Hataraku Maou-Sama Vol 3 - Chapter 2


Chapter 2 : Kehidupan Sehari-Hari Sang Raja Iblis Mulai Berubah.

Keesokan siangnya setelah kastil raja iblis dilanda kekacauan.

Setelah mengintip ke dalam, Chiho perlahan mengetuk pintu apartemen nomor 201 Villa Rose Sasazuka.

Dia bisa mendengar suara langkah kaki berjalan mendekati pintu.

" A-Ashiya san?"

Setelah Chiho memanggil dari luar, suara dari pintu yang terbuka terdengar dan Ashiya dengan kantung matanya yang besar menampakkan wajahnya.

"... Hello, terima kasih sudah datang, Sasaki-san..."

Suara nya terdengar sangat lelah, tidak ada tanda-tanda semangat dan ambisi yang biasa ditunjukkannya.

"Apakah semuanya baik-baik saja?"

"... Dia baru saja tertidur beberapa saat lalu.. Ngomong-ngamong, masuklah.."

"Yaa.. Permisi!!"

Mereka berdua mengecilkan suaranya dan menutup pintu apartemen dengan sangat pelan agar tidak membuat banyak suara.

Setelah Chiho melepas sepatunya dan masuk ke dalam apartemen, dia menaruh apa yang dia bawa sesaat setelah dia masuk.

Suara dari tas kresek yang saling bergesekan membuat suara seperti sebuah ledakan. Ketika Ashiya memisahkan tas-tas itu untuk menghentikan suaranya, suara motor terdengar keras dari luar apartemen.

Ashiya dan Chiho menahan nafasnya, lalu menoleh ke sekeliling untuk melihat Alas Ramus yang sedang tertidur di bawah bayangan sekat bambu.

Mereka berdua bernapas lega ketika melihat Alas Ramus masih tertidur tanpa terganggu sama sekali. Namun, ekspresi mereka dalam sekejap menjadi serius kembali.

"Ini.... Semua benda yang kupikir akan berguna, sudah kubeli!"

Chiho mengeluarkan isi tas tersebut, perlahan agar tidak menimbulkan suara ribut.

"Susu bayi, Yoghurt bebas gula, dan beberapa makanan bayi yang bisa kau coba... Lalu apa yang Ashiya-san berikan padanya untuk makan malam kemarin?"

"Kami mengambil beberapa Udon yang kami terima dari Crestia, dan merebusnya dengan telur dan ikan hingga menjadi lunak. Dia memakannya dengan lahap. Dia sudah bisa mengunyah, dia juga bisa minum air. Sepertinya tidak apa-apa memberinya makanan manusia."

Chiho mengangguk dan mengeluarkan beberapa benda lagi dari dalam tasnya.

"Ini tisu basah bayi untuknya jikalau dia poop, dan ini sikat gigi untuk anak-anak. Jangan gunakan pasta gigi apapun sampai dia bisa menggunakannya dengan benar. Dan ini ada beberapa botol air mineral."

"Sikat gigi?? Benar dia tidak menyikat giginya tadi malam.. Dan botol air kecil apa ini? Apa mereka berbeda dengan air mineral yang biasanya?"

"Ini disebut larutan penyegar untuk anak-anak." (Lol)

Ashiya mengedip-ngedipkan matanya setelah mendengar kata asing yang tidak pernah dia dengar sebelumnya.

"Sekarang ini sedang panas-panasnya kan? Jika dia mengalami dehidrasi dia bisa meminum ini untuk mengembalikan kadar sodium dan gula bersamaan dengan air ini. Sebut saja seperti minuman olahraga untuk anak-anak."



"Apa bedanya dengan versi yang biasa?"



"Ini dibuat agar tidak menyebabkan tubuh bayi menjadi stress. Kau juga bisa membuatnya dengan keran air, tapi kau tidak punya penyaring air kan?"



Chiho mengalihkan pandangannya ke arah bak cuci piring kastil Raja Iblis yang mempunyai keran berwarna perak.



"Air di Tokyo kualitasnya sudah ditingkatkan daripada sebelumya, tapi itu tidak akan berarti apa-apa jika pipa air rumah atau apartemen sudah tua... Kupikir lebih baik menggunakan pembersih air untuknya kapan saja jika diperlukan, terutama karena dia muncul dari sebuah apel. Juga, ini hanya untuk keadaan darurat saja, jadi pastikan ini bukanlah satu-satunya yang kau berikan padanya untuk diminum."



"Aku paham..."



Ashiya mengangguk, terkesan dengan penjelasan Chiho.



"Dan gunakan ini ketika memberinya minum."



Berikutnya yang muncul dari dalam tas adalah botol plastik dengan tutup, yang mempunyai semacam sedotan di tengahnya.



"Ada pelapis di dalam sedotannya, jadi tidak akan tumpah meskipun kau menjatuhkannya. Karena dia sudah bisa berbicara, kekuatan menyedotnya seharusnya sudah sangat bagus, jadi ini tidak akan apa-apa untuknya... Ohh apakah ada sedotan di Ente Isla?"



"Ada... Mungkin, karena mereka adalah penemuan manusia, harusnya Emilia atau Crestia tahu."



"Jika Alas Ramus-chan tidak tahu cara menggunakannya, gunakan saja ini."



Selanjutnya, Chiho mengeluarkan kotak minuman yang bertuliskan "Barley Tea untuk anak-anak"



"Apa benar-benar penting apakah Barley Tea itu untuk anak-anak atau tidak?"



"Ya.. Barley Tea yang biasanya, mau panas ataupun dingin akan terasa pahit jika kau tidak membuatnya dengan benar. Tapi ngomong-ngomong, isi dari kotak-kotak ini tidak terlalu penting. Kotaknya sendiri sangat bagus untuk digunakan sebagai latihan."



"Latihan menggunakan sedotan?"



"Ya benar, untuk membantu agar bayi mengerti jika mereka menyedotnya minuman akan keluar, orang dewasa bisa menekan kotaknya dengan lembut untuk mengeluarkan isinya. Lalu bayinya akan berhenti menolak menggunakan sedotan dan mulai menyedot dengan keinginannya sendiri."



"...."



Ashiya terharu ketika mendengarkan penjelasan Chiho.



"Dan ini semua popoknya."



Chiho menyerahkan berbagai popok dengan berbagai bentuk dan ukuran. Jenis yang dapat dipakaikan seperti celana. Jenis tradisional yang bisa diikatkan dengan pita. Satu persatu jenis popok dikeluarkan dari dalam tas.



"Cobalah satu persatu, dan lihat mana yang paling cocok untuknya."



Ketika Ashiya menerima popok yang diserahkan padanya, dia tidak bisa lagi menahan perasaanya dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.



"Kau... Kau telah banyak membantu kami selama ini.. Dengan berbagai cara.. Aku, Ashiya tidak bisa menemukan kata-kata lagi untuk berterima kasih...."



"Ayolah, kau terlalu berlebihan Ashiya-san!"



"Tidak.... Jika kau mau Sasaki-san, aku akan bilang kepada Maou-sama ketika sudah menguasai Jepang dan membentuk pasukan iblis yang baru. Aku akan senang jika kau mau menjadi jenderal besar."



"Aku harus menolaknya, terima kasih."



Chiho memikirkannya untuk sesaat, apa memang tidak apa kalau pasukan iblis yang berencana menguasai dunia akan mengangkat seseorang menjadi jenderal hanya karena memberikan saran dan barang-barang kebutuhan bayi.



Meskipun Chiho tidak ada hubungannya dengan hal itu, dia masih saja merasa sedikit khawatir dengan mereka.



"Di samping itu, Maou-san lah yang memberiku uang untuk membeli semua ini, dan yang aku lakukan tidak lebih tidak kurang hanyalah memberikan pesanan ini untukmu. Oh.. Dan ini kembalian dan tanda terimanya, tolong berikan kepada Maou-san."



"Yaa.. Yaa.. Aku, Ashiya akan menyerahkan mereka meskipun nyawa taruhannya."



Chiho tersenyum dengan canggung karena tidak tahu bagaimana harus bereaksi ketika ada seseorang yang akan mempertaruhkan nyawanya hanya untuk kembalian dan tanda terima, dan lalu dia menambahkan...



"Di samping itu, ini juga sangat menyenangkan bagiku!"



Chiho melihat ke arah Alas Ramus yang tertidur dengan pulas tanpa terganggu sedikitpun semenjak Chiho masuk.



"Sepupu dari ayahku baru-baru ini menikah, dan mereka sudah punya anak. Kapanpun aku mengunjungi mereka, aku selalu bermain dan menjaga anak mereka, jadi aku belajar banyak dari istrinya bagaimana cara merawat bayi."



"Begitu yaa!!"



"Selain itu, selain itu.. Ummm.."



Chih membuat ekspresi seperti merasa begitu terkenang, lalu mengepalkan tangan kirinya dan dengan pipi yang merona, dia berkata..



"Jika suatu hari nanti.... Dengan Maou-san.... Akankah...."



"Sa-Sasaki san??"



"Huh? Um anu, bukan apa-apa, bukan apa-apa!!"



Chiho menggelengkan wajahnya yang merah merona dan melambaikan tangannya bersamaan. Dia lalu menyadari sesuatu dan bertanya kepada Ashiya.



"Kemana perginya Urushihara-san?"



Urushihara si Ultra-NEET, penghasil hutang, dan penghancur keuangan kastil raja iblis yang kehilangan gelarnya sebagai malaikat dan rasa kepedulian terhadap orang lain, tidak terlihat dimanapun.



Bahkan, Laptop yang selalu berada di meja di mana dia duduk di depannya juga ikut menghilang.



"Apakah dia melarikan diri?"



Melihat karakter Urushihara, alasan positif seperti pergi bekerja atau berbelanja kebutuhan sehari-hari jelas tidak mungkin. Tepatnya, dia tidak mungkin berada di tempat di mana dia harus berjalan di tempat umum.



".... Hummpphh.. Jika dia punya sedikit rasa tangung jawab, aku tidak akan menjadi selelah ini."



Ashiya mengerutkan dahinya dan mengkritik Urushihara, dan lalu menghembuskan napas berat.



"... Seperti yang kau kira, tangisan dan energi Alas Ramus tadi malam benar-benar melebihi apa yang kami kira."



Tidak seperti tangisan bayi yang baru lahir, bayi yang sudah belajar berbicara dan menyadari keadaan di sekitarnya, biasanya menangis karena ingin bertemu seseorang.



Chiho punya urusan keluarga dan harus pulang di sore harinya, jadi dia tidak tahu apa yang terjadi setelahnya.



Dia mencoba mengingat-ngingat apa yang terjadi sebelum dia pergi.





XxxxX



Perkembangan kata-kata yang diucapkan Alas Ramus, ternyata melebihi usianya yang seharusnya.



Alas Ramus berkata "Daddy adalah Satan" lalu menunjuk Emi dan memanggilnya "Mommy".



Bagaimanapun, seperti Maou yang menyangkalnya, Emi juga menyangkal semuanya setelah pulih dari keterkejutan yang menyerangnya.



Tentu saja, keempat orang lainnya merasa terkejut pada awalnya, tapi tidak satupun dari mereka benar-benar berpikir telah terjadi sebuah "KESALAHAN" di antara Maou dan Emi. Raja Iblis dan Sang pahlawan sudah seperti air dan minyak, mereka saling menolak satu sama lain melebihi dua kutub magnet yang sama.



Namun, seperti yang diperkirakan, menyangkal posisi mereka sebagai orang tua, tentu membuat Alas Ramus menangis seolah ditempatkan di atas api.



"Hey hey hey.. Alas Ramus,, kau memang punya orang tua, tapi dia dan aku bukanlah ora-"



"WAAAAAAA!!! TIDAAAAK!! SAZAN ADALAH DAZZY KU!!"



Dia menangis dan berteriak dengan seluruh udara di paru-parunya melalui mulut kecilnya, kata-katanya hampir tak bisa dipahami.



"Man, apa yang harus kita lakukan??"



"..."



"Hey, Emi..."



"...."



"Hah??"



"Kyah!"



Maou menepukkan tangannya tepat di depan wajah Emi yang berdiri dengan ekpresi kosong, benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya.



Karena terkejut, Emi jatuh terduduk, dan Suzuno mendekat untuk membantunya berdiri, tapi-



"MOMMYYYYYYY!!"



Dia langsung diterjang oleh Alas Ramus, yang wajahnya dipenuhi oleh air mata dan ingus. Suara Alas Ramus mereda tapi dia masih saja meneriakkan "MOMMYY" ketika dia menenggalamkan wajahnya ke Emi.



Tidak ada kesempatan untuk menghindar, Emi tidak punya pilihan lain selain menangkap Alas Ramus dengan tangannya!!



"BIEEEEEEE!!"



"Um, uh,umm!!"



Beban yang diterima Emi secara mengejutkannya terasa berat.



Bayi yang menangis. Sesuatu yang harus dia lindungi dengan seluruh kekuatannya sebagai seorang pahlawan.



Namun, bayi ini menganggapnya sebagai ibu. Dengan sikunya  yang membengkok dengan sudut yang aneh, Emi tidak tahu apa yang harus dia lakukan dengan situasi yang berada di luar imajinasinya ini, dan tidak bisa memutuskan apa tindakan selanjutnya.



"A-aku tidak tahu, apa yang harus aku....."



Emi melihat ke yang lainnya ketika merasa benar-benar bingung....



"Berhenti melihatku seperti itu!!"



Semua orang di ruangan itu menatapnya untuk melihat apa yang akan dilakukannya.



"Uurggghhh... Kalian semua tidak lupa kan? Bayi ini menghentikan pedang suciku hanya dengan tangannya. Tidak mungkin dia hanya bayi biasa."



"Tapi Emilia, tidak ada yang bisa dilakukan dengan masalah tangannya, mengingat emosi dari gadis kecil ini yang berpikir kau adalah ibunya."



"Bell, kau mengatakan itu karena ini tidak ada hubungannya denganmu kan?"



"BIEEEEEEE!!"



"Apa buruknya hal ini Yusa-san? Aku akan dengan senang hati berganti posisi denganmu!"



"Chiho-chan, kau mengatakan itu karena ada maksud tersembunyi kan?"



"MOMMMYYYYY!!"



"Sudah kubilang, aku bukan ibumu, gezzz!!"



Seolah sudah menyerah, meski dengan malu-malu, Emi meletakkan tangannya di bawah Alas Ramus.



Kemudian dia mulai menggendongnya untuk menenangkannya.



"..."



Kali ini, Emi terkejut, menyadari betapa ringannya dia. Tidak ada tanda-tanda beban berat dari Alas Ramus seperti saat dia menerjang Emi.



Kulit dan tubuhnya begitu lembut, seakam kekuatan sedikit saja bisa mematahkannya. Kata-kata Emi, "menghentikan pedang suci dengan tangan kosong" terlintas di pikirannya. Ketika Emi mengangkat Alas Ramus perlahan dan dengan hati-hati, Alas Ramus yang membenamkan wajahnya ke perut Emi, mengangkat wajahnya.



"...."



Emi menatapnya dengan sedikit mengerutkan dahi, saat melihat ingus yang bersinar keperakan keluar dari hidung Alas Ramus dan mengenai baju Emi.



"Hiks.... *Sniff*... Mommy..."



Bahkan ketika dia menangis dengan seluruh jiwa dan kekuatannya,  pupil besarnya memandang Emi dengan kepercayaan seorang gadis kecil.



"Ti-tidak apa... Okay..."



Emi menggendong Alas Ramus seolah mengisyaratkan kalau dia telah menyerah.



Dagu Alas Ramus bersandar pada pundak Emi, dan tangan bayi gemuknya memeluk leher dan bahu Emi dengan erat.



"Hikss.... Mommy... Fweehh!!"



Alas Ramus mengganti tangisannya dari yang menangis dengan seluruh udara di paru-parunya, menjadi sebuah isakan kecil, sepertinya dia sudah mulai tenang.



-Manis sekaliii, tapi apa yang harus ku lakukan dengan hal ini? Tapi dia sangat manis, apa yang harus ku lakukan?- Pikir Emi.



Emi memegangi bagian belakang baju warna kuning milik Alas Ramus untuk mendudukkannya dan bertanya kepada Maou.



"Jadi... Apa yang akan kita lakukan sekarang?"



"Apa yang akan kita lakukan sekarang?? Apa yang seharusnya kita lakukan?"



"Aku yang bertanya padamu!"



"Aku tidak tahu, tapi kau terlihat begitu alami melakukannya."



"... Apa kau tidak sadar kalau mengatakan kata-kata itu sama  saja seperti menaruh penjerat di lehermu?"



"Hey, kalau dipikir-pikir, bagaimana bisa anak ini tahu kalau Maou adalah Satan?" Urushihara bertanya ketika melihat Alas Ramus dan Maou.



"Tidak seperti aku, wujud iblis Maou dan wujud manusianya sangat berbeda kan?"



"Bagaimana aku bisa tahu? Dia mencium tanganku sebelumnya, mungkin dari situ dia mengetahuinya."



"Maou, bau tanganmu itu dipenuhi bau MgRonald."



"Itu bau yang sangat enak."



Maou menjawabnya ke arah yang salah.



".... Tapi apa yang bisa kita lakukan?"



Pikir Maou setelah menjawab Urushihara, lalu melihat ke arah Alas Ramus dengan ekspresi bingung.



Alas Ramus seperti akan lepas dari gendongan Emi, bergoyang-goyang perlahan dan kembali memeluk leher Emi dengan erat. Emi juga memberikannya dukungan dengan memegangi tubuh bagian bawah Alas Ramus.



"Oh mungkinkah ini apa yang mereka sebut salah kira? Mungkin ketika dia melihat Maou-san dan Yusa-san, dia salah menganggap kalian sebagai orang tuanya."



Chiho memberikan pendapatnya sambil mengangkat tangannya, tapi Maou menggelengkan kepalanya.



"Itu mungkin saja, tapi jika itu benar, dia tidak akan mengatakan kalau "Daddy adalah Satan". Alas Ramus tidak bilang Maou, ataupun Raja Iblis, tapi Satan. Mungkinkah dia mendengar seseorang memanggilku Satan?"



"Oh, kau benar..."



"Well, nama Satan memang umum seperti batu di dunia iblis sana, tapi dia datang ke Jepang dan memanggilku Satan. Aku pikir ketika dia meemanggilku Satan, yang dia maksud bukan orang lain, tapi aku."



"La-lalu Maou-san, apa kau akan menerima Alas Ramus-chan?"



"Chii-chan, Chii-chan, kau salah paham."



Maou dengan letih menjawab Chiho, yang terlihat putus asa karena beberapa alasan.



"Kau membuatku penasaran ketika kau bilang "Satan adalah nama yang umum seperti batu", tapi apa maksud perkataanmu yang tadi?"



Suzuno mengembalikan percakapan ke jalurnya, Maou pun mengangguk.



"Penjelasan paling sederhana itu begini, kan? Seseorang menyamarkan Alas Ramus menjadi apel dan mengirimkannya kepadaku, dan...."



".... Kita tidak tahu apakah mereka teman atau musuh, tapi pasti mereka akan segera ke sini, kan?"



Emi yang menggendong Alas Ramus menyelesaikan pemikirannya dengan ekspresi serius.



"Tepat sekali, aku seharusnya tidak bilang begini, tapi sepertinya akan ada hubungannya denganmu lagi. Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, dia iti tidak terlihat punya hubungan dengan seseorang dari dunia iblis."



".... Berisik.... Aku benar-benar merasa tidak enak dengan Chiho-chan yang terbawa ke dalam masalah ini karena diriku."



"Bagaimana dengan kami? Kami ini apa? Daging cincang?"



"Ba-bagaimana kau tahu kalau hal ini adalah sesuatu yang ada hubungannya dengan Yusa-san?"



Emi melihat tangan kanannya yang menggendong Alas Ramus untuk sejenak, lalu menjawab pertanyaan Chiho.



"Gadis kecil ini menghentikan pedang suciku hanya dengan tangan kosongnya dan bereaksi terhadapku, si pengguna pedang suci. Itu adalah bukti yang lebih dari cukup. Chiho-chan, kau masih ingat bagaimana Sariel menginginkan pedang suciku kan?"



Ketika malaikat Sariel menyerang beberapa hari sebelumnya, Chiho dan Emi keduanya diculik. Dia punya kesempatan untuk mengambil secara paksa pedang suci dari Emi menggunakan kekuatan spesialnya, "Wicked Light of The Fallen".



"Sariel tidak pernah bilang kenapa dia menginginkan pedang suci. Enak saja aku membiarkan dia mengambil pedang ini sebelum menghabisi Raja Iblis yang miskin ini. Kita masih tidak tahu alasan di balik semua ini, dan sekarang, gadis kecil yang mampu menghentikan tebasan pedang suci muncul. Mustahil untuk mengatakan kalau ini tidak ada hubungannya kan?"



"Jangan berpura-pura berpikir logis hanya supaya kau bisa mencampurkannya dengan hinaan terhadap diriku!"



Emi menjawab Chiho, mengabaikan sindiran Maou.



"Coba pikir, apa yang terjadi dengan Sariel dan apa yang dilakukannya sekarang?"



Chiho menjawab dengan pendek, kasar dan blak-blakan.



"Dia menjadi gemuk."



"Huh?"



"Dia makan di McRonald setiap hari hanya untuk menemui Kisaki-san, dan dia selalu memesan yang ukuran jumbo. Dia tahu kalau Kisaki-san menyukai siapapun yang berkontribusi untuk keuntungannya. Oleh karena itu, dia menjadi gemuk hanya dalam seminggu lebih."



Rencana Sariel gagal karena Maou membangkitkan kembali kekuatan Iblis nya, dan malaikat itu sekarang menyatu dengan identitas palsunya yaitu Mitsuki Sarue, manager dari Sentucky Fried Chicken cabang Stasiun Hatagaya.



Jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Mayumi Kisaki, manager dari McRonald dan Supervisor Maou, Sariel kini meninggalkan surga dan semua misinya, hanya agar bisa datang ke McRonald setiap hari tanpa gangguan.



Karena Kisaki tidak selalu berada di tempat, dia beberapa kali bertatap muka dengan Maou si manager pengganti sementara. Bagaimanapun dia pernah menyatakan kalau keinginannya untuk mejadi malaikat jatuh adalah untuk Kisaki.



Dia terlihat waspada kalau saja Kisaki tahu tujuannya datang ke McRonald, dan sikap sopannya terhadap Maou dan Chiho sangatlah mengganggu. Itu seperti dia mencoba untuk berpura-pura kalau tindakannya yang kejam itu tidak pernah terjadi.



"... Well, aku tidak tahu apakah malaikat bodoh itu ada hubungannya dengan ini, tapi aku harap dia tidak terlibat jika kita mendapatkan masalah. Dia akan mengganggu urusan kita dengan semua kebodohannya."



"Sariel... dalang dari insiden pedang suci, aku tidak yakin dia ada hubungannya dengan Alas Ramus." Suzuno menambahkan.



"Dia tidak lari karena kehabisan sihir suci di pertempuran kita yang sebelumnya, tapi seperti memilih sendiri untuk tidak kembali. Jika dia ada hubunganya dengan Alas Ramus, seharusnya dia segera datang ke sini tepat saat Alas Ramus muncul."



Setelah mendengar kata-kata itu, Urushihara langsung memeriksa kamera CCTV nya, Chiho mengintip dari jendela dapur dan Ashiya melihat keluar melalui pintu.



"Di samping itu, nama Alas Ramus tidak terdengar seperti bahasa surga. Itu seperti bahasa manusia yang digunakan secara luas di Ente Isla."



"Apa!?"



"Arti dari "Alas" adalah sayap, dan "Ramus" adalah cabang. Apalagi, kata-kata tersebut secara spesifik berasal dari bahasa pusat perdangangan, "Centrumian". Itu secara eksklusif digunakan di Isla Centrum."



Bahasa tersebut, sesuai namanya berasal dari bahasa yang digunakan sebagai bahasa umum untuk ukuran baku standarisasi dan negosiasi perjanjian di Isla Centrum, yang menjadi pusat perdagangan karena letaknya yang berada di antara benua Utara, Selatan, Timur dan Barat.



Orang-orang yang berbicara menggunakan bahasa pusat perdagangan kebanyakan adalah orang-orang pemerintahan, pendeta yang posisinya tinggi, ataupun pedagang, tapi bahasa tersebut adalah bahasa yang dapat dimengerti di seluruh Ente Isla.



"Dengan kata lain, di suatu tempat di Ente Isla, dia mempunyai orang tua yang telah memberinya nama. Kita masih belum tahu apakah mereka itu manusia ataukah malaikat, tapi kemungkinan mereka bukanlah iblis..."



Sayangnya, mereka masih belum tau siapa yang memberinya nama dan apa tujuannya.



"Jadi satu-satunya cara, kita hanya bisa tanggap dengan apa yang akan menimpa kita selanjutnya. Kita harus menunggu seseorang yang bahkan kita tidak tahu dia itu kawan ataupun lawan, sambil membawa Alas Ramus yang misterius ini di tangan kita."



Maou menyimpulkan hal tersebut dengan ekspresi yang serius, sementara Emi dan Suzuno hanya mendengarkan perkataan Maou.



"Apapun yang kau katakan, pada akhirnya semua kembali pada siapa yang akan mengurusnya kan?"



Kata-kata Urushihara mengalihkan alur pembicaraannya kembali. Pada saat itu seluruh kastil Raja Iblis menjadi hening seketika.



"Aku rasa dia sudah mulai tenang. Oh.. jadi dia sudah tidur ya?"



Maou melihat ke arah Alas Ramus yang tertidur sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Emi.



".. Aku tidak ingin gadis kecil sepertinya terlibat dalam sebuah rencana jahat."



Emi menghembuskan nafasnya sambil mengelus-elus punggung Alas Ramus.



"Di samping asal usulnya yang berasal dari sebuah apel, pada dasarnya dia hanyalah seorang gadis kecil. Goochy goochy goo..."



Maou menggoda Alas Ramus dan menusuk-nusuk pipinya. Kemudian Emi menatap tajam ke arah Maou.



"Hey, hentikan itu, dia baru saja tertidur."



Setelah diomeli oleh Emi, Maou kemudian menarik tangannya kembali.



"Duh.. aku benar-benar iri.. Yusa-san."



Chiho menyaksikan mereka bertiga yang bertingkah layaknya sebuah keluarga. Meskipun menurutnya itu memang manis, tapi tetap saja dia merasa cemburu dan menggembungkan pipinya.



"Chiho-dono, Chiho-dono, perasaanmu tergambar sangat jelas dari raut wajahmu."



Suzuno langsung mengatakan hal tersebut, dan membuat Chiho menyadari apa yang dia lakukan.



Setelah menghentikan tingkah konyol Maou terhadap Alas Ramus, Emi menghela nafas panjang.



"Aku tidak bisa membawanya ke rumahku, aku hidup sendiri, dan pekerjaanku membuatku sangat sibuk, jadi aku tidak punya waktu untuk mengurusnya."



"Tapi kastil Raja Iblis lebih tidak memungkinkan lagi untuk mengurusnya. Keuangan kami tidak akan cukup untuk memberinya makan dan lagi, kami hanya sekumpulan 3 pria."



Ashiya juga mengatakan hal yang benar. Bukan hanya karena mereka sudah punya orang tidak berguna yang butuh makan dan tidak membantu apapun, tapi 3 pria tinggal di apartemen 6 tatami tanpa AC. Itu adalah lingkungan terburuk untuk mengurus seorang anak kecil.



"Maafkan aku... Aku juga ingin membantu, tapi aku tidak bisa memikirkan alasan apa yang sekiranya bisa meyakinkan orang tuaku."



Chiho mengatakannya dengan nada bersalah.



"Kau tidak perlu minta maaf, Chiho-dono. Ini adalah masalah Ente Isla."



Suzuno menepuk pundak Chiho untuk membuatnya merasa baikan.



"Aku tidak ingin melihat seorang gadis kecil tanpa keluarga terlantar di antara para orang dewasa, hanya karena dia bisa saja menyebabkan masalah untuk mereka. Di samping itu, aku juga tidak punya pekerjaan jadi aku tidak keberatan untuk mengurusnya. Aku juga punya banyak pengalaman merawat anak-anak."



Meskipun penampilan Suzuno bisa dikatakan seusia dengan Chiho, atau bahkan lebih muda, tapi, berdasarkan posisinya dan masa lalunya sebagai anggota dari kependetaan gereja, dia sebenarnya adalah gadis tertua di grup tersebut.



Semua orang selain Suzuno di grup tersebut tahu kalau bertanya tentang usianya sama saja dengan bunuh diri, tapi dilihat dari usia dan pengalamannya sebagai pendeta, mereka semua berpikiran kalau Suzuno lah yang paling cocok melakukan hal itu.



Terlebih lagi, dia yang selalu memakai Yukata, yang mana sudah seperti seragam di tempat kerja, memakai apron dan bandana di kepalanya, sambil membawa Alas Ramus di punggungnya menggunakan gendongan bayi, pasti terlihat sangat cocok.



Sebagai tanggapan dari usulan Suzuno, Emi, Ashiya, Chiho dan bahkan Urushihara yang tidak pernah punya niat membantu, menunjukan ekspresi lega.



"..."



Satu-satunya orang yang tidak mengendurkan ekspresi wajahnya adalah Maou.



Di situasi di mana semuanya sudah mulai tenang dan terkendali karena rencana yang masuk akal dari seorang gadis pendeta gereja Divine Creed, yang mana telah memutuskan untuk mengurus seorang anak kecil yang entah bagaimana mempunyai keterkaitan dengan pedang suci, Better Half, Maou berulang kali melihat Emi, Alas Ramus dan tangannya sendiri.



"... Anu.. Maou-san?"



Orang yang pertama kali menyadarinya adalah Chiho.



"Apa... Ada yang salah?"



"Yeah, ada satu hal... Tidak, ada dua hal yang masih belum aku mengerti."



Maou menjawab sambil melihat ke arah Emi, bukan ke arah Chiho.



"Aku mungkin terlalu memikirkannya, tapi...."



Maou menggumam sambil meletakkan tangannya di kening, Chiho memiringkan kepalanya tidak tahu apa yang coba dikatakan oleh Maou. Maou terus menggumam dan menyuarakan pemikirannya tanpa menunggu jawaban dari Chiho.



".... Kenapa dia tidak bilang "mommy adalah Emilia"?"



"Apa?"



Chiho melebarkan matanya karena perkataan Maou yang merubah alur percakapan secara tiba-tiba. Tapi yang lebih penting lagi, tepat pada saat itu, Chiho merasakan sakit yang tak bisa di jelaskan menyerang hatinya.



Dia mencoba untuk mengabaikan rasa sakit tersebut.



Dia sudah tahu kalau Emilia adalah nama asli Emi, dan dia juga mengerti kalau Emi dan Suzuno adalah musuh Maou.



Tapi pemikiran ini terlintas di pikirannya.



"... Apakah aku akan selalu menjadi "Chii-chan"?"



Dia hanyalah gadis SMA biasa yang kebetulan tahu rahasia mereka, ditambah lagi dia tidak punya kekuatan apapun.



Pengungkapan perasaan yang masih belum mendapatkan jawaban, ketika Chiho diculik oleh Sariel, Maou menyatakan kalau dia adalah "bawahan yang harus dia lindungi".



Dia hanya sekedar tahu mereka saja, tapi tidak semuanya, di tempat kerja maupun di luar tempat kerja, Chiho selalu dilindungi oleh Maou.



Bahkan di momen seperti saat ini, pergolakan yang dia alami antara sisi rasionalnya yang sadar untuk menerima siapa dirinya, dan hasratnya yang menginginkan dirinya agar dianggap setara dengan Maou, masih saja terasa menyakitkan baginya.



"Hmm?? Apa kau bilang sesuatu, Chii-chan?"



"Maaf.... Bukan apa-apa."



Chiho merasa malu karena tidak bisa fokus dengan situasi yang mereka alami, dan mundur beberapa langkah dari kerumunan yang mengelilingi Alas Ramus.



Tentu saja Maou tidak menyadari sakit hati yang dialami Chiho, dan setelah ragu-ragu untuk sesaat, dia mengatakan sesuatu yang tidak seorang pun akan menyangkanya.



"Sudah diputuskan. Alas Ramus akan tinggal di kastil Raja Iblis."



XxxxX



"Jadi... Ke mana sebenarnya Urushihara-san pergi?"



Ketika Chiho mengulang pertanyaannya sambil mengingat kekacauan di hari sebelumnya, sebuah suara menjawabnya dari tempat yang tidak terduga.



"Maaan, panas sekali.... Ashiya, apa kita belum akan makan?"



Pintu lemari geser terbuka dengan sebuah suara derakan, Urushihara yang berkeringat keluar dari lemari tersebut.



"Oh.. Kau disini, Chiho Sasaki?"



Baca LN Hataraku Maou-Sama Volume 3 Chapter 2 Translate Indonesia



Chiho kehilangan kata-katanya karena kejadian tak terduga ini.



Setelah melihat lebih dekat, dia melihat lampu, laptop dan kipas angin mini berada di dalam lemari.



Urushihara keluar dari lemari ketika Chiho melihatnya, kemudian dia berjalan menuju kulkas dengan ekspresi acuh tak acuh, mengambil sebotol Barley Tea milik Alas Ramus lalu kembali lagi ke dalam lemari.



"Well, anggap saja rumah sendiri."



Kata Urushihara, seperti robot kucing yang tidak berguna sedang menutup lemari.



"... Ashiya-san..."



"Aku tidak melihat apa-apa."



Jawab Ashiya dengan suara lemah.



"Aku tidak ingin dia terlihat di pandanganku lagi. Kemarin malam, Maou-sama dan aku terus mencoba semuanya agar bisa membuat Alas Ramus berhenti menangis, tapi tidak ada tanda-tanda dia akan berhenti menangis dan terus bertanya.. "Di mana mommy? Di mana mommy..??" Dan Urushihara telah mengabiskan waktunya di dalam lemari sejak tadi malam."



"Urushihara-san seharusnya terserang haus saja dan mati karena dehidrasi."



Chiho berempati kepada Ashiya dari lubuk hatinya yang terdalam.



Ketika Maou bilang akan merawat Alas Ramus, Suzuno yang pertama mengusulkan untuk menjadi pengurusnya, menentang Maou.



Tapi ketika Alas Ramus bangun dan mengatakan ingin bersama daddy-nya, Suzuno langsung menyetujuinya dengan mudah.



"Keinginan anak-anak harus dihargai. Tapi aku akan segera mengambilnya dari tanganmu kalau aku melihat tanda-tanda kau melakukan sesuatu yang bisa merusak kelakuannya kelak." Suzuno memperingatkan.



Dan karena dia mempunyai sihir suci yang lebih besar dibandingkan tiga iblis itu, sekaligus tinggal di sebelah rumahnya, kata-kata Suzuno menjadi sangat menakutkan.



Namun, masalah "Mommy" masih belum selesai. Tidak seperti Suzuno, Emi tidak bertetangga dengan mereka. Alas Ramus terlihat puas ketika dia akan tinggal bersama Maou, yang mana hal tersebut memecahkan satu masalah mereka. Namun, dia dengan gelisah langsung menatap ke arah Emi, yang akan bersiap-siap untuk berbelanja dengan Suzuno seperti yang sudah mereka rencanakan pada awalnya.



"Mommy, apa kau akan meninggalkanku lagi?"



Dia bertanya dengan mata berkaca-kaca, membuat Emi kehilangan kata-katanya.



"...?"



Maou memiringkan kepalanya menanggapi pertanyaan Alas Ramus dan menjawabnya dengan nada bujukan.



"Hey, dengar Alas Ramus, mommy hanya akan pergi keluar sebeeeentar saja?"



"Pergi keluar?"



"Yep, dia akan segera kembali."



"... Benalkah?"



Emi merasa ragu ketika melihat Alas Ramus yang memasang ekspresi sangat berharap, Maou mengisyaratkan "bilang saja iya" ke Emi dari belakang Alas Ramus.



"Benar, aku akan segera kembali."



"Yee, kalau begitu aku akan menjadi anak pintar dan menunggumu."



Alas Ramus mengangguk, percaya sepenuhnya dengan apa yang Emi katakan. Semua orang kecuali Urushihara merasa kalau hatinya seperti ditikam oleh pisau.



Karena kejadian Alas Ramus ini, sudah hampir menjelang malam ketika Emi dan Suzuno pergi, Chiho juga pulang ke rumahnya, jadi dia hanya tahu sampai saat itu, bagaimanapun...



"Apakah Yusa-san tidak kembali?"



"Tidak, dia kembali ke sini dengan Crestia, namun... Di situlah masalahnya dimulai. Alas Ramus berpikir dia akan tidur bersama dengan Emilia."



Kali ini, pintu raja iblis terbuka dan Suzuno masuk dengan membawa tas belanjaan seperti Chiho.



"Hai, Suzuno-san."



"Alsiel, ini bento dan minuman bervitamin yang kau inginkan."



Suzuno dengan kasar menyerahkan tas belanjaan kepada Ashiya yang mengambilnya dengan malas dan berkata....



"Aku tidak akan berterimakasih padamu, berapa harganya?"



"Orion-Bento dengan daging babi goreng dengan jahe harganya 500 yen, minuman vitaminnya itu punyaku, tapi aku akan memberimu satu."



"..."



Ashiya mengeluarkan koin 500 yen dan menyerahkannya kepada Suzuno tanpa bilang sepatah kata pun, lalu berdiri dan membuka kemasan bento nya.



"Maaf, Sasaki-san, aku makan siang dulu..."



"Uhh.. Y-ya, silahkan.. Jangan sungkan."



"Apa? Makan siang?"



Kemudian, Urushihara menggeser pintu lemarinya dan mengeluarkan kepalanya setelah mencium bau daging babi goreng dengan jahe. Tapi...



"Diamlah, dasar parasit."



Seorang jenderal iblis tertinggi yang menaklukan benua timur Ente Isla hanya dalam waktu setahun, menjawab Urushihara dengan ekspresi yang dipenuhi dengan kebencian, yang terlihat seolah-olah bisa melukainya secara fisik. Mengejutkannya, Urushihara tidak mengatakan apapun untuk membalas hal tersebut dan masuk kembali ke dalam lemari.



Dan kemudian Ashiya perlahan melanjutkan memakan bento nya tanpa memperhatikan Suzuno ataupun Chiho.



"Memikirkan Ashiya membeli dan memakan sebuah Orion-Bento...."



Chiho memberikan komentarnya mengenai betapa tidak normalnya tingkah Ashiya ini, dan mengusap air mata dari matanya.



"Tangisannya tadi malam benar-benar di luar perkiraan. Bahkan aku yang berada di kamar sebelah terbangun berkali-kali karena tangisannya."



Kalau dilihat lebih dekat, Suzuno ternyata memakai make up. Betapa langkanya pemandangan ini, sama sekali tidak dapat dibantah lagi, karena Suzuno hampir tidak pernah menggunakan make up. Sudut matanya terlihat sayu, dia pasti benar-benar terpengaruh dengan keadaan ini.



"Tangisannya pagi ini juga begitu keras. Dia benar-benar tidak membiarkan Raja Iblis pergi bekerja. Dia pasti berpikir kalau si Raja Iblis tidak akan kembali lagi setelah kemarin Emi pergi meninggalkannya."



"Begitu ya!! Yusa-san juga tidak bisa tinggal di sini terlalu malam."



Sebagai wanita dan juga pahlawan, Emi pastinya tidak bisa tinggal di kastil Raja Iblis, pikir Chiho.



Tapi sebenarnya, Emi pernah menginap sekali di kastil Raja Iblis. Ketidaktahuan terkadang bisa membahagiakan. Tinggal di kamar Suzuno bisa juga menjadi solusi lainnya, tapi sepertinya tidak berguna. Suzuno hanya punya sedikit kosmetik dan karena ini di tengah-tengah musim panas, Emi pasti membutuhkan banyak baju ganti.



Namun, jika Emi tetap bolak balik antara kastil Raja Iblis dan apartemennya di Eifuku Town, pemandian umum di Sasazuka mungkin sudah tutup sebelum dia pergi ke sana. Dia harus bekerja esok paginya dan tidak mungkin dia bekerja tanpa mandi.



"Itu tidak seperti Emi tidak peduli dengan keadaan ini, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan tanggung jawab pekerjaannya."



Kata Suzuno sambil mengeluarkan ponsel dari lengan Yukatanya, membukanya dan menunjukan layarnya ke Chiho.



Nama "Emilia" tertulis di layar tersebut, dan tepat di sampingnya terdapat pesan yang bertuliskan... "Aku tidak akan datang lagi ke sana mulai besok.. Aku benar-benar merasa tidak enak, tapi tolong rawatlah dia."



Chiho membaca pesan tersebut, tapi dia lebih tertarik dengan fakta bahwa Suzuno sudah mempunyai ponsel. Dia melihat bolak balik antara Suzuno dan ponselnya.



"Suzuno-san, kau membeli ponsel?"



"Hm? Oh ya, aku membelinya kemarin. Aku meminta tolong pada Emilia dan mengajariku banyak hal."



"Yey, ayo bertukar nomor. Itu ponsel merk Docodemo kan?"



Ponsel Suzuno bukanlah merk ponsel yang terkenal, tapi hanya model ponsel flip yang biasa.



"B-bertukar?? Aku tidak yakin bagaimana prosesnya bekerja. Tapi aku yakin ada fitur sensor inframerah di ponsel ini."



Suzuno mencari-cari fitur tersebut di ponselnya. Dia melihat ke seluruh ponselnya dengan kerut di wajahnya. Namun, akhirnya dia menyerah dan menyerahkan ponselnya ke Chiho dengan wajah seperti telah dikalahkan oleh sesuatu.



"... Maaf Chiho-dono, aku tidak bisa menemukannya, jadi aku akan senang menerima bantuanmu."



"Tentu, tapi apa tidak masalah aku melihat-lihat ponselmu?"



"Tidak masalah, aku baru saja membelinya, dan yang telah kulakukan hanyalah menyimpan nomor Emilia."



Chiho tidak bermaksud untuk menganggap dirinya sebagai orang yang berpengalaman dengan gadget, tapi jika hanya ponsel, dia cukup percaya diri bisa menemukannya hanya dengan sedikit mengotak-atiknya, meskipun itu sedikit berbeda dengan ponselnya.



Namun, ketika Chiho membukanya, ada hal yang aneh dengan ponsel tersebut.



Chiho juga punya ponsel merk Docodemo, tapi nomor yang tertulis di ponsel Suzuno begitu besar.



Ditambah lagi tombol besar untuk angka 1, 2, 3, terletak di barisan paling atas dari keypadnya. Dia tidak pernah melihat yang seperti itu di ponselnya, ponsel keluarganya ataupun ponsel temannya.



Dan di atas semua itu terdapat tombol "bantuan" terletak di pojok kiri bawah dari keypadnya.



"Suzuno-san, apa ini.... apakah ini ponsel Docodemo tipe "Super-Easy Phone" ?"



Menanggapi pertanyaan Chiho, Suzuno memasang ekspresi terkejut dan mengangguk.



"Mengejutkan sekali Chiho-dono!! Kau bisa tahu modelnya hanya dengan melihatnya saja."



"We-Well, Tentu."



"Aku tidak terlalu tertarik dengan model-model yang lainnya, dan aku tidak membutuhkan fungsi lain selain untuk komunikasi. Terlebih lagi, aku tidak terlalu percaya diri dalam menggunakan ponsel, jadi aku meminta ponsel yang paling mudah untuk dioperasikan, dan inilah yang diberikan kepadaku."



Suzuno menjelaskannya dengan percaya diri, dan Chiho berhenti untuk terlalu memikirkannya.



Iklan di TV selalu mengatakan "Super-Easy Phone" ditargetkan kepada para orang tua yang tidak ahli dalam menggunakan teknologi. Namun tidak ada yang melarang generasi muda untuk menggunakannya.



Tak berapa lama, Chiho menemukan fitur infrared di ponsel Suzuno dan kemudian bertukar kontak dengan mencocokkan sensor di ponselnya dan ponsel Suzuno.



"Ini.. sudah selesai, aku sudah menyimpan nomerku di ponsel mu Suzuno-san."



"Aku sangat berterima kasih padamu, pengetahuanku mengenai telepon hanya sampai pada telepon putar hitam, jadi meskipun aku sudah mencoba membaca buku manualnya, aku sama sekali tidak bisa memahaminya."



Suzuno mengatakannya dengan suara yang terdengar malu-malu, dan mengambil kembali ponselnya.



Dan tepat pada saat itu......



"Daddy..!!"



Semua orang di ruangan itu seketika membeku dan menoleh ke arah suara tersebut.



Alas Ramus, yang beberapa saat lalu masih tertidur, sekarang terbangun dan melihat sekelilingnya dengan mata mengantuk.



"Nghh..."



Ashiya begitu terkejut, sampai-sampai daging babi goreng yang dia makan membuatnya tersedak.



"Di mana daddy?"



Tidak melihat Maou ataupun Emi di sekitarnya, wajah Alas Ramus memerah dalam sepersekian detik dan mulai menangis seperti ada keran yang dinyalakan di atas kepalanya.



"DAAADDDDDYYYYY!!"



Dan dia pun menangis sekencang-kencangnya, Ashiya langsung meneguk sebotol barley tea untuk memaksa babi goreng yang dia makan agar segera masuk ke perutnya, dan kemudian langsung menuju ke Alas Ramus dan mencoba menenangkannya, tapi dia tidak punya ide sama sekali untuk menghentikan tangisannya.



"Permisi Ashiya-san..."



Chiho meminta Ashiya untuk minggir sebentar.



"Ashiya-san.. Popok ini..."



Alas Ramus telah memakai popok, tapi itu sudah terlihat sesak dan hampir penuh.



"Yah, aku membelinya kemarin." Suzuno menjawabnya.



"Setelah Emilia pulang ke rumah, Alas Ramus mengalami "insiden" yang hebat. Kami benar-benar lupa untuk bersiap menghadapi hal seperti ini. Karena apotek sudah tutup, jadi kami membeli beberapa popok di pusat perbelanjaan di sebelah stasiun."



Setelah melihat lebih dekat, terdapat sebuah kemasan popok terbuka dengan kasar di sebelah kamar mandi.



"Ashiya-san, tidak usah bingung."



"Ada apa?"



"Tentu saja dia menangis, kau tidak mengganti popoknya sekalipun semalaman ini."



Nada bicara Chiho terdengar tajam, seperti sedang mengomeli Ashiya, kemudian dia mengambil sebuah popok yang baru, dan menempatkannya di lantai. Dan setelah membaringkan Alas Ramus di atasnya,



"Ashiya-san, ada sebuah botol yang terlihat seperti semprotan di dalam tas yang aku bawa, tolong ambilkan dan isi botol itu dengan air dari keran dan berikan padaku."



"Yah, tapi um.. Air dari keran sedikit hangat."



"Itu malah lebih bagus, tolong cepatlah!"



Setelah memberi instruksi singkat dan sambil dilihat oleh Ashiya dan Suzuno, Chiho mengangkat kedua kaki Alas Ramus ke atas, dan dengan tangan satunya, dia mengambil popok yang sudah penuh itu.



"Ayo kita bersihkan dulu."



Setelah mengambil botol, Chiho menekannya untuk mengalirkan air hangat di bokong Alas Ramus. Ashiya dan Suzuno terkejut untuk sesaat, tapi air tersebut dengan cepat menghilang karena terserap oleh popok.



Chiho kemudian menaruh botolnya, dan menggunakan tisu basah untuk membersihkan sisanya. Selanjutnya dia menaruh tisu basah tersebut ke dalam popok, mengangkat kaki Alas Ramus sedikit lebih tinggi dan kemudian menarik popok tersebut dari bawah Alas Ramus dan meletakkannya di sebelahnya.



Setelah melakukan semua itu dengan cermat dan cepat, Chiho dengan lembut menempatkan Alas Ramus di atas popok baru yang sudah disiapkan sebelumnya dan dengan cepat merekatkannya.



Sebelum siapapun bisa berkedip, Alas Ramus yang mulanya menangis seperti angin topan, mulai menjadi tenang. Ashiya kemudian mendekat ke arah Chiho dan Alas Ramus dengan mata yang terbuka lebar.



".. Setelah dia terus menangis karena ditinggal Emilia, kupikir dia menangis hanya karena kesepian."



"Well, kau tidak sepenuhnya salah, tapi bayi masih belum tahu bagaimana mengungkapkan dengan jelas apa yang mereka inginkan. Jika ada yang mengganggunya, dia hanya akan mengulangi kata-kata yang sudah diketahuinya lagi dan lagi."



Chiho menggulung popok yang sudah terpakai bersama sampah lainnya dan membuangnya ke tempat sampah.



Chiho kemudian membersihkan tangannya dengan menggunakan tisu basah, mengangkat Alas Ramus, dan menggosok-gosokkan pipinya dengan wajah gadis apel tersebut.



"Lihat? Kau hanya tidak suka menjadi kotor kan?"



"Ouuuhhh..."



Alas Ramus menjawabnya, namun tidak jelas apakah dia menyetujuinya atau hanya mengeluarkan suara.



Namun, sudah jelas bahwa alasan tangisan Alas Ramus tadi malam, disebabkan oleh popok yang kotor.



"Tidak apa.. Daddy dan mommy akan segera kembali. Jadilah anak yang pintar dan tunggu mereka ya.."



Chiho merasakan ada sedikit perlawanan dari dalam dirinya ketika memanggil Emi dengan "mommy", tapi tak ada gunanya terlalu memikirkan sesuatu seperti itu di depan anak kecil, jadi dia mengabaikannya dan mengatakan apa yang dia pikir bisa menenangkan Alas Ramus.



"Yesh!!"



Alas Ramus menatap lurus ke arah Chiho dengan matanya yang berair dan mengangguk dengan senyum yang lembut.



"Gezz.. Kau manis sekali. Anak pintar..."



Chiho merasa seperti hampir meleleh melihat pemandangan yang begitu manis ketika Alas Ramus mengusap air matanya dengan tangan kecilnya.



"Huh..?"



Dan tepat di saat Alas Ramus berhenti menangis, Chiho melihat sebuah tanda berbentuk bulan sabit berwarna ungu muncul di dahi Alas Ramus. Seluruh tubuhnya mulai memancarkan sinar yang sama dengan baju yang dipakainya.



Tapi hanya dalam satu kedipan, tanda dan sinar itu menghilang.



Tidak ada perubahan berarti pada Alas Ramus dalam beberapa kejadian yang telah lewat, Chiho mendesah karena sekali lagi ingat dengan asal-usul Alas Ramus yang misterius, yang mana berasal dari dunia lain sana.



Tapi Chiho tahu, yang bisa dia lakukan hanyalah memberikan seluruh cintanya kepada gadis kecil ini, lalu dia memeluk Alas Ramus sekali lagi.



"Wapu!!"



Alas Ramus sedikit terkejut.



Ashiya jatuh berlutut karena melihat pemandangan yang ada di depannya.



"Tidak, aku sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan Sasaki-san... Aku merasa malu karena pernah menyombongkan diriku dengan pengetahuan umum yang kumiliki... Mengganti popok adalah kemampuan yang digunakan untuk mengeluarkan potensi maksimal dari popok itu sendiri... Aku merasa seperti sesuatu yang telah menutupi mataku menghilang dari hadapanku."



Ashiya mungkin satu-satunya iblis yang punya tujuan untuk menguasai dunia, yang mana merasa menyesal karena tidak tahu cara mengganti popok bayi, tapi penyesalan karena ketidaktahuannya adalah sesuatu yang nyata.



Tidak tahu bagaimana harus menanggapi Ashiya, Chiho melihat jam di dinding dan mencoba mengganti topik.



"Oiya Yusa-san pulang jam berapa?"



"Dia tidak akan pulang sampai pekerjannya selesai, jadi kurasa paling cepat sekitar jam 6 sore."



"Suzuno-san, kau tahu jadwal kerja Yusa-san?"



"Aku tidak tahu, tapi aku pernah mengintainya."



Chiho tidak tahu apa yang dibicarakan Suzuno, tapi dia ingat sesuatu dan melihat tas yang dia bawa.



"Suzuno-san, ada buku catatan dengan sampul warna pink di dalam tasku, dan di dalamnya ada lipatan kertas, bisakah kau mengambilnya dan membukanya untukku?"



"Tentu, tunggu sebentar.. Apakah yang ini?"



Chiho yang kedua tangannya digunakan untuk menggendong Alas Ramus melihat ke arah kertas yang dipegang Suzuno.



"Maou-san menjadi manager pengganti dari pagi sampai setelah waktu makan siang, dan Kisaki-san akan kembali setelah jam sibuknya... Dan.... Oh, Maou-san akan pulang lebih awal hari ini, eto, jam empat sore ya??"



Apa yang dia baca bukanlah sejenis petunjuk waktu elektronik tapi hanyalah daftar pergantian shift buatan tangan yang Kisaki berikan kepada setiap pegawainya. Dan menurut jadwal tersebut, jam kerja Maou akan berakhir pada jam 4 sore.



Sekarang jam 02;30, Chiho melihat jam di ponselnya dan jadwal kerja tersebut, lalu kemudian....



"Bagaimana kalau begini? Kenapa kita tidak mengajak Alas Ramus ke McRonald?"



"Maaf, tadi bilang apa?"



"Apaa?"



Ashiya dan Suzuno melihat ke arah Chiho dengan wajah kebingungan.



"Dia akan benar-benar bosan jika dia terus berada di sini untuk waktu yang lama, jika kita mengajaknya jalan-jalan, suasana hatinya mungkin bisa membaik dan dia juga bisa bertemu "daddy" nya lebih cepat kan?"



"Daddy.."



Alas Ramus dengan gembira mengangkat tangannya yang masih dalam gendongan Chiho saat menanggapi kata "daddy". Dia benar-benar menyayangi ayahnya.



Akan tetapi, Ashiya mengangkat wajahnya dari keadaan muramnya dan mengungkapkan ketidaksetujuannya.



"Aku tidak tahu alasan apa yang membuat Maou-sa.a mau merawatnya, tapi aku pikir itu bukanlah ide yang bagus untuk membawanya keluar saat kita masih tidak yakin dengan situasinya..."



"Tidak, aku sangat setuju dengan Chiho-dono. Meskipun kita belum sepenuhnya mengerti dengan situasinya, mungkin sesuatu akan menjadi jelas jika kita mengambil inisiatif terlebih dahulu. Terlebih lagi, sistem sosial di dunia ini tidak akan mudah membiarkanmu untuk merawat anak-anak yang tidak diketahui asal-usulnya. Sebagai contoh bagaimana jika Alas Ramus sakit dan kau perlu membawanya ke dokter? Apakah kau akan membawanya ke dokter tanpa bukti wali ataupun jaminan?"



Ashiya tidak dapat merespon bantahan dari Suzuno.



Suzuno melihat ke arah Alas Ramus yang berbahagia berada dalam gendongan Chiho, tampak seperti tangisannya beberapa saat lalu hanyalah kebohongan dan ilusi.



"Tidak perlu khawatir, kalau aku yang sekarang, aku masih cukup percaya diri untuk dapat mengalahkan beberapa malaikat ataupun iblis. Dan jika situasi ini menjadi lebih jelas, kita bisa menentukan apa tindakan kita selanjutnya. Bukankah itu menguntungkan buatmu juga?"



"Benar juga... Tapi..."



"Di samping itu, Alsiel, tidak peduli bagaimana situasinya nanti atau siapapun dalang di balik semua ini, bukankah kita sudah setuju untuk melindungi Alas Ramus?"



"Aku tidak ikut menyetujuinya...."



Seisi ruangan mengabaikan suara yang datang dari lemari tersebut.



"Aku yakin, langkah terbaik bagi kita untuk menjaga kesehatan Alas Ramus adalah dengan mengajaknya jalan-jalan, bukankah begitu?"



Suzuno lalu menoleh ke arah lemari.



"Di samping itu, aku merasa keberadaan orang yang disana itu bisa memberikan efek yang buruk bagi perkembangan anak-anak."



"Aku setuju."



Chiho pun mengangguk dengan penuh empati.



"Hey, kalian sedang mengejekku kan?"



Urushihara sadar kalau dia sedang diejek, tapi karena dia tetap berada di dalan lemari, dia sepertinya tidak punya niat sedikitpun untuk merubah sikapnya.



"..hmmm baiklah, namun sebagai bawahan Raja Iblis, aku tidak bisa begitu saja menyerahkan Alas Ramus, yang Maou-sama telah putuskan untuk merawatnya. Aku akan mengizinkannya jika aku ikut juga."



Kata Ashiya dengan mulut yang penuh makanan setelah dia menghabiskan sisa bentonya, dan meminum minuman vitaminnya dalam sekali tegukan.



Sikap makan yang buruk ini merupakan salah satu contoh tingkah laku yang tidak normal dari Ashiya, yang biasanya mempunyai tata krama yang baik, akan tetapi tepat setelah dia selesai meminum minumannya.....



"Ugh..."



Ashiya mengerang dan kemudian terjatuh.



"A-ashiya-san..."



Chiho dengan khawatir berlari untuk membantu Ashiya, tapi setelah meringis kesakitan untuk sejenak, matanya tertutup dengan damai seperti sudah meninggal.



"Waktunya tidung untuk Alsheel"



Alas Ramus mengatakannya dengan riang ketika wajah Chiho menjadi pucat. Chiho bertanya-tanya apakah mungkin Suzuno melakukan sesuatu pada minuman itu untuk membunuh Maou dan para bawahannya.



"Su-..."



Namun, saat pemikiran itu terlintas di pikirannya, Ashiya pun mulai mendengkur.



".. Oh, akhirnya dia benar-benar tertidur..."



Suzuno menggelengkan kepalanya dengan ekspresi kelelahan.



"Bahkan aku yang berada di kamar sebelah saja terbangun berkali-kali, aku tidak bisa membayangkan apa jadinya Alsiel yang berada tepat di sampingnya."



Suzuno mengambil botol yang dijatuhkan Ashiya saat dia roboh, sambil terus menatap ke arah lemari.



"Ini adalah apa yang aku dapatkan dari Emilia kemarin, ini mungkin cara yang sedikit kasar, tapi Alsiel tidak akan beristirahat dengan sendirinya. Aku menyadarinya saat terakhir kali, tapi kapanpun Alsiel roboh, pasti terjadi suatu insiden di sekitar mereka."



Suzuno menunjukan botol minuman vitaminnya. "Holy Vitamin Beta" dan beberapa kata tertulis di atasnya dalam bahasa yang belum pernah dilihat Chiho.



"Tulisan di botol itu, bacanya bagaimana Suzuno-san?"



"Labelnya ditulis dalam bahasa Ente Isla. Anggap saja ini obat untuk melemahkan kekuatan fisik para iblis."



Dari tatapan waspada Suzuno terhadap lemari tersebut, Chiho mengerti ada sesuatu yang dia tidak ingin para iblis mengetahuinya.



"Oh, iya, tadi kalau tidak salah..."



Chiho menatap Ashiya, yang nampak tertidur dengan kurang nyaman, lalu melihat ke arah Alas Ramus.



"Tadi kau bilang "Alsheel"... Alas Ramus-chan, apa kau bisa menyebut nama Ashiya-san?"



"Ou?"



Alas Ramus yang masih berada dalam gendongan Chiho, menatap Chiho dengan jari di bibirnya. Chiho menatap balik mata besar milik Alas Ramus dan berpikir sejenak.



"Alas Ramus-chan."



"Yesh!!"



Dia menjawabnya dengan energik, sambil mengangkat tangannya. Hanya dengan itu, Chiho merasa seperti pipinya akan meleleh.



"Namaku Chiho."



"Chioh?"



"Chi-ho, ayahmu memanggil ku Chii-chan."



"Chii-cha!"



Lalu wajah Alas Ramus merekah seperti mengingat sesuatu.



"Teman daddy!!"



"Alas Ramus!"



Suzuno menyela dari samping mereka.



"Chiho-dono itu lebih tua darimu, jadi memanggilnya Chii-chan itu tidak pantas."



"Ouu.? Ou?"



"Ayo, coba panggil dia Chiho-onee chan!"



Alas Ramus melihat ke arah Chiho seperti memfokuskan seluruh kekuatannya dengan cara yang aneh, tampaknya dia menanggapi perkataan Suzuno dengan serius.



"Chio.... Chi.. Ne.. Ou ah.."



Dan ketika dia mencoba yang terbaik untuk mengikuti saran Suzuno...



"Chii-neecha!!"



Akhirnya Alas Ramus berhasil menyebut suatu nama.



"Ohh... Kau manis sekali.."



Chiho tidak bisa lagi membendung emosinya, dan dengan gemas dia menggosokkan pipinya dengan pipi Alas Ramus lagi dan lagi.



"Chii-neecha!! Chii-neecha!!"



Alas Ramus terus menyebut nama itu berulang kali sambil menunjuk jarinya ke Chiho, seperti sedang menegaskannya.



Lalu dia melihat ke arah Suzuno yang berdiri tepat di samping Chiho.



"A-ada a-pa?"



Suzuno menelan ludahnya seperti mendapatkan sebuah tekanan.



"Kakak ini namanya Suzuno-onee chan."



Kata Chiho, tampak seperti dia tahu apa yang dipikirkan Alas Ramus, dan karena dia sudah melakukannya sekali sebelumnya, jawabannya menjadi lebih cepat.



"Suzu-neecha!!"



Alas Ramus menunjuk Suzuno, seperti memberikan sebuah perintah, wajah Suzuno memerah seketika.



"Suzu-nee... Hmm, ku pikir yang itu boleh juga.."



"Chii-neecha!! Suzu-neecha!!"



Sama seperti saat dia menunjuk Maou dan Emi sebagai orang tuanya, Alas Ramus menyebut nama orang itu, lagi dan lagi seperti melakukan pengecekan ulang.



"Duh.. Gzzzz.. Kau manis sekali.."



"Be-berhenti mengulanginya lagi.. Tidak, berhenti memandangku seperti itu... Ini tidak dapat dimaafkan. Kau terlalu manis!!"



Ketika kedua gadis yang sedang tersipu itu meninggikan suaranya, dan menjadi bahagia karena hal itu...



"Kalian berdua, terlalu mudah untuk ditebak."



Mereka berdua menatap tajam ke arah lemari yang menjadi asal dari suara perusak suasana tersebut.



Suzuno melangkahi Ashiya yang tertidur di lantai, berdiri di depan lemari dan menghantamnya beberapa kali dengan keras.



"Whaa!!"



Dengan seketika, suara kaget Urushihara dapat terdengar dari dalam.



"Ngomong-ngomong, seperti yang kau dengar, Chiho-dono dan aku akan membawa Alas Ramus jalan-jalan. Beritahu Alsiel kalau dia sudah bangun. Kami akan segera kembali saat Raja Iblis atau Emi selesai bekerja."



"Gezzz.. Kau mengagetkanku, ya ya ya lakukan sesukamu. Tapi tolong, anggap saja aku tidak ada apapun yang terjadi."



"Kami semua memang berencana melakukan itu, tapi kau tidak akan terkena sambaran petir jika kau membuat dirimu berguna dengan menyampaikan pesan tersebut."



"... Kenapa aku merasa seperti ada kategori untukku dan kategori untuk orang lain?. Bukankah kalian berdua ini manusia?"



"Kenapa kau tidak tanyakan itu pada dirimu sendiri, seperti apa bahayanya kawan dan lawan yang bersatu? Tapi tak diragukan lagi, kau pasti akan selalu memperdulikan dirimu dan bukan orang lain."



"Looseefaah tidak belguna."



Jawab Alas Ramus ketika dia menyaksikan percakapan Suzuno dengan sekat tersebut. Nampaknya suaranya bisa mencapai bagian dalam lemari itu.



Sebuah perasaan rumit bisa terasa dari dalam.



"Anak-anak memang jujur dan belajar dengan cepat."



Dan Suzuno melancarkan serangan pamungkasnya..





XxxxX





03:00 pm

Sebuah suara bergema seperti petir di dalam McRonald cabang stasiun Hatagaya.



"Daddy!!"



Suara tersebut tertuju pada satu arah, atau lebih tepatnya mengarah pada satu orang.



Waktu di dalam restoran seakan berhenti, dan semua orang kini menoleh ke asal suara serta orang yang dipanggil tersebut.



Seorang pegawai diam mematung saat melayani konsumen, pegawai lainnya menjatuhkan tumpukan nampan, ada pula yang lupa untuk mematikan dispenser dan menyebabkan jus orange yang dituangkan menjadi tumpah.



Melodi untuk menandakan kalau proses penggorengan telah selesai, terdengar, tapi melodi itu sama sekali tidak sesuai dengan perubahan atmosfer yang tiba-tiba ini.



Seorang pria yang tersambar oleh petir dari surga itu, diam membeku sesaat, dengan ekspresi linglung yang menyerupai orang yang tidak mempercayai matanya, telinganya, dan bahkan dunia ini. Akan tetapi saat dia dihujani oleh tatapan dari seluruh pegawai restoran, kilauan cahaya kembali ke matanya.



"!!!!!!!!!"



Mungkin itulah yang orang-orang sebut dengan teriakan tanpa suara.



Seperti terlempar dari ketapel tak terlihat, Maou Sadao langsung menuju ke asal suara tersebut.



"Daddy!!"



Chiho dan Suzuno berdiri membeku seperti patung saat mereka merubah atmosfer seluruh restoran dalam sekejap ketika mereka memasukinya. Akan tetapi gadis apel, Alas Ramus yang berada dalam gendongan Chiho tidak memperhatikan hal lain selain ayah tercintanya yang berlari ke arahnya dengan kecepatan tinggi.



"Ka-ka-ka-kal-kal-kalian pikir apa yang kalian lakukan?"



Maou menanyakan hal tersebut kepada mereka dengan wajah yang sangat pucat, yang mana nampak seperti dia bisa pingsan kapan saja.



"A-apa maksud kalian, membawanya kemari?? Hey!! Ayolah!! Ini tidak lucu."



"Uh um.. Maaf, kami pikir, ini bisa membuat Alas Ramus-chan senang...."



"Dia terus menangis, terus mengatakan kalau dia ingin bertemu daddy. Kami pikir jika suasana hatinya membaik, mungkin dia akan ingat sesuatu, karena itulah kami membawanya ke sini."



Merasakan atmosfer tegang di dalam restoran dan sadar kalau dia sudah melakukan kesalahan, membuat Chiho panik, akan tetapi Suzuno tidak merasa terganggu sedikitpun.



Dan Alas Ramus yang tidak memperdulikan keadaan di sekitarnya, mulai meronta-ronta dalam gendongan Chiho dan mengulurkan tangannya ke arah Maou.



"Daddy, Daaaaaaddyyy!!"



"Hentikan! Jangan bergerak terus! Itu berb...."



"Ber-berhenti memanggilku lagi dan lagi! Kumohon!!"



Chiho hampir menjatuhkan Alas Ramus, tapi Maou dapat menahannya dan membantu Chiho.



"Daaddy!!"



Alas Ramus yang ditahan oleh Maou, memberikan senyum paling lebar dan paling cerah sampai saat ini, dan memeluk leher Maou dengan erat.



"Daddy!! Aku datang untuk menemuimu!"



"I-iya.. Ahahahah.."



Maou tertawa garing.



"Apakah itu anak Maou-san dan Sasaki-san?"



"Tidak mungkin, jika itu benar aku pasti akan membunuh Maou-san ketika dia tidur. Tidak, aku akan menenggelamkan dia."



"Di mana Kisaki-san? Kalau dia mendengar ini, tempat ini bisa berubah menjadi lautan darah."



"Sial! Kentang gorengnya! Kentang gorengnya hangus."



Suara penasaran, ingin tau, dan bertanya-tanya, dapat terdengar di belakang Maou.



"Ahahaha... Maaf Maou-san.. Aku tidak seharusnya melakukan ini..."



Chiho menyadari sebuah bayangan mendekat dari arah belakang Maou yang masih bingung dan Alas Ramus yang tersenyum, bayangan itu memasang ekspresi yang nampak sangat terkejut, bahkan sampai melebihi Maou.



"Ada apa Chiho-dono? Wajahmu terlihat sangat pucat. Apa kau terlalu lama berada di bawah sinar matahari."



Tapi perkataan Suzuno tidak terdengar oleh Chiho, dikarenakan......



"Maaaaaaaaa-kuuuuuun!!"



Sang manajer restoran, Mayumi Kisaki, berdiri dengan ekspresi yang menyerupai sebuah topeng yang mengerikan.



"Hyeh!!"



"Ou!"



Maou terkejut dan menegakkan badannya dengan kekuatan yang bisa saja menyembulkan tulang belakangnya keluar.



"Kalau telinga dan mataku masih normal, gadis kecil yang dibawa Chiho tadi memanggilmu "daddy" kan? Hm?"



"... I-iya benar."



Maou menjawabnya dengan jujur, dia sadar kalau suara Kisaki membawa sebuah tekanan yang hebat, yang mana tidak akan memaafkannya jika dia berbohong.



Baik Maou maupun Chiho, keduanya menunggu dengan wajah pucat, sambaran petir berikutnya yang berasal dari Kisaki.



Namun, melihat Kisaki tidak melakukan apa-apa setelah beberapa saat, Maou menoleh ke arahnya perlahan dan dengan penuh rasa takut.



"Kau pasti teman Maou dan Sasaki, Kamazuki-san, kan?"



Suzuno mengangguk pelan.



"Bolehkah aku meminjam Sasaki sebentar?"



Pertanyaan Kisaki sangat tak dapat diduga.



"T-tidak maksudku... Tentu, ti-tidak masalah...."



Mengingat saat terakhir kali dia bertemu Kisaki, Suzuno mengubah pembawaan dirinya dan sikapnya dalam berbicara.



"Terima kasih, Hey, Maa-kun bisakah kau tunjukan kepada Kamazuki-san di mana kursinya, biar aku yang akan membawa anak itu."



"Huh? Te-tentu, tapii..."



Maou sesaat merasa ragu, tapi Kisaki mengabaikannya dan langsung mengambil Alas Ramus dari tangan Maou. Melihat Alas Ramus tersenyum dalam gendongan Kisaki, Maou bernafas lega. Akan tetapi...



"Chii-chan datanglah ke ruangan staff sebentar, Maa-kun kau juga, setelah mengantar Kamazuki-san ke kursinya."



Mendengar kata-kata tersebut, tekanan darah Maou langsung menurun dengan tajam.



Chiho terlihat seperti mempunyai tanggapan yang sama, Kisaki lalu berjalan ke ruang staff diikuti oleh Chiho yang berwajah muram.



"... Aku minta maaf, mungkin pemikiranku masih terlalu dangkal."



Suzuno meminta maaf saat dia melihat dan merasakan atmosfer tidak enak tadi. Namun dia masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.



"Huh? Serius? .... Itulah yang ingin aku katakan, tapi kalian berdua melakukan ini dengan pemikiran kalau inilah yang terbaik untuk Alas Ramus, jadi aku tidak akan komplain terhadapmu. AC tidak akan mengenaimu langsung di kursi sebelah sana, jadi duduk dan tunggulah di sana."



Suzuno menoleh ke arah yang ditunjuk Maou, lalu kembali melihat ke arah Maou.



"Aku kira, kau akan lebih marah."



"Huh? Kenapa aku harus marah?? Well, memang situasinya tidak berjalan lancar, tapi pada akhirnya kau hanya ingin membantuku, jadi aku harus berterima kasih padamu. Maaf untuk semua ini." Kata Maou sambil menatap mata Suzuno.



".... Hummphh.. Raja Iblis bersikap seperti orang yang baik"



Suzuno tidak dapat membalas tatapan mata Maou, jadi dia menghindarinya dengan cemberut dan menatap ke arah lain. Kenapa sang Raja Iblis terus berterima kasih padanya dengan jujur lagi dan lagi?



"Memangnya tidak boleh Raja Iblis berbuat baik? Pokoknya, cepat duduk sana dan..."



Ketika Maou menanggapi perkataan Suzuno...



"Fu... Oh, Panas yang menyedihkan di jam ketiga setelah tengah hari ini benar-benar menghilangkan akal sehatku. Waktunya telah tiba bagiku untuk mendinginkan hatiku dengan menerima hadiah berupa pelayanan yang ramah dari sang dewi cantik. Oh dewi tercintaku!! Aku sekali lagi datang ke sini untuk memberikan seluruh cintaku padamu."



Suara mesum itu memasuki restoran, membuat keributan dengan kata-katanya yang menjijikkan dan gerakan tubuh yang mesum pula.



Orang itu tidak lain adalah Mitsuki Sarue, manager dari Sentucky cabang Stasiun Hatagaya, yang juga dikenal sebagai malaikat Sariel, yang mana akhirnya memutuskan menjadi malaikat jatuh setelah melihat kecantikan Kisaki.



Ketika Chiho bilang kalau Sariel selalu makan di sana setiap hari, hal itu juga termasuk makan camilan.



Sariel sebenarnya mempunyai wajah yang tampan, yang mana menjadi satu-satunya kelebihannya. Dia melihat ke seluruh restoran dengan mata berwarna ungu miliknya.



Kemudian dia menemukan dewi cantik yang dia yakini ditakdirkan untuknya berdiri di depan ruang staff restoran.



Dia juga melihat sosok yang Kisaki bawa dalam pelukannya.



"Ngah!!"



Baca Translate Hataraku Maou-Sama Volume 3 Bahasa Indonesia





Dia meneriakkan sebuah teriakan yang terdengar aneh, Sariel diam mematung.



"Dia benar-benar menjadi gemuk."



Hanya beberapa hari terlewati saat Suzuno terakhir kali melihat Sariel, akan tetapi dalam waktu yang pendek tersebut, pipi dan leher dari malaikat ini tampak seperti membengkak.



Suara Suzuno membuat Sariel menyadari keberadaan Maou dan Suzuno, dia menoleh ke arah mereka seperti boneka kayu yang rusak.



"Apakah surga telah meninggalkanku?"



Sariel bertanya pertanyaan yang tak berguna.



"Apakah ini... hukuman dari Tuhan karena aku telah mengabaikan tugasku? Apakah hati dewiku telah dimenangkan oleh pria lain, dan dia menerimanya, dan itu adalah perwujudan dari cinta mereka?"



Melihat Sariel yang benar-benar salah paham, Maou tidak tahu bagaimana harus menanggapinya.



"Ehh, aku serahkan dia padamu!"



Dan dia memutuskan untuk menyerahkan tugas itu pada orang lain.



"Apa? He-hey?"



Maou berlari mengikuti Kisaki dan Chiho yang sedang menuju ruang staff meninggalkan Suzuno sebelum dia punya kesempatan untuk menolak.



"Crestia Bell, apakah ini mimpi? Katakan padaku kalau ini cuma mimpi! Jika ini karena kesalahan yang kubuat di masa lalu, aku sangat menyesalinya! Aku mungkin pernah berganti-ganti wanita, tapi kali ini aku benar-benar serius!! Tolong, dengarkan pengakuan dosaku dan mintakan pengampunan Tuhan untuk diriku."



"Kenapa seorang malaikat agung seperti anda melakukan pengakuan dosa kepada wanita pendeta sepertiku, tuan?"



Mereka mungkin pernah menjadi musuh, tapi Sariel adalah malaikat agung yang gereja anggap seperti Tuhan. Jadi Suzuno tidak bisa menghentikan dirinya untuk berbicara dengan sopan, tapi malaikat yang turun ke dunia manusia ini, meski menjadi simbol kepercayaan, dia tetap sangat menyebalkan seperti Raja Iblis itu sendiri.



"Jadi ini yang dimaksud ramalan bintang pagi ini, kalau aku akan bernasib buruk. Oh Tuhan kenapa? Kenapa kau berikan cobaan seberat ini?"



Suzuno merasa pusing hanya karena membayangkan seperti apa jadinya pengakuan dosa seorang malaikat yang sedang jatuh cinta ketika suasana hatinya berubah-ubah karena ramalan bintang. Dan sebagai wanita, Suzuno juga tidak ingin pengakuan dosa seperti itu terjadi seperti apa yang dia bayangkan.



"Sariel-sama, kau sama sekali tidak tahu mengenai asal-usul anak kecil yang di sana itu kan?"



Suzuno menanyakan hal tersebut, mengambil keuntungan dari Kisaki yang menggendong Alas Ramus.



"Ya.. Tapi aku harap kalau akulah "asalnya"...."



Sariel mengeluarkan isakan yang suram dan memberi jawaban yang gamblang. Akan tetapi, dari satu kalimat tersebut, Suzuno bisa memastikan kalau Sariel tidak ada hubungannya dengan Alas Ramus.



"... Baiklah.. Silahkan, katakan dosa-dosamu!"



Suzuno memutuskan untuk mendengarkan Sariel guna menggali informasi lebih jauh darinya. Akan tetapi ketika dia membayangkan "pengakuan dosa" macam apa yang akan dia dengar, pusing di kepalanya menjadi semakin parah.



"Oke... Baiklah..."



Maou dan Chiho yang berdiri bersebelahan, terkejut karena mendengar suara tersebut. Mereka berusaha mempersiapkan diri dengan apapun yang mungkin akan terjadi.



"Berapa usianya?"



Akan tetapi, pertanyaan pertama yang Kisaki lontarkan tidaklah seperti apa yang mereka kira. Kisaki mengelus-elus punggung Alas Ramus dengan lembut dan begitu alami seperti sudah terbiasa menangani anak kecil.



Maou dan Chiho secara refleks menatap satu sama lain.



"Tiga...? Tidak, dia belum cukup besar kalau 3 tahun. Menurutku dia sedikit lebih muda dari 2 tahun, iya kan?"



"Huh? Oh. Um ya.. Benar..Mungkin.."



"Mungkin? Kalian tidak pernah bertanya kepada orang tuanya berapa usianya?"



Mereka sedikit merasa lega karena tidak dicurigai sebagai orang tuanya, tapi karena orang tuanya juga masih menjadi misteri, tidak ada yang bisa mereka lakukan.



"Well, kupikir itu tidak terlalu aneh. Kalau ada seseorang bertanya berapa usia keponakanku, aku juga tidak yakin kalau jawabanku benar. Itu mengingatkanku ketika dia mulai masuk sekolah."



Akan tetapi, Kisaki tidak bertanya lebih jauh lagi, dan nyatanya dia malah menjawabnya sendiri.



"Tenang saja, aku di sini bukan untuk memarahi kalian, lagipula ada anak kecil di sini."



Bagaimanapun juga, jika ada manusia yang bisa tenang setelah mendengar hal itu, pasti dia adalah orang yang aneh.



"Aku ingin bertanya sesuatu yang terdengar aneh, hmm,, anak ini bukan anak kalian kan?"



"Tentu saja bukan... Tapi aku harap iya ..."



Gumaman kecil Chiho yang mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya, dapat terdengar oleh Kisaki.



"Kau bebas berharap apapun, tapi sebaiknya kau simpan dulu di pikiranmu."



Kata Kisaki sambil tersenyum dan terus bermain dengan Alas Ramus, sambil mempertahankan nada bicaranya yang terdengar berkuasa yang mana bisa menundukan Raja Iblis itu sendiri.



"Kalian berdua tidak berpacaran kan?"



"Tidak."



"Ti-dak kok."



Chiho menoleh ke arah Maou yang menjawabnya seketika, Chiho pun mengangguk.



Kisaki tertawa kecut mendengar jawaban dari Maou dan Chiho.



"Apa kalian pikir aku akan memarahi kalian karena membawa masalah percintaan atau masalah keluarga ke tempat kerja? Tapi serius, aku tidak akan menasehati kalian jika kalian sudah saling mengerti dari awal."



"Huh?"



Maou menjawab dengan suara konyol.



"Tidak penting apakah Maa-kun yang meminta tolong kepada Chii-chan, ataukah Chii-chan sendiri yang ingin membantu. Tapi dengar, apa kalian telah memikirkan betul-betul apa yang orang lain dan masyarakat pikirkan kalau ada seorang gadis SMA datang ke rumah seorang pria untuk mengurusi bayinya?"



Saat alur pembicaraan berubah ke arah yang mereka sama sekali tidak duga, mereka berdua tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.



"T-tapi tidak ada orang lain yang bisa Maou-san andalkan, dan di antara kami benar-benar tidak ada apa-apa...."



"Chii-chan, kau mungkin masih belum mengerti hal ini, tapi masyarakat itu memiliki pikiran yang dangkal dan gampang mengambil kesimpulan. Rumor menyebar lebih cepat daripada cahaya, dan lebih buruknya lagi mereka tidak hanya punya satu wujud."



"...!!!"



"!!!!"



Chiho berusaha mengatakan sesuatu saat Kisaki mengalihkan pandangannya pada Alas Ramus, tapi Maou menghentikannya.

Tidak diketahui apakah Kisaki melihat hal tersebut atau tidak saat dia menggelitik pipi Alas Ramus. Alas Ramus tertawa dengan riang dan berkata...

"Baumu mirip dengan daddy..."

Dan dia menciumi tangan Kisaki dengan gembira.

"Benarkah?? Seperti ayahmu?"

Kisaki juga menjawab dengan riang.

"Dan ketika ada pemuda pemudi yang pikirannya sama dangkalnya dengan masyarakat yang mengatakan hal-hal seperti itu, jawaban mereka selalu sama, "apa yang masyarakat ketahui tentang kami?" Hanya dari fakta bahwa kalian tidak bereaksi seperti itu, itu menunjukan bahwa kalian sudah dewasa di usia kalian yang sekarang ini."

Kisaki menempatkan Alas Ramus di lututnya, memeluk perut Alas Ramus menggunakan tangannya,  kemudian berputar perlahan diatas kursinya. Alas Ramus pun tertawa.

Menyaksikan mereka, Maou menurunkan tangan yang dia gunakan untuk menghentikan Chiho dan berbicara dengan pelan.

"Aku belum cukup tahu mengenai apa yang dunia ataupun orang lain katakan terhadap sesuatu seperti itu."

Kisaki mengehentikan putaran kursi tersebut dengan bunyi decit kecil, lalu mengangkat Alas Ramus ke atas..

"Miaaaaaa... Ahahahha...."

Alas Ramus berteriak dengan riang, tampak seperti dia sangat bahagia.

"Bisa mengatakan hal seperti itu, kau sepertinya sudah separuh jalan untuk menjadi seorang pria."

Kisaki menyerahkan Alas Ramus kembali kepada Maou, melihat jam dinding yang berada di ruang staff dan kemudian mengendurkan otot-otot di bahunya.

"Maa-kun kau bisa pulang sekarang. Ini memang sedikit lebih awal, tapi kita tidak terlalu sibuk, jadi kekurangan satu orang saja tidak akan membuat banyak perbedaan."

"Uh.. Benarkah?? Tapi...."

"Kau 'daddy' nya kan? Seharusnya kau lebih menghargai waktu yang kau habiskan bersamanya daripada hanya beberapa jam kerja dengan upah yang sedikit. Aku akan mempertimbangkan kembali permintaan tambahan jam kerjamu."

Setelah mengatakan hal itu, Kisaki memakai topi pegawainya dan dengan cepat meninggalkan ruang staff.

"... Maou-san apa yang dia maksud dengan tambahan jam kerja?"

Chiho bertanya dengan wajah yang kurang puas.

"Aku punya anggota keluarga baru yang harus aku hidupi, jadi aku harus bekerja lebih keras lagi. Aku bahkan ingin menyekolahkannya suatu hari nanti."

Maou bermain dengan Alas Ramus yang berada di gendongannya dan menjawab dengan samar-samar sehingga sulit untuk menilai keseriusannya.

"Apa kau benar-benar ingin merawat Alas Ramus-chan sampai dewasa?"

"Well, tidak sepenuhnya begitu sih."

Jawab Maou sambil mencolek dahi Alas Ramus.

"Aku hanya ingin merawatnya sampai masalah ini selesai saja. Aku akan mengembalikan dia ke orang tuanya kalau mereka sudah ditemukan."

Chiho sadar kalau Maou juga bermain-main dengan dahinya saat awal dia berpikir untuk merawat Alas Ramus.

"Chii-chan, beberapa saat lalu kau bilang, kalau orang tuamu memperbolehkanmu untuk datang ke tempatku, kan?"

"Y-yaa..."

Tubuh Chiho menjadi kaku.

Chiho mengetahui kalau Maou sangat menghargai Kisaki sebagai anggota masyarakat yang hebat. Tidak tahu apakah hal tersebut bisa diterima oleh Raja Iblis dari dunia lain atau tidak, Chiho takut kalau nasihat Kisaki sebelumnya membuat Maou berubah pikiran, akan tetapi...

"Aku tahu maksud Kisaki-san mengatakan hal itu, tapi aku ingin kau tidak terlalu memikirkannya.... Bisakah aku mempercayaimu sedikit lebih lama?"

"Ten-... Huh?"

Chiho sangat yakin kalau Maou ingin meminta Chiho untuk tidak lagi membantunya, tapi mata Chiho melebar ketika apa yang keluar dari mulut Maou adalah kebalikannya.

"Selama ini, semuanya normal dan baik-baik saja, tapi Emi dan Suzuno dari awal adalah musuhku. Jadi.... yang ingin aku katakan adalah, Chii-chan, kaulah satu-satunya manusia yang bisa kupercayai sepenuhnya."

"...."

"Aku tahu aku sudah bersikap tidak adil, meminta ini saat aku belum memberimu jawaban, tapi umm.. Mungkin akan ada jalan yang terjal dan masalah di depan sana, tapi jika kau mau membantuku, aku akan sangat menghargainya."

"..."

".. Chii-chan?"

Chiho hanya diam membuka mulutnya dengan tatapan kosong, dan kemudian....

"H-hey!! Ke-kenapa kau menangis? Huh? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?"

Setetes air mata mengalir di pipi Chiho.

Maou panik melihat reaksi Chiho yang seperti ini. Dan Chiho akhirnya menyadari air matanya setelah melihat Maou, kemudian dia mengeluarkan sapu tangan dan mengusap wajahnya.

"Um. Ma-maaf.. Aku, umm.. Aku sangat bahagia."

"Aku mi-minta maaf!! Itu kesalahanku!! Aku lebih tua darimu dan aku adalah Raja Iblis tapi malah bergantung padamu, Chii-chan. Aku seharusnya tid- ... Huh? Tunggu! Apa?"

"Aku bahagia, karena kau bilang kau mempercayaiku, Maou-san!"

"Huh? Apa? Huh? Kau sen.... Lalu kenapa kau menangis?"

Chiho tersenyum, menanggapi pertanyaan yang muncul di kepala Maou.

"Eheheh.. Maaf, memang seperti itulah manusia."

"A-aku tidak mengerti... Tapi er-"

"Aku tahu kau tidak bisa menjawabku sekarang... Tidak peduli apa jawabanmu nanti..... Aku akan menunggunya... Jadi..."

Chiho mencoba menahan air matanya sendiri, dan menyentuh tangan Alas Ramus.

"Chii-neecha?"

"Akan kulakukan yang terbaik untuk membantumu, Maou-san."

"O-oke, um .. maaf untuk yang itu, terima kasih."

"Tentu!"

Kali ini Chiho tersenyum lebar, Maou tidak tahu bagaimana harus menanggapinya dan berpura-pura membetulkan topi kerjanya.

"Oh, iya, Maa-kun, di dalam laci ada....."

Kisaki memilih waktu yang sangat tepat untuk kembali ke dalam ruangan..

"...."

Melihat Maou dan Chiho hanya diam di tempatnya, Kisaki mengangkat kedua alisnya bersamaan.

"... Ya ini dia.. Aku tidak akan merekrut karyawan perempuan lagi untuk waktu yang lama. Gzzzz."

Kisaki bukanlah orang yang bisa mereka tipu dengan mengatakan itu adalah sebuah lelucon. Bahkan hukum kesamaan derajat dalam mencari kerja tidak berlaku dengan aturan yang dibuat Kisaki.

Kisaki berjalan dengan ekspresi masam dan mengambil sebuah amplop dari dalam meja kerja.

"Aku mendapatkan ini dari penjual koran, tapi aku tidak pernah menggunakannya. Jadi aku ingin memberikannya padamu, tapi....."

Kisaki menghela nafas, lalu melihat ke arah Chiho dan Maou.

"Kalian mengerti apa yang aku katakan tadi kan?"

Kata Kisaki sambil meletakkan amplop tersebut di atas kepala Maou, dan pergi lagi.

Maou dan Chiho mengeluarkan nafas berat ketika pintu tertutup. Chiho mengambil amplop yang berada di atas kepala Maou. Setelah saling menatap satu sama lain, mereka mengeluarkan isinya, dan yang terlihat di sana adalah.........


Previous ※ TOC ※ Next

You may like these posts

Komentar

  1. To insert a code use <i rel="pre">code_here</i>
  2. To insert a quote use <b rel="quote">your_qoute</b>
  3. To insert a picture use <i rel="image">url_image_here</i>
Tinggalkan komentar sesuai topik tulisan, komentar dengan link aktif tidak akan ditampilkan.
Admin dan penulis blog mempunyai hak untuk menampilkan, menghapus, menandai spam, pada komentar yang dikirim