenapa kau? Kau pikir aku bodoh hanya karena aku dari Ente Isla kan?"

Suzuno, melepaskan diri dari pukulan Maou, melangkah kebelakang dengan marah saat dirinya merasa seperti terhina.

"Kau pikir aku akan membuat api dari semua ini? Kayu ini untuk membuat api unggun di halaman belakang. Satu-satunya benda yang akan terbakar hanya seikat ogara ini -ow Ha-hanya karena tanganku sedang repot semua, beraninya kau!"

Maou memukulnya untuk kedua kalinya.

"Itu bahkan lebih buruk. Tidak kah kau lihat Chii-chan hanya membeli satu ikat? Dan api unggun di halaman belakang? Berapa besar api selamat datang yang ingin kau buat? Ini bukanlah perkemahan."

Dibelakang Villa Rose Sasazuka, dibangun area kecil yang terapit oleh tembok pembatas. Dilihat dari area terbukanya itu cukup besar untuk disebut halaman belakang.

Sebuah pohon besar tumbuh dihalaman, yang mana jangkrik yang jumlahnya tidak dapat dipercaya datang bersamaan setiap musim panas dan melantunkan paduan suara sepanjang musim, meskipun mereka berada di tengah-tengah daerah perkotaan.

"Ayolah teman-teman, tenanglah! Suzuno-san, aku punya eskrim vanilla untukmu."

"Aku akan menerimanya dengan senang hati."

Dilihat dari kastil raja iblis yang tidak punya AC, kamar Suzuno pun juga tidak memilikinya. Suzuno menerima eskrim itu sebagai cara untuk menengahi konflik meskipun untuk alasan yang berbeda. Dia membawa gula sirup dan perisa kedelai dari kamarnya dan menambahkannya ke dalam eskrimnya. Setelah memakannya perlahan dan menikmati rasanya Suzuno bertanya untuk mengkonfirmasi sesuatu yang masih belum dia mengerti.

"Lalu bagaimana caranya aku membuat api selamat datang? Menurut penelitianku, para pendeta akan membuat tumpukan kayu atau membuat api unggun yang yang besar di kuil dan di kelilingi oleh jerami dipinggirnya."

Entah bagaimana dia bisa melakukan semua penelitian itu diwaktu yang sangat pendek dari saat mereka membeli sepeda, tapi yang dia jelaskan hanyalah upacara kuil Budha.

"Ashiya."

"Ya, yang mulia."

Maou menggerakkan jarinya, dan membuat Ashiya segera melakukan tugasnya. Dia membawa piring yang terbuat dari tanah liat, lilin, dan sebuah untaian koran yang di putar-putar untuk Maou.

"Kau bisa mendapatkan ini semua dari toko dengan harga 100-yen. Ada juga toko yang menjual barang pecah-belah yang bisa memberimu koran dengan gratis. Dan piring ini disebut Horoku."

Setelah mengatakan itu semua, Maou mengambil satu ikat Ogara yang dibawa Suzuno dan pergi keluar.

"Dan Ogara ini harganya hanya 90 yen jika kau membelinya ditempat Chii-chan membelinya. Meskipun kau membeli yang lebih mahal, harganya tidak akan lebih dari 200 yen."

Chiho dan Suzuno mengikuti Maou keluar ketika Maou berjalan menuruni tangga. Dan lalu dia menaruh Horoku dibawah pintu apartemen yang menghadap kejalan.

Lalu dia mulai mengambil Ogara dan mematahkan batang yang panjang menjadi batang yang lebih kecil.

Dari semua itu, ternyata hanya butuh 2-3 ikat Ogara untuk memenuhi Horoku. Maou menyerahkan sisa Ogara kepada Suzuno dan menyalakan api pada untaian koran dengan lilin.

Ketika dia menaruh koran yang terbakar dibawah Ogara, api menyebar dengan cepat dan asap mulai muncul.

"Begitulah!! Ini adalah cara paling sederhana untuk membuat api selamat datang?"

"..Apa?"

"Dan ngomong-ngomong kau akan menyalakan pendeteksi asap jika kau melakukannya didalam apartemen, jadi lakukan diluar. Ada pertanyaan?"

Mata Suzuno penuh dengan keraguan dan kecurigaan ketika dia melihat dari belakang api selamat datang dan Maou.

"Jangan konyol, api selamat datang dibuat untuk menuntun arwah para leluhur kan? Itu adalah upacara tahunan yang penting kan? Bagaimana bisa upacara seperti itu menjadi begitu sederhana dan biasa?"

"Kau boleh berkata apapun yang kau inginkan, tapi memang begitulah kenyataannya, ya kan?"

Maou tidak melihat ke Suzuno tapi ke Chiho untuk meminta konfirmasinya. Suzuno juga melihat ke Chiho berharap dia bilang kalau Maou salah. Namun....

"Itu memang terlihat biasa, tapi dia tidaklah salah. Sebenarnya lebih baik jika mendapatkan api dari lentera kertas Bon atau dari kuil keluargamu sendiri, tapi itu sulit dilakukan di area perkotaan. Juga kau dapat melakukan ini."

Chiho berjalan ke depan Horoku.

"Letakkan tanganmu bersamaan dan berdoalah agar para roh leluhur bisa kembali kesini dengan aman."

"Ha-hanya begitu saja?"

"Dan beberapa rumah yang punya altar Budha membuat kuda dari timun, sepertinya."

"Oh yaa, keluargaku melakukannya juga."

"Kuda yang terbuat dari timun? Apa-apaan itu?"

Suzuno menjadi panik dan bingung. Maou dan Chiho saling menatap satu sama lain dan tertawa sebelum melanjutkan.

"Ketika Obon telah selesai, kau juga harus membuat api untuk menuntun para roh itu kembali. Ketika mereka dalam perjalanan kesini dengan api selamat datang, kau membuat timun yang dibentuk seperti kuda agar mereka bisa kesini dengan cepat. Dan ketika kau ingin menuntun mereka kembali dengan api penghantaran, kau membuat terung yang dibentuk seperti sapi agar mereka kembali dengan perlahan."

Maou menjelaskan dengan serius sementara Chiho mengangguk tanda setuju. Melihat mereka berdua Suzuno menaruh tangan di keningnya dan mengerang.

"... Aku sudah melihat banyak sekali ritual keagamaan, tapi tidak pernah menemui upacara yang sederhana sekaligus rumit seperti ini."

"Well, dalam perayaan sesunggahnya, kau bisa melihat lilin yang berbaris dipinggir jalan dan api unggun besar seperti yang kau ingin lakukan tadi, tapi kebanyakan orang di area pedesaan yang melakukan ini. Bagi para pengikut Budha, mereka tidak melakukan ini, kau tidak bisa langsung menyalakan api dimana saja. Jika kau ingin melihat festival yang sebenarnya kenapa kau tidak pergi ke area pedesaan pada bulan Agustus.?"

"Maou-san kau tau banyak ya?"

Chiho melebarkan matanya dan mematung.

"Aku mencoba semuanya yang kemungkinan bisa memulihkan kekuatanku tahun lalu. Kupikir beberapa iblis akan melihat api selamat datang dan menjemputku."

Maou mengatakan kata-kata yang terkesan keliru mengenai upacara suci yang dimaksudkan untuk memanggil pulang arwah para leluhur.

"Tapi sepertinya arwah para leluhurku tidak ada dibumi, jadi, kupikir api selamat datang hanya akan terbuang sia-sia."

"Kau membuatnya terdengar seperti kau punya leluhur jika kau kembali ke dunia sana."

Maou merasa kesal dengan kata-kata Suzuno

"Kau pikir kami iblis lahir dari pohon atau semacamnya? Kami punya leluhur dan orang tua juga."

"Orang tua Maou-san...?"

Chiho tau identitas sebenarnya Maou, tapi sulit untuk membayangkan seperti apa orang tua dari raja iblis.

"Well, orang tua dan leluhurku sudah menjadi debu sejak dulu. Sejujurnya aku tidak benar-benar peduli apakah mereka kan mengikuti api selamat datang ku dan kembali?"

Namun, Chiho merasa sedih karena betapa biasanya Maou mengeluarkan kata-kata itu.

"Tolong... Jangan mengatakan sesuatu yang menyedihkan."

"Maksudku, meskipun kau bilang begitu, tidak ada satupun iblis yang baik, yang akan berduka cita atas leluhurnya, juga kita tidak tahu apa-apa mengenai mereka. Disamping itu aku bahkan tidak ingat orang tua ku."

"O-oh begitu?? Maaf.. Aku tidak bermaksud berkata seperti itu."

"Tidak, tidak... Akulah orang yang memulai membicarakan ini."

Maou melambaikan tangannya didepan wajahnya ketika Chiho menjadi sedih seperti bilang "jangan mengkhawatirkan aku" lalu berjalan menuju Horoku dan api selamat datang yang sepertinya mulai mengecil.

"Jangan lupa untuk mematikan api setelahnya. Secara tradisional kau mematikan api dengan cara menjatuhkan air dari daun teratai basah dan menaruh seember air hanya untuk jaga-jaga. Lalu abunya bisa kau pakai untuk pupuk tanaman atau buang di tempat sampah yang mudah terbakar."

"...Tidak ada rasa hormat dan keinginan untuk melakukan ini. Ini adalah puncak dari ketidakmampuan secara spiritual di Jepang modern."

"Kau seharusnya menghargai adat kemanapun kau pergi. Pikirkanlah dengan pikiran yang terbuka. Dan cepat ambil seember air, Suzuno."

Dan tepat setelah Maou mengatakan itu..

"Hey, Maou!!"

Urushihara menunjukan hanya kepalanya saja dari pintu dan memanggil Maou.

"Orang yang suka ikut campur datang!"

"Orang yang suka ikut campur?"

Maou menghadap ke arah lantai dua dan lalu.....


※※※


"Siapa orang yang suka ikut campur itu?"

Maou merasa ngeri setelah mendengar suara dibelakangnya.

Dia menoleh berlahan untuk mengetahui suara dingin dibelakangnya.

Dan yang berdiri di belakangnya adalah....

"Oh, hey Yusa-san!!"

"Oh Emilia! Oh ya, sudah waktunya ya?"

Pahlawan yang menyelamatkan Ente Isla, yang juga punya nama Emi Yusha, memberikan tatapan dingin.

Dia membawa payung ditangan kanannya, dan kantong kertas yang terlihat berat ditangan kirinya.

Mendorong Maou yang berwajah kaku kepinggir dengan pegangan payungnya, Emi melihat kearah tangga tepatnya ke Urushihara.

"Lucifer!! Bagaimana kau tau kalo aku akan datang? Apa kau menaruh alat pelacak padaku lagi?"

"Te-tentu saja tidak. Aku hanya melihatmu dengan kamera yang memperlihatkan keadaan di luar kamar. He-hey, dinginkan kepalamu, kami punya es krim. Eskrim!"

"Kau tau aku selalu bermaksud untuk melenyapkan kalian semua sekaligus kan?"

"A-aku tidak bohong, serius! Lihat ini!!"

Urushihara masuk kedalam sebentar dan kembali keluar dengan membawa satu cup eskrim dan webcam ditangannya.

"..."

Emi lebih melihat ke arah eskrim dari pada webcam nya untuk sesaat dan lalu mengalihkan pandangannya ke arah Chiho dan Suzuno.

"Hai, Chiho-chan, apa kau yang membawa eskrimnya?"

"Uh, yaa. Keluargaku mendapatkannya sebagai hadiah, tapi orang tuaku tidak suka yang manis-manis."

"...Sudah kuduga. Orang-orang ini tidak akan bisa membeli Haagen Dezse dengan uang mereka sendiri."

"Hey, tidakkah kau tau, tidak baik untuk menilai orang dari kekayaanya?"

Maou menyela setelah dengan diperlakukan dengan malang, tapi Emi mengabaikannya, dan mengeluarkan saputangan untuk mengipasi dirinya sendiri.

"Eskrim Haagen Dezse rasa mint hanya ada sebagai sebagai hadiah, mereka tidak akan menjualnya. Aku bisa melihat ekspresi gembiramu ketika menerima eskrim itu dari Chiho-chan. Jika iblis dari dunia sana melihatmu, mereka pasti menangis. Kau miskin dan tidak berguna, sebagai iblis sekaligus sebagai manusia."

"Maafkan aku Maou-san, tidak ada yang bisa kukatakan untuk membantahnya"

Chiho menunduk merasa bersalah.

"Apa kau datang kesini hanya untuk mengejek bagaimana miskinnya kami? Kau berada di apartemen dan tempat kerja dengan AC setiap hari, dasar pahlawan yang tidak mencintai lingkungan."

"Maafkan aku, tapi AC adalah fasilitas dari apartemen ku, itu akan sia-sia jika aku tidak menggunakannya. Disamping itu, itu adalah model baru, dengan mode penghemat energi, dan aku tidak pernah mengaturnya dibawah 28 derajat. Jadi kau tidak punya hak untuk mengkritikku."

"Sialan!! Menunjukan perbedaan taraf hidup diantara kita seperti itu!"

Emi mengabaikan Maou yang menghentakan kaki dengan frustasi, dan menghadap kearah Suzuno.

"Aku kesini sedikit lebih awal. Aku harap tidak apa-apa."

"Tidak apa-apa, terima kasih sudah datang. Aku akan segera mempersiapkan diriku, jadi tunggu sebentar ya."

Suzuno segera menaiki tangga setelah menjawab, namun...

"Tunggu, ambil ini!!"

Setelah berhenti, Suzuno dihadiahi sebuah kantong kertas besar.

Didalam kantong terdapat botol minuman energi yang ditandai dengan gambar Jendral yang membawa Elang. Maou dan Chiho tidak tau apa itu, tapi isi dari kantong itu tak dapat diduga ternyata adalah "Holy Vitamin Beta" pemulih energi spiritual yang Emi dapatkan dari rekannya di Ente Isla.

"Oohh.. Ini, yang itu kan?"

"Ya, minum dua botol perhari. Susah untuk mendapatkannya, jadi pergunakan dengan baik."

".. Kesepakatan curang macam apa yang kalian lakukan disana?"

Maou menyela ketika mereka berdua sedang melakukan pembicaraan yang tidak jelas tentang tas itu, lalu mereka melihat kearah Maou secara bersamaan.

"Berhati-hatilah, terutama ketika berada di sekitarnya."

"Tanpa kau bilang pun."

Maou menyela memperlihatkan giginya.

"Aku tidak ingat aku telah melakukan sesuatu yang keji, yang bisa membuatmu memperlakukan ku seperti seorang pencuri."

"Apa yang kau bicarakan? Kau bertanggung jawab atas beberapa pekerjaan yang sangat sangat keji." Emi menjawab dengan dingin

"Bagaimana bisa pekerjaan yang membuatku dipromosikan menjadi manager pengganti kurang dari setahun disebut keji?" Nada bicara Maou menjadi semakin kesal, namun...

"Maou-san, kupikir dia bukan membicarakan tentang pekerjaan itu." Chiho menambahkan dengan tenang.

"Yusa-san, Suzuno-san, kalian ingin pergi ke suatu tempat?"

"Yep, kami akan pergi untuk mencari peralatan rumah tangga dan ponsel."

"Peralatan rumah tangga dan ponsel?"

"Tepat. Keberadaan ku disini ternyata lebih panjang dari yang kupersiapkan, jadi aku harus membuat persiapan yang dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari disini. Lagipula, insiden sebelumnya membuatku sadar kalau metode investigasiku sudah kuno. Oleh karena itu aku ingin Emilia menemani ku di peristiwa dimana kekacauan bisa terjadi."

"Oh. Begitu."

Chiho senang karena salah satu temannya tidak akan pergi dalam waktu dekat ini. Tapi disisi lain, dia tidak bisa sepenuhnya senang ketika ada wanita yang akan tinggal tepat bersebelahan dengan Maou untuk waktu yang lama. Terutama setelah wanita itu berkata kalau Maou adalah musuh besarnya.

"Well, kita tidak perlu melakukan semua ini, aku hanya perlu mengalahkan raja iblis."

Emi menyeringai dan melihat ke arah Maou, seperti membaca pikiran Chiho.

Maou berkeringat dingin dan Chiho memikirkan sesaat kalau Emi sedang serius saat ini.

Akan tetapi...

"Well, aku mengatakan itu kemarin-kemarin tapi aku tidak bisa melakukannya. Dan disamping itu, memang lebih baik dia tinggal disini sampai kita punya solusi yang akan memuaskan kita semua, kan?"

"Y-yaa."

Chiho menjawab dengan suara monoton ketika dia tau Emi memang serius.

"Ahaha.. Maaf maaf, aku tidak akan melakukannya didepanmu Chiho-chan. Tapi yang ku khawatirkan jika kau tidak berada didepanku..."

Chiho akhirnya tersenyum, meskipun dengan gugup.

Itu semua tergantung dari hati sang raja iblis.

"Huummpph.. Kau tidak akan menemukan raja Iblis yang hemat, subyektif, dan pekerja keras dimana pun! Dan aku tidak bisa tidak peduli dengan transaksi kecil kalian! Jadi berhentilah khawatir dan enyah dari hadapanku!"

Maou mengusir Emi seperti anak kecil yang sedang merajuk.

"Apa kau tidak malu, diterima oleh musuh besarmu sebagai raja iblis yang hemat, subjektif, dan pekerja keras?"

"Aku bertujuan untuk menjadi raja iblis dengan daya tarik universal yang tidak akan mempermalukan siapapun."

"Yeah, jika Ente Isla melihatmu sekarang, mereka akan sepenuhnya merasa malu karena berjuang dengan keras melawan tentaramu."

Emi mengangkat bahunya acuh tak acuh.

"... Tapi apa yang kalian lakukan? Menyalakan api ketika sudah sepanas ini diluar."

Dia memiringkan kepalanya sambil melihat Ogara yang telah terbakar di dalam Horoku disebelah kakinya.

"Aku melihat asap ketika dalam perjalanan kesini, jadi kupikir ada sesuatu yang terbakar."

"Uuhhh.."

"Um..."

"Emilia apa kau benar-benar tidak tau apa ini?"

Kali ini Maou, Chiho, dan Suzuno yang saling melihat satu sama lain.

"Ayolah, jangan seperti itu. Inilah kenapa orang-orang bilang sesuatu seperti "anak muda zaman sekarang", kau tau?"

"Maaf, Yusa-san.. Aku tidak bisa membantahnya."

"Baiklah, aku akan mengajarimu untuk melakukannya nanti."

"Apa? .... Apa?"

Emi sama sekali tidak punya pertahanan karena pergantian posisi yang tiba-tiba ini dan tidak mengerti apa yang telah dia lewatkan. Tidak hanya Maou, bahkan Chiho dan Suzuno memberikan reaksi yang tidak terduga.

"Bagaimanapun juga Emilia, aku akan menerima ini dengan senang hati. Jika kau bersedia menunggu ku, aku akan siap dalam sesaat."

Suzuno mengambil kantong nya, berterima kasih kepada Emi, dan menaiki tangga.

Emi melihat Suzuno dan juga Ogara yang telah terbakar, masih tidak tau salahnya dimana. Chiho membuat senyum ambigu untuk mencairkan suasana canggung tersebut, potongan Ogara terakhir akhirnya sepenuhnya terbakar menyebabkan asap yang keluar darinya menghilang.

Tepat pada saat itu...

"Whaa?"

"Huh?"

"What?"

"Kyah!!"

"Wh-who-whoa!!"

Maou, Chiho, Emi, Suzuno, dan bahkan Urushihara yang hanya terlihat kepalanya saja, terkejut melihat suatu cahaya.

Cahaya itu bukanlah sinar matahari yang bersinar dari langit seperti sebuah pedang yang tajam, tapi lebih terlihat seperti cahaya ledakan dengan skala yang besar, yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana tepat diatas Ogara yang telah terbakar.

"Sial!"

Orang yang segera bergerak adalah Maou.

"Hyah!!"

Maou berteriak ketika dia memegang Chiho, orang yang paling dekat dengan Horoku dan berlari menjauhi sumber cahaya tersebut sambil membawa Chiho ke dekat pohon di halaman belakang.

Maou mengerang melihat cahaya tersebut lalu berteriak.

"Berpeganglah pada sesuatu, itu adalah gerbang!"

"!!"

"Apa yang kau katakan?"

Maou dan Suzuno bereaksi dengan cepat, menjatuhkan apapun yang mereka bawa, lalu berpegang pada pegangan tangga dengan kedua tangannya.

Kantong kertas yang dibawa Suzuno jatuh dari tangga ketika Suzuno melepaskan pegangannya dan membentur menimbulkan suara yang keras.

Sebagai pintu masuk ke dunia lain, gerbang dan segala perlengkapannya tergantung dari kekuatan si pengguna dan tujuan mereka membuatnya.

Dan lagi, sifat dari semua gerbang adalah terhubung, jika kapasitas dari gerbang tersebut mengizinkannya, apapun yang disentuhnya akan terhisap kedalamnya.

Dalam situasi yang tidak terduga ini, orang yang terancam bahaya paling besar adalah Chiho, yang mana tidak mempunyai kekuatan iblis ataupun kekuatan suci.

"Hey, gerbang apa itu? Masuk atau keluar?"

Maou berteriak, kedua tangannya memegangi Chiho.

"Ada sesuatu yang datang."

Suzuno menjawabnya, tapi tidak tau pasti apa yang datang.

Sebuah gerbang keluar, dengan kata lain, sesorang akan datang ke Jepang entah darimana melalui gerbang.

Setelah menyadari bahwa gerbang tersebut tidak akan menghisap apapun yang disekitarnya, Maou melepaskan Chiho dan berdiri didepannya. Menyipitkan matanya melihat cahaya tersebut.

".. Apa itu?"

Maou melihat bayangan besar dan bulat ditengah cahaya tersebut.

"I-itu tidak terlihat seperti manusia ataupun iblis."

Emi juga bisa melihat bayangan bulat tersebut.

Sesaat setelah bayangan itu muncul, cahaya tersebut tiba-tiba menghilang dengan cepat.

Lebih tepatnya, memang sangat silau karena matahari di tengah-tengah musim panas begini. Kilauan cahaya dari gerbang berhenti bersinar, dan detail dari bayangan tadi dapat terlihat.

"Itu adalah buah.... Lebih penting lagi."

"Itu sangat besar.."

Suzuno dan Emi yang berada lebih dekat dengan gerbang daripada Maou, bergerak mendekati cahaya itu perlahan.

Dan seperti kran air yang dimatikan, sisa-sisa cahaya dari gerbang menghilang dengan seketika.

Pada saat itu, sekitar mereka kembali menjadi seperti semula, matahari musim panas kembali menyinari halaman belakang Villa Rose Sasazuka.

Maou dan yang lainnya melihat kearah benda yang muncul tanpa alasan yang jelas diatas abu Ogara.

"Hey, hey, hey, hey, hey"

"Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak"

"Tidak, Oh maaan...!"

Daripada melihat kemisteriusan benda itu, benda itu terjatuh tepat diatas abu yang dihasilkan dari pembakaran Ogara yang dilakukan oleh 3 orang rakyat menangah kebawah itu.

Maou mengambil benda itu, Emi memindahkan Horoku dengan kakinya, lalu Suzuno mengeluarkan saputangannya dan membersihkan bagian yang kotor terkena abu.

Untungnya, Ogara telah terbakar sepenuhnya, sehingga tidak ada bekas buah itu rusak terkena suhu yang tinggi.

Dan ketika mereka bertiga mengeluarkan nafas lega...

"Matakuu... Matakuuuu...!"

Urushihara terlihat mendapat paparan sinar yang hebat dari cahaya tadi di matanya. Maou, Emi, dan Suzuno kembali tersadar setelah mendengar suara teriakan Urushihara.

Mereka bertiga saling menatap satu sama lain, lalu melihat ke arah benda yang dibawa Maou serta di bersihkan oleh Suzuno.

"Apa yang kau ocehkan, Urushihara?"

"Matakuuuu! Gah!!"

"Hey.. Berhenti bermalas-malasan disana!! Sesorang pasti akan menendang dan menjatuhkanmu."

"Ja-jangan katakan itu setelah kau menendangku."

"Itu salahmu sendiri berada di pintu....... Yang mulia, apa yang terjadi? Buah besar apa itu?"

Akan tetapi tiga orang yang berdiri dihalaman belakang tidak dapat menganalisa situasi dengan tenang sampai Ashiya bertanya pada mereka dari atas tangga."

Buah itu sangatlah besar, sampai-sampai Maou yang yang berbadan rata-rata pria menggunakan kedua lengannya untuk menahannya, terlihat seperti dia memeluk buah itu.

Itu adalah buah berbentuk seperti apel, berwarna emas, dan berat.

Jika mereka mengisi surat pengajuan untuk pemecahan rekor dunia, mereka kemungkinan besar akan memecahkan rekor sebelumnya dengan seketika, akan tetapi mereka bahkan tidak mempunyai niat untuk memakannya.

"Apakah ini..... benar-benar sebuah Apel??"

"Bisa juga... Ini pear, akan tetapi..."

"Tidak ada apel sebesar ini bahkan di dunia iblis sana. Jangan-jangan ini iblis berbentuk apel?"

Ada beberapa iblis yang menyamarkan diri mereka menjadi seperti tanaman. Akan tetapi biasanya mereka mengambil wujud manusia dan mengubah penampilan mereka menjadi sesuatu seperti pohon, dan iblis-iblis itu mempunyai wujud raksasa. Akan tetapi wujud apel bulat seperti itu tidak pernah terdengar.

"Jika saja ini datang kesini dengan alamat pengembalian seperti Sasuke Express."

Maou menggerutu, tidak tau apa yang harus dilakukannya terhadap buah itu.

Sebuah Gerbang tidak mungkin bisa terbuka dengan sendirinya, jadi pasti ada seseorang yang membukanya.

Tidak mungkin untuk mengetahui dalang dibalik semua ini sekarang, tapi situasi dapat berubah dengan drastis apakah buah itu dikirim kesini dengan sengaja atau tidak.

"Tunggu sebentar!"

Orang pertama yang mengubah pemikirannya adalah Emi.

"Sudah berapa kali insiden seperti ini terjadi disekitaran Pahlawan dan Raja iblis? Masalah dengan Sariel saja baru selesai satu minggu lebih yang lalu. Serius ini, tidak ada hal baik yang akan datang bila berada di sekitarmu."

"Aku bisa mengatakan hal yang sama persis mengenai dirimu."

Maou tidak bisa tinggal diam saja disebut seperti seorang pembuat masalah.

"Katakan itu pada dirimu sendiri!! Asal mula dari semua masalah kita selama ini adalah kalian, para manusia."

"Ugh..."

"Well, Um kami benar-benar menyesalinya."

Emi tidak bisa menemukan kata-kata yang bisa membalikkan perkataan Maou, sementara Suzuno menggumamkan permintaan maaf sambil menghindari kontak mata.

"Dan tidak peduli bagaimana kau melihatnya, tidak mungkin iblis bisa membuka gerbang yang mengeluarkan cahaya sebesar itu! Aku yakin itu pasti seseorang dari surga sana! Ini, ambil ini! Dinginkan di kulkasmu dan makanlah atau sejenisnya sana."

Maou menambahkan dan menyerahkan buah tersebut ke Emi yang mundur beberapa langkah karena terkejut.

"Tidak bisa!! Kami akan pergi ke kota untuk berbelanja, bagaimana mungkin kami membawa benda sebesar ini bersama kami."

"Seperti aku peduli saja dengan keberatanmu, kau adalah orang yang selalu menguntit kami kapanpun kau mau! Dasar pahlawan stalker!"

"Si-siapa yang kau panggil stalker? Siapa juga yang akan menghabiskan waktu mengawasimu jika kau bukan raja iblis? Dasar raja iblis miskin!"

"Di-diam, berdandan seperti itu di panas yang menyesakkan seperti ini, dasar pahlawan gadis kantoran!"

"Huummph! Setidaknya aku tidak memakai baju putih biasa, murah, dan luntur setiap harinya, dasar raja iblis penggila t-shirt!"

Saling mengejek terus terjadi dan entah bagaimana itu menjadi tidak benar ketika mereka terus mencoba menghina satu sama lain ataupun hanya sekedar mengatakan omong kosong mengenai gaya hidup masing-masing. Dan ditengah-tengah itu semua, akhirnya Maou mengucapkan kata-kata yang tidak bisa ditarik kembali.

"Sebuah bra olahraga putih biasa dan murah cukup bagus untukmu. Dasar pahlawan berbadan papan!"

Tiba tiba mata Emi yang terlihat lelah karena pertengkaran dan panasnya musim panas, bersinar memperlihatkan sebuah tatapan, tatapan niat jahat ingin bertarung.

"Ini dia! Aku akan memusnahkanmu disini, sekarang juga!"

"Huh... Tu-tu-tunggu Emi, seseorang akan melihat kita! Tidak ada pedang suci, kita bisa membicarakannya!"

"Aku tidak mendengar apapun alasanmu! Kekuatan ada untuk memusnahkan kejahatan."

Kekuatan suci yang mempunyai perwujudan aura berwarna emas muncul dari tangan kanannya, dan pedang sucinya, "Better Half" pun terbentuk.

Sebuah pedang yang dikenal juga sebagai pengembangan perak surga, yang dijaga oleh gereja sejak zaman dahulu, pedang suci pembasmi kejahatan yang bersemayam didalam tubuh sang pahlawan. Dan hanya dia yang bisa menggunakannya.

"Wh-wh-wh-who-whoa.. Apa kau serius, Emi?"

"Yang mulia!"

Setelah Emi menghunus pedang sucinya, Ashiya tidak bisa hanya duduk diam saja dan menyaksikan pertengkaran mereka seperti biasanya lalu mencoba berlari menuruni tangga, dan......

"Zwhaaaaaa!"

Karena dia keluar memakai sandal, dia kehilangan keseimbangannya dan jatuh dari tangga, mengeluarkan teriakan yang keras.

"Wow, kau benar benar bodoh, Ashiya."

Sementara itu, mata Urushihara yang sudah sembuh setelah terkena paparan cahaya. Berada didepan melihat semuanya dan lalu..

"Huh? Dimana Chiho Sasaki?"

Dia sadar Chiho sama sekali tidak ambil bagian dalam keributan tadi, dan mulai mencarinya disekitar. Tak berapa lama dia menemukan Chiho dalam keadaan linglung dibawah pohon yang dipenuhi jangkrik. Dia memiringkan kepalanya dalam keadaan bingung.

"Baiklah, kau mendapatkan izinku, musnahkan dia!"

Karena alasan yang tidak diketahui, Suzuno juga menatap Maou dengan wajah penuh kemarahan.

"Hey, jangan mengatakan sesuatu yang begitu mengganggu dengan mudahnya! Bantu aku keluar dari sini! Tunggu, kau berada di pihak Emi! Sialan!!"

"Raja Iblis, persiapkan dirimu!!"

Dia tidak bisa percaya ambisinya untuk menguasai dunia akan berakhir karena bra olahraga putih.

Apa yang terlintas dipikiran Maou bukanlah kilas balik dari seluruh kehidupannya, tetapi lebih ke sesuatu yang menggelikan, nyaris seperti penyesalan yang konyol.

Tanpa adanya kesempatan untuk menghindari serangan cepat dari Emi dan tidak adanya pilihan lain, Maou melindungi dirinya dari serangan pedang suci yang meluncur dari atasnya menggunakan buah apel itu. Meskipun dia tau itu sia-sia.

"Apa?"

Akan tetapi, tebasan pedang suci yang bisa membelah surga dan melenyapkan daratan, tidak terasa memotong tubuh Maou menjadi dua bagian, tak peduli berapa lama dia menunggunya.

Maou mengangkat kepalanya dengan perlahan dan penuh ketakutan, dan lalu.....

".... "

Dia melihat ke arah Emi, yang matanya terbuka lebar menatap pada buah apel diantara pedang sucinya dan Maou. Maou tidak tau apa yang terjadi dan juga tidak bisa bergerak dari tempatnya.

"Yang... Yang mulia... Ugh"

Telah pulih dari jatuh bebasnya, Ashiya melihat semua yang telah terjadi.

Rajanya yang menggunakan apel untuk melindungi dirinya. Crestia Bell dengan tangan menutupi wajahnya seperti terkejut akan sesuatu. Emilia yang mengayunkan pedangnya, dan...

"... Sebuah tangan?"

Yang Ashiya lihat adalah tangan yang keluar dari apel itu.

Kaki bayi manusia dan tangan muncul dari apel besar bulat itu.

"Wha.."

"Wha.."

"Apa-apaan ini?"

Ashiya dan Suzuno terkejut, dan Emi berteriak.

Jika memang itu adalah tangan yang keluar dari apel, hal tersebut pasti menjadi sesuatu yang mengejutkan, akan tetapi kalau memang seperti itu, itu berarti benda ini adalah iblis berwujud tumbuhan.

Akan tetapi masalahnya adalah tangan bayi ini menghentikan tebasan pedang Suci Emi tepat pada jalur tebasannya. Ini bukan berarti Emi menahannya atau ragu-ragu akan tebasannya.

Emi memang bermaksud membelah Maou menjadi dua bagian dari kepala sampai ujung kaki bersamaan dengan apel itu dalam satu serangan. Karena dia dalam keadaan marah, dia tidak yakin dengan apa yang terjadi, tapi kekuatan pedangnya seharusnya membelah apel itu menjadi dua.

Emi mundur beberapa langkah kebelakang karena terkejut, dan disaat yang sama Suzuno mengeluarkan jepit rambutnya yang terpasang dirambutnya.

"Materialization War Art : Iron Light!"

Dengan perintah Suzuno, Jepit rambut bening berbentuk tanda silang menjadi sangat besar, jepit tersebut menjadi sebuah palu, palu suci. Suzuno dan Emi keduanya mempersiapkan diri mereka melawan musuh yang tidak diketahui.

Ashiya akhirnya berdiri, dan berpikir langkah apa yang sebaiknya diambil.

Namun, bahkan sebagai mantan pemimpin pasukan invasi benua timur Ente Isla, sekaligus sebagai pasukan Iblis paling cerdik, dia sama sekali tidak punya pengalaman yang memadai untuk mempersiapkan dirinya dalam situasi yang melibatkan pedang suci Sang Pahlawan, dan sebuah apel yang tumbuh berada diatas sang Raja Iblis.

Suzuno mengeluarkan senjatanya, tapi dia juga tidak tau apa yang harus dilakukan, dia menahan senjatanya dan tidak bergerak sedikitpun.

"... A-apa? Apa yang terjadi?"

Maou tidak bisa melihat bagian atas apel itu, tapi dia melihat sekelilingnya dengan takut dan bingung, sementara apel tersebut masih berada di tangannya.

"Ma-Maou?"

Orang yang memecahkan keheningan adalah Urushihara yang melihat semuanya dari tangga.

"Un-untuk sekarang kenapa tidak kau turunkan apel itu?"

"Menurunkan..? Apa? Apa-apaan ini?"

Maou menurunkan apel tersebut seperti yang di sarankan Urushihara, tapi setelah melihat tangan yang keluar dari apel tersebut dan bergerak-gerak seperti meminta sesuatu, Maou melemparkannya ke tanah karena terkejut.

"Whoa!"

Mengubah sikap mereka dari reaksi naluriah untuk menyerang musuh yang tidak diketahui, orang-orang itu berteriak-teriak sambil memandangi apel yang menggelinding.

"Wh-whaa??"

Emi yang berada tepat di arah Maou melemparkan apel itu melompat dengan gerakan yang berlebihan.

Akan tetapi, Apel tersebut mulai menggelinding ke arah Emi dengan kecepatan jauh melebihi tekanan yang diberikan Maou saat melemparkannya.

"Whaaaaaa?? Apa-apaan benda ini?"

Dengan memutar tangannya seperti baling-baling, apel itu mengejar Emi yang berlari di sekitaran halaman, Maou dan Suzuno tidak tau apa yang harus dilakukan, jadi mereka hanya berdiri disana dan melihat situasi yang aneh itu.

Kemungkinan karena kehilangan momentumnya, apel itu berada tengah halaman yang tersisa, seperti tikus yang telah dipojokkan oleh kucing, Emi bersandar pada dinding yang mengelilingi halaman dengan ngos-ngosan.

Namun, apel itu belum menyerah, kemudian dia mengulurkan kedua tangannya kearah Emi seperti ingin menggapainya, dan melambaikan tangannya keatas dan kebawah.

"He-hey, tidak peduli bagaimana kau melihatnya, benda itu menginginkanmu Emi."

"Whezeee... Apa? Aku tidak menginkankan benda seperti itu."

Meskipun keinginannya untuk membunuh Maou telah menghilang, dia hanya bisa melihat dalam kebingungan dengan situasi yang konyol ini. Dia berulang-ulang memandangi pedang suci yang berada ditangannya dan tangan yang terulur kearahnya.

Tangan yang keluar dari apel yang telah menghentikan pedang suci yang diayunkan dengan seluruh kekuatannya. Untuk lebih tepatnya itu dihentikan oleh semacam kekuatan yang melindunginya, seperti ketika air menabrak telapak tangan yang terbuka.

Emi mulai berpikir, akhir-akhir ini orang ataupun benda yang tidak bisa diserang oleh pedang suci semakin bertambah. Jika pedang suci tidak berpengaruh pada apel itu, kemungkinan apel itu berkaitan dengan surga, seperti Sariel yang datang untuk mencuri pedang suci.

Setelah mencapai kesimpulan pemikirannya, Emi mengembalikan pedang suci tersebut kedalam tubuhnya sebagai tindakan pencegahan.

Perubahan selanjutnya terjadi tepat setelahnya.

Seketika saat Emi menyembunyikan pedangnya, tangan yang melambai keatas dan kebawah tersebut menjadi lemas seperti kehilangan semua kekuatannya.

Saat melihat sesuatu seperti boneka yang tiba-tiba benangnya dipotong, Emi gemetar dan mengeluarkan teriakan kecil.

"Whaa.. Benda apa ini?"

Perubahannya mirip seperti apel yang dikupas.

Kulit kuningnya terkelupas seperti sebuah ikat pinggang.

Itu nampak seperti kulit luarnya adalah cangkang yang mengeras, yang melindungi apapun yang berada didalamnya. Dan dibawahnya terdapat ruang kosong.




Ketika semua orang kecuali Chiho menyaksikan hal tersebut, apel tersebut kemudian...

".... Apshooo!!"

...menjadi seorang bayi perempuan dan mengeluarkan bersin yang terdengar polos yang menggema di seluruh Villa Rose Sasazuka.

"..."

"..."

"..."

"....."

"...."

Semua orang hanya berdiri diam disana sambil melihat pemandangan yang aneh itu, sebuah perkembangan situasi yang tidak terduga. Mereka bahkan tidak melihat satu sama lain, saat mata mereka terpaku pada bayi yang keluar dari apel tersebut.

".... Apshoo!"

Sebagai respon dari bersin yang kedua kalinya, kulit yang telah terkelupas melayang di udara sekali lagi dan perlahan bentuknya mulai berubah, dan akhirnya berubah menjadi gaun one-piece berwarna kuning terlihat seperti memang itu adalah wujud aslinya.

"Huh?"

Dalam waktu yang singkat saat terbentuknya gaun itu, sebuah tanda muncul pada dahi gadis kecil itu, tapi hanya Maou yang melihatnya, tanda tersebut berwarna ungu berbentuk bulan sabit.


"Ooh"

Akan tetapi, tanda itu menghilang seketika.

Untuk sesaat gadis kecil itu menepuk dahinya ditempat dimana tanda tadi muncul, lalu mengepalkan tangannya yang ia gunakan untuk mengehentikan tebasan pedang suci, lalu mengerutkan dahinya dan mengusap-usap matanya dengan lelah.

Setelah membuat sedikit jarak, dia memiringkan posisinya ditanah.

"...spuuuu.."

Dan tertidur.

Penguasa dunia iblis, sang raja Iblis. Sang pahlawan yang mempunyai darah malaikat yang mengalir di nadinya. Jendral pasukan iblis yang perkasa. Anggota kependataan dari gereja Divine Creed. Dan malaikat yang terbuang.

Tidak ada dari orang-orang ini yang tanah kelahirannya adalah dunia lain sana dapat bereaksi dengan apa yang barusan terjadi di depan mereka.

"H-hey!"

Orang yang pertama sadar adalah Maou.

"A-a-ap-appp-apaa in...?"

Namun, dia tidak bisa menghilangkan kebingungannya, dan tidak bisa bicara dengan jelas.

"Bag-bagaimana a-aku bisa tau?"

Hal yang serupa dikatakan oleh Emi.

"Maou!"

Suara peringatan datang dari Urushihara, yang mempunyai sudut penglihatan paling tinggi.

Suzuno dan Ashiya terhentak dan melihat ke arah Urushihara layaknya suaranya adalah sebuah sambaran petir.

Urushihara melihat kearah jalan yang menuju Sasazuka Station.

"Ini buruk! Ada orang yang datang."

Kata-katanya seketika membuat semuanya tersadar.

Dengan kata lain, tanpa menghiraukan siapa gadis kecil ini atau apakah cahaya dari gerbang tadi terlihat atau tidak, mereka tidak boleh menarik lebih banyak perhatian lagi.

"H-hey Emi!!"

"Ap-apa?"

"G-ga-gadis ini? Dia gadis kan? Jadi bawa dia menuju tangga."

"Ke-kenapa harus aku?"

"D-dia adalah seorang gadis, jadi seorang gadis seperti kau yang seharusnya membawanya! Aku tidak pernah menggendong bayi manusia."

"A-aku juga tidak pernah! Well, aku memang pernah menggondang bayi sebelumnya, tapi tidak pernah menggendong bayi yang tertidur seperti ini."

"Ugh! Kalian berdua sangat menyedihkan! Raja Iblis bahkan sang Pahlawan."

Satu-satunya orang yang bertindak adalah Suzuno.

Mengabaikan orang-orang yang masih terkejut itu, yang memperlakukan gadis yang sedang tertidur dengan damai seperti sebuah benda yang aneh, Suzuno menggendongnya dengan lembut tanpa membangunkannya, nampak seperti dia sudah sering melakukannya.

"Ohh.. Mengagumkan."

"Kami para pendeta belajar bagaimana mengurusi bayi-bayi dari upacara pembaptisan! Alciel! Aku akan membawanya ke kastil raja iblis, siapkan Futonnya! Futon!"

"Ja-jangan memerintahku Crestia! Owwwwwww..."

Meskipun membantahnya, Ashiya mengangkat tubuhnya yang kesakitan dan berjalan menuju tangga.

Suzuno mengikutinya, kemudian melepaskan sandal tradisionalnya dan lalu menaiki tangga yang berdebu hanya menggunakan kaos kaki putih tradisionalnya.

"Hey Emi, kau kesini juga, Suzuno, kenapa kau melepas sandalmu? bawa mereka bersamamu!"

"Jadi begitu, dia tidak ingin tersandung! Hey tunggu! Bell!! Ini, tasnya!!"

Emi memunguti barang-barang miliknya dan milik Suzuno yang mereka jatuhkan saat gerbang terbuka dan lalu mengikuti yang lainnya menaiki tangga, menuju ke pintu.

"Tunggu dulu! Chii-chan? Dimana Chii-chan? Aku tidak melih..... Huh?"

Maou sadar dia tidak melihat Chiho dimanapun ditengah-tengah kejadian supranatural tadi. Perasaan tak menyenangkan kalau saja Chiho terpengaruh oleh semburan cahaya dari gerbang tadi, sebab dia tidak mempunyai kekuatan menghadapi kekuatan iblis, ataupun kekuatan suci terlintas dipikiran Maou.

Namun, setelah melihat lebih dekat, pipinya tersipu dan senyum bahagia terbentuk di wajahnya, dengan ekspresi seperti dia telah mengalami mimpi yang indah.

"He-hey Chii-chan!"

"....melukku..."

Dia tidak bisa tau apa yang terjadi pada Chiho, jadi dia mendekat.

"....memelukku, Maou-san memelukku. Ehehe, memelukku."

Dia membisikan kata-kata tersebut dengan senyum bahagia tergambar diwajahnya dan menutupi mulutnya dengan tangannya.

"....uhhhhh..."

Maou mengeluarkan desahan kecil sambil mengerutkan dahinya sedikit, dan kemudian...

"Hoi!"

"Kyah!"

Dia membuat teriakan pendek sambil menepukkan tangannya tepat didepan wajah Chiho.

Suara tersebut membawa Chiho kembali ke dirinya semula dan dia melihat ke sekelilingnya dengan cepat.

"Ada orang disana? Chii-chan!"

"Hyah!! Ma-Maou san! Anu, a-akuu..."

"Tidak apa-apa! Maaf, tapi sekarang bukan waktunya, kita harus segera kembali ke benteng raja iblis."

"Huh? Wha-wha-wha! Ma-Maou-san! Tangan! Tanganku..."

Tanpa memberi waktu yang cukup bagi Chiho agar pulih dari kebingungannya, dia menarik tangan Chiho menuju tangga.

Ketika semua kejadian tadi sudah mereka ceritakan dan mereka sudah kembali ke benteng raja iblis, mereka kemudian merasa sangat lelah karena suatu alasan.

※※※

Sekelompok orang dari dunia lain sana dan seorang gadis remaja SMA, wajahnya tepaku pada eskrim dalam keheningan disamping gadis apel yang tidur dengan nyenyak diatas tempat tidur yang Ashiya siapkan.

Untuk lebih detailnya lagi, Chiho tidak terlalu banyak makan eskrim nya, tapi lima orang lainnya terus memakan eskrimnya seperti ingin lari dari kenyataan.

Emi lah yang pertama kali menghabiskan eskrimnya, dan,

"... Oke, kami akan pergi sekarang."

"Heii, berhenti disana!"

Emi berdiri dan mencoba melarikan diri, tapi Maou menghentikannya dengan memegangi kakinya.

"Heiii! Jangan pegang kakiku!"

Emi mencoba melepaskannya, tetapi....

"Sshhhhhhhhhh!! Kau akan membangunkannya Emilia!"

Suzuno meletakkan jari telunjuknya di bibirnya dan berbisik!

Emi memasang ekapresi masam dan merendahkan kakinya, kemudian..

"Bell dan aku, tidak ada yang bisa kami lakukan mengenai ini! Kau lakukanlah sesuatu!"

"Yang benar saja! Bagaimanapun kau melihatnya, dia ini datang untuk mencarimu."

Merang saling beradu argumen dengan bisik-bisik.

Apel tersebut tak diragukan lagi mengejar Emi, dan mengulurkan tangannya kearah Emi sebelum berubah menjadi sesosok bayi perempuan. Apakah itu karena benda tersebut bereaksi terhadap pedang sucinya ataukah karena hanya kebetulan Emi berada di arah yang sama dengan saat bayi tersebut mengulurkan tangannya masihlah belum jelas. Akan tetapi melihat dari waktu kemunculannya yaitu tepat saat Emi mengeluarkan pedangnya, kemungkinan yang pertamalah yang paling masuk akal.

"Kau bawalah dia, atau setidaknya tetaplah disini sampai kita tau apa yang terjadi."

"Tidak bisa! Jika aku melakukan hal seperti ini, maka tidak diragukan lagi aku tidak akan mendapat apa-apa kecuali masalah! Aku akan pergi dari sini saat aku masih bisa!"

"... Genggam... Tanganku....."

Disamping Maou dan Emi yang berdabat, Chiho masih menjaga jarak dari mereka.

"Seharusnya aku mengatakan ini dari dulu, tapi aku lelah selalu terlibat dalam semua masalahmu."

"Apa? Jadi kau ingin bilang kalau kau yang menyelesaikan semua masalahku?"

"Yeah benar! Aku bilang seharusnya kau belajar cara menyelesaikan masalahmu."

"Ew! Jika aku bisa, aku akan melakukannya! Tapi aku tidak ada hubungannya dengan ini semua. Ini bukan tanggung jawabku."

"Ayolah!! Kau...."

"Tenanglah!! Dia bisa terbangun nanti!"

Ashiya mencoba memperingati mereka dengan bisik-bisik, tapi suara mereka masih tetap tinggi saat mereka saling melempar tanggung jawab.

"Meng-menggenggamku... Tangan Maou-san.. Sangat besar.."

"Apa yang terjadi pada Chiho-dono?"

"Dia sudah menjadi seperti ini sejak tadi."

"Diam Lucifer! Aku tidak bertanya padamu.

Suzuno melihat semuanya disamping Ashiya yang mencoba menenangkan mereka, akan tetapi itu adalah hal sia-sia. Dan lalu dia terlihat mengeluh sambil menaruh tangannya di keningnya.

"Bukankah ini terjadi karena kau membuat api unggun yang aneh? Kau pasti telah memanggilnya. Sama seperti saat Tanabata dulu"

"Bagaimana aku bisa tahu? Dan disamping itu apa maksudmu saat Tanabata dulu? Jangan mengkritikku ketika kau bahkan tak tau apa itu api selamat datang! Itu adalah ritual khas Jepang dan tidak ada hubungannya dengan kami."

"Lihat!! Itu kau yang memanggilnya! Sisa-sisa kekuatan iblismu pasti tercampur dengan ritual Jepang lagi! Jika kau yang memanggilnya, maka kau harus bertanggung jawab!"

"Apa maksudmu dengan "sisa-sisa"? Sebut itu "strategi cadangan"! Kau berhentilah mengeluh dan bantu untuk memecahkan masalah sekali-kali."

"Apa? Kau membuatnya terdengar seperti aku tidak pernah melakukan apa-apa!"

"Tapi kau memang selalu saja mengikuti arus dan tidak pernah melakukan apapun!"

"Apa kau bilang?"

"Ayolahh!!"

"Sudah kukatakan pada kalian berdua, tenanglah!"

Mengarahkannya kepada kepala Raja Iblis dan sang Pahlawan, yang telah kehilangan akal sehatnya karena debat kekanakan mereka, Suzuno menjatuhkan palu yang dikeluarkannya.

Ashiya maupun Urushihara keduanya tidak mencoba menghentikannya.

"Uh.. Um.. Maaf!"

"Tidak! Tunggu! Kau pasti bercan- ow!"

Palu tersebut hanya mengenai Maou yang lebih tinggi daripada Emi.

Suzuno sedikit menahannya dan tidak memberikan kekuatan apapun dalam pukulan itu! Akan tetapi bahkan palu biasa pun yang dipukulkan ke kepala bisa menyebabkan luka. Maou hampir menangis karena kesakitan dan menatap tajam kearah Suzuno, akan tetapi...

"Ouuu.. Afu.."

Sebuah uapan kecil dengan suara yang putus-putus, menghentikan semua orang dari kesibukan mereka.

Gadis apel itu terduduk dan menggosok-gosok matanya sambil menguap. Setelah menggosok-gosok matanya dia melihat ke sekitar dan berhenti ketika melihat Maou.

"He-hey!"

Maou mencoba berbicara dengan gadis bermata bosan itu.

"Ouu?"

Maou tidak tau apakah dia bisa mengerti perkatannya atau tidak. Tapi sepertinya, setidaknya gadis itu tau kalau Maou mencoba berbicara dengannya.

".... Celamah pagii.."

Akan tetapi, diluar dugaan dia berbicara tidak dengan menggunakan telepati, seperti saat Maou dan Emi baru saja sampai di Jepang. Tetapi menggunakan bahasa Jepang biasa.

"Ka-kau bisa bicara bahasa Jepang?"

Maou tidak tahu bagaimana bisa gadis misterius yang datang melewati gerbang bisa berbicara bahasa Jepang. Maou bergerak perlahan agar tidak menakutinya, dan menanyakan ke gadis itu pertanyaan tadi.

"... Cedikit.."

"Sedikit?? Oke, begitu ya?"

Maou mengangguk dengan canggung dan melihat ke sekitar untuk mencari bantuan dari yang lain, akan tetapi Emi, Suzuno, Ashiya dan Urushihara hanya mempertahankan ekspresi diam mereka yang mengatakan kepada Maou untuk melanjutkan.

"Um.. Sebenarnya kau ini apa?

"Fu?"

Gadis itu menatap balik Maou dengan mata yang besar dan kosong sepertinya dia tidak paham dengan pertanyaanya.

Maou mencoba menenangkan dirinya kembali setelah menyadari kesalahannya.

"Maksudku, um, nama, yeah, siapa namamu?"

Maou memberikan ekspresi seperti saat dia bekerja dan bertanya seolah-olah gadis itu adalah pelanggannya.

Kali ini gadis itu mengeluarkan ekspresi yang menunjukan kalau dia paham dengan pertanyaannya, lalu menguap kecil lagi dan menjawab.

"Alas Ramus."

"Alas Ramus?"

"Mmh.. Alas Ramus.. Apshoo!!"

Kali ini, sebuah bersin. Seolah hal tersebut membangunkannya sepenuhnya, dia membuka matanya yang setengah tertutup dan mulai melihat kesekeliling dengan cepat.

"Wah!!"

Urushihara melompat dengan perubahan tiba-tiba dari gadis itu. Tapi Maou yang terbiasa dengan perubahan tingkah secara tiba-tiba dari anak kecil, dapat mempertahankan ketenangannya.

Karena hal tersebut, Maou mempunyai kekuatan mental sehingga dia bisa mengamati gadis kecil yang memanggil dirinya Alas Ramus tersebut.

Dari sudut pandang manusia, dia sepertinya berusia satu atau dua tahun. Rambut berwarna silver luar biasa yang dimilikinya hampir bisa memantulkan sinar matahari, tapi sedikit bagian rambutnya berwarna violet, sama seperti matanya.

Maou yang merasa terganggu oleh sesuatu melihat ke arah dahi gadis itu untuk sesaat tapi tidak ada apa-apa disana. Mengesampingkan hal tersebut Maou melanjutkan pertanyaannya.

"Alas Ramus, dari mana kamu berasal?"

"Ah, yaa... Od?"

Setelah mengalami sedikit kesulitan untuk mencerna pertanyaannya, gadis itu memberi jawaban tidak pasti yang terdengar seperti sebuah kata.

"Ya..? Bukan, aku tidak bertanya ya atau tidak, aku bertanya dimana rumahmu?"

"Rumah.. Rumah? Aku tidak tau.."

"Be-begitu ya..."

Maou memikirkan pertanyaan selanjutnya yang akan ditanyakan dengan hati-hati.

"... Apa kau punya ayah dan ibu?"

"Ma? Fa?"

Mungkin kata-katanya terlalu panjang, atau mungkin dia tidak memahami kata-katanya. Alas Ramus menggelengkan kepalanya seperti dia sedang kebingungan.

"Aku hanya ingin kau cerita padaku tentang ayah dan ibumu, Alas Ramus."

Dia memanglah misterius, tapi penampilannya masihlah anak kecil. Jadi masuk akal saja jika menanyainya tentang kedua orang tuanya, selama jawabannya.....

"Daddy adalah..... Satan"

Bukan sesuatu yang seperti itu.

Mata setiap orang tertuju pada Maou.

"Begitu ya... Jadi ayahmu adalah Satan.. Huh?"

Sadar akan maksud dari jawaban Alas Ramus, Maou menoleh dan melihat ke semuanya.

"Tunggu... Aku?"

"Dia...."

"Sepenuhnya bilang...."

"Ayahnya adalah Satan...."

"Benar kan...???"

"Ma-Maou san..."

Chiho, yang dari tadi seperti berada dalam mimpi yang indah setelah mendengar hal tersebut langsung tersadar dan mulai menginterogasi Maou.

"Ma-Ma-Maou san kau punya anak?"

"Tu-tu-tunggu sebentar Chii-chan!"

"Ap-Apa kau benar-benar punya istri atau anak ketika kau menjadi raja Iblis?"

"Tidak! Tenanglah!! Aku tidak punya satupun!"

"Yang mulia, apa yang kau katakan itu benar?"

"Hey, Ashiya, kenapa kau berada dipihaknya?"

"Jika kau punya anak, berita ini pasti akan mengguncang dunia iblis! Sebagai pewarias masa depan dia membutuhkan pembelajaran khusus. Pembelajaran terbaik yang bisa kita berikan! Kenapa kau terus menyembunyikannya selama ini, sampai dia tumbuh sebesar ini, yang mulia?"

"Tunggu! Kenapa kau sudah menganggap dia sebagai anaku?"

"Be-benar juga!! Siapa iblis yang menjadi istri rahasiamu? Kebanyakan dari pasukan iblis kita adalah iblis laki-laki. Apakah ini sebelum kita meginvasi Ente Isla?"

"Sudah kubilang, dia bukan anakku? ... Huh?"

Ketika Maou terjepit oleh interogasi dari Chiho dan Ashiya, Alas Ramus mencoba keluar dari tempat tidurnya.

"Oof, umf!"

Meletakkan tangan kecilnya di Tatami, mengambil sebuah pijakan dengan tidak mudah, dan membuat ekspresi penuh tekad di wajah polosnya ketika dia mencoba perlahan berdiri.

Dari kejadian tersebut, mereka menganggap kalau gadis itu berada di usia dimana dia sudah bisa berdiri, tapi tentu saja ada sedikit kekhawatiran dari mereka untuk sesaat.

Alas Ramus mencoba sekuat tenaga, mengayunkan tangan dan kakinya untuk mempersempit  jarak setengah tatakan tatami agar bisa mencapai Maou.

Melihat pemandangan yang sangat manis tersebut, wajah semua orang seperti melembut untuk sesaat, tetapi ditengah-tengah situasi yang yang menegangkan tersebut, Alas Ramus meraih tangan Maou dan kemudian menghembuskan napas melalui lubang hidungnya seperti sedang mengendusnya.

".... Daddy!!"

Dengan senyum yang terbentuk di seluruh wajahnya Alas Ramus memeluk Maou.

Atmosfir udara pada saat momen tersebut, sangat sulit untuk dijelaskan.

Wajah Chiho dan Ashiya berkedut dan mulut mereka terbuka dan menutup dengan hening seperti ikan emas sedang mencoba menghirup oksigen. Urushihara mundur ke pojok ruangan untuk melarikan diri dari segala kemungkinan yang bisa menyebabkan dia terluka. Emi dan  Suzuno hanya berdiri diam, tidak tau apa yang harus dilakukan. Dan tentu saja, yang lebih mengkhawatirkan dari mereka semua adalah Maou, yang baru saja menjadi seorang ayah.

"Tu-tunggu!! Bagaimana bisa kau memutuskan kalau aku adalah ayahmu?"

"Daddy!!"

"Ayolah, berhenti berkata hal-hal yang bisa memperburuk keadaan?"

Gear di dalam kepala Maou mulai berputar dengan kecepatan yang luar biasa ketika dia mencoba memikirkan apapun yang bisa menenangkan Ashiya dan Chiho yang berwajah pucat. Alhasil terpikirlah satu pertanyaan.

"Be-benar juga!! Ibu!! Siapa ibumu?"

Alas Ramus memberi tatapan kosong kepada Maou.

Maou mencoba membuktikan ketidakbersalahannya dengan menunjukan kalau ibunya adalah orang yang tidak Maou kenal.

Penampilan Alas Ramus adalah seperti seorang anak berusia satu sampai dua tahun. Dengan jangka waktu tersebut, menempatkan kelahirannya tepat di saat pertarungan Maou dengan sang pahlawan Emilia. Ashiya seharusnya mengerti kalau Maou tidak punya waktu untuk melakukan hal-hal bodoh seperti itu.

"Mommy!!"

Tapi Alas Ramus menjawab pertanyaan Maou, bahkan tanpa mengulangi pertanyaannya.

Disaat yang sama ketika dia menjawab "Mommy!" Alas Ramus juga menunjuk seseorang dengan jari telunjuk kecilnya tanpa sedikitpun keraguan.

Semuanya menyadari kalau dia telah menunjuk kearah seseorang dengan dengan jari nya, yang mana hal tersebut bisa saja menyelesaikan masalah mereka, dan sekumpulan orang tersebut menoleh kearah yang ditunjuk oleh Alas Ramus.

"...Huh?"

Arah yang ditunjuk oleh Alas Ramus adalah tempat Emi berada.

"A-a-a-a-a-aku??"

Wajah Emi menjadi sangat pucat melebihi siapapun di ruangan itu.

Udara di dalam kastil raja iblis menjadi beku, meskipun ini berada ditengah-tengah musim panas.

Seperti memukul paku terakhir di peti mati....

"Daddy!! Mommy!!"

Alas Ramus menunjuk Maou dan Emi secara berurutan.

Maou dan Emi terlihat linglung tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, dan kemudian....

"...huuurrgghh.."

"Whaaaa!! Ashiya, bangunlah!! Apa kau baik-baik saja?"

Tepat pada saat itu, Ashiya rubuh, menyebabkan Urushihara berlari untuk membantunya.

Yu-yu-yu-yu-yusasasasasa-yusa-san?"

Chiho menghancurkan cup eskrim yang masih belum habis ditangannya.

"Ayahnya adalah Sang Raja Iblis, dan Ibunya adalah Sang pahlawan? Ini bahkan melebihi penghancuran dunia..."

Kata-kata Suzuno benar-benar menggambarkan kekacauan yang sedang terjadi.

Dan ketika para orang dewasa sedang berada dalam kekacauan tersebut, Alas Ramus, si gadis apel, sedang berbahagia berada di dekat sosok "ayah" dan "ibu".


Previous ※ TOC ※ Next

You may like these posts

Komentar

  1. To insert a code use <i rel="pre">code_here</i>
  2. To insert a quote use <b rel="quote">your_qoute</b>
  3. To insert a picture use <i rel="image">url_image_here</i>
Tinggalkan komentar sesuai topik tulisan, komentar dengan link aktif tidak akan ditampilkan.
Admin dan penulis blog mempunyai hak untuk menampilkan, menghapus, menandai spam, pada komentar yang dikirim